Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Misi Zifa Untuk Masa Depan


"Fa mau pulang bareng?" tanya salah satu teman cowok yang kuliah dengan mengambil jurusan yang sama dengan Zifa.


Zifa yang sedang berjalan menunduk pun terkejut, ketika mendengar ada suara berat menyebut namanya. Zifa mengangkat wajahnya dan menatap kearah Gara teman kampusnya. "Tidak usah Gara, aku bisa pulang sendiri, lagian tadi Abang Alwi sudah bilang kalau beliau sudah ada di depan kampus," tolok Zifa dengan nada sesopan mungkin. Entah sudah berapa teman kampus yang di tolak oleh Zifa ketika ingin mengantarkanya pulang. Zifa lebih nyaman pulang menggunakan angkutan umum, sebenarnya di toko Zifa juga ada kendaraan roda dua, tetapi dia adalah orang yang tidak bisa mengendarai kendaraan baik motor maupun  mobil. Hanya sepeda yang bisa Zifa taklukan, yang lainya Zifa tidak berani untuk mencoba untuk belajar. Sehingga  gadis itu lebih nyaman naik ojek ataupun naik angkot.


Zifa selalu memilih untuk pulang pergi menggunakan kendaraan umum atau kalau tidak ia akan diantar oleh Alwi, Beni, atau Tasi sedangkan karyawan baru yang bernama Lena dan Leni si kembar itu sama seperti Zifa tidak bisa menggunakan kendaraan. Dari pada Zifa harus menerima tawaran temanya untuk diantarkan bareng, niat mereka memang baik dan yang terpenting adalah geratis, tetapi Zifa tidak mau nanti mereka akan salah mengartikanya lebih karena biasanya ketika ia mau untuk diantarkan akan ada maksud lain yang terselubung. Kembali ke misi Zifa dari awal yaitu ia ingin fokus dengan pendidikan dan bisnisnya.


Dimana dari bisnis kuenya ini Zifa sudah bisa menabung sedikit demi sedikit, rencananya apabila uangnya sudah cukup Zifa akan membangun kembali rumah ibunya yang berada di Jakarta, Zifa juga rencananya akan membuka toko kue di daerah tempat tinggalnya dulu, berhubung rumah orang tua Zifa cukup sepi karena berada di dalam gang sempit, mungkin apabila uangnya sudah cukup mereka akan membeli ruko di pinggir jalan seperti letak ruko mereka saat ini.


Cita-cita Zifa yang ingin tinggal berdekatan dengan makam ibu dan ayahnya, dan untuk toko kuenya yang di Bandung akan di kerjakan oleh orang kepercayaanya, dan dia sendiri dan juga Zara akan kembali memulai perjuangan hidupnya, tentu ia kembali ke Jakarta setelah semua siap dan juga ia bisa mencari bukti-bukti yang mungkin akan dibutuhkan untuk mencari tahu penyebab ibunya meninggal.


Sebelum Zifa menjalankan misinya setidaknya ia harus mapan dari segi vinansial sehingga tidak akan di hina hingga titik darah penghabisan karena miskin, syukur-syukur ia bisa masuk kerumah mewah itu dan mulai melancarkan aksinya.


"Udah sampei Fa." Alwi mengagetkan Zifa yang sedang melamun memikirkan rencananya, sejak adanya Ghava ia jadi keingat kembali dengan perlakuan keluarga kaya raya itu dan  tentunya keingat bahwa kemungkinan pelakuknya adalah Kemal, makanya tidak jarang Zifa tiba-tiba melamun, karena otaknya memikirkan rencana-rencana untuk mulai balas dendam.


Zifa buru-buru mengerjapkan kedua bola matanya dan melihat sekitar, baru ia beranjak untuk turun. Waspada soalnya Alwi sering mengerjainya. Jadi sebelum ia turun sia-sia karena ternyata Zifa belum sampai di toko miliknya, lebih baik Zifa mengamati bahwa memang yang di katakan Alwi itu benar.


"Hahaha... takut banget kayaknya kalau bakal di kerjain," kelakar Alwi dengan membanting tubuhnya ke sandaran kursi kemudi, dan kedua tangan di rentangkan keatas,


"Fa," panggil Alwi ketika Zifa hendak menutup pintu mobilnya. Zifa yang merasa di panggil oleh dokter yang mendampingi kakaknya untuk terapi pun kembali menunduk dan cukup dengan sorotan matanya Alwi sudah tahu bahasa yang seolah di lemparkanya melalui sorot mata.


"Salam buat Zara, dan kedua anaknya," ucap Alwi, sembari tersenyum dengan lebar.


Zifa makin bingung. "Bukanya dokter Alwi barusan ketemu Kak Zara untuk terapi, hari ini jadwal terapi Kak Zara dan jadwalnya baru berakhir belum ada satu jam terus sekarang nitip salam buat apa?" tanya Zifa dengan detail harus dijelaskan salamnya dong, tidak bisa hanya nitip-nitip sajah.


"Ya salam ajah, sebenarnya pengin mampir lagi buat main ama anak-anak aku tapi kerjaan sudah menunggu, jadi harus balik ke rumah sakit lagi," jelas Alwi.


Gadis itu membuang nafas kasar. "Enggak penting, buang-buang waktu ajah," dengus Zifa sembari tangan kanannya menutup pintu mobil, dan Zifa bisa dengar bahwa Alwi di dalam mobilnya sedang tertawa dengan renyah karena sudah berhasil mengerjain dirinya.


Zifa tahu bahwa Alwi hanya mengerjainya ajah, lagian kalau kangen atau apalah, ia akan datang sediri menemui kakaknya, dan sejak Zara rutin menjalani terapi dengan dokter Alwi perubahanya sangat luar biasa, bahkan yang tadinya seolah kakanya tidak begitu tahu tugas ibu terhadap anak dan lain-lain, sekarang Zara sudah tahu bahwa Raja dan Ratu adalah anaknya yang harus di perhatikan olehnya meskipun ia sedang sibuk dengan kerjaanya. Yah, sebelumnya Zara hanya tahu kewajibanya yaitu masak dan bikin kue, malahan wanita itu seolah tidak ada capenya terus ajah memutar tenaganya untuk membuat kue-kue yang sudah di tulis listnya oleh Zifa, terutama buat yang sudah masuk dengan request rasa dan bentuk. Zara akan merasa bahagia apabila masak dan bikin kue. Hanya itu yang bisa Zara lakukan untuk mengalihkan pikiranya yang kosong.


Seperti biasa Zifa mengucapkan salah, bersih-bersih badan, makan siang dan bermain dengan dua ponakan kembarnya lalu melanjutkan pekerjaanya. Pekerjaan utamanya adalah admin toko, yang melayani oderan online, dengan tangan cekatan membaca satu persatu oderan yaang sudah masuk, peking dan tinggal tunggu sampai di jemput oleh ojek online.


Rasa cape rasa lelah menguai ketika di pertemukan kerjaan, mungkin apabila tidak ada kerjaan seperti ini, dalam otak Zifa hanya ada dendam dan dendam. Gimana caranya membals dendam dan lain sebagainya. Berkat kesibukanya, otaknya sudah jarang memikirkan dendamnya, bukan berati lupa tetapi, waktunya belum tepat untuk menunjukanya bahwa akan ada hari baik untuk mereka semua. Hari bahagia atas perjuangannya. Zifa yakin dengan sangat bahwa usahanya tidak akan sia-sia.