Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 93


"Fa, apa aku bisa meminta waktu kamu barang sebentar, ada yang ingin aku tanya mengenai kalian," lirih Lyra. Bukankan kalau tidak ada apa-apa pasti Zifa mau diajak berbicara, seperti itu kira-kira pikiran Lyra.


Deg! Zifa yang sedang membereskan tokonya pun langsung mematung kaget dengan apa yang Lyra ucapkan.


"Kira-kira Mba Lyra akan bahas apa yah, apa mungkin Mba Lyra akan membahas apa yang aku kemarin tanyakan? Kenpa perasaan aku jadi tidak tenang begini. Lalu nanti kalau memang Mba Lyra membahas apa yang kemarin aku tanyakan, aku harus menjawab apa," batin Zifa, dia justruĀ  sibuk dengan pikiranya sendiri.


"Fa... kok kamu malah diam saja sih?" tanya Lyra sembari menempuk pelan pundak Zifa.


"Ah, maaf Mba tiba-tiba Ifa keingat kalau Ifa banyak tugas kampus." Zifa buru-buru meletakan alas bersih-bersih yang ia gunakan dan meletakanya di atas meja. Zifa juga terkesan buru-buru ingin menghindar dari Lyra.


Tangan kanan Lyra juga tidak kalah buru-buru menggapai tangan Zifa yang sudah berjalan beberapa langkah dari temptnya berdiri terakhir.


"Sebentar saja Fa. Please, mungkin kamu justru membutuhkan informasi dari aku, dan aku juga sejujurnya membutuhkan peran kamu untuk membalaskan sedikit sakit hati aku. Aku bukan wanita yang baik sehingga bisa menerima keadaan begitu saja. Sakit hati ini, aku juga ingin membuat pelajaran pada mereka yang menyakiti hatiku untuk merasakan sedikit apa yang aku rasakan," lirih Lyra, dengan sorot mata yang mengiba. Lyra tahu, kalau Zifa sedang berusaha menghindari dirinya, yang mungkin saja Zifa sudah tahu kalau Lyra akan mengorek rahasia yang mungkin saja sengaja ia tutupi dari orang lain.


Zifa pun semakin penasaran dengan apa yang akan Lyra katakan. Setelah mempertimbangkan semuanya Zifa pun menganggukan kepala tanda ia tidak keberatan apabila malam ini ia meluangkan waktu untuk berbicara dengan Lyra.


"Kita bicara di depan saja yah, biar tidak ada yang mendengar," ujar Lyra, tanganya menujuk halaman depan ruko yang memang ada kursi untuk sekedar bersantai.


Zifa mengikuti arah telunjuk Lyra yang menujuk kursi di halaman depan. "Kayaknya lebih enak di atas saja Mba," tawar Zifa di atas juga ada tempat untuk sekedar bersantai mengobrol bersama.


"Baiklah dimanapun itu yang terpenting bisa saling tukar obrolan." Lyra pun mengikuti langkah Zifa yang lebih dulu berjalan di depanya.


Zifa dan Lyra terlibat kebisuan untuk beberapaa saat karena baik Zifa maupun Lyra saling bingung dengan obrolan apa yang lebih dulu akan mereka utarakan sebagai pembuka. Seolah dua wanita itu saat ini adalah orang yang tidak saling kenal sehingga mereka dalam pikiranya saling merencanakan kira-kira apa dulu yang akan di ucapkan agar malam ini tidak canggung.


"Mba Lyra mau ngomong apa?" tanya Zifa, yang sudah lama menunggu, tetapi justru Lyra tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Aku bingung mau memulainya dari mana? Karena sepertinya yang akau tanyakan ke kamu sedikit sensitif, dan mungkin kamu juga tidak akan sembarangan untuk menjawabnya, tetapi jujur, aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi di kisah masa lalu kamu. Aku akan bertanya dan membahas mungkin lebih jauh dengan apa yang kamu tanyakan kemarin," jawab Lyra, tujuanya datang ketempat ini untuk membahas ini sehingga Lyra tidak mau mengulur waktu. Dia harus secepatnya mencari fakta-fakta yang selama satu minggu ini mengganggu pikiranya.


