
Pagi hari menyapa, bahkan sinar matahari masih malu-malu menampakan cahayanya.
Hemzzz... Zifa mencoba menyingkirkan tubuh yang menindihnya kenyal dan sangat lengket itu yang ia radakan.
Aduh... Zifa justru mengaduh kesakitan ketika tubuhnya hendak ia gerakan dia tidak menyangka bahwa tubuhnya terasa sakit semua dari wajah, persendian hingga pangkal pahanya.
Ghava pun yang merasakan bahwa bantal gulingnya bergerak-gerak pun mulai mengerjapkan matanya. Dengan satu mata yang masih terpejam, dan sebelah mata lagi sudah terbuka.
"Kenapa Sayang...?" tanya Ghava dengan raut wajah yang sedikit panik begitu membuka wajah ia melihat wajah Zifa yang sedang meringis.
"Badanya sakit semua, dan bagian sensitif juga sakut, tapi pengin pipis," gumam Zifa dengan suara yang serak khas bangun tidur.
Ghava pun tanpa menunggu lama langsung bangkit dari tempat tidurnya, dan membopong tubuh Zifa. "Ah..." Zifa memekik ketika tubuhnya dengan enteng dibopong oleh Ghava.
"Mas jangan dibopong, tubuh aku berat," lirih Zifa, tetapi tidak diindahkan oleh Ghava, ia membawanya ke kamar mandi dan meletakan di closed.
"Mas keluar!!! Aku mau pipis," usir Zifa dengan mengibaskan kedua tanganya.
"Ayolah anggap saja aku tidak ada, lagian tubuh kamu sudah aku lihat semua," goda Ghava, dan laki-laki itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan sehingga ia pun mandi bersama Zifa, dan tentu sembari mandi Ghava lagi-lagi menggauli istrinya dengan berbagai gaya. Padahal Zifa ingin menolak, tetapi entah semenjak malam ini dia tidak kuasa menolaknya, yang ada di hati dan di mulutnya tidak sesuai.
"Kamu istirahatlah, dan aku akan minta Mbok Darmi menyiapkan makanan untuk kamu," titah Ghava, tetapi Zifa buru-buru menolaknya.
"Aku mau ke Bandung saja yah Mas, sudah kangen banget dengan Raja dan Ratu," balas Zifa dengan tatapan yang mengiba. Ghava menatap tajam apa yang dikatakan oleh Zifa.
Cukup lama Ghava berpikir kalau Zifa ke Bandung ia harus puasa lagi, tetapi Ghava juga tidak bisa menahanya dia kasihan dengan Zifa yang pasti bosan di sini.
"Tapi apa kamu tidak sakit," lirih Ghava dengan menunjuk area sensitifnya dengan dagu. Zifa pun sama mengikuti arah dagu Ghava dan buru-buru Zifa menggeleng.
"Tidak, lagian Ifa hanya duduk di atas mobil jadi tidak begitu berpengaruh kalau sakit," balas Zifa terus meminta izin.
"Ok, baiklah, kalau gitu ayo kita sarapan, dan setelah ini kita berangkat bareng, Mas berangkat ke kantor dan kamu berangkat ke Bandung, tapi ingat kalau butuh sesuatu kabari Mas, dan gitu kalau Mas kangen tidak apa-apakan kalau Ifa datang ke sini?" tanya Ghava dengan besar harapan yang tercapai.
"Ok Mas boleh telpon Zifa, kalau kangen," lirih Zifa. Ghava dan Zifa pun menuruni anak tangga di mana di sana ada Mbok Darmi yang terlihat sekali Mbok Darmi cukup kaget dengan hubungan majikanya yang sangat romantis, sangat berbeda jauh dengan Ghava dan Zifa yang biasanya terlihat cuek dan dingin. Pagi ini mereka sangat romantis.
"Kamu yakin tidak ingin aku antar?" tanya Ghava di pagi hari, ketika Zifa izin untuk menemui sodaranya di Bandung.
"Tidak, kan ada sopir yang bisa mengantar Ifa, Mas jangan khawatir semuanya baik-baik saja," balas Zifa dengan yakin.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Nanti kalau ada perlu apa-apa kamu hubungi aku yah. Aku tidak bisa nemanin kamu di Bandung karena di sini aku juga banyak pekerjaan , tetapi aku janji pasti aku selalu menghubungi kamu,dan salam untuk dua ponakan yang makin bawel dan juga salam untuk semuanya," lirih Ghava ketika ia harus kembali lagi ke Ibukota, sementara Zifa sendiri memilih tinggal di Bandung lagi setelah ia memutuskanya secara matang, tetapi pasti ia akan bolak balik Jakarta ketika Ghava membutuhkanya.
Lagi, Zifa hanya membalas dengan anggukan dan senyuman samar. Ghava pun memberikan pelukan hangatnya sebelum Zifa benar-benar naik ke dalam mobil.
"Jaga diri jangan nakal yah," lirih Ghava dan memberikan kecupan di keningnya. Manis, itu yang Zifa rasakan.
