
Tidak hanya Kemal yang cemas dengan apa gerangan yang terjadi dengan Ghava, Eira dan Wina pun panik, bahkan Wina, calon istrinya pagi-pagi sudah datang ke rumah calon mertuanya untuk membuktikan secara langsung bahwa calon suaminya belum pulang alias ini semua bukan alasan-alasan calon mertuanya saja.
"Terus ini gimana Mih, kalau ternyata Ghava memang sengaja mau menghindar dari Wina, sedangkan Wina sudah sangat mencintai Ghava, Mih. Wina sudah tidak bisa lagi membohongi diri Wina sendiri, kalau Wina benar-benar cinta sama Ghava," adu Wina dengan sedih, ketika teleponnya tidak direspon oleh Ghava dan juga pesan-pesan dia diabaikan.
"Kamu tenang saja sayang Ghava mungkin memang sedang benar-benar sibuk apalagi Ghava juga kan baru datang ke negara ini, dan anak Mamih juga sedang sibuk-sibuknya untuk membuka bisnis yang baru. Nanti juga kalau dia sudah tidak sibuk akan menghubungi kamu. Kamu yang tenang yah sayang." Eira mencoba menenangkan calon menantunya yang kaya raya dan tentunya calon menantu idaman sehingga Eira sangat berambisi agar Ghava bisa menikah dengan Wina. Tentu kalau Ghava menikah sama Wina harta kekayaan yang menambah.
Besar harapan Wira juga, kalau di pernikahan Wina dan Ghava nantinya akan di segerakan memiliki keturunan, tidak seperti di pernikahan anak sulungnya Abas dan Lyra yang sampai usia pernikahannya sepuluh tahun, tetapi tidak juga memiliki keturunan. Wanita paruh baya itu sudah sangat menginginkan menimang cucunya, tetapi sampai sekarang anak-anaknya belum juga bisaa mengabulkan harapannya.
"Aku memang menginginkan cucu hadir di tengah-tengah keluarga ini, tetapi cucu yang terlahir dari bibi, dan bebet yang sesuai dengan keluarga ini, " batin Wira dengan pandangan menatap kagum pada calon menantunya yang kaya raya itu.
Andai Lyra bukan anak orang yang kaya raya juga pasti sudah sejak lama di usir dari keluarganya, beruntung saja Lyra kaya, jadi bisa menolong posisinya.
****
"Mas apa kamu sebenarnya setuju dengan usulan Mamih yang ingin kamu menikah lagi?" tanya Lyra, ketika wanita itu tengah memasangkan dasi pada suami yang sangat dicintainya. Lyra masih sangat berharap bahwa suaminya merespon pertanyaannya dari hati kehati. Selama ini apabila Abas di singgung dengan pernikahan dengan wanita lain, yang di sarankan oleh wanita yang melahirkannya selalu marah, selalu tidak mau merespon dengan memberikan jawaban yang memuaskan bagi Lyra, laki-laki itu akan melemparkan masalah ini pada keputusan mamihnya.
"Kenapa kamu selalu mempertanyakan itu, apa kamu sudah tidak cinta dengan aku?" tanya Abas.
Padahal hubungan keduanya, sudah mulai membaik lagi, tetapi terusik lagi dengan pertanyaan yang sebenarnya sangat malas di bahas oleh Abas. Laki-laki itu juga sebenarnya malas ketika setiap saat yang di tanyakan oleh keluarganya adalah sebatas-anak dan anak. Dia dan Lyra bahkan sudah mencoba segala pemeriksaan, dan segala cara, tetapi hasilnya apa? Semuanya nihil tidak ada satupun yang berhasil anaknya sampai lahiran. Dokter mengatakan bahwa kandungan Lyra lemah, sehingga setiap istrinya hamil tidak pernah sampai bisa melahirkan, Lyra akan keguguran, itu yang terjadi dalam masalah keluarganya seputar kehamilan dan anak.
Namun Abas juga tidak mau melepaskan Lyra, karena laki-laki itu juga sudah sangat mencintai istrinya.
