Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Kesakitan Zara


Zifa yang masih melamun menatap pemandangan alam di tengah gelapnya malam. Lamunany ditarik paksa ketika ia mendengar suara dering ponsel. Zifa terkejut ketika ponselnya berdering. Hati Zifa langsung bergemuruh tidak menentu, ketika ia melihat nama sang pemanggil. "Bunda Anna ada apa malam-malam begini telepon Zifa?" batin Zifa, tetapi tak ayal ia buru-buru menekan ikon berwarna hijau.


"Halloh Bun," sapa Zifa dengan suara bergetar banyak pertanyaan yang ingin ia ucapkan tetapi seolah bibirnya tercekik, tidak bisaa berkata-kata lagi.


"Ifa, bisa datang ke yayasan, sekrang. Kakak kamu tiba-tiba histeris sepertinya dia mengingat sesuatu," ujar Bunda Anna ketika sambungan telepon langsung terhubung.


"Iii... iya, Ifa akan langsung datang ke yayasan saat ini juga Bun," ucap Zifa, ia langsung memutuskan sambungan telepon dan menyambar jaketnya, lalu bersiap akan ke yayasan. Padahal jam sudah menunjukan tengah malam tetapi Zifa tidak memikirkan takut atau pun apa, yang terpenting saat ini ia sampai di yayasan dan melihat kondisi kakaknya.


Sebelumnya Zifa sudah memesan sebuah ojek online dari aplikasi online. "Kak tunggu Ifa yah, semoga ini adalah awal yang baik untuk kakak, semakin cepat kakak mengingat apa yang terjadi dengan ibu dan juga yang terjadi dengan kakak, maka kita akan semakin cepat bisa menemukan keadilan," gumam Zifa di mana saat ini Zifa tengah menunggu ojek online, dengan berjalan bolak balik di depan rumahnya dengan perasaan yang cemas. Udara sejuk kota itu tidak membuat Zifa malas, justru Zifa tertantang ingin menunjukan bahwa ia mampu melawan rintangan ini semua. Ia pasti bisa menemukan jalan keadilan


Tidak lama ojek online dengan atribut lengkapnya datang kearah Zifa. "Mau kemana Neng malam-malam begini?" tanya sang penemudi yang dari wajahnya sepertinya umurnya sudah di atas empat puluh tahun.


Yah, sang pengemudi bertanya dengan ramah , dan mencoba membangun komunikasi. Tidak mungkin kalau tidak begitu penting  perempuan muda akan keluar malam-malam bahkan saat ini sudah lewat dari dini hari.


"Yayasan Mutiara Bersinar yah Pak, kakak saya sedang membutuhkan saya saat ini juga," ucap Zifa, dari suara sudah terdengar sangat cemas.


Tubuh Zifa langsung melesat masuk ke dalam yayasan dengan langkah seribunya, tentunya sebelumnya sudah memberikan ongkos untuk abang ojek dan juga tipsnya. Zifa lagi-lagi menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kamar kakanya, hatinya teriris ketika mendengar ringekan dari Zara. "Ibu enggak mati, Ibu hanya bobo, Ibu nangis, minta tolong sama Ara." Itu adalah serangkaian ucapan yang terus terucap dari bibir mungil kakaknya.


Dengan langkah yang lemah dan terseok Zifa masuk ke kamar yang tidak terlalu luas.


"Zifa, kamu sudah datang," Bunda Anna menggeser duduknya agar Zifa juga bisa duduk di samping Zara.


"Apa yang terjadi dengan kakak Bun? Apakah ini tandanya Kak Zara sudah mengingat sesuatau?" tanya Zifa dengan suara lirihnya, ada sedikit kelegaan kalau kakaknya akan mengingat apa yang kemungkinan terjadi dengan Zara disaat itu, tetapi juga ada kesedihan, di mana kondisi Zara yang demam tinggi dan terlihat sangat menyiksa untuk mengingat semua ini.


