Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Cinta Diambang Derita


Dua minggu telah berlalu, Abas kini sudah pulang ke rumah meskipun masih melakukan segala aktifitasnya dengan mengunakan kursi roda, dan putrinya pun saat ini masih di urus oleh keluarga Orlin. Walaupun Orlin sendiri tidak mau merawatnya. Bayi tanpa dosa itu pun dirawat oleh suster, dan keberadaanya sangat-sangat disembunyikan hal itu mereka lakukaan karena malu memiliki anggota keluarga yang mengindap down syndrom. Dalam pikiran keluarga itu pengindap down syndrom adalah aib.


Kemal, yah laki-laki itu sendiri sama seperti Abas, ia sudah keluar dari rumah sakit, hanya saja ia nasibnya jauh lebih bagus dari Abas. Yah, Kemal masih bisa berjalan dengan normal. Dan sesuai dengan kesepakatan bersama setelah keputusan sudah terakhir yang menimpa ibunya. Kemal akan menikahi Wina.


Bahkan baik Abas, Zifa, Omar dan Ghava kaget ketika Kemal mengatakan bahwa ia akan menikahi Wina. Tentunya ia tidak mengatakan apa yang terjadi dengan dirinya hingga ia menikahi Wina. Alasan yang Kemal tunjukan adalah ia sudah menyimpan rasa dengan Wina.


Sesuai yang dikatakan oleh Alwi di mana mereka akan datang di saat sidang terakhir atas kasus pembunuhan Bu Farida, seorang pekerja yang bertugas mencucu di rumah keluarga Omar.


Bahkan dari semuanya tidak ada yang tahu kalau Zifa dan kakanya serta dua ponakanya akan datang, dan juga ada anggota baru yaitu dokter tampan yang sangat penyayang.


Yang keluarga Ghava tahu, Zifa lagi-lagi tidak datang, ia menyerahkan semuanya pada pengacaranya. Yah, alasan Zifa adalah dia tidak kuat mendengarkan pengakuan Eira, meskipun Eira sangat berbelit apabila ditanya soal bukti dan lain sebagainya.


Sidang sendiri berjalan sudah setengah jalan, semua keluarga Eira datang untuk mendengarkan apa putusan hakim. Namun ditengah-tengah persidangan ada yang menarik Zifa tiba-tiba datang dengan keluarganya. Semua mata yang ada di ruangan itu matanya tertuju pada keluarga yang baru datang, terutama celoteh dari Raja dan Ratu yang sangat-sangat menggemaskan sekali.


"Tante kenapa kita ke sini, apa di sini ada mainanya?" celoteh Raja dengan memegang mobil berbetuk bis yang beraneka warna itu.


"Papah, kenapa olang-olang lihat kita semua?" tanya Ratu dengan mata yang mengawasi ke orang-orang yang nampak menatap ke mereka semua. Tidak jauh berbeda dari Raja di tangan Ratu pun ada boneka barbie dengan baju berwarna biru kesayanganya, dan boneka itu bahkan rambutnya sudah tidak panjang lagi, hal itu terjadi karena memang tangan Ratu yang sangat terampil, bermain salon-salonan.


Sesuai yang Zifa pikir kalau Abas tidak ada hentinya menatap dua anak kembar itu. Eira juga tidak mau ketinggalan dia menujukan wajah yang bingung dengan anak-anak itu.


"Maaf yang mulia, kami datang sedikit telat, tetapi kami ada bukti baru yang baru saja kamu dapatkan." Zifa berjalan menuju meja peradilan. Ia menyodorkan ponsel milik ibunya yang bahkan untuk beberapa lamanya ia tidak bisa di buka, tetapi karena mereka service sehingga ponsel itu bisa terbuka kembali.


Bahkan sebelum datang ke pengadilan Zifa sempat menangis dengan histeris percakapan ibunya yang sepertinya dengan sengaja merekamnya. Yah di mana Eira memintanya untuk meminum-minuman yang sudah sangat jelas minuman itu beracun. Itu terekam dengan jelas di percakan itu.


Bahkan Eira sendiri yang sudah beberapa ditanyakan oleh penyidik ataupun pengacara keluarganya bahwa ia tidak membunuhnya, tetapi berkat adanya ponsel milik Farida semuanya terungkap, dan tentunya Eira tidak bisa mengelak lagi. Semua menunduk ketika mendengarkan apa yang di putar dari rekaman itu. Bahkan tatapan Ghava tidak lepas dari Zifa yang tetap terlihat tenang meskipun Zifa sendiri di dalam hatinya marah dan berjanji tidak akan memperlihatkan kemarahannya.


"Tanpa menunggu lama hari ini juga putusan atas kesalahan yang di lakukan oleh Eira pun dibacakan. Di mana  Eira mendapatkan hukuman selama lima belas tahun penjara, dan tentunya denda secara materi juga harus ditanggung oleh Eira.


