Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 126


Lyra yang baru saja terbangun seperti biasanya ponsel adalah benda pertama yang dicarinya. Bahkan matanya masih terpejam pun tangannya sudah meng-gerayangi sisi kasurnya untuk mencari benda pintar itu. Kedua matanya memang masih terpejam dan masih sangat berat dan remang-remang, setelah menemukan benda itu di lihatnya layar ponselnya hingga matanya menyipit sempurna. Lyra melebarkan kedua matanya seketika ketika ia membaca laporan panggilan dari Zifa yang cukup banyak.


Hatinya sudah terasa cemas takut apabila terjadi sesuatu dengan Zifa, Zara atau bahkan kedua anak kembar Zara. Pikiran Lyra menjadi tidak tenang setelah ia membuat kacau acara Abas. Yang ia takutkan Kemal mengetahui persembunyian mereka, meskipun sangat sulit untuk melacaknya mengingat Zara dan kedua buah hatinya tinggal di rumah Alwi, serta Zifa yang tinggal bersama Ghava.


Lyra langsung menghubungi Zifa begitu membaca pesan yang ditinggalkan oleh Zifa.


Di tempat berbeda Zifa yang baru saja merasakan matanya terpejam harus terbangun secara paksa setelah ponselnya menjerit dengan kencang menandakan bahwa ada yang meneleponnya. Dengan setengah malas Zifa menekan  ikon berwarna hijau.


"Halloh ini siapa?" tanya Zifa, karena ia memang tidak membaca dulu siapa gerangan di balik sambungan telepon yang menghubunginya.


"Fa, ini aku Lyra, semalam kamu telpon aku ada apa?" tanya Lyra dengan perasaan yang sedikit lega setelah mendengar suara Lyra yang serak sebagai tanda bahwa Zifa baru saja bangun tidur dan itu artinya ia dalam keadaan baik-baik saja.


Lyra sebenarnya lebih mencemaskan keadaan Zifa yang bisa saja terancam kapan saja mengingat Wina, Kemal dan yang lainya bisa saja menemukan persembunyiannya, dan untuk Zara posisinya jauh lebih aman untuk diketahui oleh orang-orang itu.


Zifa yang Sebenarnya masih setengah mengantuk begitu mendengar suara Lyra langsung membuka matanya dengan sempurna, dan langsung bangun mencari tempat untuk duduk.


"Mba Lyra, alhamdulillah akhirnya telpon juga. Ifa sedang butuh masukan dan izin dari Mba Lyra," ucap Zifa dengan sangat antusias. Membuat Lyra di sebrang tempat yang berbeda menjadi semakin panik takut kalau terjadi apa-apa, itu yang selalu ada dalam otak Lyra


"Ada apa Fa katakan saja, aku semakin penasaran dan bikin jantung nggak aman saja. Apa ini ada hubungannya dengan video yang aku kirimkan semalam?" tanya Lyra semakin tidak sabar.


"Iya Mba, gara-gara video itu Ghava jadi ngajak nikah Ifa, kira-kira menurut Mba Lyra gimana. Semalam Ifa sudah menelepon dengan dokter Alwi dan Ifa jelaskan alasan Ghava ingin menikahi Ifa, dan dokter Alwi setuju, sekarang Ifa ingin mendengar masukan dari Mba Lyra dan penilaian Mba Lyra terhadap Ghava seperti apa, karena jujur Ifa itu belum begitu kenal dengan Ghava takut kalau salah mengambil keputusan," ungkap Zifa menceritakan apa tujuannya menghubungi Lyra yang pagi-pagi berhasil membuat Lyra panik takut kalau terjadi sesuatu dengan mereka.


"Astaga Ifa aku pikir kamu atau Zara dan kedua anaknya kenapa-napa.  Kamu sudah berhasil bikin aku cemas pagi-pagi," dengus Lyra. "Kalau memang Ghava mengajak kamu nikah bukanya itu justru baik, dan yang aku tahu Ghava itu paling beda dengan yang lainya. Ghava dan Kemal sebenarnya dia orang yang berani mengambil keputusan sendiri, dan aku rasa justru bagus kamu akan menikah dengan Ghava," ujar Lyra dengan sangat yakin.


