
Hari ini adalah jadwal Orlin memeriksakan diri ke dokter kandungannya, dan usia kandungannya saat ini sudah memasuki usia tujuh bulan, dan itu tandanya pertumbuhan anaknya harus sudah berkembang dengan sempurna. Saking bahagianya akan menyambut cucu pertama Eira pun merencanakan untuk ikut mengunjungi dokter agar tahu bagaimana kondisi cucunya di dalam rahim Olin. Anak Abas yang ia akui sebagai cucu pertama.
Dengan menggunakan dua mobil Orlin dan rombongannya, keluarganya sudah datang ke ruangan dokter yang memeriksa Orlin. Mereka sudah membuat janji khusus dengan sang dokter, dan kedatangan mereka juga sudah di sambut dengan ramah.
Bahkan orang-orang yang melihatnya pun tahu kalau wanita yang saat ini sedang mengandung pasti sedang mengandung anak pertama sehingga terlihat sangat istimewa, dan sangat dimanjakan. Beruntung Orlin merasakan hamil dengan orang-orang yang sangat perhatian. Berbeda dengan Zara duit, di tengah keterbatasan daya pikirannya ia masih bisa melewati ujian kehidupan dengan baik.
"Baik Orlin dan yang lainya kita akan lihat calon bayi Orlin dan Abas bulan kemarin hasilnya kurang bagus ada beberapa perkembangan yang terganggu, dan menunjukkan kelainan. Mungkin itu karena Orlin yang sempat stres dengan gosip-gosip yang beredar dikalangan mereka, dan semoga saat ini kondisi bayinya semakin baik yah." Dokter bertanya banyak hal dengan kondisi kehamilan Orlin dari mulai gerak, aktifitas, mungkin ada yang dirasakan sakit dan lain sebagaInya.
Dari pengakuan yang Orlin katakan, seharusnya hasilnya bagus, tetapi dokter melihat ada yang janggal dengan pertumbuhan bayi Orlin. Bahkan dokter sampai memeriksa ulang takut salah dengan yang ia lihat hasilnya.
Terutama diketebalan tengkuk bayi yang lebih dari tiga CM hal itu menandakan adanya kelainan Down Sindrom.
"Dok, kok sepertinya saya melihat ada yang tidak beres," lirih Abas, ketika dokter nampak murung wajahnya. Sebenarnya yang lain juga ingin segera melemparkan pertanyaan pada dokter, tetapi ternyata sudah lebih dulu di tanyakan oleh Abas.
Dokter meminta yang lainya duduk di kursi dan dokter akan menjelaskannya pada mereka.
"Tidak mungkin Dok," pekik Eira dia adalah orang yang paling tidak bisa menerima apa yang dokter jelaskan.
"Tapi itu yang saya lihat Nyonya, calon cucu Anda mengalami keterlambatan dalam perkembangan otak dan juga fisiknya." Sang Dokter menceritakan dengan detail apa yang sebenarnya terjadi, dan apa akibatnya dari kelainan yang di derita oleh sang jabang bayi, dan Eira bukan tidak tahu tetapi dia tidak terima dengan kabar ini. Pikirannya lagi-lagi terbang ke wanita yang sudah di lecehkan oleh putranya.
"Kalian pasti salah memeriksanya. Kita cari dokter yang lebih baik lagi dari pada kamu." Eira langsung mengajak Orlin pergi dan begitupun yang lain setuju dengan cara Eira, dan sang dokter hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah. Sebagai seorang dokter tentu mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari sang keluarga pasien yang mendapatkan hasil yang tidak diinginkan sudah sangat biasa dan kini dokter itu mengalaminya, dari keluarga Orlin.
Padahal mau memerksakan diri ke mana pun hasilnya sudah pasti akan sama, calon buah hati Abas dan Orlin mengalami down sindrom sejak dini sudah bisa terdeteksi tetapi mereka menolak untuk diberikan masukan oleh dokter.
Orlin masih syok dengan kabar yang ia terima. "Mam, apa ini benar kalau Orlin akan memiliki anak yang memiliki keterbelakangan dalam berpikir?" lirih Orlin yang saat ini memilih duduk di kursi taman rumah sakit.
"Kita akan periksa kedokter lain, sudah jelas dia itu salah dalam mendiagnosa," lirih Eira sama dia juga tidak bisa menerima apa yang dokter tadi katakan.
"Tidak perlu, sekalipun kemana saja kita perisa, anak itu tidak akan membawa kebaikan yang berarti. Dia sudah diciptakan dengan kondisi seperti itu," tolak Omar sang calon kakek, yang sedikit banyak sudah tahu masalah yang menimpa keluarganya termasuk Abas yang memiliki anak dari seorang yang memiliki keterbelakangan pola pikir, dan laki-laki itu saat ini sedang berpikir mungkin ini adalah ujian yang harus ia terima.
Abas mengangkat wajahnya ketika dengan lantang papihnya menolak Orlin untuk memeriksakan ketempat lain.
