
Entah berapa lama Ghava dan Zifa saling mengobrol di sambungan telepon. Yah kali ini lagi-lagi modus Ghava tercapai, dengan menggunakan Raja dan Ratu pada akhirnya bisa melipir ke tantenya.
Sekarang bukan lagi telepon untuk mengobrol dengan Raja dan Ratu, karena sejak tadi dia anak kembar itu sudah kembali merajut alam mimpinya. Saatlah ini Zifa yang sedang mengobrol dengan Ghava. Entah obrolan apa saja yang mereka bicarakan, tetapi selalu menyambung terus seolah tidak ada kata kehabisan topik hingga tanpa sadar ponsel mereka sudah panas, dan kedua muda mudi itu pun mengakhiri obrolanya.
Tanpa Ghava jelaskan Abas sudah tahu betul bahwa yang sedang melakukan panggilan telpon dengan adiknya adalah orang yang sudah berhasil masuk dan merebut hati adiknya.
"Kasihan mereka," batin Abas, sembari terus kedua bola matanya mengawasi Ghava, tetapi Abas juga tahu batansanya, ia tidak akan bisa membantu memperjuangkan cinta adiknya. Padahal dulu Abas pikir kalau ia mengalah dan menerima apa yang jadi kemauan orang tuanya, adik-adiknya bakal lolos tidak ada yang di namakan lagi perjodohan, karena menikah dalam kasus perjodohan tidak mudah, tidak akan berjalan dengan mulus, bahkan sering juga Abas membohongi dirinya sendiri. Berbohong bahwa hidupnya bahagia, tetapi pada kenyataanya hidupnya tidak seindah itu. Rumah tangganya penuh dengan kepalsuan.
"Ehem... siapa Va, sampe lupa kayaknya kalau di sini masih ada abang loe," gerutu Abas, dan Ghava.yang memang kenyataanya benar-benar lupa pun langsung membalikan tubuhnya, tangan kananya tanpa sadar menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Gigi-gigi yang putih dan berjejer rapih ia pamerkan.
"Hehehe... maaf Bang gue bener-bener lupa kalau masih ada Abang di kamar ini? Apa tadi Abang dengar semua yang gue katakan dengan orang yang berada di balik telepon?" tanya Ghava dengan muka tanpa dosa, seharusnya tanpa di tanya Ghava sudah tahu dengan betul bahwa suaranya yang kencang dan terlihat bahagia itu mana mungkin tidak terdengar oleh telinga Abas.
Abas membuang pandanganya, jengah. "Setelah loe ngomong seperti orang teriak-teriak, terus loe masih tanya? Padahal loe sendiri sudah tahu jawabanya, lalu yang ingin loe dengar gue berkata jujur atau gue harus berkata bohong, dan ekting kalau gue adalah orang yang meningindap tuna rungu?" tanya Abas, dengan malas. "Siapa dia, apa dia gadis yang kamu sukai? Lalu rencana kamu untuk hubungan kalian gimana?" imbuh Abas, kali ini pertanyaanya lebih serius lagi.
Ghava berjalan ke tempat tidurnya dan membanting bokongnya di sisi tempat tidur. "Gue enggak tahu, gue sendiri hampir setiap malam bingung memikirkan masa depan gue sendiri. Gue tahu bahwa hubungan kita tidak akan mudah dan mungkin malah pilihan Gue akan menjadi bumerang dan bom waktu yang meledak pada keluarga ini, dan membuat keluarga ini hancur. Tapi hati ini nggak bisa bohong, hati ini tetap ingin gadis itu yang menjadi istriku. Bukan Wina ataupun wanita lain," balas Ghava dengan pandangan di buang ke luar jendela besar di dalam kamarnya. Posisinya saat ini Ghava duduk dengan memunggungi abangnya yang sedang duduk juga setengah berbaring dengan menyender pada bantal yang di tumpuk tinggi.
"Lalu apa loe juga akan diam dan pasrah menerima nasib sama seperti gue? Loe akan mengabaikan kebahagiaan kalian demi orang tua dan nama baik keluarga?" lirih Abas.
Masalah yang dihadapi Ghava bukan masalah yang gampang, butuh pertimbangan untuk mengambil keputuanya. Abas juga tidak mau memberikan solusi yang mungkin saja justru solusi dia akan menghancurkan semuaanya.
