Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Misteri Kehidupan


Ghava terus menatap dua wanita yang ada di layar pintarnya. Pandangan matanya seolah tidak mau lepas dari Zifa dan kakaknya. Yah, Ghava tau siapa Zifa dan kakaknya Zara sebab Kemal yang memberikan keterangan di setiap foto yang ia kirimkan. Seolah mata mereka memiliki daya tarik tersendiri sehingga Ghava tidak ada bosan-bosanya menatap foto itu. Terutama Zifa, sejak pertama Ghava melihat foto gadis yang menurut penuturan Kemal baru melangsungkan acara ulang tahun, berhasil mengetuk pintu Ghava. "Siapa Zifa kenapa senyumnya sangat familiar buat aku, dan juga wajah dia berhasil membuat aku bahagia," batin Ghava, dengan senyum bahagia yang ia perlihatkan di balik wajah lelahnya.


Ghava mengambil ponsel yang lain dan segera mengirim uang senilai dua milliar ke rekening yang Kemal berikan dan kata Kemal itu adalah rekening Zifa. Zifa Ceylan Fthiyah, nama yang cantik, secantik orangnya," batin Ghava ketika membaca nama yang tertera sebagai nama pemilik tabungan itu. Padahal Ghava baru melihat Zifa dan Zara sekali ini, tetapi Ghava sudah terbayang-bayang terus senyum yang terukir di wajah Zifa.


Laki-laki itu tidak bisa membayangkan bagai mana kehidupan mereka tanpa orang tua. Kini mereka harus berbagi penderitaan berdua saja setelah kepergian ibunya. Yang mana kakaknya juga menderita ganguan emosi yang tidak setabil. Lalu kehidupan seperti apa yang akan mereka jalani? Perasaan Ghava tiba-tiba di landa ke bingungan takut kalau hidup mereka berakhir sia-sia. Ghava pun menjadi ikut terfikirkan dengan nasib dua wanita yang fotonya masih ia tatap.


"Kemal, apa kira-kira rencana Kemal untuk melindungi dua gadis ini selain memberi uang dan menyembunyikan data diri aslinya?" Ghava akan kembali bertanya pada Kemal mengenai rencananya itu.


#Takut ada yang komen, kok Zifa baru ulang tahun sudah punya buku tabungan, jadi sekarangkan ada tabunganku, tabungan yang di peruntukan buat anak di bawah umur yang belum memiliki KTP, dan ceritanya Zifa punya tabungan itu, karena setiap habis jualan dia disisihkan lalu ditabungkan kerekeningnya pribadinya untuk modal ia melanjutkan pendidikanya. Dan Ghava langsung transfer ke rekening Zifa biar mutasi rekening Kemal tetap bersih dari hal-hal mencurigakan yang mungkin saja kanjeng ratu tiba-tiba razia.


Cllling... suara pesan masuk, Zifa yang sedang kembali bersedih ketika merapihkan rumah, yang tinggal hitungan jam akan ia tinggalkan, buru-buru membuka ponselnya. Dia mengira Kemal yang mengirimkan pesan itu, pasalnya tadi Kemal bilang kalo ada info apa-apa akan segera di kabarkan segera pada Zifa. Dan Zifa memang tengah menunggu info yang mungkin sajah Kemal berikan.


Kedua bola mata Zifa seolah akan lompat ketika satu pesan singkat memberi tahukan bahwa tabunganya telah berhasil di tambahkan saldo senilai dua miliar. Zifa kebali mengucak-ucak kedua matanya. "Apa aku ini sedang bermimpi?" batin Zifa, dia mengcubit lenganya juga takut kalo-kalo apa yang ia baca adalah dalam mimpinya, tetapi lagi-lagi Zifa merasakan sakit di cubitanya.


