Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 149


Kemal langsung mengayunkan kakinya dengan cepat.


"Tuan, Anda kenapa?" tanya security dan asisten rumah tangga yang melihat kalau Kemal seperti tengah panik.


"Di mana Zifa dan Mamih?" tanya Kemal balik, tanpa mengentikan langkahnya, dan mata mengawasi dengan jeli setiap sudut ruangan.


"Di kamar Tuan," jawab asisten rumah tangga dengan menujuk kamar Ghava, heran. Sementara security yang mengikuti Kemal pun sama heran dengan anak majikannya. Yah, memang pada akhirnya Kemal bisa masuk rumah itu, tetapi security juga ikut masuk untuk membuktikan kalau apa yang dikatakan Kemal memang adalah benarnya. Eira majikan besar mereka sedang berniat jahat pada Zifa.


"Berdua saja? BODOH kalian!!" bentak Kemal dengan kedua mata melotot, siapa pun yang ada di sana tau kalau Kemal memang sedang marah besar.


Tanpa menunggu lama lagi, Kemal langsung menyusuri tangga dengan tergesa. Kamar Ghava menjadi tujuan selanjutnya.


Security dan asisten rumah tangga juga terus mengikutinya. Meskipun mereka juga takut dengan Kemal yang nampak seperti orang lain.


"Sial dikunci," umpat Kemal. "Kalian cari konci cadangan, cepat!!" titah Kemal. Wajahnya sudah sangat menunjukan kalau laki-laki itu sangat emosi bahkan seperti terlihat ada api berkobar diwajah laki-laki itu.


Asisten rumah tangga pun langsung mencari konci cadangan dan buru-buru memberikan pada Kemal. Tidak berbasa basi, Kemal langsung membuka pintu kamar abangnya itu.


Braaaakkkk....


"Mamih... apa yang Mamih lakukan. Itu bahaya Mih?" lirih Kemal, dengan mengangkat tanganya dan kedua mata mengawasi senjata api yang ada di tangan ibu kandungnya.


Dua orang yang ada di belakang Kemal pun tercengang dengan tindakan majikan besarnya itu. Mereka tidak menyangka kalau Eira akan melakukan itu semua, yang dia tahu kalau Eira itu baik meskipun terlalu menunjukkan kekuasaannya.


Eira cukup terkejut dengan kedatangan putranya itu, tetapi sedetik kemudian dia bergeser mengambil posisi yang aman. Sementara itu Zifa yang terancam keselamatanya justru masih terlihat tenang dan tersenyum samar dari balik wajahnya yang cantik.


"Kamu, kenapa bisa ada di sini, dan kalian jangan ikut campur dengan apa yang aku lakukan, kalau tidak nyawa kalian juga akan bernasib sama dengan wanita murahan ini," bentak Eira dengan mengacungkan pis-tol yang ada di genggaman tanganya.


"Mih, jangan gini Mih, Mamih bakal di penjara kalau melakukan ini semua," lirih Kemal mencoba menyadarkan ibu kandungnya, yang dia sangat yakin, kalau yang saat ini tengah berdiri itu bukan murni mamihnya. Kemal sangat yakin kalau mamihnya tidak akan segila ini.


"Kamu jangan ikut campur Kemal, biarkan Mamih membereskan kekacauan ini, dan mereka memang parasit dalam keluarga kita, jadi harus disingkirkan," ucap Eira dengan santai, pikiranya sangat tertutup dengan apa yang sedang ia lakukan hingga mungkin dia tidak sadar dengan apa akbibatnya yang akan terjadi apabila ia bebar-benar mengunakan benda mematikan itu dengan benar.


"Mih, ayolah coba Mamih pikirkan kalau Mamih melakukan ini bukan keluarga kita saja yang hancur, tetapi Mamih juga bisa di penjara karena ini adalah pembunuhan yang sudah direncanakan dan hukuman Mamih akan berat, kami kehilangan orang tua Mih," lirih Kemal dengan suara yang bergetar dan tangan yang mencoba menenangkan mamihnya dan kedua matanya mengawasi senjata yang wanita itu pegang.


"Mamih lebih baik di penjara, toh semuanya juga sudah percaya kalau Mamih  adalah pembunuh pembantu itu, hidup atau mati wanita ini(Zifa) Mamih akan tetap di penjara jadi lebih baik wanita murahan itu Mamih bunuh bukan?" tanya  Eira dengan senyum yang mengerikan.


Bulu-bulu halus di tubuh Kemal semakin berdiri ketika sang mamih mengatakan seperti itu. Kemal melihat bukan mamihnya yang saat ini ada dihadapan dirinya. Seperti dikendalikan oleh sosok lain.


"Ini bukan Mamih, ini pasti bukan Mamih," lirih Kemal tetapi masih bisa di dengar oleh orang yang ada di dalam kamar itu. "Mamih yang Kemal kenal sangat penyayang dan mencintai anak-anaknya, jadi tidak akan tega melakukan ini," ucap Kemal. Kakinya terus berjalan semakin dekat dengan Eira. Namun Eira yang semakin terancam pun semakin menjadi.


