Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 167


Kemal menggigit bibir bawahnya. Rasanya sangat sesak ketika ia mendengar kabar ibu kandungnya di dalam penjara dengan kondisi yang sangat buruk ingin ia segera sembuh dan memberikan dukungan untuk wanita yang telah melahirkanya agar ia tidak merasakan sendiri, menjalani ujian berat ini. Apapun yang telah dilakukan oleh Eira, dia tetaplah ibu untuk putranya.


"Apa tidak ada keringanan untuk hukuman Mamih?" tanya Kemal, meskipun ia juga kecewa kenapa orang tuanya melakukan kesalahan yang fatal, dan sifatnya yang membuat Kemal kesal tetapi Kemal ingin kalau ibunya setidaknya tidak terlalu mendapatkan hukuman yang berat.


Ghava dengan sedih pun menggelengkan kepalanya. "Semuanya di proses sesuai dengan hukum yang berlaku di negara kita, tidak satu pun Mamih bisa lolos terlebih beliau juga berpeilaku kurang baik di dalam tahanan," lapor Ghava, dia yang hampir setiap hari mendengarkan laporan dari penjaga tahanan di tempat ibunya ditahan, dan itu mengatakan kalau Eira itu sangat galak, dan juga sangat sulit untuk dinasihati. Ia selalu merasa paling baik sehingga senaknya marah-marah.


"Mungkin karena Mamih selama ini hidup, berkecukupan, enak dan juga tidak pernah kekurangan suatu apapun jadi seperti itu," balas Kemal, andai ia bisa menggantikan posisi ibunya mungkin dia juga akan melakukanya, tetapi ia sadar bahwa dirinya tidak bisa berbuat seperti itu. Hukum tetaplah hukum dan itu berlaku untuk siapa pun.


"Yah, itu salah satunya. Mamih selama ini selalu hidup enak dan juga ingin apa pun tecukupi, dia juga sekali mengatur pada siapa pun selalu harus dijalankan, jadi ini bentuk protes darinya, kenapa takdirnya sangat buruk." Ghava bahkan karena tidak sanggup melihat mamihnya setiap sidang selalu di hadiri oleh Omar, hanya Omar yang mendamping Eira.


Kalau ditanya kecewa atau tidak dengan istrinya, tentu jawaban Omar pasti kecewa, tetapi dia juga tidak mungkin dia berpikir yang jelek terus dia adalah orang yang tanggung jawab sehingga laki-laki paruh baya itu pasti akan selalu berbuat baik terus menerus.


"Aku jadi sangat tidak sabar ingin segera sembuh dan melihat gimana Mamih kondisinya saat ini," lirih Kemal, dia sendiri badannya masih sangat kaku. Dia masih membutuhkan bantuan dari orang lain.


"Cepatlah sembuh, banyak yang kamu lewatkan dengan keluarga kita. Bantu kami untuk memberikan dukungan, kamu bantu Papah untuk menjaga Papah dia sangat cape bola-balik kantor dan juga menjaga Abas."


Meskipun Omar tidak pernah mengatakan kalau dia cape, tetapi Ghava sangat yakin kalau papahnya juga merasakan dengan dirinya saat ini yaitu badanya serasa akan terpencar sangat cape dan melelahkan.  Andai boleh diizinkan Ammar ingin istirahat dengan cukup satu hari saja dia ingin seharian di atas kasur untuk mengembalikan setaminanya, tetapi laki-laki itu berpikiran sama dengan papahnya, kalau dia malas pasti karyawan akan banyak yang harus ia kurangi karena ketidak setabilnya perusahaan.


Kemal yang mendengar kata Abas langsung menatap tajam pada Ghava. "Gimana kondisi Abas saat ini, apa sudah ada perubahanya?" tanya Kemal, ia bahkan sudah melewatkan banyak waktu berharga.


Lagi, Ghava memmberikan gelengan kepala sebagai jawabanya, yang artinya Abas kondisinya pun belum ada perkembangan sama sekali.


Kemal menutup mulutnya dengan sebelah tangannya terkejut. Ia pikir kalau Abas nasibnya lebih beruntung darinya. "Apa Abas juga belum sadarkan diri?"