Zifa sejak tadi kedua matanya menangkap pandang Ghava dan keluarganya. Sedangkan Abas sebaliknya menatap Zara tanpa henti yang mana Zara yang ini tentunya lebih cantik, lebih seksi dan juga penyabar, tetapi Abas tidak hanya terfokus pada laki-laki yang ada di samping Zara.


"Aku nggak salah, anak-anak wanita itu yang bersalah," racau Eira ketika akan di bawa kembali ke tahanan dan Ghava dan Kemal pun bergantian menunjukan kesedihanya.


"Tunggu jangan bawa Nyonyah Eira dulu," pekik Zifa. dengan pandangan mata yang menatap tajam pada Eira. Seketika itu Eira diam, sepertinya dia juga memiliki kesetahuan kalau putranya akan d


"Nyonya Eira, bukanya Anda membunuh ibuku untuk menutupi kehamilan kakak saya, yaitu Zara. (Zifa menunjuk Zara yang diam saja duduk bersama dengan Alwi dan juga kedua anaknya). Anda bahkan dengan keji memfitnah almarhum ubu saya. Anda dengan sengaja membuat kami semakin menderita. Terutama pada kakak saya, yang kalian nilai dia memiliki keterbelakangan mental. Anda menyingkirkan semuanya agar kakak saya yang hamil karena anak Anda,  tidak meminta pertanggung jawaban.Tetapi sekarang kalian lihat hidup kami jauh lebih baik. Dan hidup Anda hancur." Zifa tidak peduli banyak yang menyaksikanya, tetapi ia sudah sangat menunggu momen ini.


Eira pun entah dia menyesal atau memang dia tidak mendengarkanya, hanya diam saja, tetapi Zifa tahu bahwa pandangan matanya tertuju kepada Raja dan Raju, anak yang hampir berulang tahun ke tinga seolah mengerti bahwa mereka menjadi pusat perhatian, sehingga mereka diam dan anteng.


"Asal Anda tahu Nyoya, dan semuanya. Kami datang ke sini untuk mengenalkan anak yang sebelumnya kalian tidak akui. Yah, kalian pasti sudah bisa tebak siapa pelaku pemerkosaan pada kakak saya." Zifa menjeda ucapannya dan menatap pada barisan keluarga Eira satu persatu.


.


"Dan anak yang Anda tidak kehendaki, Anda coba singkirkan dengan banyak cara mulai dari pembunuhan dan entah cara apa saja yang kalian lakukan, tetapi Tuhan maha adil, Kak Zara dan anak itu kuat. Mereka adalah  Raja dan Ratu dua anak kecil yang sedang main di pojokan sana," Zifa menujukan dua ponakanya yang sangat tampan dan cantik.


"Dia lahir tanpa cacat satu apa pun, dia anak yang pandai, pengertian, dan juga tampan dan cantik, Kami mengenalkan mereka bukan ingin kalian akui seperti dulu. Yah, dulu memang Ibu saya meminta pertanggung jawaban dari anak Anda, tetapi itu di tolak, dan saat ini kamu dengan sadar dan yakin tidak akan menunduk sedikit pun pengakuan dari kalian semua. Kami hanya ingin memberitahukan bahwa  apa yang kalian tanam itulah yang kalian petik. Kami sudah bahagia dengan kehidupan kami." Zifa kembali menatap Abas yang menunduk dengan penyesalan di atas kursi roda.


"Aku secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Kemal dan juga Ghava, taku tidak menutup fakta, kalau tanpa bantuan kalian aku akan menjadi gelandangan, bahkan mungkin sudah gila, atau saya juga akan melakukan hal yang sama dengan Anda, membunuh." Zifa kali ini menatap Kemal dan Ghava.


"Satu lagi Zifa mengucapkan banyak terima kasih bahkan terima kasih yang ini lebih banyak dari yang laian buat Mba Lyra dan Dokter Alwi, kalian pahlawan untuk kami. Tanpa kalian Ifa dan Kakak tidak akan pernah tahu apa itu keadilan.... Kami rakyat kecil, mungkin hanya bermimpi sampai mimpi itu terkubuh oleh waktu, untuk mendapatkan keadilan." Air mata Zifa tumpah, begitupun Zara. Zara melangkah menghampiri adiknya dan memeluknya dengan penuh kasih.


"Terima kasih, Kakak bangga sama kamu. Ibu dan Ayah pasti tersenyum melihat keadilan ini." Tatapan yang tajam Zara tunjukan pada Eira dan juga Abas.


"Raja dan Ratu adalah anaku, nasabnya ada padaku. Dia tidak perlu tahu siapa Papah kandungnya." Zara seolah dengan sengaja mengucapkan itu.


Eira pun nampak diam saja, dan air matanya mengalir dengan deras ketika kedua matanya menatap pada dua anak yang cantik dan ganteng itu. Bahkan ucapan maaf tidak sekalipun terucap dari bibirnya.


Tidak masalah yang terpenting Zifa dan Zara sudah memberitahukan Raja dan Ratu. Tentunya mereka sudah bernafas lega, karena pelaku pembunuhan ibunya mendapatkan hukuman, sesuai dengan tujuan mereka.