Zifa menggenggam tangan Zara yang terasa hangat dan menciumnya. "Kakak, apa ini sangat menyakitkan untuk Kakak? Maafkan Ifa, yang terus memaksa Kakak untuk mengingat semuanya, maaf Ifa tidak tahu kalau hal itu akan menyakiti kakak. Kakak yang kuat yah, ada Ifa yang akan siap membagi kesakitan Kakak, Ifa tidak akan meninggalkan Kakak, tapi Kakak juga harus kuat untuk Ifa, dan dua anak Kakak." Zifa membisikan kata-kata motifasi agar Zara tetap kuat terutama untuk adiknya dan dua buah hatinya


Bunda Anna mengelus pundak Zifa. Memberikan kekuatan. "Fa, kita sepertinya harus anggil skiater untuk memberikan obat penenang, dan sepertinya kondisi Zara yang seperti ini bukan hanya butuh Bunda sebagai pendamping Kakak kamu, tetapi juga butuh tenaga yang ahli dan terdidik seperti Pskiater." Bunda Anna dengan suara lembutnya dan mungkin juga lelah mengurus Zara mencoba memberikan solusi untuk Zifa.


"Kalau itu memang perlu dan terbaik, lakukan Bun, soal biaya berapapun akan Zifa usahakan. Asal Kak Zara bisa sehat dan tidak kesakitan lagi, dan kalau boleh di minta lebih Zifa juga ingin kakak mengingat semuanya," ucap Zifa. Yah, saat ini  uang bukan masalah buat Zifa, yang terpenting adalah Zara sehat. Biarpun uang yang Kemal berikan habis hanya untuk pengobatan kakaknya Zifa tidak akan masalah. Zifa akan ikhlas asal kakaknya bisa sehat dan mengingat semuanya.


Bunda Anna mengambil ponselnya untuk menghubungi temanya yang memiliki profesi yang bunda maksud.


"Assalammualaikum..." Suara serak dan berat terdengar dari balik pintu.


"Walaikumsallam..." Bunda Anna dan Zifa membalas salam secara bersamaan, dan bunda Anna berjalan kearah pintu dengan membukakan pintu itu.


"Selamat malam Bun," sapa laki-laki itu. Yah, dokter Alwi yang nanti akan menangani Zara.


"Malam Dok, ini tadi yang saya beritakan dan kondisinya masih belum tenang." Bunda Anna mengajak Alwi masuk ke dalam kamar Zara.


"Saya periksa dulu yah Bun." Alwi lebih dulu tersenyum ramah dengan Zifa. Pertama Alwi melihat Zara sudah terpikat dengan kecantikanya, di mana perempuan yang Bunda Anna sudah ceritakan dengan kondisinya memang sangat cantik.


"Pantas saja ada laki-laki buaya yang tega melakukan perbuatan keji pada Zara, dia memang cantik dan mempesona," batin Alwi, di mana dia sebelumnya menyuntikan obat penenang agar Zara bisa istirahat tanpa mengigo.


"Dok, apa obat itu tidak berbahaya untuk kaka saya? Dia kondisinya sedang hamil," ujar Zifa takut kalau obatnya akan berbahaya untuk kakak dan ponakanya.


Alwi tersnyum tipis dan memberikan pandangan yang teduh. Kamu tidak usah khawatir. Bunda Anna sudah memberi tahukan kondisi kakak kamu. Dan obat yang aku suntikan aman untuk ibu hamil." Alwi yang duduk di samping Zara mengelus perut Zara. Entah mengapa hati laki-laki itu iba dengan kondisi Zara. Dan dengan sendirinya ia mengangkat tanganya dan mengelus perut buncit kakaknya Zifa.


"Berapa usia kehamilanya?" tanya Alwi, tanganya masih mengelus dengan lembut perut Zara.


"Tiga bulan Dok," jawab Zifa, ia tidak keberatan perut kakaknya dielus-elus oleh Alwi.


Alwi tercengang. "Tiga bulan? Aku pikir lima atau bahkan enam bulan," jawab Alwi yang melihat perut Zara sudah besar, tetapi kenapa usia kehamilanya baru tiga bulan.


"Kembar Dok," balas Zifa.


Alwi lebih terkejut lagi. "Ke... Kembar? Beruntung sekali kakak kamu bisa hamil anak kembar, semoga semuanya lancar," balas Alwi ia semakin gemas dengan perut buncit Zara yang terlihat sangat menggemaskan.


"Amin," balas Zifa dengan tersenyum kecut.