Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Cinta Diambang Derita 178


"Papah lapel," lirih Ratu ketika melihat ada tukang bakso lewat.


"Makan bakso mau?" tanya Alwi, sudah jelas Alwi tahu kalau putrinya pengin bakso, hanya basa basi saja sehingga bertanya seperti itu.


"Mau..." pekik Raja dan Ratu secara bersamaan, dan Alwi pun memanggil tuang baso itu.


"Fa, panggil Kakak Zara kih, ke sini untuk makan baso bersama," ucap Ghava yang tahu kalau kakak iparnya sedang  tidur, lagian mereka membiarkan Zara tidur sudah cukup lama.


"Kakak... Kakak... bangun yuk, makan dulu tuh ada tukang bakso langganan kita dulu." Zifa pun menepuk  pundak Zara dengan pelan. Setelah beberapa kali Zifa yang membangunkan Zara,  Ara pun mulai menggeliatkan tubuhnya. dan menyipitkan kedua matanya serta pandangan yang terlihat masih kosong.


"Ibu di mana Fa?" tanya Zara dengan kebingungan, dia bahkan mengedarkan pandangan matanya kebeberapa penjuru untuk mencari ibunya.


"Ibu? Kakak mimpi kali, Ibu tidak ada di sini," balas Zifa, tetapi dalam batinnya ia juga ingin merasakan kalau di sini ada ibunya yang datang menghampirinya. Barang sekali saja Zifa sangat ingin merasakan dipeluk oleh ibunya.


"Tidak Fa, Kakak benaran bobo dengan Ibu, jelas banget kok, Kakak buka mata ada ibu dan tangan ibu ada di sini, peluk Ara." Zara menjelaskan sekali lagi kalau tadi ibu yang datang memeluknya dengan menujuk perunya yang dipeluk ibu mereka.


Tesss... Air mata Zifa pun menetes. "Mungkin memang benar ibu datang, dan ibu senang karena rumahnya ramai," ucap Zifa sembari menangis, dan Zara pun mengangguk. Setelah mengobrol panjang kali lebar Zifa dan Zara pun  ikut bergabung membeli baso, bahkan di depan rumah mereka sudah banyak tetangga yang ternyata di panggil oleh Ghava dan Alwi untuk makan baso bersama mereka yang bayarin, termasuk tetangga yang membersihkan rumah Zifa selama ini. Zifa memang sengaja memberikan uang untuk tetangganya itu untuk menjaga rumah mereka.


Setelah makan baso pun rencana selanjutnya yaitu ke makam orang tua mereka. Saat ini memang cuaca masih panas sehingga mereka gunakan untuk bermain dulu dan ketika cuaca sudah adem maka mereka akan berjalan kaki bersama untuk mengunjungi makan orang tua Zara dan Zifa.


"Bi, terima kasih yah sudah bantu jaga rumah Ibu," lirih Zifa setelah bersalaman dengan tetangga mereka.


"Sama-sama Fa, lagian Bibi juga tidak ada kerjaan di rumah kalau tidak  ada kerjaan dari Ifa mah Bibi nggak bisa beli beras mana sekarang ditraktir bakso. Ngomong-ngomong suami Ifa dan Ara ganteng-ganteng mana kaya-kaya. Suami Ara malah dokter yah. Ya Allah Bibi seneng dengarnya," oceh tetangga Zifa itu.


Sontak Zifa pun kaget, 'Suami  Kak Zara dokter? Apa dokter Alwi ngaku-ngaku suami Kak Ara?' batin Zifa bingung. Namun sedetik kemudian, berterima kasih juga dalam hatinya pada dokter Alwi itu tandanya tetangganya tidak akan meremehkan dan menyebar gosip yang tidak-tidak untuk kakanya.


Makan siang hari ini pun sudah selesai, dan tukang bakso langganan mereka di saat dulu pun sudah pulang itu semua, karena jualanya sudah habis diborong oleh Ghava dan dibagi-bagi sama tetangga yang mau ikut makan bersama.


"Udah kenyang?" tanya Alwi pada Raja dan Ratu yang sedang tiduran di tikar yang sengaja di gelar di depan rumah mereka. Yah, Alwi melihat dua anaknya sudah kekenyangan dan sudah pada ngantuk.


"Kenyang Papah," jawab Raja dan Ratu dengan mengusap-usap perut mereka.


"Kalau gitu, ayo kita ke makam Opa dan Oma, pasti mereka sudah nungguin kita," ucap Alwi.