Ghava membuang nafas kasar. "Gadis itu saat ini baru masuk kuliah butuh waktu tidak sebentar untuk bisa menyelesikan kuliahnya, di samping dia kuliah, gadis itu juga sedang mencoba merintis bisnisnya. Keinginan aku adalah ingin tetap fokus dengan pengembangan bisnis aku sembari aku menunggu gadis itu untuk selesaikan kuliahnya, dan juga gadis itu masih bisa mengatur usahanya, tanpa diikut campuri urusan yang lainya. Empat sampai lima tahun aku beri waktu buat gadis itu menyelesaikan semuanya aku rasa itu waktu yang pas, sekalian aku mematangkan umur dan gadis itu juga. Tapi seperti yang loe pikirkan orang tua kita tidak akan terima dengan rencana aku, terlebih gadis itu hanya gadis sederhana dan yatim piatu pula, akan sangat berat untuk bisa di terima oleh keluarga kita." Ghava menjabarkan dengan cukup detail rencananya.
"Gue tidak mau hidup gue seerti loe, tetapi orang tua kita tidak semudah itu untuk mengerti perasaan kita. Sebenarnya gue bisa-bisa saja kabur dari rumah ini dan pergi entah kemana, luar negri atau dalam negri banyak tempat yang bisa menampung gue untuk bersembunyi tetapi gue tidak ingin membuat masalah buat orang-oarang yang tidak tahu apa-apa. Karena akibat dari yang gue lakukan gue yakin bakal banyak orang yang kena imbasnya termasuk loe dan adik gue, Kemal. Tapi gue juga tidak bisa dan tidak mau harus tunduk untuk mengikuti apa yang jadi keinginan orang tua kita. Gue bukan boneka Bang," lirih Ghava, dan Abas bisa mengerti gimana rasanya berada di posisi adiknya, karena lebih dulu ia pernah merasakanya.
Nasib menjadi anak orang kaya itu tidak selamanya enak dan tidak selamanya akan berjalan sesuai apa yang kalian inginkan. Tidak enak hidup dilingkungan keluarga yang toxic terutama keluarga yang memandang bahwa apa-apa dari materi, sakit menjadi anak yang selalu dituntut untuk ini dan untuk itu. Hal itu yang sedang dirasakan oleh Ghava, bahkan urusan perasaan dan hati saja dibuat susah dengan peraturan keluarga.
"Kalau loe minta waktu pernikahan diundur gimana Va, empat tahun atau lima tahun sesuai yang loe rencanakan untuk serius dengan gadis itu. Sekalian mungkin dengan waktu segitu Wina sudah menemukan calon suaminya yang lain, jadi loe bisa bebas dari perjodohan ini," celetuk Abas, memberikan ide yang mungkin adalah solusi terbaik untuk hubungan Ghava dan juga untuk perjodohanya batal dengan sendrinya.
"Ide loe sih bangus, tapi kira-kira alasan apa yang bisa gue pake biar mamih dan papih ngerti dan yakin. Sama keluarga Wina juga mengerti alasan gue?" tanya Ghava mungkin ide abangknya akan cemerlang lagi.
"Aduh Ghava, loe pake alasan untuk bisnis loe kek, misalnya loe pengin ngembangin cabang loe sampai sepuluh, seratus atau bahkan seribu, jamin deh kalau soal uang mungkin saja mereka akan mengikuti kemauan loe. Kan yang ada di pikiran mereka adalah uang dan uang," oceh Abas, memang betul apa yang dikatakan oleh Abas bahwa keluarga ini yang terpentung uang dan uang.
"Ide loe keren, gue akan coba bernegosiasi dengan Wina, dan semoga saja Wina mau ngomong dengan keluarganya mengenai rencana gue dan pernikahan yang enggak gue inginin bisa batal, rasanya malas banget punya istri kaya Wina. Belum jadi suaminya aja udah di buat kesal dengan banyaknya peraturan dari dia, gimana udah jadi istri yang ada aku semakin dibuat ingin cari madu buat dia," ucap Ghava, sembari bergidig dan berkelakar.
"Dan itu yang ingin gue lakukan ingin cari madu, tapi yang sesuai dengan kriteria gue, bukan mamih atau papih yang menjodohkanya lagi. Kapok gue nikah dijodohkan, rasanya rumah tangga itu kaya yang horor, kamu tahu kan rumah horor, belum di masuki udah ketakutan duluan udah gitu sekalinya di dalam rumah itu pengin buru-buru untuk keluar karena tidak betah.
"Gue belum merasakanya ajah udah takut duluan bang," balas Ghava itu sebabnya ia tidak ingin menikah dengan Wina, dan mudah-mudahan rencananya bisa dimengerti oleh orangtuanya maupun orang tua Wina.
Malam ini pun Ghava dan Abas menjadi kaka adik yang kompak, yang sebelumnya sejak Abas menikah dengan Lyra rasa hangat itu seolah pergi, tetapi malam ini mereka terlihat manis sekali. Malam ini mereka tidur bersama seperti beberapa tahun lalu.