Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CCDD #Episode 91


Lyra melihat orang yang sangat dia kenal sedang duduk termenung di ujung ruangan. Yah, dia adalah Abas, di mana penampilanya sangat jauh sekali dari Abas yang masih menjadi suaminya. Saat ini yang Lyra lihat Abas sangat tidak terawat dan juga wajah yang terlihat kumal. Lingkar bawah mata yang terlihat mulaimenghitam.


Sementara Abas yang masih menjadi suaminya dulu adalah laki-laki yang perfeksionis, setiap penampilanya selalu menujukan pria yang sempurna. Namun, kali ini sepertinya sebutan pria dengan penampilan sempurna sudah tidak ada lagi terlihat dari mantan suaminya.


Lyra tertawa dalam hatinya, tertawa puas dengan apa yang di rasakan Abas. "Aku pikir aku yang akan paling menderita atas perceraian ini, tetapi sepertinya hukum karma lebih cepat didapat pada laki-laki itu," lirih Lyra, dengan tatapan yang meremehkan pada Abas. Setelahnya  Lyra berjalan cuek untuk menemui pengacaranya, kedatanganya ke pengadilan ini bukan untuk sidang ataupun wawancara, tetapi untuk tanda tangan, dan tentunya melihat Abas yang malang itu.


Bukan karena kangen atau apa, tetapi karena Lyra ingin tahu segimana bahagia Abas bercerai dengan dirinya. Langkah lyra semakin mendekat pada Abas, dan Abas yang sangat mengenali parfum Lyra pun langsung tersadar dari lamunanya dan melihat sosok wanita yang melewatinya. Tidak ada sapaan atau pun ucapan basa-basi dari bibir Lyra.


Abas mencoba memakluminya karena Lyra pasti sakit hati dengan apa yang Abas telah putuskan. Kaki laki-laki itu menlangkah menghampiri Lyra.


"Lyra apa aku boleh berbicara? Sebentar saja?" tanya Abas  memberanikan diri untuk memuali obrolan dengan mantan istrinya.


"Lyra melempar pandangan pada Abas dengan tatapan yang cukup damai, tetapi tidak dengan isi hatinya yang sudah muak dan jijik dengan laki-laki yang saat ini berada di sampingnya.


"Bicaralah, aku masih bisa mendengar," jawab Lyra dengan suara yang lembut, seolah diantara mereka tidak terjadi apa-apa, tetapi percayalan dalam hatinya wanita itu mengumpat Abas dengan sumpah serapah.


"Bisa kita cari tempat yang hanya untuk kita berdua, di sini terlalu banyak telinga yang bisa saja mendengar obrolan kita," lirih Abas, melemparkan tawaran agar Lyra mengikuti kemauannya.


Lyra tersenyum sinis, tetapi pastinya Abas tidak tahu. "Aku datang ke pengadilan untuk memenuhu pangilan untuk menanda tangani berkas, kalau kamu mau bicara silahkan di sini, tetapi apabila tidak. Mohon maaf setelah ini aku sudah ditunggu dengan klien kerja," jawab Lyra dengan dingin, dan memberikan respon yang cuek.


"Kamu apa kabar?" tanya Abas. Lyra cukup kaget dengan pertanyaan itu.


"Pertanyaan apa ini, bukanya dia punya mata dan pastinya bisa melihat kondisi aku baik-baik saja," batin Lyra, menertawakan pertanyaan dari Abas.


"Seperti yang kamu lihat aku sangat baik," jawab Lyra seadanya. Tidak ingin sama sekali Lyra menanyakan keadaan sebaliknya.


"Alhamdulillah,  Lyra aku mau minta maaf dengan semua yang terjadi dengan kita, aku melakukan ini demi kebaikan kita semua, aku tidak ingin kamu selalu menderita dengan apa yang terjadi dengan aku. Maka dari itu aku minta maaf." Ingin Alzam bersimpuh di hadapan, mantan istrinya, tetapi Abas tidak berani melakukanya di ruangan itu banyak orang berlalu lalang sehingga Abas malu untuk melakukanya.