Deg! Kembali, jantung Zifa seolah benar-benar sudah berhenti berdetak tidak ada harapan dan tidak ada celah untuk Zifa mengelak, karena Zifa bisa menduga bahwa Lyra pasti sudah bisa mengaitkan satu persatu pertanyaan yang Zifa kemarin lontarkan. Ingin Zifa memaki dirinya dan juga mengutuk mulutnya yang lancang itu.


"Tanya apa yah Mba, kok Ifa jadi deg-degan," lirih Zifa, hatinya yang cemas dan juga tidak tenang di tekanya, sehingga Zifa mencoba untuk tentap bersikap santai dengan apa yang mungkin Lyra akan tanyalan. Meskipun pastinya Lyra mungkin saja bissa membaca kecemasan Zifa yang sengaja di sembunyikanya.


"Sebenarnya Raja dan Ratu anak siapa?" tanya Lyra, pandangan patanya menatap lurus kedepan. Lyra tidak ingin menghakimi Zifa dengan tatapanya, yang bisa saja diartikan lain oleh lawan bicaranya saat ini.


"Maksud Mba Lyra tanya apa yah, sepertinya ini sudah masuk ranah pribadi, kurang pantas Mba Lyra yang orang luar bertanya yang menurut kami adalah prifasi," jawab Zifa, dengan nada yang cukup tinggi, merasa terusik dengan pertanyaan Lyra. Meskipun sebenarnya cara itu adalah cara Zifa agar Lyra tidak bertanya yang lebih jauh, apalagi menyinggung keluarga mantan majikan ibunya.


"Tenang lah Zifa, aku memang orang luar, tetapi aku tidak ada niat untuk mecelakai siapapun dalam rumah ini. Aku hanya ingin jawaban yang jujur dari kamu. Karena tanpa kamu ceritakan dengan detail, sedikit aku bisa merunutkan satu per satu kejadian yang menimpa Zara." Lyra tetap bersikap tenang, dan terus melanjutkan ucapanya, meskipun Zifa kurang menyukai topik obrolan malam ini.


Zifa yang memang kurang menyukai obrolan ini, hany diam saja.


"Aku akan tebak, Raja dan Ratu kemungkinan besar adalah anak Kemal kalau tidak anak mantan suami aku yaitu Abas. Silahkan kamu renungkan kenapa aku bisa menebak seperti ini? itu semua karena aku melihat garis kemiripan dianak-anak Zara. Mungkin kamu akan berpikir aku akan membenci kamu dan dua ponakan kamu. Tenang saja aku bukan orang yang seperti itu, justru aku sengaja datang lagi ke sini ingin menawarkan kerja sama dengan kamu, dan bisa aku pastikan kerja sama ini banyak menguntungkan di pihak kamu, meskipun tidak memungkiri aku juga merasakan keuntunganya." Pandangan Lyra kali ini diarahkan pada Zifa yang nampak sedikit pucat dan berpikir keras mencerna apa yang Lyra katakan.


Zifa tersentak kaget dengan ucapan wanita yang duduk di sampingnya saat ini. "Ma... maksud Mba Lyra apa?" tanya Zifa, dengan terbat.


"Aku sudah ingat, benar kata Ara, kalau aku pernah melihat kaka kamu di rumah mantan mertua aku. Dan asisten rumah tangga yang meninggal waktu itu adalah ibu kamu. Lalu Ara hamil tanpa ada suami, dan dari wajah anak Ara aku bisa melihat ada kemiripan dengan keluarga mantan suami aku. Apakah tebakan aku sudah sesuai dengan yang ada dipikirkan kamu?" lirih Lyra,. suaranya berat. Zifa bisa tahun kalau Lyra juga menahan kemarahannya.


Zifa menundukkan kepalanya, dan memainkan gelang pemberian ibunya. Bibirnya kelu tidak bisa menjawab pertanyaan Lyra, karena memang yang dikatakan Lyra benar adanya. Tebakan Lyra benar semuanya.