"Ini bukan penipuan kan?" tanya Zifa kembali bertanya pada dirinya sendiri, dan juga ia kembali membaca pesan singkat yang dikirim dari bank milik suasta itu. "Ghava Maulana, siapa dia?" tanya Zifa lagi, tetapi dalam fikiranya ia langsung tertuju pada Kemal. "Kemal? Yah, aku harus bertanya pada kemal, siapa kira-kira yang mengirim uang ini? Hanya Kemal yang tahu nomer rekeningku, dan juga hanya dia yang mengatakan akan memberiku uang senilai uang yang barusan masuk ke nomer rekeningku," imbuh Zifa pikiranya kembali di lingkupi rasa kebingungan kenapa kehidupanya menjadi sangat misterius. Zifa justru merasa kehidupan yang ia jalani terlalu misterius di luar lingkup kehidupan yang semestinya. Dalam waktu singkat kehidupanya berpindah-pindah, seolah ia tengah berada di dimensi yang berbeda.


Dari dia yang merasakan kebahagiaan yang belum ia rasakan sebelumnya, lalu di jungkir balikan menjadi kesedihan yang teramat dalam dengan meninggalnya ibunya, lalu mesteri-misteri yang janggal, memaksa ia harus meninggalkan jati dirinya dan memulai sebuah kehidupan yng baru. Sungguh Zifa seolah tengah menyiapkan persiapan untuk rengkarnasi ke dalam kehidupan yang baru. Gadis itu sampai-sampai bingung apakah ini benar kedupanya atau dia tengah terjebak di dalam dunia yang berbeda?


Gadis itu membuang rasa bingung dan penasaranya, dan menganti dengan wajah penuh senyum hangatnya. Yah, sekarang kakaknya adalah keluarga satu-satunyya. Kakaknya yang membuat ia tetap semangat untuk menjalani kehudupan yang penuh misteri ini. Zara adalah orang yang tidak penah merasa sedih atau kesal. Ingin memiliki sifat seperti Zara, tanpa dendam yang menggebu-gebu. Zifa yang sekarang adalah gadis pendiam yang di penuhi dengan dendam di dalam hatinya. Tujuanya bertahan dan seolah menerima takdir ini adalah ia bisa membalaskan ketidak adilah yang ia terima. Kehidupanya dipermainkan oleh orang yang berkuasa hingga ia kehilangan semuanya. Maka, sekarang dia memang tengah mempersiapkan kehidupan yang baru. Hidup yang bisa mebuat ia menemukan otak dibalik musibah-musibah yang di alami keluarganya.


"Ibu doakan anakmu untuk menemukan keadilan itu," batin Zifa sebelum ia menghampiri kakaknya yang masih mematung bersandar di dinding yang catnya sudah usang. Zara berdiri dengan mengaruk-garuk kepalanya, seolah ia tengah menyumpulkan nyawanya.


Zifa mengelus perut kakak yang sudah sedikit menonjol entah berapa bulan sekarang usia kandungan kakaknya. Ada rasa nyeri ketika Zifa melakukan itu. Kenapa ada laki-laki yang begitu kejam dan keji melakukan pemerkosan pada kakaknya apakan laki-laki itu tidak melihat mata polos kakaknya saat itu. Apa lagi-lagi itu orang gila juga yang tidak memiliki belas kasih? Air mata Zifa kembali turun ketika mengingat kearah sana. Bukan air mata kesedihan tetapi air mata kebencian.


Zifa bersumpah orang-orang yang membuatnya sampai dititik lelah menjalani hidup ini harus merasakan berkali-kali lipat kesedihan juga.


"Kaka mau makan apa?" tanya Zifa dengan suara lembutnya.


"Apa ajah Ifa, laper," rengek Zara. Kebetulan tadi Zifa membuat sayur daun singkong dari belakang rumah dan telor dadar.


Zifa menuntun kakaknya dan membuka tudung saji yang hanya ada menu sederhana itu. Tetapi nampak senyum bahagia terlihat di wajah kakanya. Zifa membalas senyum itu.


"Kak, semoga suatu hari nanti kakak tahu yang sebenarnya terjadi dengan keluarga kita. Kakak bisa ingat dengan apa yang menimpa kakak dan ibu kita. Hanya kakak saksi kunci semuanya," lirih Zifa sembari melihat Zara yang tengah makan, seolah dia sangat kelaparan. Benci, Zifa tidak akan bisa benci dengan kakanya. Zara adalah lentera di kehidupan yang gelap, sehingga tidak ada alasana Zifa untuk membenci kakaknya. Dia istimewa dimata Zifa hanya orang-orang tulus yang bisa melihat keistimewaan itu.