"Abas belum sadar, dan juga dokter berkata kalau kemungkinan kaki dia akan sulit di gerakan secara normal. Luka di kakinya terlalu parah dan itu menyebabkan dia kemungkinan besar akan melakukan banyak aktifitas di atas kursi roda," balas Omar, dan lagi-lagi Kemal mematung bahkan ia tidak  bisa banyak berkata-kata.


"Orlin, apa dia baik-baik saja dan hubunganya dengan Abas seperti apa?" tanya Kemal semakin kepo.


Meskipun Ghava tidak mendengar dengaan pasti apa rencana Orlin, tetapi ia bisa menyimpulkanya, terlebih mereka adalah keluarga kaya-raya dan terpandang mana mungkin mau menerima Abas dengan kondisi tidak sempurna. Belum lagi mamih mereka yang saat ini hanya narapidana.


Kemal pun setuju dengan pemikiran Ghava, apalagi Kemal juga tahu kalau Abas sebenarnya memiliki kelainan yang menyimpang dia terlihat seperi menurut dengan aturan mamihnya, tetapi dia juga memiliki dua sisi pebangkang yang bisa di tutupi dengan sifat menurutnya, sehingga Eira tidak pernah tahu sifat yang asli yang ada di dalam putra sulungnya, karena yang ditunjukan selama ini adalah sifat menurutnya.


Ghava yang sudah duduk lama bercerita dengan adiknya, tetapi ia juga belum melihat kalau Zifa yang dia kira sedang keluar, tetapi belum datang juga. Kedua mata Ghava mengamati kembali ruangan itu. Mata Ghava terkejut ketika ia baru sadar kalau tas Zifa tidak ada di sini, tebakan Ghava berati Zifa sudah pergi dari ruangan ini. Sebab kalau ke kantin ataupun ke ruangan dokter atau apaotek, pasti sudah kembali, tetapi hanya ada Siti di ruangan itu.


"Kemal apa Zifa tidak ada ke sini?" tanya Ghava, pertanyaan yang sangat tidak masuk akal, buktinya tadi pagi dia yang mengantarkan Zifa untuk datang ke rumah sakit ini.


"Zifa, sudah pulang aku yang memintanya pulang," balas Kemal, dengan perasaan bersalah juga, kenapa ia tidak tahan, gimana kalau Zifa  tidak pulang ke rumah?


"Kenapa Zifa pulang kalau dia ada apa-apa di jalan gimana?" Suara Ghava sudah terdengar kecewa, yah ini adalah salah Kemal dia terlalu takut kalau bersama dengan Zifa terus dia jadi tidak bisa melupakanya, dan justru semakin berharap kalau mereka akan bersatu lagi.


"Maaf aku hanya..." Kemal pun tidak melanjutkan bicaranya ketika Ghava langsung beranjak berdiri, dan itu tandanya akan pergi mencari Zifa.


""Gue akan mecari Zifa, kamu cepat sembuh dan setelah itu bantu Papah untuk menjaga Abas, dan menemani mamih melewati masa sidang." Tanpa menunggu jawaban dari Kemal, laki-laki yang masih memakai setelan kerja dengan lengkap pun langsung pergi meninggalkan ruangan adiknya.


Ghava senang setidaknya Kemal sudah sadar, dan itu tandanya kecewasanya sudah berkurang satu, yang masih membuat ia cemas dan tidak enak tidur adalaah Abas yang belum sadar dan tentunya Eira yang belum selesai menghadapi pengadilannya.


"Zifa semoga kamu tidak ke mana-mana," gumam  Ghav, dengan langkah kaki yang panjang-panjang.


Sementara itu di dalam ruangan Kemal juga merasa bersalah, ia yang egois secara tidak langsung dia mengusir Zifa, padahal bisa saja ia menunggu Zifa sampai pulang dengan Ghava.


"Siti, mulai besok kamu tambah teman untuk jaga aku biar kamu tidak kelelahan," ucap Kemal, ia tahu kalau seorang diri, Siti menjaganya pasti akan kelelahan.


"Baik Den."