
"Jadi rencana kita selanjutnya apa Mba?" tanya Zifa pada Lyra, yang saat ini Zifa merasa sangat senang karena adanya Lyra berkat adanya Lyra Zifa seolah tidak berjuang sendiri, terlebih Lyra malah kelihatan sangat bersemangat, mungkin kalau tidak ada dukungan dari Lyra, Zifa sendiri hanya akan berjuang sendiri dan tentunya seperti orang yang tidak tahu langkah apa yang akan ia ambil. Atau malah Zifa selamanya tidak akan mendapatkan keadilan dari ini.
"Apa yang kamu tadi katakan benar kan kalau Kemal juga akhirnya menyatakan cinta kamu?" tanya Lyra, hanya memastikan bahwa yang di dengar'nya adalah benar.
"Iya benar Mba, bahkan Kemal juga meminta agar hubungan kita tidak tercium sama Ghava, abangnya. Gila kan dia. Awalnya ku sempat deg-degan pas Ghava bilang kalau adiknya bakal datang dan pasti semuanya bakal runyam dan lain sebagainya. Ternyata Kemal itu gila. Dia tidak masalah kalau aku kekasih dari abangnya. dia akan tetap terima." ucap Zifa, kepalanya terus menggeleng tidak tahu dengan apa yang ada di dalam pemikiran Kemal.
"Itu justru bagus Fa, kamu terima ajah," ucap Lyra dengan menunjukan dua jari jempolnya dan tersenyum pepsoden, mendukung perselingkuhan antara dirinya dan dua kakak beradik itu.
"Nanti kalau ketahuan pasti bakal repot Mba," ucap Zifa bagaimana mau berselingkuh memiliki kekasih Ghava ajah dia masih bingung gimana jalaninya, terlebih dia masih sangat polos. Belum dalam pikiranya dia masih terbagi-bagi antara usaha , dan juga pendidikanya, belum dendamnya dengan nenek lampir dan anaknya itu.
"Kalau ketahuan tinggal kamu mainkan trik seolah-olah kamu sebagai korban, alias kamu terpaksa menerima Kemal karena berbagai tekanan. Apalagi kamu bilang Kemal pernah memberikan kamu uang cuma-cuma sebanyak Tiga miliar untuk ganti rugi kematian ibu kamu dan lain sebagainya. Bukanya alasan itu bisa di gunakan untuk kamu merasa di tekan kalau kamu tidak menerima cinta Kemal, seolah-olah kamu akan di tagih dengan uang-uang itu," usul Lyra, dan saat itu juga Zifa langsung setuju.
"Ya Tuhan kenapa aku tidak kepikiran kalau bakal menggunakan uang-uang itu yah," blas Zifa, kini wanita berparas cantik itu sudah bisa bernafas lega setidaknya ia bisa menggunkan uang yang pernah diberikanya itu untuk menekan Kemal, dan Zifa yakin Ghava akan membelanya.
"Aku pikir Kemal cupu soal percintaan, tetapi sepertinya kemal lebih pandai soal urusan perselingkuhan. Apa jangan-jangan dia diluar negri juga jadi selingkuhan wanita bersuami," kekeh Lyra, ketika membaca pesan teks yang dikirimkan Kemal untuk Zifa, padahal laki-laki itu tahu betul kalau Zifa adalah kekasih abangnya. Apalagi Kemal saat ini berada di ruangan yang sama dengan abangnya. Sedangkan Ghava saja tidak mengirimkan pesan untuk Zifa tetapi Kemal sudah langsung berkirim pesan untuk calon istri abangnya.
[Zifa apa kamu sudah sampai rumah. Kamu besok tidak perlu datang kerumah sakit karena aku yang akan menjaga abangku.} itu pesan yang Kemal kirimkan memang untuk awal obroalanya sangat biasa tetapi setelah di balas oleh Zifa, laki-laki itu menjadi playboy yang harus segera dikirim keneraka.
[Aku kangen kamu yang dulu, yang selalu membagi senyum dan sedihmu hanya dengan aku] dan masih banyak pesan-pesan Kemal yang menunjukan kalau dia sangat menginginkan Zifa sebagai teman hidupnya.
"Aku rasa laki-laki ini akan memiliki perempuan di setiap daerah," ucap Lyra setiap membaca pesan yang dikirimkan oleh Kemal.
