Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 161


Kaki Wina dengan berat hati pun melangkah ke kamar yang di tunjukan oleh security. Yah, berhubung ia tidak tahu ruangan Kemal, sehingga wanita itu memilih bertanya pada security.


Tubuh Wina mematung di depan pintu yang di dalam sana ada Kemal, ayah dari si jabang bayi yang ada di dalam kandunganya. Dadanya lagi-lagi bergemuruh, ketika ia akan bertemu dengan Zifa, wanita yang sangat di bencinya. Selain dia menikah dengan calon tunanganya. Zifa juga wanita yang sangat dicintai oleh Kemal.


"Kalau aku hamil begini, mau tidak mau kemal akan tahu, dan dia akan bertanggung jawab. Lalu gimana kalau aku menikah dengan dia tetapi cinta dan dalam pikiranya hanya ada Zifa seorang," ujar Wina, yang lagi-lagi ia harus terpikirkan dengan apa yang ada dipikiranya itu.


Tanpa mengetuk pintu, Wina langsung membuka pintu yang berwarna putih. Pandangan mata Wina menangkap ada Siti dan Zifa yang ada di ruangaan Kemal. bahkan Zifa sendiri sedang istirahat di atas sofa, dan situ pun tidak kalah sama ia keseharianya hanya membaca novel online dan juga hanya menonton tivi tidak banyak mereka melakukan aktifitasnya.


Cuihhh... Wina membuang pandanganya dan mendesis pelan membayangkan kalau Zifa kelelahan, dan yang paling mengganggu pikiranya adalah kelelahan melayani Ghava. Padahal tanpa dia tahu Zifa itu benar-benar lelah setiap haru pulang pergi untuk menjaga Kemal, dan juga rumah tangga mereka belum seperti suami istri pada umumnya, bahkan tidur terpisah dan kalaupun satu tempat tidur yang sama Zifa akan meletakan bantal guling di tengah-tengahnya.


Tanpa sepengetahuan Ghava dan yang lainya wanita itu sudah merencanakan kepergianya setelah kasus pembunuhan ibunya selesai. Dan mungkin setelah Kemal sehat kembali, dia dan Lyra serta Alwi sudah berunding kalau ia akan pergi dari kota mereka tinggal saat ini. Menghindar dari keluarga Ghava, dan Kemal.


Zifa hanya ingin fokus dengan kedua ponakanya dan kakaknya hidup dengan kehidupan yang baru, ia yakin uang dari toko kuenya bisa mencukupi kehidupanya, sehingga Zifa tidak perlu bergantung dari Ghava maupun yang lainya lagi.


Siti yang terkejuta ada Wina pun langsung berdiri. Bahkan pandangan Wina tidak berkedip menatap Zifa, dengan sengit. Siti pun langsung melangkan ke sofa, tempat Zifa beristirahat.


"Nona... Nona bangun." Siti membangunkan Zifa dengan menepuk-nepuk pundaknya Zifa dengan pelan. Wanita itu pun menggeliatkan badanya, dan kedua matanya di buka. Dengan mata yang menyipit dan berkedip beberapa kali Zifa pun menatap Siti dengan heran. "Kenapa Ti?" tanya Zifa sedetik kemudian Zifa mengalihkan pandanganya pada Kemal, ia berpikir kalau Siti membangunkanya karena Kemal yang sudah bangun itu. Namun belum juga pandanganya menatap Kemal Zifa sudah di kejutkan dengan wanita yang berdiri di dekat pintu dengan menatapnya tajam.


"Astaga..." Zifa berdiri dan Siti pun hanya menunduk membayangkan apa yang akan terjadi di antara majikanya dengan Wina, yang Siti tahu Wina adalah mantan tunangan bosnya, Ghava. Terlebih pandangan mata Wina yang tidak bersahabat sama sekali. Pandangan mata merah dan mengobarkan peperangan.


"Mba Wina, apa kabar?" tanya Zifa basa basi iya dia basa basi sebab Zifa tahu kalau Wina sedang marah. Otaknya terbang dikejadian beberapa bulan lalu, ketika mereka di Bandung. Bahkan rasa panas pipinya yang di tampar oleh Wina masih terasa dengan jelas.