"Tapi anak itu nantinya hanya akan menjadi aib keluarga," lirih Abas dengan kata lain dia sebagai papahnya tidak menginginkan kehadiran buah hatinya, yang saat ini sudah jalan tujuh bulan, organ-organya sudah tercipta dengan sempurna sudah menjadi garis takdirnya anak itu terlahir dengan kebutuhan khusus. Lalu mau diapakan lagi untuk memperbaikinya selain belajar menerima.
Orlin langsung menumpahkan air matanya ketika mendengar ucapan Abas, hatinya seketika hancur, ketika anaknya dikatakan sebagai aib keluarga.
Bahagianya seketika hilang, dan juga ia merasakan menyesal, langsung dalam hatinya terhukum dengan pikiran yang selalu menghina Lyra yang ia katakan mandul itu, bahkan Orlin dengan sengaja memancing agar orang-orang selalu menyudutkan Lyra.
"Mulai saat ini sembunyikan apapun yang terjadi mengenai anak kalian. Mamih tidak mau teman-teman mamih nanti tahu kalau Mamih memiliki cucu yang memiliki kelainan, apalagi dokter mengatakan kalau perkembangannya fisik dan pikirannya terganggu, itu sangat membuat malu Mamih," lirih Eira, sembari beranjak berdiri dan menuju mobilnya untuk kembali pulang.
Namun dalam pikiran Eira ia tahu kalau yang terjadi pada Orlin mungkin saja adalah buah yang sedang ia nikmati dari pohon yang ia tanam. "Kira-kira wanita itu saat ini gimana keadaanya, dan anak uang dikandungnya apa benar mereka masih hidup, dan apa anak itu juga memiliki kemiripan dengan ibunya, dan itu tandanya sama dengan anak Orlin?" Eira dalam mobil langsung terpikirkan lagi pada gadis yang hamil karena perbuatan Ghava.
"Tidak-tidak, aku tidak boleh mencari tahu tentang anak itu, biarkan mereka hidup sengsara, tidak sudi aku memiliki keturunan dari orang-orang yang hanya bisa menumpang hidup," tolak Eira pada pikirannya saat ini yang sedang mencoba ingin mencari tahu tentang anak Abas dari Zara.
"Orlin, kamu jangan pikirkan omongan Eira. Kamu harus tetap makan-makanan yang bergizi seperti yang dokter katakan, dan soal fisik ataupun pikiran bayi itu yang nantinya memiliki kelainan kamu jangan pikirkan, kamu harus terus berusaha membuat anak itu sehat dan kamu sendiri juga sehat. Jangan sampai kamu nantinya akan sedih dan menyesal karena keteledoran kamu dalam merawat anak kamu selama di dalam kandungan," lirih Omar yang mana ia lebih bisa menerima semua yang terjadi dalam keluarganya.
Dan setelah melihat kalau Oling tenang kini mereka pulang ke rumah mereka, di dalam mobil tidak ada obrolan yang berati hany ada suara deru mesin mobil yang membuat suasana dalam mobil semakin terasa horor.
"Apa Papih sudah tahu di mana anak dari perempuan itu?" tanya Eira memecah kesunyian di dalam mobil yang ia taiki.
Omar tetap bersikap santai, "Belum, Lyra tidak bisa memberikan informasinya," jawab Omar santai, yah sekalipun Omar tahu juga laki-laki itu tidak akan mau memberitahukan pada istrinya Eira yang mana wanita itu juga bisa saja malah membahayakan semuanya.
"Tapi, Mamih menangkap beda dari sikap Papih. Sepertinya Papih memiliki informasi yang sengaja disembunyikan dari Mamih," lirih Eira dan kedua matanya seolah tengah mencari kebenaran dari suaminya.
Namun, Omar tidak menunjukan sifat yang mencurigakan justru ia terlihat tetap tenang. "Kalau tidak percaya bisa tanyakan langsung pada Lyra dia yang tidak mau memberitahu pada Papih meskipun Papih sudah berjanji akan melindungi mereka," jawab Omar dengan santai.
"Apah, Papih akan melindungi mereka, ingat Pih anak itu anak haram, dia terlahir tidak ada ikatan pernikahan dan..."
"Dan Abas yang sudah memper-kosanya dan membiarkan dia hamil, dia hidup tanpa tahu kalau dalam perutnya ada calon buah hatinya. Apa kita semua bisa disebut manusia?" tanya Omar langsung menyela ucapan Eira dan pandangan yang mulai menjijikan.
"Tapi Pih, Mamih hanya ingin melindungi keluarga kita dari gosip-gosip yang tidak enak," bela Eira.
"Itu hanya alasan Mamih saja padahal kalau tidak mau jadi bahan gunjingan Mamih bisa tinggalkan kerumunan orang-orang itu, jangan ikut arisan-arisan tidak penting, gampangkan." Omar tidak akan mau lagi berpura-pura tidak tahu apa yang istrinya lakukan. Semakin menyimpan rahasia Omar juga merasakan hidup semakin tidak bahagia.
Eira langsung diam seribu bahasa ia tahu saat ini posisinya sudah mulai terancam dengan Omar mulai tidak membelanya lagi.
"Apa ini tandanya sebentar lagi semuanya akan terungkap?" lirih Eira, bahkan akhi-akhir ini tidurnya sudah tidak nyaman lagi.