"Stopp! Kamu maju lagi, wanita ini benar-benar  mati saat ini juga," ucap Eira dengan tatapan yang sinis.


"Setop Kemal," pekik Eira.


Kedua mata Kemal awas memperhatikan gerakan tangan mamihnya di mana jempol itu sudah menarik hammer dan juga jari telunjuk wanita itu sudah siap untuk menekan Trigger itu tandanya peluru dalam hitungan detik bisa saja mengenai Zifa yang terlihat sangat pasrah itu.


Padahal bisa saja Zifa pergi memanfaatkan momen Kemal yang sedang bernegosiasi dengan Eira, tetapi gadis itu nampak tenang saja. Entah dia yang sudah siap dengan kematianya, atau justru dia yang sangat tahu kalau Kemal tidak akan membiarkan wanita itu mati konyol.


"Mih..." Kemal tidak lagi bisa menggunakan bibirnya untuk menyadarkan wanita yang ada di hadapanya, yang saat ini mungkin jaraknya hanya tinggal dua meter lagi, tetapi semuanya terlambat apabila Kemal terus berbicara.


"Dorrr...." Suara nyaring terdengar dari senjata api ketika Trigger sudah benar-benar ditekan dengan keras oleh jari telunjuk wanita itu.


Darah mengalir dengan deras bahkan darah itu menyembur kebeberapa tempat. Tubuh kekar itu ambruk memeluk wanita yang sangat ia cintainya. Tatapan mata yang sedih terlihat menatap Zifa wanita yang masih mematung antara percaya atau tidak. Saat ini tubuhnya menahan tubuh yang berat agar tidak terjatuh.


Sementara Eira langsung diamankan security dan senjata itu langsung ditendang oleh asisten rumah tangga agar tidak diambil lagi oleh Eira. Yang tengah berontak tidak mau diamankan oleh security.


Satu peluru bersarang di punggung Kemal dengan darah mengalir dengar deras membanjijir lantai kamar itu.


"Lepas... Lepas..." Eira berontak dan hampir saja security kalah dengan tenaga Eira yang kuat itu.


"Kemal kamu gila, kamu akan menyesal kalau kamu membela wanita murahan itu," pekik Eira terus mengumpat Zifa, Kemal dan keluarga lainya. Hingga dirinya tidak bisa berkutik lagi karena dua security itu mengikat tanganya.


"Kemal apa kamu gila?" tanya Zifa ini bukan mimpi, tapi ini nyata tubuhnya tengah menopang tubuh Kemal yang berat.


"Fa, AKU MENCINTAI KAMU." Itu adalah ucapan terakhir sebelum mata itu terpejam dengan sempurna.


"Bi, panggil polisi dan tenanga medis," jerit Zifa, air matanya tidak bisa di bendung lagi. Ketika dirinya sadar kalau ini bukan mimpi, ini kenyataan Kemal mengorbankan tubuhnya untuk menyelamatkan dirinya.


"Kenapa kamu bodoh sekali Kemal," lirih Zifa dengan mata terus menatap wajah yang berada di atas pundaknya, seharusnya dia  merasakan berat menopang tubuh laki-laki yang sangat mencintainya, tetapi justru Zifa tidak mearasakan itu, Zifa merasakan kalau tubuh Kemal sangat enteng dan juga hatinya sangat damai ketika berada dekat dengan Kemal.


"Kemal, apa kamu merasakan juga kalau kita sangat dekat seperti ini hati ini sangat damai? Kenapa di saat aku seharusnya membenci kamu dan mencintai abang kamu. Namun, kenapa aku justru merasakan damai dengan kedekatan kita. Tetaplah bertahan Kemal, aku yakin kamu pasti bisa bertahan untuk kita semua," liruh zifa.


Dalam batinya ingin sekali berkata bertahan demi dirinya, tetapi Zifa tidak tahu apakan dia bisa menjadi miliki Kemal dan hidup dengan bahagia, atau dia akan tetap menjadi pasangan dari Ghava, yang tidak bisa ia pungkiri Ghava juga baik dan pengertian sekali dengan dirinya.


Ghava juga pasti akan melakukan hal yang sama andai berada di posisi Kemal tadi.


"Bertahanlah Kemal, andai kebersamaan aku dan Ghava akan menyakiti kamu, maka aku akan meninggalkan kalian semua. Semua yang aku cari sudah mendapatkan jalannya, mungkin ini saatnya aku menghilang dari keluarga kalian. Aku akan pergi ketempat lain fokus dengan kakak dan dua ponakan aku," batin Zifa, dia juga tidak ingin terus berada di posisi yang sulit ini.


Dicintai oleh dua laki-laki dan mereka adalah saudara kandung itu sangat sulit. Posisi yang sangat tidak diinginkan oleh Zifa, terlebih dua orang itu adalah anak dari pembunuh ibunya, apakah dia bisa membalas cintanya dengan pura-pura melupakan kejadian itu. Meskipun dalam hati Zifa tidak bisa dipungkiri dia tertarik dengan Kemal dan Ghava, dua laki-laki yang sabar dan sangat melindungi dirinya.


"Kenapa cinta itu datang, dengan derita?"