Bahkan tadi tetangga mereka dengan gemas melihat wajah tampan dua anak Zara yang mereka kira itu adalah benar-benar anak dokter Alwi, terlebih entah kebetulan atau karena dari kecil mereka sudah diasuh oleh Alwi sehingga garis wajah Raja dan Ratu pun ada kemiripan dengan Alwi, sehingga tetangga pun percaya bahwa anak kembar yang mereka bawa adalah anak Alwi.


Setelah hampir satu jam menunggu Raja dan Ratu bangun kini mereka pun berjalan bersama menuju makam orang tua Zara dan Zifa


"Raja, Ratu cape tidak jalan kaki?" tanya Alwi ketika ternyata makam cukup jauh lokasinya.


"Tidak, iya kan Bang?" tanya Ratu meminta dukungan dari abangnya, dan di balas anggukan oleh Raja, tumben anak itu kompak biasanya mereka akan saling menjatuhkan.


"Ifa, inget tidak waktu malam-malam Kakak malah tidur di makanm Ibu, mana malam itu hujan deras?" tanya Zara, sontak Zifa cukup terkejut dengan pertanyaan Zara yang mana Zifa pikir kakaknya tidak ingat kejadian itu.


"Loh, Kakak ingat?" tanya Zifa kaget.


"Iyah, Kakak baru ingat tadi, dan pasti Ifa sangat cemas cari Kakak yah?" tanya Zara, di mana Zifa dan Zara berjalan beriringan dan Ghava dan Alwi berjalan beriringan juga sembari mengawasi si kembar yang jalanya tidak bisa diam, ada apapun di pinngir jalan diambil, bahkan mungkin kalau bawa karung akan penuh dengan barang-barang yang mereka ambil. Pulang-pulang rongsokanya di jual....


"Yah Ifa bingung, Ifa dan Kemal sampe bingun cari Kakak, tapi kenapa Kakak bisa ingat tempat Ibu, padahal dulu Kakak belum terapi dan masih belum bisa mengenali tempat?" tanya Zifa tentu penasaran kenapa kakaknya bisa hafal makam ibunya.


"Ibu yang ajak Ara, dan Ara tidak merasa malam itu hujan, maaf yah Kakak selalu merepotkan kamu dulu, sampai kamu marah sama Kakak," lirih Zara dengan suara yang sudah mulai berbeda. Andai saat ini tidak di jalan mungkin Zifa akan menangis memeluk kakaknya, berhubung mereka berbicara di jalan Zifa hanya menggenggam tangan Zara dan menciumnya dengan hangat.


"Ifa yang minta maaf sama Kakak, Ifa tidak sabar mengurus Kakak, tapi Kakak hebat, dan Kakak bisa sampai sekarang, Ifa terima kasih untuk perjuangan Kakak," balas Zifa entah berapa kali ia mencium tangan kakaknya dan mata Zara pun terlihat sangat sedih.


Perjalanan yang sebenarnya cukup jauh karena mereka mengobrol pun tidak terasa dan kini mereka sudah sampai di pemakaman ibu dan bapak mereka.


"Kak, apa Kakak ingat makam Ibu yang mana?" tanya Zifa, dan dengan yakin pun Zara menujuk dan dia menceritakan bahwa dalam mimpinya ia sering mengunjungi makam ibunya. Entah halu atau tidak, tetapi Zara bercerita sangat yakin dan nyata, bahkan Zifa yakin sebenarnya Zara itu memiliki keistimewaan lain.


"Buktinya dia selalu berkata bahwa ibunya ada di sekitar dia dan kalau itu memang ada dan kalau tidak dia akan diam saja, tetapi kalau datang Zara akan berkata bahwa ibunya datang menemui dia dan bermain dengan Raja dan Ratu.


"Assalamualaikum... Ibu, Bapak Ifa dan Kakak Zara, ada Raja dan Ratu, cucu kalian serta ada dokter Alwi dan juga ada Ghava suami Ifa datang untuk menjenguk kalian, terutama Ibu. Ifa mau bilang kalau orang yang membunuh Ibu sudah di hukum. Maaf yah Bu, Ifa baru mendapatkan keadailan sekarang, Ifa terlalu takut kalau Ifa gegabah Ifa hanya akan bernasib seperti Ibu, dan Kakak tidak ada yang melindungi." Zifa terisak, Zifa memang yang pertama untuk menyapa orang tua mereka dan yang lain akan dapat giliranya.


Raja dan Ratu yang belum tahu pun hanya berdiri memperhatikan Zifa dan Bundanya yang terisak.


"Pah, kenapa Bunda dan Tante menangis, meleka kan udah gede?"