Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 159


Zifa berjalan meninggalkan Omar, dan menuju Ghava dengan bibir melengkung sempurna. Ghava sendiri semakin penasaran dengan yang mereka obrolkan, kenapa Zifa sendiri menjadi seceria ini. Ghava pun tanpa sadar membalas senyum Zifa.


"Apa ada yang membuat kamu sebahagia ini?" tanya Ghava, sembari meminta Zifa duduk di sampingnya.


"Entahlah tetapi Zifa sekarang sudah lega, dan Zifa sudah yakin kalau Zifa akan melanjutkan kasus ini?" jawab Zifa. Sontak Ghava semakin dibuat bingung.


"Bukanya dari awal kamu memang sudah yakin kalau kasus ini akan dilanjutkan? Sebenarnya apa yang sudah kalain obrolkan?" tanya Ghava pada Zifa, tetapi wanita itu seolah enggan untuk menceritakanya.


Tidak lama Omar pun menghampiri Ghava. Meskipun laki-laki itu sangat kecewa dengan Eira, tetapi ia berusaha mengubur rasa kecewanya dan memberikan dukungan pada wanita itu dan tidak meninggalkanya, di saat dia ada masalah. Bukan karena dia yang terlalu buncin dengan Eira bukan, tetapi Omar masih memegang teguh janjinya pada orang tua Eira dulu, kalau dia akan menjadi pendamping hidup wanita itu meskipun Eira dengan ada masalah, dan sebenarnya ia sudah buktikan sejak beberpa tahu terakhir.


Namun saat ini adalah ujian terberatnya. Dia harus adil seadil-adilnya.


"Va, kita berangkat sekarang, kasihan Mamih kamu pasti nungguin kamu," lirih Omar, dan di balas anggukan samar oleh Ghava.


Omar pun berjalan lebih dulu menuju tempat parkir. Laki-laki paruh baya itu tahu kalau Ghava akan berpamitan dulu dengan istrinya.


"Kamu yakin Fa, tidak apa-apa aku tinggal di sini sendirian?" tanya Ghava sembari menatap Zifa dan Siti bergantian. Ghava yakin kalau dua wanita itu sangat lelah, tetapi kalau tidak ada yang menjaga Kemal lebih bingung lagi.


"Tidak apa-apa Mas, Mas Ghava pergilah, dan Ifa nanti akan hubungi Mba Lyra untuk mempersiapkan bukti semuanya."


"Ok, nanti aku ambil ponsel kamu." Ghava pun langsung meninggalkan Zifa dan Siti untuk menjaga Kemal dan dirinya bersama Omar akan menemui Eira.


******


"Pih, apa yang Papih  obrolkan tadi?" tanya Ghava yang sejak tadi sangat penasaran. Kini dua laki-laki berbeda generasai itu sudah berada di dalam mobil.


Omar menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Papih tidak tahu dengan Mamih kamu. Zifa tadi bertanya apakan Papih terlibat perselingkuhan dengan almarhum ibunya. Karena Mamih kamu mengatakan dia menghabisi nyawa ibunya karena cemburu Papih sudah selingkuh." Omar terkekeh setiap mengingat pertanyaan itu.


"Kenapa bisa melebar kemana-mana?" lirih Ghava, ia sudah sering melakukan perjalana ke luar negri dengan papihnya, dan Ghava akui kalau papihnya itu sangat menjaga ikatan suci pernikahan, dan Ghava sendiri tentu tahu kalau tebakan mamihnya hanya akal-akalan saja agar kasusnya tidak berat.


"Itulah Papih juga sepertinya harus meluruskan semua ini pada Mamih kamu, sebelum semuanya terlambat.


Eira keluar dengan dituntun oleh dua polisi di kanan dan kiri. wajahnya terlihat kusam dan sembab. Yah, sudah bisa ditebak wanita itu pasti terlalu banyak menangis.


"Apa kalian datang ke sini untuk membebaskan Mamih?" tanya Eira begitu ia duduk di hadapan Omar dan Ghava.


