
Zara terkejuta dengan kabar yang Zifa sampaikan. "Sejak kapan dokter Alwi jadi suami Ara?" tanya Zara dengan wajah yang memohon pada Zifa.
"Nanti Bunda dan dokter Alwi akan bicarakan pada kakak semuanya, tapi setelah Kakak tidur dulu," balas Zifa, perempuan itu membantu kakaknya rebahahan di atas kasur. Matanya masih enggan untuk terpejam.
Tangan Zara buru-buru meraih tangan Zifa ketika Ziga hendak berdiri, dan meninggalkanya seorang diri di dalam kamar. Zifa hendak melangkah untuk kembali bergabung dengan bunda Anna dan dokter Alwi yang sedang bertugas menjaga sikembar.
"Teminin Kakak bobo. Kakak pengin bobo dengan Ifa, udah lama tidak bobo sama Ifa," ucap Zara, pandanyanya tajam menatap kedua bola mata Zifa.
Tumben sekali kakaknya bersikap seperti takut kehilangan Zifa. Terlebih padangan Zara seperti kosong, sejak sepulang rumah sakit Zara seperti bingung, itu yang Zara lihat dengan kondisi kakanya.
Tubuh Zifa yang sudah terangkat sebagian di kembalikan duduk di pinggiran ranjang. "Kakak ingin tidur dengan Ifa?" tanya Zifa mengulang ucapa Zara.
Anggukan semangat adalah jawaban dari Zara. Zifa pun langsung memposisikan tubuhnya di samping kakaknya. Zara berbalik dan memeluk tubuh Zifa.
"Ifa, apa Ibu sudah meninggal?" tanya Zara dengan suara lirih. Tubuh Zifa seolah tersengat aliran listrik ribuan volt, ketika kakaknya mempertanyakan hal seperti itu, sedangkan selama Ini Bunda Anna selalu di anggap sebagai ibunya yang sudah meninggal cukup lama.
"Kakak kenapa bertanya seperti itu? Apa ada yang membuat kakak ingat sesuatu? Apa Kakak bertemu dengan Ibu?" cecar Zifa dengan penasaran. Sebab selama tinggal di yayasan, Zara selalu menganggap bunda Anna adalah ibunya, dan tidak sekali pun Zara ingat tentang ibunya, bagi Zara ibunya adalah bunda Anna, tetapi kenapa siang ini tiba-tiba Zara menanyakan ibunya sudah meninggal atau belum.
"Kakak semalam mimpi kalau kakak tidur di atas makam, dan di sana ada nama ibu. Apa benar ibu sudah meninggal?" Pertanyaan Zara diulang kembali.
Zifa menatap kedua mata kakaknya di mana selaput tipis sudah melapisi kedua bola mata itu. "Tuhan apa ini suatu pertanda kalau kakak akan segera mengingat kejadian itu?" batin Zifa sesak rasanya. Ini adalah pertanyaan yang sulit Zifa jawab. Pertanyaan dari Zara teramat sulit sehingga Zifa hanya bisa diam, dia takut salah jawab. Ingin rasanya Zifa memanggil bunda Anna kalau tidak dokter Alwi untuk membantu menjelaskan semuanya. Mereka berdua pasti tahu mana yang harus di lakukan, tidak seperti Zifa yang justru kebingungan akan menjawab pertanyaan kakaknya.
"Apa ini yang buat kakak murung?" tanya balik Zifa dia belum siap mengatakan kebenaranya pada kakaknya takutnya justru akan membuat Zara jadi sedih.
"Ara kangen dengan Ibu, kapan Ifa akan ajak Kakak ke makam Ibu." Zara justru tidak mengidahkan pertanyaan dari Zifa. Mendengar ucapan itu Zifa yakin bahwa kakaknya saat ini sudah tahu semua faktanya. Justru Zifa melihat kakaknya adalah orang yang lebih bisa mengontrol emosinya, di bandingkan dirinya yang sering lepas kendali.