Laki-laki yang saat ini sedang berdiri di samping Lyra, dengan penampilan yang tidak terawat, serta, tidak ada gairah dan lesu, Abas mengirup nafas lega. Dia tentu tidak bisa memaksa Lyra merubah keputuanya. Semua ini memang keinginan Abas, jadi dia harus menerima keputusanya, apapun itu meskipun harus dibenci dan tidak bertegur sapa lagi dengan Lyra.


Setelah memberikan jawaban pada Abas dan menandatangani surat cerai. Lyra langsung pergi kembali pulang dan meninggalkan Abas, dengan kebisuanya. Dalam hati Lyra cukup puas dengan kerberanianya, sebab ia sendiri kadang tidak bisa untuk menolak apapun itu jenis permintaan dari Abas. Namun kali ini Lyra bisa menahan hatinya dan membentengi diri dari laki-laki yang telah membuatnya kecewa.


"Satu masalah selesai, tinggal  menyelesaikan kerjaan yang sempat terbengkalai, setelah itu aku akan mencari jawaban atas kecurigaan aku. Aku akan kembali mencari tahu mengenai Raja dan Ratu, hampir semalaman aku tidak bisa tertidur, memikirkan tebakan aku" batin Lyra.


****


Satu minggu kemudian, sesuai ucapan Lyra di mana setelah kerjaanya bisa ditinggal maka ia kembali mengunjungi Zifa.


"Kali ini aku harus dapat informasi mengenai apa yang terjadi pada Lyra. Bukankah kalau memang dugaan aku benar dan Zifa sedang mencari tahu tentang laki-laki penghianat itu. Aku bisa memanfaatkan untuk membalaskan sakit hati aku. Jujur sampai detik ini aku belum terima atas perlakuakn laki-laki itu dan keluarganya. Bahkan paska perceraian keluarganya tidak satupun yang meminta maaf. Padahal Abas memutuskan menceraikan aku atas tekanan keluarganya, tetapi mereka justru seolah tidak mengenal aku dan membuang aku begitu saja. Aku senang bisa bebas dari keluarga itu, tetapi aku tidak terima dengan cara dia yang meceraikan aku dengan tidak ada rasa hormat, dan cara mereka terlalu yang meremehkan," batin Lyra, dalam dadanya seolah lembali menyalakan kobara api kemarahan yang sangat besar.


Zifa terkejut ketika tamu toko yang datang adalah Lyra.


"Hai Ifa, apa kabar? Aku kangen banget sama Raja dan Ratu, dia adakan? Lagi ngapain ponakan aku?" tanya Lyra dengan tangan kanan kiri membawa peperbag.


"Astaga, Mba Lyra, Ifa pikir siapa. Biasa ponakan Ifa ada di atas. Mba Ifa langsung ketas saja," balas Zifa mencoba ramah dengan Lyra, sesuai yang dikatakan oleh Alwi, tidak ada salahnya percaya dengan Lyra, mungkin saja memang Lyra juga ingin mendapatkan teman yang bisa menghibur wanita malang itu. Mengingat Lyra juga korban dari keluarga yang sama.


"Bukanya kata dokter Alwi kalau sama-sama korban bisa ada kemungkinan untuk saling membantu," batin Zifa, mengingat kembali ucapan dokter Alwi ketika Zifa mencoba bertanya mengenai kecemasan Zifa terhadap Lyra. Setelah saling bercerita dengan Alwi. Zifa sedikit tenang dan tidak terlalu cemas dengan sosok Lyra.


"Ok, aku keatas yah Fa." Lyra langsung berjalan menuju lantai dua di mana kamar dua bocah kembar itu berada, tanpa menunggu jawaban dari Zifa.


"Bahkan seolah Mba Lyra lupa dengan pertanyaan aku kemarin, semoga saja Mba Lyra tidak terlibat dengan semua yang menimpa aku, dan sikap baik ini buka cara Mba Lyra untuk mengamankan diri. Tapi sesuai dokter Alwi aku tetap harus hati-hati lagi," gumam Zifa pandangan matanya lusus menatap punggung Lyra yang telah menghilang ditelan bangunan lantai dua ruko tempat tinggalnya.