Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 92


"Hai....ponakan tante Lyra, yang ganteng dan cantik," ucap Lyra begitu  ia masuk ke kamar di mana Raja dan Ratu sedang bermain-main, kini bocah kembar itu sedang belajar tengkurap otomatis mereka sangat terlihat lebih mengemaskan.


Sisri yang sudah kenal dengan suara Lyra pun langsung menoleh ke sumber suara, di mana Lyra  sedang berdiri diambang pintu dengan menepuk-nepuk tanganya dan paper bag yang ia bawa di letakan begitu saja di atas lantai. Tidak hanya Sisri yang sepertinya sudah hafal dengan suara Lyra, dua bocah kembar yang sedang bermain kaki dan tangan, pun langsung menghentikan kegiatanya dan menoleh ke arah Lyra. Bahkan bocak itu terlihat senyum antusias dengan kedua tangannya seolah ingin meminta gendong, seolah mereka tahu bahwa yang datang adalah tante yang membantu menjaganya satu minggu yang lalu.


"Uluh, anak cantik dan ganteng ini, padahal baru satu minggu Tante tidak datang rasanya makin pintar dan makin besar ajah," celoteh Lyra dengan berjalan meninggalkan apa yang ia beli buat Raja dan Ratu di depan pintu begitu saja. Saking kangenya dengan dua bocah itu sehingga Lyra tidak lagi ingat peper bagnya, yang berisi mainan dan juga pakaian untuk mereka.


Diciuminya pipi yang semakin gembil milik dua bocah kembar itu. Lyra mengamati dengan benar-benar jeli setiap inci wajah Raja dan Ratu. Wanita itu semakin yakin kalau dua bocah kembar yang saat ini berada di hadapanya adalah anak salah satu putra Eira, entah Abas ataupun Kemal. Mata mereka, hidung dan wajahnya bisa dikatakan ada garis kemiripan.


"Aku harus bertanya pada Zifa, kalau memang anak ini adalah anak Kemal ataupun anak Abas, lalu kenapa Eira tidak mengambil anak ini saja, rasanya tidak mungkin kalau sang nyonyah besar tidak tahu kalau anaknya menghamili wanita lain, terlihat sangat lucu drama mereka memang. Kenapa aku baru tahu kebusukan keluarga itu sekarang, selama sepuluh tahu apakan aku terlalu memncintai Abas, hingga aku tidak tahu bahwa selama ini aku hidup dengan bangkai," batin Lyra, terkekeh sendiri menertawakan ke bucinanya pada Abas. Pandangan Lyra masih tertuju pada anak bayi yang kedua tanganya sedang berusaha meraih wajahnya, dan mungkin anak itu ingin memakanya.


Rasa capenya bahkan telah hilang menguai, padahal dia mengemudi seorang diri dari Jakarta ke Bandung, jarak tempuh yang memakan waktu kurang lebih tiga jam perjalanan, punggung dan juga kaki yang pegal, tetapi ketika melihat dua bocah yang lucu itu cape Lyra hilang. Dia tidak bisa membenci Raja dan Ratu yang polos itu. Anak kembar itu terlalu lucu dan menggemaskan sehingga Lyra tidak bisa membencinya.


Dari siang hingga toko hampir tutup Lyra sama sekali tidak beranjak dari kamar Raja dan Ratu, dia masih setia dengan ruangan itu bermain berganti gantian menjaga Raja dan Ratu rasa laparnya bahkan hilang karena terlalu seru dengan anak bayi itu. Mungkin karena efek dia yang sangat menginginkan anak sehingga Lyra sampai lupa dengan perutnya, tawa dua bayi yang terkekeh ketika bermain dengan dia membuat Lyra kecanduan, dan tidak rela meninggalkanya barang sejenak saja.


"Pukul tujuh malam rata-rata karyawan yang bekerja di dapur sudah pada naik dan mengambil alih dua anak kembar itu dan tentunya juga sang ibu kandung dari bayi yang tadi di kuasai oleh Lyra yaitu Zara. Seulas senyum yang ramah terliahat dari wajah Zara untuk menyapa Lyra, tetapi Lyra yang memang terlalu fokus mengamati Zara pun tidak memperhatikanya.


"Apa mungkin Zara yang datang menggoda sehingga dia dilecehkan, tetapi rasanya kalau Zara saja memiliki keterbelakangan pola pikir mana mungkin dia bisa memiliki perasaan untuk menggoda, bahkan dia saja tidak begitu mengenali dirinya sendiri." Lyra terus menebak-nebak dalam hatinya, hingga ia tanpa sadar memperhatikan Zara tanpa kedip.


