Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Perinsip Zifa


Pandangan Zifa langgsung menoleh ke arah Ghava yang sedang tertawa renyah. "Jangan macam-macam yah Mas ini itu enggak lucu, baru kenal ngomongnya macam-macam," dengus Zifa sembari merapihkan piring bekas Ghava dan dia makan malam.


"Emang salah yah Fa kalau cowok suka sama cewek gitu?" tanya Ghava. Laki-laki itu merasa lebih nyaman dengan Zifa dari pada dengan Wina.


"Tidak salah, tapi bukan dengan Ifa karena Ifa masih pengin sekolah yang benar cari ilmu, dan tidak mau terlibat uruan percintaan, dari dulu dan sampai sekarang," balas Zifa dengan tegas. Perinsipnya tetap sama bahwa dia tidak akan berpacaran atau menikah dan apalah itu hubungan wanita dan laki-laki. Perinsipnya tetap sama, apabila berurusan dengan laki-laki yang ada nanti konsentrasi dia untuk mencari keadilan untuk dua keluarganya akan teralihkan. Sia-sia dong dia merencanakan semuanya sejauh ini. Harus berpisah dengan kakaknya bukan waktu yang singkat.


"Kan akunya maunya dengan kamu Fa gimana?" tanya Ghava, niatnya bercanda dan mencari tahu respon Zifa seoperti apa. Namun Zifa justru tidak memberikan respon apa-apa. Zifa tetap sibuk dengan kegiatanya membalasin customer onlinenya yang sudah banyak dan saling merespon baik, rencana Zifa yang membuka toko kue.


"Mas Ghava ini udah makin malam, sebaiknya Mas Ghava pulang deh, jangan ajarin Ifa hal yang tidak-tidak, Ifa masih kecil, masih harus kuliah. Harus memulai bisnis yang baru akan Ifa buka, tolong jangan tebar racun modus di sini. Kalau mau cari jodoh di yang lain ajah," cicit Zifa, takutnya kalau meladenin nanti Ghava makin ke GRan.


"Alwi sama Beni tidak pulang?" tanya Ghava, yang melihat Alwi dan Beni masih sibuk dengan pekerjaanya.


Zifa membuang pandanganya, jengah. "Beni dia karyawan di sini, jadi dia tidur di ruko ini, karena besok pagi kita harus mulai membuat kue untuk pembukaan perdana toko, dan kalau dokter Alwi sepertinya juga akan menginap di sini. karena membantu Beni untuk menyelesaikan dekor," jawab Zifa dengan suara di bikin sesabar mungkin. Padahal Zifa sudah malas untuk meladeni Ghava.


"Kalau aku tidur di sini boleh, kan di sini ada laki-laki lain, aku baru di sini Fa, dan hujan di luar sana juga masih deras. Mau cari hotel juga tidak tahu kemana. Lupakan ucapan aku yang tadi, aku cuma bercanda kok. Lagian aku juga mau mengurus bisnisku dulu, mungkin dua atau tiga tahun lagi aku baru ingin memikirkan rumah tangga, aku masih muda lagi Fa, bisnis juga baru meritis. Kalau langsung nikah nanti malah  tidak fokus untuk mengurus karirku yang baru merintis dulu. Sama dengan kamu aku juga banyak cita-cita yang ingin di raih. Ucapan aku tadi mah buat seru-seruan ajah, biar kita makin dekat," ucap Ghava yang melihat perubahan Zifa setelah obrolan mereka mengenai jodoh.


"Nah Itu Mas Ghava tahu, Ifa sih tidak masalah yah Mas Ghava mau ngomong apa, tetapi Zifa tidak akan pernah memikirkan jodoh ataupun percintaan. Ifa tetap memiliki pendirian yang kuat hanya akan memikirkan semua itu, setelah semua cita-cita Ifa terselesaikan, dan Kak Zara sudah bahagia dengan dua anaknya," tutur Zifa agar Ghava tidak berbicara cinta-cintaan andai dia ketemu lagi.


