
"Terus Ifa harus gimana Mba, masa Ifa harus pura-pura cinta benaran, rasanya sudah tahu siapa Ghava aja Ifa sudah malas dan tidak ingin berdekatan lagi," jawab Zifa, nada bicara juga sudah malas, dan seolah tidak ingin mendengar namanya Ghava.
"Itu sih yang aku rencanain, dan juga nanti kamu pasti bisa masuk ke lingkungan keluarga itu kalau jadi kekasih Ghava dan di terima oleh orang rumahnya, tapi apabila ingin di terima di rumah itu tentu kamu harus berhasil dan kaya raya." Lyra bukan asal bicara, tetapi memang syarat bisa masuk ke mereka adalah keluarga yang kaya raya.
Zifa terkekeh samar, "Jangankan kaya raya orang buat makan kita hrus banting tulang bangun jam tiga pagi untuk mulai mencari rezeki," balas Zifa, menertawakan kehidupan mereka sendiri.
"Kalau soal harta kamu jangan bingung, aku bisa bantu. Orang tua aku adalah pengusaha mobil mewah, kamu bisa pake untuk membuat mereka silau
"Mba Lyra ini ada-ada ajah, boro-boro kepikiran naik mobil mewah. Orang nyetir aja enggak bisa." Zifa kembali terkekeh, memang payah dia itu.
Lyra terkejut dan langsung menoleh ke samping, melihat Zifa yang sedang terkekeh menertawakan kepayahan dirinya sendiri.
"Ya ampun Ifa, nyetir itu gampang, kenapa kamu tidak bisa? Atau kamu bisa belajar agar kamu bisa mengoprasikan mobil dengan lihai," balas Lyra gigi-giginya di satukan karena gemas dengan Zifa. Hari gini biasanya wanita akan lebih maju dari pada pria, tetapi Zifa justru tidak memanfaatkanya, dan bertahan dengan zona nyaman.
"Hehehe, atuh gimana Mba, ada rasa takut dan juga tidak berani untuk memuai (Belajar) lagian nyapain harus cape-cape nyetir, bahkan sopir ajah banyak," balas Zifa dengan enteng.
"Ini nih yang bikin orang tidak bisa berkembang selalu menganggap gampang kan ada transportasi yang nyaman dan dia tinggal duduk manis, hingga sampai tujuan, tetapi tidak ingin memulai untuk berubah. Coba Fa dirubah cara berpikirnya, kalau kamu memang niat untuk masuk kerumah itu, dan membuat mereka saling serang antar anggota keluarga, kamu harus bisa mengimbangkan dengan gaya hudup mereka, toh mereka sebenarnya baik, tetapi sama orang berduit. Dan kalau kamu ingin itu, kamu harus berubah jadi kaya."
"Tapi malah takutnya kalau gaya hidup Zifa yang kaya dan mewah, nanti malah Ghava tidak mau lagi karena aku yang udah berubah," lirih Zifa bukan tidak mau mengikuti saran dari Lyra, tetapi Zifa yakin kalau Ghava mencintainya karena kesederhanaanya.
"Terserah kamu aja Fa, tapi ingat tujuan kamu ngedeketin Ghava adalah untuk membalas dendam, dengan katalain Ghava adalah alat yang akan kamu gunakan dan kendalikan untuk menghancurkan keluarga itu buat agar Ghava menyerang dengan brutal keluarganya sendiri." Bahkan ini adalah urusan Zifa tetapi Lyra terlihat sangat antusias dengan apa rencana dia untuk menghancurkan keluarga mantan suaminya.
"Aku tidak kejam kan Abas, hanya memanfaatkan keadaan, ada orang yang ingin mencari keadilan dari keluarganya yang tidak pernah keluarga kamu perlakukan dengan baik, maka dari itu aku sangat mendukungnya. Aku adalah orang baik yang telah kamu sia-siakan, sehingga aku juga baik membantu Zifa yang sedang kesusahan menenggelamkan kalian," batin Lyra, pikiranya terbang ke keributan di rumah mewah itu dan sumbernya dari Zifa anak seorang asisten rumah tangga yang meninggal di rumahnya.
"Mba, sebenarnya yang Zifa cari dari rumah itu bukan siapa ayah dari Raja dan Ratu saja, tetapi Ifa juga ingin mencari siapa pembunuh ibu. Ibu meninggal bukan karena serangan jantung, tetapi di bunuh," lirih Zifa, tanganya menggenggam gelang pemberian ibunya, yang selalu terpasang di tangan sebelah kirinya, begitu pun Zara masih memakai gelang itu.
Satu persatu kecurigaannya di katakan pada Lyra, dari malam ibunya mengatakan curiga pada Abas yang telah menghamili Zara, dan esoknya, alias hari kejadian sang ibu akan menanyakan pada Abas atas kehamilan kakaknya, tetapi na'as justru ibunya di hari itu meninggal yang Zifa yakini kalau ibunya terbunuh. Serta kecurigaan kedua yang ibunya pas di mandikan keluar busa dari sudut bibirnya. Yang Zifa tahu kalau ciri-ciri itu adalah orang yang meminum racun.