"Teh, Teh Lyra kenapa lihatin Teh Ara kaya gitu?" tanya Tasi yang takut ketika melihat Lyra seperti berbeda dengan Lyra yang dulu pertama kali datang ke ruko mereka.


"Oh tidak Mba, saya hanya ingin seperti  Zara bisa memiliki anak kembar, justru saya malah baru saja di ceraikan oleh suami saya karena  saya tidak juga memiliki buah hati," ucap Lyra dengan sedih, biarpun dia setiap saat mengatakan harus melupakan Abas, mengubur kenangan buruk itu, tetapi tidak bisa Lyra tetap saja sakit ketika teringat hal itu. Dia tidak setegar dengan apa yang ia tunjukan di luar dirinya. Terlebih kebersamaan selama sepuluh tahun bukanlah hal yang mudah dengan gampang. melupakannya.


"Oh maaf Teh, Tasi tidak tahu, semoga kakak kuat menjalani ini semua yah," ucap Tasi dan di balas dengan anggukan serta senyum manis dari Lyra. Setelah Raja dan Ratu diambil alih oleh ibu kandungnya, Lyra pun memilih turun ke bawah sesuai rencananya datang ke toko ini, yaitu ingin mencari kejelasan atas dugaan dia, biar dia bisa tidur dengan nyenyak. Tidak menduga-duga terus yang belum tentu dugaanya juga benar.


"Lagi sibuk banget kayaknya Fa, adanya bisa di bantu?" tanya Lyra, sembari mendekat kearah Zifa yang tanganya dengan cekatan peking kue untuk pembeli, sedangkan calon ojek yang akan mengantarkan pesanan sudah mengantri.


Zifa menatap Lyra seolah tidak percaya. "Emang Mba Lyra bisa? Kalau bisa Ifa dengan senang hati dong," balas Zifa, siapa yang tidak senang ketika ditawarkan bantuan.


Lyra pun membantu sesuai arahan Zifa, dua jam kedua wanita itu bekerja sama untuk melayani para pembeli terutama yang datang via online.


"Huh, akhirnya selesai juga kerjaan aku," pekik Zifa sembari merentangkan tanganya lalu melentingkan tubuhnya ke kanan dan kekiri. Pegal, dan panas punggung itu yang dirasakan oleh Zifa.


"Ternyata kerjaan kamu cape juga yah Fa, aku yang baru bantuin kamu sebentar saja punggung panas dan belakang leher searasa berat mungkin karena kelamaan menunduk fokus dengan barang yang di paking sampai lupa untuk mendongak, berasa deh pegaalnya," lirih Lyra, bokongnya di letakan di kursi pengunjung, dan punggunya bersandar terasa cukup mengenakan.


"Cape yah Mba, maaf bantuin Ifa malah jadi kebablasan sampai oderan selesai," kekeh Zifa, "Ngomong-ngomong terima kasih yah Mba atas bantuanya, kalau tidak ada Mba Lyra percaya deh, entah kapan Ifa akan selesai peking oderan ini, sedangkan Heni kan fokus dengan oderan yang datang langsung ke toko, sedangkan Ifa bagian yang memegang oderan online, meskipun Heni kalau lagi pengunjung sepi ia akan membantu Ifa. "


"Kenapa kamu nggak tambah karyawan lagi Fa, ini aku lihat toko kue kamu sudah mulai laris dan bahkan untuk ulasannya bagus-bagus, seharusnya tambah satu lagi untuk bantu kamu peking, biar tidak terlalu lama ojek online yang nunggu juga," usul Lyra, bukanya kalau tambah karyawan baru, juga akan meringankan kerjaan mereka, dan ulasan semakin bagus karena peking mereka yang cepat.


"Hehehe, ia Mba rencananya Ifa juga akan menambah lagi karyawan di toko ini, tetapi belum menemukan yang tepat, nanti mungkin kalau sudah ada orang yang cocok langsung bekerja saat itu juga," jawab Zifa, siapa yang tidak ingin menambah karyawan lagi, hanya saja kalau asal ambil kan ngeri juga, harus di seleksi dengan baik, terlebih kerja di tokonya harus rajin mau cape dengan kerjaan yang seolah tidak ada hentinya.


"Semoga secepatnya dapat yah, oh iya Fa, aku boleh minta waktu kamu bentar tidak, ada yang ingin aku tanyakan tentang kalian?" Tidak ingin mengulur waktu, sehingga harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Lebih cepat tahu kebenarannya bukannya lebih baik.


Deg! Jantung Zifa seolah berhenti berdetak, dan tubuhnya seketika panas, yang ditakutkan terjadi juga. Rasanya Zifa belum siap apabila berbicara dengan Lyra terlebih itu menyangkut masalah keluarganya.