"Jadi Mbak Lyra juga akan mendukung Ifa juga untuk menikah?" tanya Zifa sekali lagi.


"Kenapa tidak, lagian dalam satu keluarga nggak mungkin satu anggota dan anggota yang lain akan memiliki kesamaan sifat yang sama persis. Mungkin saja Abas bere-ngsek, tetapi Ghava justru kebalikannya kan tidak ada yang tahu. Bukanya tujuan kamu juga menikahi Ghava untuk mendapatkan perlindungan dan balas dendam aku rasa ini sudah cara yang tepat." Lyra pun sangat mendukungnya, dan mereka pun berlanjut hingga entah berapa lamanya mereka melakukan sambungan telepon.


Dari yang niatnya hanya bertanya tentang tawaran Lucas hingga cerita keseruan Lyra yang membuat keluarga itu malu serta nasihat-nasihat Lyra untuk Zifa dan Zara agar mereka tetap aman, dan semuanya Zifa dengarkan dengan sangat baik.


"Ingat yah Fa, kalau kamu jadi menikah dengan Ghava, kamu undang aku karena aku pasti akan datang," pesan Lyra sebelum ia benar-benar mengakhiri sambungan teleponnya.


Zifa pun lagi-lagi setelah berkomunikasi dengan Lyra ia merasakan ketenangan dan keyakinan bahwa ia akan menikah dengan Ghava. Meskipun mungkin pernikahan yang dia jalani hanya sebuah sandiwara belaka. Di hati Zifa tetap ia membentengi tubuhnya dengan benteng yang tinggi agar semuanya tidak tercampur dengan dendamnya.


Zifa sampai kapanpun akan tetap ingat tujuannya mendekati Ghava dan Kemal adalah untuk sebuah misi mencari keadilan untuk ibu dan kakaknya, sehingga ia tidak akan terganggu dengan urusan yang tidak perlu seperti urusan dengan cinta yang mungkin akan memecah konsentrasinya.


Sebelum Ifa keluar dari kamarnya dan pastinya akan bertemu dengan Ghava lebih dulu Zifa berkomunikasi dengan dua ponakan kembarnya serta kakaknya takut mereka tidak bahagia dan mencari Zifa. Meskipun hampir setiap jam Zifa juga berkomunikasi dengan Sisri menanyakan Raja dan Ratu serta laporan yang lainya, dan dari yang Sisri katakan dan dari bidikan kamera yang Sisri laporkan mereka semua bahagia tinggal di rumah dokter Alwi.


Sang kakak pun tidak menanyakan Zifa karena wanita itu tahu kalau Zifa sedang sekolah seperti dulu ketika Zara tinggal di yayasan bersama Bunda Anna dan  teman-teman yang lainya. Berkat Zara yang dulu pernah di titipkan di yayasan saat ini wanita itu sudah tahu kalau memang harus berpisah dengan Zifa dengan alasan pekerjaan maka Zara sudah tahu dan tidak bertanya-tanya terus.


Setelah berkomunikasi dengan si kembar yang makin pintar dan makin cantik serta ganteng dan tidak ketinggalan kakaknya Zara. Kini Ifa sudah semakin yakin dengan keputusannya dan ia sudah siap untuk memulai semuanya. Setelah membersihkan tubuhnya Zifa keluar kamarnya dan melihat Ghava sudah sedang duduk di depan layar televisinya mendengar berita yang membahas mengenai kejadian semalam. Tepat sesuai dugaan Lyra bahwa acara yang ia bikin heboh saat ini masuk berita mengingat Orlin adalah mantan istri dari seorang artis yang cukup terkenal, dan juga pergaulan Orlin yang cukup banyak dengan dunia keartisan.


Zifa dalam hatinya cukup puas tertawa dengan puas atas apa yang dilakukan oleh Lyra.


"Kamu udah bangun Fa?" tanya Ghava tampak terlihat biasa saja. Zifa pikir Ghava akan marah melihat berita itu.


"Mas Ghava tidak marah dengan berita-berita itu?" tanya Zifa, justru tidak menjawab apa yang Ghava tanyakan.