Zara menggeleng dengan pelan. "Hanya itu yang Kakak ingat. Pikiran Kakak sangat payah sampai Kakak tidak tahu kalau Ibu sudah meninggal, dan justru menganggap bahwa Bunda Anna adalah ibu kita. Pasti Ibu sedih, kalau tahu Kakak panggil orang lain dengan menganggap ibu," ucap Zara, mengutuk dirinya sendiri.
"Hey, Kakak tidak payah, Kakak adalah wanita yang hebat, wanita yang kuat dan wanita yang baik. Ingat ada Raja yang Ratu yang harus Kakak pikirkan, dan sebentar lagi kita akan buka toko kue. Cita-cita Kakak dan Zifa, jadi Kakak tidak boleh menyerah seperti itu. Kita harus bangkit, dan cari uang yang banyak, nanti kalau sudah punya uang yang banyak kita akan kemakam Ibu, ajak juga Raja dan Ratu agar tahu makan neneknya." Zifa mengusap rambut kakaknya yang panjang dan hitam legam.
"Iya Kakak mau cari uang yang banyak, Kakak mau punya banyak uang biar bisa kemakan Ibu." Zara kembali bersemangat. Namun Zifa seperti tercubit, lagi-lagi ia harus berbohong. Padahal untuk mengunjungi makan Ibunya tidak perlu uang yang banyak, bahkan uang tabungan Zifa masih sangat cukup untuk mengajak kakaknya ke makam ibunya, tetapi Zifa masih belum siap kalau harus keluar dari persebunyianya. Dan juga Zifa masih takut kalau nanti kakaknya justru kembali sedih berlarut apabila diajak melihat makam ibu mereka.
"Kalau gitu Kakak bobo yah, kasihan Raja dan Ratu kalau Kakak kecapean dan sakit, nanti si kembar ikut sakit," lirih Zifa dan lagi makaknya menjadi anak yang nurut. Wanita itu memejam kan matanya. Berhubung Zara yang memang sudah lelah sehingga dia dengan cepat sudah pulas tertidur.
"Maafkan Ifa Kak, Ifa belum bisa ajah Kakak kemakam Ibu dulu, semua Ifa lakuin untuk kebaikan kita. " Zara mengusap punggung tangan Zara yang saling bertaut dengan dirinya.
"Ibu maafkan Ifa, yang belum bisa mengunjungi rumah Ibu. Maafkan Ifa yang belum bisa mengajak kakak Zara berkunjung ke rumah Ibu. Ibu tentu di atas sana sedang bahagia, karena kini Ibu sudah punya dua cucu yang cantik dan ganteng namanya Raja dan Ratu, nama yang Kakak kasih dan semoga namanya memang membawa keberuntungan buat anak-anak Kakak Zara. Doakan kami terus Bu, agar kami bisa melewati semua ujian yang menghadang dengan tenang, dan bisa lepas dari cobaan dunia yang menguji kita," batin Zifa, setelah yakin bahwa kakaknya sudah tidur. Zifa pun perlahan melepaskan genggaman tangan kakaknya di tangan dia yang cukup kencang.
Satu kecupan berhasil mendarat di kening Zara, dari adiknya yang selama ini sering membentaknya hanya karen rengekan Zara yang menayakan ibunya.
Dengan berjalan mengendap-endap Zifa meninggalkan Zara yang sudah tidur.
"Tumben lama? Kakak kamu ada tanya sesuatu?" tanya bunda Anna di mana dua kembar sudah pulas tertidur. Raja di ayunan, sementara Ratu di gendongan dokter Alwi.
Zifa sebelum bercerita lebih dulu menghirup nafas dalam, dan membuangnya perlahan.
"Kakak Zara sudah tau kalau Ibu kita sudah meninggal, dan Bunda Anna adalah bukan Ibu seperti yang ia anggap selama ini. Kak Zara juga bertanya tentang suaminya dan Zifa sudah katakan bahwa suami Kakak adalah dokter Alwi." Zifa menatap dokter Alwi yang sepertinya laki-laki itu tidak keberatan dengan pengakuan Zifa.
Lain halnya dengan bunda Anna yang terlihat lebih terkejut, dengan berita yang Zifa bawa.