"Terus kenapa kamu tidak lapor pada polisi dan mencari kebenaranya untuk autopsi?" jawab Lyra dengan cepat, dan seolah wanita itu saat ini ada di posisi Zifa, dan cara bicaranya Lyra sangat geram mendengar penuturan Zifa.
"Caranya? kami orang miskin, dan jangankan untuk lapor untuk memikirkan hari esok akan makan apa, kami pun tidak tahu, jadi yang bisa kami lakukan adalah berserah dan berharap kalau aku bisa mengungkap kasus kematian ibu aku dan kalau perlu mereka juga harus merasakan hal yang sama yaitu kehilangan satu anggota keluarganya, bagaimana rasanya kehilangan keluarga, terlebih dia adalah ibu, sekaligus tulang punggung dan pelindung keluarga. Kami bahkan saat itu ingin ikut ibu, ingin menyusul ibu, tetapi Zifa tahu ada kakak Zara yang harus Ifa jaga, terlebih saat itu hamil tanpa suami, dan bahkan tanpa tahu siapa laki-laki yang telah memperkosanya." Zifa dengan lancar menceritakan pada Lyra yang ia anggap orang yang bia di percaya untuk tahu permasalahanya, dan tentu ada harapan yang besar setelah ia bercerita kalau Lyra juga bisa membantunya.
Lyra benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Dia bahkan tidak menyangka bahwa Zifa dan Zara sesulit itu dulu. Beruntung Zifa dan Zara sangat tegar sehingga mereka bisa melewati ini semua. "Ini keterlaluan sih Fa kalau benar ibu kamu sengaja di singkirkan agar tidak menutut pertanggung jawaban dari kelakuan anggota keluarganya, aku dukung kamu untuk membunuh salah satu anggota keluarga itu, kalau perlu mereka harus merasakan apa namanya keadilan itu," Lyra tidak menyangka kalau masalah yang Zifa alami bisa sepelik ini. Bukan hanya pemerkosaan tetapi juga ada dugaan pembunuhan.
"Tapi menurut Mba Lyra kira-kira masuk akal tidak kalau aku menduga seperti itu, mengingat hampir di semua yang aku alami merujuk kearah sana?" tanya Zifa, ini adalah obrolan Zifa yang cukup terbuka setelah Zifa sendiri dulu pernah membuat dugaan dengan Kemal, dan akhirnya Zifa mengira bahwa laki-laki itu peduli hanya untuk menyingkirkan Zifa dan Zara dari keluarganya. Meskipun tidak memungkiri barena bantuan dari Kemal, Zifa bisa tinggal di Bandung, dan merasakan hidup yang cukup nyaman tidak harus bekerja tetapi memiliki uang yang banyak, hingga ia bisa mewujudkan keinginan kakaknya yaitu memiliki toko kue.
"Masuk akal sekali dong, aku kenal mereka cukup lama Fa, terutam Eira yang kadang-kadang aku sendiri kesal dan marah dengan mantan mertua aku yang terlalu ikut campur dengan urusan anak-anaknya. Bahkan hampir semua anaknya itu di jadikan boneka dia. Memang kelihatanya aneh tapi itu kenyataan, rasa seperti orangsarap aku lihatnya, seperti memiliki kelainan mungkin itu tepatnya," balas Lyra dengan menggidikan bahunya, ketika membayangkan mantan mertuanya.
Bertepatan dengan obrolan yang cukup serius, tiba-tiba ponsel Zifa berbunyi. Cukup terkejut dua orang itu, terlebih bunyi ponselnya dalam situasi yang kurang tepat. Mereka sedang membicarakan pembunuhan dan bunyi ponsel yang cukup nyaring menangetkan mereka.
"Siapa?" tanya Lyra sembari berbisik, penasaran kenapa Zifa terdiam ketika melihat layar pintarnya.
Tanpa menjawab Zifa menunjukan layar ponselnya menunjukan ada foto Raja dan Ratu, siapa lagi kalau bukan Ghava. Yang memiliki foto Raja dan Ratu hanya Ghava dan Alwi.
"Angkat ajah, kalau perlu rayu-rayu buat dia makin tergila-gila sama kamu," bisik Lyra, justru sepertinya wanita itu yang antusias, juga geram dengan Ghava dan keluarganya.
"Caranya?" tanya Zifa.
"Kamu tinggal bilang aku kangen tau, kamu kemana ajah tidak telpon, ini itu, udah angkat nanti aku ajarin," Lyra pun yang tidak sabar menggerakan telunjuknya untuk menekan ikon berwarna hijau sehingga mau tidak mau Zifa pun harus berbasa basi dengan Ghava.