"Aku rasa di dan Abas sebelas dua belas," balas Zifa.
"Ah, aku rasa mungkin Ghava juga seperti itu," balas Lyra lagi "Atau jangan-jangan Omar, Papah dari mereka juga sama," imbuh Lyra lagi dan perempuan yang sedang menikmati angin malam pun tertawa konyol dengan keluarga penghianat itu.
Mereka pun akhirnya tertawa di tengah-tengah gelapnya malam. Dua wanita yang menjadi korban cinta dari keluarga jahanam itu.
******
Di rumah sakit, tempat Ghava dirawat.
"Sudah," jawab Kenal dengan singkat, dan dia justru langsung duduk di sofa adan mengabaikan Ghava., laki-laki itu masih gondok dengan Ghava yang justru merebut Zifa, padahal seharusnya Ghava tahu kalau Zifa adalah teman yang sudah dia sukai sejak lama. Terlebih Ghava sudah tahu Zifa. Kemal pernah mengirimkan foto Zifa dan Zara saat ia meminjam uang senilai dua milliar untuk membantu Zifa.
"Loe kesini, orang rumah tidak ada yang tahu kan Mal?" tanya Ghava, terlebih melihat perbedaan Kemal yang Ghava nilai dia sedang banyak masalah.
"Kenapa memang loe takut ketahuan oleh Wina, kalau loe di sini punya kekasih lain, dan bahkan loe bilangnya calon istri," balas Kemal, dengan nada yang cukup terdengar sinis.
"Loe kenapa sih, tiba-tiba kayak nggak suka banget gue punya cewek di sini, bukanya loe juga tahu kalau gue itu dari awal tidak suka dengan yang namanya perjodohan dengan Wina. Bahkan loe yang menyarankan kalau gue untuk cari wanita lain selain Wina lalu salah gue di mana. Sekarang gue udah punya cewek itu," ucap Ghava, sudah mulai terpancing dengan ucapan adiknya.
"Gue hanya kasihan dengan Wina, yang tulus setia sama loe, sampai dia mau diundur pernikahannya, sedangkan loe mesra-mesraan dengan Zifa, selingkuhan loe. Apa jangan-jangan kalian sudah jauh menjalin kasih dengan Zifa, sampai loe kayaknya selalu menomor satukan Zifa," balas Kemal.
Sebenarnya bukan maksud laki-laki itu untuk membuat Ghava terpancing seperti itu, tetapi karena rasa cemburu pada Zifa, Kemal sampai lupa kalau caranya seperti ini justru akan menimbulkan pertanyaan pada Ghava. Dan bisa saja justru Ghava curiga kalau laki-laki itu suka pada kekasihnya.
Ghava menatap tajam pada Kemal yang sudah benar-benar terpancing emosinya, dan juga sudah sangat terlihat kalau Kemal tidak menyetujui hubungannya dengan Zifa.
'Aduh, kenapa aku malah jadi keceplosan kayak gini sih," batin Kemal, sudah mulai gelisah ketika melihat tatapan Ghava yang semakin curiga dengan kelakuannya.
"Apa loe datang kesini karena suruhan Mamih atau Wina? Kalau ia silahkan loe balik lagi, tidak masalah gue di sini sendirian. Gue nggak butuh di tungguin sama loe. Bela ajah terus Mamih loe dan calon kakak ipar loe. Kenapa tidak sekalian loe ajah yang nikah dengan Wina," ucap Ghava jengah.
Laki-laki itu mengira, dan awalnya berharap kalau Kemal dikenalkan pada Zifa, maka adiknya akan mendukung hubungan dia dan Zifa habis itu dia juga akan dibantu untuk bebas dari Wina. Sama seperti Abas dulu. Namun, harapan Ghava salah dan kini malah seolah Kemal mendukung Wina dengan Ghava.
'Gua harus hati-hati sama Kemal, kayaknya dia datang kesini ada tujuan lain, atau justru laki-laki itu malah mengincar Zifa?' batin Ghava menatap Kemal, yang mengalihkan perhatian, dengan bermain gawainya.
******
Teman-teman sembari menunggu kisah Ghava dan Kemal selanjutnya, yuk mampir ke karya bestie othor jalan lupa yah mampir, di jamin baper....
Kuy ramaikan.