"Bukan... bukan aku tidak cinta dengan Mas Abas, justru Lyra terlalu cinta dengan Mas Abas, Lyra takut kalau nantinya Mas benar-benar membawa satu sosok wanita yang akan menggantikan Lyra dan kita pada akhirnya akan berjalan sendiri-sendiri. Bukan lagi keluarga yang saling melengkapi. Lyra takut kalau harus berbagi suami, tetapi Lyra juga tidak mau diceraikan, dan tidak mau di madu. Lyra hanya ingin menjadi istri satu-satunya Mas Abas, Apa orang lain juga ada yang sesusah kita untuk memiliki seorang anak?" lirih Lyra. Kini wanita itu duduk di pinggir ranjang tidak lagi melanjutkan memasang dasi suaminya.
Perasaanya sudah kembali sensitif, hal itu karena akan ada menantu baru yang setiap saat makan selalu menjadi topik perbincangan yang panas, yah Wina dan Lyra nantinya pasti akan menjadi menantu yang bersaing ketat untuk memberikan perhatian pada mertuanya dengan cara memberikan cucu. Sekarang saja meskipun belum apa-apa tetapi Lyra dan Wina sudah terlihat tidak akur. Masing-masing ingin menjadi menantu yang terbaik di depan mata mamih mertuanya.
Abas mendekat kearah istrinya dan memeluk tubuh istrinya itu. "Apa perlu kita bulan madu lagi?" tanya Abas dengan meletakan dagunya di atas pundak yang terbuka, hembusan nafas yang hangat membuat bulu kuduk Lyra meremang.
"Bulan madu kemana?" tanya Lyra, wanita itu berusaha tetap santai, meskipun hasratnya sudah bangun kembali ingin dan kembali di puaskan. Lyra sebenarnya wanita dengan hasrat s*k yang tinggi, dia penasaran apa kendala dalam kehamilannya, karena kelainan yang dia miliki di mana wanita ini memiliki hormon seksual yang cukup tinggi sangat cocok dengan Abas yang juga memiliki libido yang tinggi.
Entah dari hal itu atau ada hal yang lain yang membuat wanita itu sulit untuk hamil.
"Kemana aja sesuai kemauan kamu," balas Abas. Lyra melihat jam di pergelangan tangganya di mana saat ini sudah waktunya sarapan kalau mereka bermain lagi akan banyak waktu yang terbuang dan Eira, mertuanya bisa-bisa teriak-teriak agar mereka segera menyusul sarapan.
"Aku pengin," lirih Abas dibalik telinga Lyra, dan Lyra pun sebenarnya menginginkannya.
"Sekarang kita sarapan dulu, dari pada nanti Mamih marah, setelah itu aku ikut kekantor kamu, dan aku akan memberikannya, sesuai dengan apa yang kamu mau di kantor," balas Lyra, dan dia berharap usahanya kali ini benar-benar membuahkan hasil dan dia bisa hamil hingga benar-benar melahirkan.
"Ok, aku suka gaya kamu yang nakal, tetap menjadi istri yang nakal'," lirih Abas dengan menggoda Lyra.
Pasangan suami istri itu pun turun dengan menunjukan wajah bahagianya. Setidaknya Lyra merasa menjadi wanita satu-satunya di hati Abas. Sehingga mertuanya tidak akan mudah untuk menyingkirkannya.
"Pagi Mih, Pih, Win," sapa Lyra dengan ramah, begitupun Abas, mengikuti memberikan salam.
"Pagi."
"Ghava belum pulang Mih?" tanya Abas, sebagai pembuka obrolan, di tengah-tengah sarapan mereka.
"Belum, kamu tidak tahu Bang, Kira-kira adik kamu kemana?" tanya balik Eira.
"Tidak Mih, kan kita juga kerja di kantor yang berbeda. Jadi mana ada Abas tahu kemana Ghava. Mungkin dia lagi sibuk. Maklum bisnis yang dia bangun sedang naik daun," balas Abas, agar keluarganya tidak terlalu mencemaskan adiknya itu. Abas tahu bagaimana perasaannya Ghava saat ini. Karena laki-laki itu pernah merasakan apa yang saat ini tengah Ghava rasakan juga, sehingga Abas ingin memberikan waktu untuk Ghava menenangkan pikirannya.
"Kasih Ghava baru juga pulang ke rumah sudah dijodohkan, " batin Abas.
"Ah, iya juga Bang, mungkin memang Mamih yang terlalu mencemaskan Ghava saja," balas Eira.