Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 155


Di tempat yang berbeda Wina memang semenjak kejadian dirinya yang mendapati tidur bersama dengan Kemal, langsung menghilang menenagkan diri. Keluarganya beberapa kali menghubunginya karena Kemal yang datang ke rumahnya untuk meminta maaf dan ingin menjelaskan kesalah pahaman di antara dirinya dan juga Kemal.


Namun, Wina yang sudah terlanjut kecewa dan menuduh Kemal dengan yang tidak-tidak pun langsung membuang Wina yang sudah berpikir kalau Kemal sudah menjebaknya pun tidak mau mendengar penjelasan Kemal. Dari telepon, pesan singkat yang laki-laki itu kirimkan tidak satu pun yang Wina balas. Bahkan Wina sendiri menutup komunikasi dengan Kemal.


Bahkan setiap Kemal datang ke rumahnya Wina akan mengatakan pada asisten rumah tangganya kalau dia tidak ada di rumahnya. Wina mengatakan kalau dia sedang menengkan diri di suatu tempat yang jauh.


Entah, Wina masih sangat kecewa dengan Kemal, yang tega melakukan hubungan intim di saat dirinya tidak sadar, karena pengaruh minuman keras. Padahal Wina mungkin tidak tahu kalau kemal pun melakukan semua itu di bawah pengaruh minuman keras juga.


[Win, apa kamu sudah tahu kalau Kemal tertembak, dan saat ini kondisinya kritis?] Itu adalah pesan singat yang dikirimkan Orlin pada Wina.


Yah, ternyata Wina menceritakan semua yang menimpanya pada Orlin yang sudah ia anggap kalau Orlin adalah teman terbaiknya.


Braaaakkkkk... ponsel yang digenggam oleh Wina terjatuh begitu ia membaca pesan yang dikirimkan oleh Orlin.


"Kemal.... apa yang terjadi pada laki-laki itu?" Gumam Wina yang tanpa disadari kelopak matanya memanas. Tidak bisa dipungkiri selama hampir dua minggu ia mengawasi Ghava di Bandung. Wina tahu kalau Kemal adalah laki-laki yang baik. Hanya saja karena kejadian malam itu Kemal yang niatnya ingin bisa tertidur dengan pulas justru melakukan kesalahan yang sangat fatal.


[Apa yang kamu katakan itu benar? Lalu menurut kamu apa aku harus menjenguknya? Aku masih sangat kecewa dengan dia] tanya Wina pada Orlin. Mungkin di saat masalah seperti ini ia akan mendengarkan apa yang Orlin katakan.


[Apa gunanya aku berbohong, dan yang menembaknya adalah ibu kandungnya, ternyata selama ini mereka menyimpan masalah besar. Untuk lebih jelasnya masalah apa aku pun tidak tahu, tetapi yang jelas sepertinya masalah yang pelik, dan mungkin Kemal mengetahuinya. Aku pun tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kalau aku tidak ada salahnya kamu datang menemui Kemal, tapi kalau tidak ya tidak masalah juga toh kamu itu tidak ada hubungan apa-apa dengan laki-laki itu,] ucap Orlin, dari sebrang tempat yang berbeda. Orlin sendiri sa'at ini masih menjalani perawatan untuk pemulihanya paska kecelakaan yang disebabkan oleh Abas.


[Aku bingung, ingin datang menjenguknya tetapi aku pun masih sangat kecewa dengan laki-laki itu. Bisa-bisanya dia memanfaatkan aku yang sedang tidak sadarkan diri karena pengaruh minuman keras. Bukanya justru bekerja sama malah terlibat sekandal,] adu Wina, bahkan dia sama sekali tidak mendengarkan penjelasan dari Kemal yang mengatakan bahwa Kemal sendiri juga dalam keadaan mabuk saat melakukan hubungan suami istri.


Padahal Kemal juga sudah menjelaskan bahwa yang dia lihat malam itu adalah Zifa, bukan Wina. Andai Wina yang dalam penglihatan dirinya mana mungkin laki-laki itu mau menyetubuhinya. Mengingat dia tidak ada perasaan apapun pada mantan tunangan abangnya itu.


Namun, Wina yang tidak mau mendengarkan penjelasan dari Kemal, dan menuduh laki-laki itu yang tidak-tidak. Kemal juga bukanya sudah menawarkan tanggung jawab, tetapi Wina yang memutus sambungan komunikasi dengan dirinya.