"Kondisi Kemal kritis, dan sebelum ke sini dokter mengatakan kalau kesembuhanya hanya kisaran lima puluh persen. Abas juga kondisinya belum ada perubahan sedikit pun," jelas Omar tanpa menjawab pertanyaan Eira. Laki-laki itu justru lebih nyaman membahas anak-anaknya.


"Kemal? Dia yang membuat Mamih berada di sini. Dan wanita murahan itu yang membuat Kemal dan Ghava menjadi anak durhaka, tidak mau membela ibunya, dan menginginkan wanita yang telah melahirkanya di penjara. Semua keinginan kalian sudah terjawab, apa kalian puas?" racau Eira dengan menatap sengit pada Ghava. Karena Eira mengira kalau Ghava lah yang mengakibatkan semua ini terjadi. Ghava yang memasuki Zifa ke dalam keluarganya.


"Ada pepatah mengatakan. sepandai-pandainya tupai meloncat, pasti ada masanya ia terjatuh. Sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. Kesalahan sampai ujung dunia pun akan tetap menjadi kesalah. Tidak akan pernah ada benarnya." Omar secara tidak langsung membela kedua putranya.


"Apa ini tandanya Papih sekarang sudah berpihak pada mereka? Papih sudah tidak lagi membela Mamih?" cecar Eira, tatapanya mengamati anak dan juga suaminya. Sementara Ghava tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hatinya sakit melihat wanita yang telah melahirkanya sengsara di dalam jeruji besi sana.


"Papih akan membela siapa pun yang benar. Papih pernah berada di pihak Mamih karena Papih percaya bahwa Farida meninggal dunia karena serangan jantung tanpa curiga sedikit pun, hingga semuanya terbongkar bahwa semua ini bukan serangan jantung, tetapi pembunuhan. Sampai Papih  ikut menutupi Zara yang hamil karena Abas, hanya agar rumah tangga Abas tidak rusak, tetapi justru akhirnya rusak juga hanya karena Mamih yang ingin Ghava memiliki anak. Namun lagi-lagi semuanya gagal." Omar bahkan yang lebih banyak membicarakan apa yang terjadi pada Eira selama tiga tahu kebelakang.


Sementara Ghava yang tidak tahu apa-apa hanya diam, dan kecewa pastinya dengan papihnya juga ternyata laki-laki itu mengetahui semua perbuatan mamihnya sudah sejak lama, tetapi papihnya berpura-pura tidak tahu. Ghava hanya menjadi pendengar tanpa ingin ikut menyelanya.


"Apa tidak ada kesempatan Mamih untuk bebas setidaknya Mamih ingin lihat Kemal dan Abas, bagaimana kondisinya." Eira sedetik kemudian nada bicaranya beda.


"Mamih bukan hanya membahayakan Kemal tetapi Mamih sudah membunuh Farida, dan mengfitnahnya menjadi simpanan Papih. Kenapa Mamih tega. Tapi kalau memang Mamih ingin Papih memiliki simpanan, makan Papih akan cari karena bagaimana pun Papih tidak akan bisa menunggu Mamih di penjara," tantang Omar. Sebenarnya Omar sejak berangkat ke kantor polisi tidak terfikirkan akan berkata seperti ini, tetapi setelah sifat istrinya berubah ubah. Emosi Omar semakin terpancing, dan dia ingin tahu apakan wanita itu akan mengomentari Zifaa juga.


"Pih, tolong bebaskan Mamih dari kasus ini. Mamih janji tidak akan mengulangi lagi masalah ini," mohon Eira.


"Mungkin Papih bisa bantu Mamih untuk bebas, tetapi bukan kasus hanya kasus penembahan Kemal yang dilakukan, tetapi ada kasus yang lain yang menunggun yaitu kasus meninggalnya ibunya Zifa.


"Semua bukti tidak ada sehingga wanita itu bagaimanapun tidak akan bisa menuntut Mamih untuk di penjara dengan damai, " elak Eira.


"Justru buktinya sudah sangat kuat, hanya saja Zifa menunggu persetujuan semuanya, tetapi setelah ini dia akan sangat yakin untuk melanjutkan kasus ini. Menuntut keadilan terutama untuk ibunya."