"Kenapa harus marah? Semua itu mungkin sudah jadi takdirnya dan memang semuanya sudah harus terbuka tidak ada lagi yang harus di tutup-tutupi lagi." Ghava nampak santai. "Gimana jawaban dari pertanyaan aku kemarin?" tanya Ghava yang nampak tidak ingin membahas mengenai berita yang ia tonton tadi.


Zifa mengambil duduk di samping Ghava. "Ifa udah tanya dokter Alwi selaku abang Ifa, dan juga Mba Lyra sebagai kakak Zifa dan mereka tidak ada yang keberatan dengan keputusan Ifa, dan itu tandanya Ifa memang mau menikah dengan Mas Ghava," jawab Zifa dengan yakin. Tadi juga Ifa sudah mencoba berbicara dengan Zara meskipun  kakaknya itu pasti tidak begitu paham, tetapi Zifa sebagai adik ingin meminta restu dari kakaknya.


"Kalau begitu besok kita menikah, sederhana dulu tidak apa-papa kan?" tanya Ghava dengan senyum terkembang diwajahnya.


"Enggak apa-apa Mas," Zifa menjawab dengan singkat. Ingin ia mengajukan perjanjian untuk pernikahan mereka yang akan dijalaninya, tetapi Zifa takut kalau Ghava malah marah  dengan syarat yang ia ajukan.


"Terima kasih yah, nanti aku janji begitu masalah kamu sudah selesai aku akan mengabulkan pernikahan yang penuh impian, aku akan menggelar resepsi yang meriah." Ghava menggenggam tangan Zifa dan menciumnya dengan penuh cinta.


Zifa hanya membalasnya dengan senyum masam. Wanita itu tidak yakin kalau masalah selesai ia akan tetap bisa bersama Ghava. Selain takdir yang terlalu mustahil dia juga ingin hidup tenang dengan kakek dan dua ponakannya. Tanpa memikirkan dulu soal percintaan mengingat pendidikan dia juga belum selesai.


*******


"SAH!!!" Suara saksi pernikahan terdengar saling bersahutan setelah Ghava selesai membacakan ijab kabul dalam satu tarikan nafas


Zifa masih setengah tidak sadar apa yang barusan terjadi adalah sebuah kenyataan atau justru hanyalah sebatas mimpi? Rasanya terlalu cepat perjalanan hidupnya hingga saat ini ia sudah menikah.


Terlebih ia menikah dengan Ghava orang yang benar-benar Zifa belum kenal bagaimana sifatnya. Apakah ia benar-benar akan melindunginya atau justru Zifa setelah ini akan terlibat dengan masalah baru.


Zifa mencium punggung tangan Ghava, dan Ghava, laki-laki yang baru saja menyandang setatus suami pun mencium pucuk keningnya dengan mesra.


Setelah acara ijab kabul, doa-doa pun mulai dilangitkan untuk pernikahan yang di berkati oleh Allah.


Ucapan selamat silih berganti meskipun yang menjadi saksi pernikahan hanya beberapa orang saja. Pernikahan yang terlalu sederhana memang untuk sekelas Ghava pengusaha sukses bukan hanya di dalam negri, tetapi usahanya juga sampai ke luar negri.


Ghava berjanji setelah situasinya aman ia akan merayakan pernikahan yang meriah. Namun, untuk saat ini memang Zifa harus bersabar mengingat ia belum aman situasinya.


"Ifa selamat yah, semoga kamu bahagia, dan bisa saling bahu membahu menghadapi masalah yang mungkin sedang dalam perjalanan di depan kamu siap untuk menghadang," ucap Lyra dengan memberikan salam untuk sebuah ucapan selamat. Bahkan Lyra rela langsung datang saat itu juga dari Jakarta ke Bandung untuk bisa menghadiri pernikahan Zifa dan Ghava.


"Terima kasih yah Mba, atas dukungannya sampai saat ini." Zifa langsung menghambur ke dalam pelukan Lyra yang mana wanita itu sendiri juga belum begitu yakin atas langkah yang diambilnya apakan benar atau tidak.


Zifa masih meraba-raba keputusannya.


...****************...