Selama ini ponsel itu dia simpan karena dirinya terlalu kecewa dengan Kemal dan tidak ingin dihubungi oleh laki-laki itu lagi. "Ya Tuhan, panggilan dari Kemal banyak sekali," gumam Wina, selama dua minggu dirinya menghilang dan memasuki minggu ketiga ia  membuka pesan dari Kemal sangat banyak pesan dan panggilan dari laki-laki itu.


Wina dengan perasaan yang tidak menentu menggulir satu persatu laporan panggilan yang tidak ia jawab. "Hampir setiap hari dia melakukan panggilan, tetapi tidak sekalipun aku angkat." Ada perasaan menyesal di dalam hati Wina, ia tidak menyangka kalau Kemal akan merasa bersalah seperti ini. Bahkan hari ini Kemal pun ada melakukan panggilan, "Apa artinya dia sebelum terjadi penembakan itu lebih dulu menghubungi aku." Lagi, hati Wina diliputi rasa bersalah, karena mengabaikan Kemal.


Kedua mata Wina terfokus pada pesan yang tidak kalah banyaknya, rasa penasaranya semakin memenuhi  hatinya, tetapi juga ada perasaan tidak siap untuk membaca pesan-pesan itu.


Tangan Wina, akhirnya menggulir pesan dari yang paling bawah, tanpa terasa air mata mengalir di pipi Wina. Dia terlalu egois tidak mau mendengarkan penjelasan Kemal. Serentetan permintaan maaf dari Kemal yang ia tulis dari pesan-pesanya, menggambarkan betapa menyesalnya dirinya karena telah melakukan dosa besar.


[Win, maafkan aku. Aku benar-benar tidak sadar malam itu. Yang aku ingat aku melakukan itu dengan Zifa. Andai malam itu aku melihat tubuh kamu bukan Zifa, aku tidak akan melakukan itu Win. Aku sungguh menyesal izinkan aku bertanggung jawab atas kesalahanku. Aku akan bertanggung jawab dengan semua yang sudah aku perbuat dengan kamu, dan aku tidak akan membiarkan kamu melewati masa-masa sulit sendirian.] Itu adalah pesan yang sangat menusuk hati Wina, antara bahagia dan juga sedih yang sangat sedih.


"Ternyata Zifa yang dia lihat, jadi dia membayangkan Zifa yang dia sentuh bukan aku?" isak Wina, kenapa ketika ia membaca penjelasan dari Kemal dia justru ingin Kemal melakukanya karena tahu itu Wina bukan Zifa.


Hati Wina semakin membenci Zifa, "Wanita itu, apa istimewanya wanita itu sampai-sampai bisa memikat dua hati, dan mereka kakak beradik, bahkan sampai Kemal dan Ghava terlibat baku hantam. Perasaan wanita itu biasa saja tidak ada titik istimewanya," geram Wina yang semakin benci dengan Zifa, padahal dia sudah berusaha bersikap biasa saja dengan wanita itu, tetapi kali ini ia semakin di buat risih dengan gadis sok polos itu.


"Apa kalau kamu menikahi aku dan tanggung jawab dengan segala perbuatanmu, kamu akan memperlalukan aku dan mencintai aku seperti kamu mencintai Zifa?" tanya Wina, pada layar ponselnya, seolah Kemal ada di depanya saat ini, dan dia akan mendengar pertanyaanya dan juga memberikan jawaban yang memuaskan untuk Wina.


Wanita itu kembali terisak, ketika membaca pesan-pesan dari Kemal, seolah laki-laki itu memang akan bertanggung jawab atas perbuatanya, tetapi hati Wina justru sakit ketika mungkin yang dilakukan Kemal adalah hanya sebuah tanggung jawab yang mana pasti dia sendiri sebenarnya tidak menginginkan pernikahan itu.


"Dan berati apabila menikah pun kamu akan tetap menganggap aku Zifa, di hati kamu hanya ada wanita itu, dan itu justru semakin menyakitkan aku," lirih Wina, akhirnya ia tidak melanjutkan membaca pesan-pesan yang Kemal kirimkan dia sudah tahu jawabanya. Kemal memang akan tanggung jawab dengan perbuatanya, tetapi dia hanya terpaksa, dan itu hanya akan saling menyakiti, baik Wina maupun Kemal.


"Mungkin memang aku lebih baik pergi, dari sini, dan melupakan ini semua. Bukan Ghava saja yang menorehkan luka yang dalam, tetapi justru Kemal orang yang baru ia kemal pin meninggalkan luka baru yang tidak kalah menyakitkan."