"Jadi aku boleh tidur di sini kan Fa?" tanya Ghava, dengan wajah memelas.


"Kalau soal itu Mas Ghava lebih baik tanyakan sama dokter Alwi ajah yah, soalnya di sini yang mengatur semuanya dokter Alwi, kalau dokter Alwi mengizinkan terserah Mas Ghava mau tidur di sini juga tidak masalah," jawab Zifa.


"Terima kasih Fa, kalau gitu aku gabung dengan dokter Alwi dan Beni yah." Ghava beranjak dari duduknya meninggalkan Zifa dengan kegiatanya.


Ekor mata Zifa terus memperhatikan Ghava, dadanya berdesir. Tangan Zifa memegang jantungnya yang sejak tadi bergemuruh, sejak bertemu dengan Ghava. "Aku seperti kenal dengan Ghava tetapi dia siapa? Suaranya dan wajahnya seperti tidak asing buat aku," imbuh Zifa.


Zifa menajamkan pendengaranya dan mengingat-ingat suara siapa yang kira-kira mirip dengan suara Ghava, tetapi dia lupa. "Ah entah lah suara siapa, yang penting aku tetap tidak akan tergoda dengan laki-laki itu. Siapa pun laki-laki itu. Aku sudah jauh melangkah. Aku sudah jauh mempersiapkan ini semua jangan sampai gara-gara sosok laki-laki datang menghancurkan misiku." Zifa selama ini terus memantow sosial media, tidak ada lelah dan tidak ada kata menyerah, gadis itu selalu mencari tahu info keluarga mantan manjikan almarhum ibunya.. Dan berharap dia bisa masuk ke keluarga itu tanpa di curigai, selain sebagai asisten rumah tangga. Maka dari itu Zifa selalu menunggu dari sosial media salah satu kerabat maupun teman kemal memberikan info yang akurat mengenai keluarga kaya raya itu.


Ghava yang baru gabung dengan Alwi dan Beni, begitu melihat Zifa naik ketangga matanya terus mengamatinya hingga Zifa tidak terlihat lagi.


Ehemz... Suara deheman berhasil mengagetkan Ghava yang masih sibuk menatap Zifa.


"Suka?" tanya Alwi.


"Suka, tapi Zifanya kayak enggak mau pacaran, katanya mau sekola dulu," balas Ghava tanganya kembali bekerja.


"Iya memang, lagian juga kalau ada yang mau deketin dia aku tidak bakal izinin, dia masih harus kuliah dan kejar cita-citanya dulu biar tidak di pandang rendah oleh orang lain." Alwi juga sangat mendukung keinginan Zifa maka dari itu dia selalu menasihati Zifa karena bagi Alwi Zifa itu sudah lebih dari adik.


Ghava pun mengangguk sebagai tanda mengerti, dan dia berfikir mungkin memang dia sudah takdirnya dengan Wina.


"Bang, ngomong-ngomong di sekitar sini tahu ada ruko tidak?" tanya Ghava, dia baru ingat dengan misinya yaitu memperluas cabang dari usahanya.


"Buat apa?" tanya Alwi singkat.


"Mau buka kantor." Ghava menjelaskan usahanya di bidang apa, dan juga tujuanya menyewa ruko untuk apa.


"Kayaknya ruko depan sini masih kosong, coba besok kamu cek ajah. Kalau masih kosong bisa di sana, secara di tempat ini tempatnya termasuk setratrgis bisa masuk pertimbangan," jawab Alwi yang menyambut baik rencana Alwi membuka cabangnya di sekitar sini.


"Tapi ingat kalau buka cabang di sini, jangan sampai godain adik aku dulu, setidaknya sampai dia lulus kuliah dan usahanya berhasil," ancam Alwi.


"Siap bang, tapi kalau jodohnya dengan Ifa mau pergi jauh juga ketemu lagi kok," balas Ghava dengan santai.


Sementara Alwi membalasnya dengan jengah. " Keras kepala," dengus Alwi.