"Kenapa ketika aku yakin dan siap untuk meninggalkan semuanya Ghava sangat manis dengan aku, dan Ghava juga seolah tahu kalau aku ingin pergi darinya," lirih Zifa menggigit bibir bawahnya, tidak hanyaa itu ia juga sekarang nyaman di pelukan suaminya.
"Bagimana kalau ternyata dari kegiatan semalam aku bisa hamil dan membuat aku semakin sulit untuk lepas dari Ghava?" Lagi, batin Zifa menjerit. "Kenapa aku jadi orang plin-plan banget, kemarin aku yakin kalau aku tidak akan mudah terayu oleh Ghava dan akan tetap mempertahankan kesucian ini, tetapi malam ini justru aku berubah pikiran aku yang menawarkan surga itu." Zifa menggigit bibir bahwanya.
Setelah Ghava puas memeluk Zifa ia pun langsung mekepaskan Zifa dan memintanya Zifa masuk ke dalam mobil.
"Mang, bawa mobilnya yang benar yah," pesan Ghava pada supir pribadinya, dan mobil pun perlahan maju meninggalkan aparteman miliknya.
"Mungkin memang lebih baik Zifa di Bandung, aku takut kalau ada bahaya terhadapnya apabila dia tetap di sini," gumam Ghava terlebih setelah ia tahu wajah istrinya yang lebam-lebam itu karena perbuatan mamihnya.
Sementara itu Zifa di dalam mobil lagi-lagi pikiranya bimbang dengan hatinya sendiri yang seolah justru mengatakan kasihan pada Ghava yang sangat tulus menyayangi Zifa.
Sepanjang perjalanan Zifa lebih banyak diam karena seluruh tubuhnya yang tidak karuan rasanya sakit semua. Wanita itu juga mulai merasakan kebimbangan ia sama sekali tidak terpikirkan bahwa ia akan melakukan hubungan suami istri dengan Ghava.
Berbeda dengan Zifa yang seolah merasakan tubuhnya ada yang salah. Ghava justru hatinya sangat senang. Sama dengan Zifa bahwa Ghava pun tidak menyangka kalau Zifa akan memberikan kesucianya kepadanya.
"Ternyata rencana Tuhan memang sangat indah," gumam Ghava sembari tersenyum dengan bangga, kini ia tinggal mengurus semua urusan keluarganya setelah itu ia akan lebih fokus dengan bahagia atas keluarga kecilnya. Laki-laki itu tidak pernah membayangkan Zifa akan luluh denganya.
Badan yang selama ini dia rasa capek dan juga lelah, pagi ini ia seolah mendapatkan energi baru ia sangat semangat dan antusias dengan apa yang akan ia kerjakan.
Sementara di lain tempat Zifa yang sepanjang perjalanan tertidur pun tidak terasa sudah sampai pada alamat yang di tuju.
"Non... Non... sudah sampai," lirih super menepuk pundak Zifa dengan pelan, dan Zifa pun mengerjapkan matanya berkali-kali, bahkan ia seperti orang amnesia harus terbengong beberapa kali untuk sadar bahwa dia sendiri sedang melakukan perjalanan menuju ponakanya tinggal.
"Zifa pun langsung turun dan masuk ke dalam rumah Alwi tentu setelah diperiksa oleh security. Yah, masuk rumah itu memang tidak sembarangan hanya orang yang sudah kenal dan yang sudah membuat janji yang boleh masuk ke dalam rumah itu.
"Tante..." Dua ponakanya yang sudah menunggu kedatanganya dari beberapa jam yang lalu pun langsung berlomba lari dan menghambur ke dalam pelukan Zifa.
"Ya Tuhan, ini dua ponakan Tante kenapa sudah sebesar ini sih," desis Zifa yang tidak tahan menahan harunya, itu karena Raja dan Ratu makin hari makin pandai. Setelah berkangen-kangenan dengan Raja dan Ratu Zifa pun berpelukan dengan kakaknya yang makin cantik dan juga makin seksi. Itu karena di rumah ini ada tempat fitnes sendiri dan Zara sering bermain bersama Raja dan Ratu di sana. Alwi pun sering melakukan hal yang sama sehingga mereka sering berolah raga.
"Kakak apa kabar?" tanya Zifa yang mana Zara menjadi orang yang sangat irit bicara hanya senyum dan memperhatikan.
"Baik, Ifa gimana?" tanya balik Zara, dengan singkat.
"Ifa baik juga, kangen banget katemu dengan kalian," lirih Zifa dengan memeluk Zara dan hanya di balas senyuman oleh Zara.
"Perjalanan lancar Fa?" tanya Alwi dari lantai dua. Zifa cukup terkejut dia pikir Alwi tidak ada di sana.
"Kurang tau Bang. Iga tidur sepanjang perjalanan," Sontak saja di balas gelak tawa oleh Zara dan dua anaknya.
Mereka pun akhirnya kumpul-kumpul, dan seperti biasa dua anak kembar itu sedang heboh bermain mainan baru yang dibawakan oleh Tantenya.
### Berhubung kasus sudah selesai novel Ini akhir bulan akan tamat yah. Terima kasih tak terhingga yang mengikuti kisah mereka. 🙏🙏