Cuuuuiiihhh...Wina membuang pandanganya, dan mendecih beberapa kali, "Tidak usah berbasa basi. Kalian berdua keluar," bentak Wina. Tujuanya datang ke rumah sakit ini adalah untuk menemui Kemal, dan berbicara pada Kemal mungkin saja ia akan bangun, atau justru laki-laki itu setidaknya mendengar apa yang dia ucapkan.


Wajar Zifa langsung kaget, bukan hanya Zifa yang kaget. Siti pun kaget dengan ucapan Wina. "Mba Wina, kami tidak bisa keluar. Kami takut kalau Kemal terjadi sesuatu, dia masih koma. Tolong Mba Wina jangan ganggu dia, Ifa takut kalau Kemal akan kritis kembali."  ucap Zifa, menolak untuk keluar.


"Tapi Mba, Kemal masih sakit. Dia tidak akan bisa di ajak berbicara," jelas Zifa, intinya ia tidak akan mungkin membiarkan Wina hanya berdua di dalam ruangan ini. Semuanya Zifa lakukan untuk kebaikan Kemal, Zifa terlalu takut kalau Wina hanya akan membahayakan Kemal.


Zifa sudah cukup trauma. Ia takut apabila Wina hanya berdua di dalam kamar justru hanya akan membahayakan Kemal, yang tidak bisa apa-apa.


Kedua mata Wina memejam dengan sempurna. ia tahu kalau memang membujuk Zifa sangat sulit, terlebih Wina juga tahu, dari penuturan Kemal beberapaa bulan lalu, kalau Zifa sendiri mencintai Kamal.


"Aku harus berbicara apa lagi, wanita murahan. Kalau aku itu tidak akan menyakiti Kemal. Otak gue masih waras, tidak gila mana mungkin aku berbuat setega itu. Lagian perlu loe tahu gue dokter, gue pernah belajar jadi dokter. Mana mungkin gue tega melakukan hal-hal yang berbahaya untuk Kemal," geram Wina, entah dia mau berkata apa lagi agar Zifa yakin dengan dirinya.


Zifa sendiri sebenarnya sangat sakit hati dengan ucapan wanita yang berdiri dengan wajah cantik dan anggunnya. Dia selalu menyebutnya wanita murahan, sedangkan Zifa sendiri selama ini tidak menjual murah tubuhnya. Malah suaminya saja belum menikmati tubuhnya lalu kenapa Wina selalu menyebutnya murahan, dan ucapan lainya yang sangat merendahkan dirinya.


Nona kita keluar saja Yuk, jangan di sini lagi," lirih Siti, yang mendengar perdebatan antara Zifa dan Wina tidak ada habisnya.


"Tapi Ti, gimana kalau Kemal kenapa-kenapa?" tanya Zifa masih belum percaya kalau Kemal akan baik-baik saja dengan Wina berdua saja di ruangan rawatnya. Sementara itu Wina yang mendengarnya hanya terkekeh samar, menertawakan, keras kepala Zifa.


"Itu tidak mungkin Nona, lagian kalau ada apa-apa kan kita sudah tahu pelakunya, Nona Wina." Siti kembali meyakinkan pada Zifa kalau kemal tidak akan kenapa-kenapa. Zifa nampak berpikir sekali lagi, mempertimbangkan ucapan Siti yang mengatakan kalau dia tidak akan kenapa-kenapa. Kedua matanya menangkap Kemal yang masih tertidur pulas, lalu pandangan matanya dialihkan pada Wina yang berdiri dengan kedua tangan melipat di depan dadanya.


"Ya udah kita keluar Ti. Mba Wina, Ifa titip Kemal yah," ucap Zifa sebelum pergi meninggalkan Kemal dan Wina, meskipun berat meninggalkan mereka.


"Hust... Hust... keluar sana," usir Wina dengan mengibas-ngibaskan tanganya.


"Kenapa aku terlihat senang sekali yah melihat Zifa dan Siti pergi, dan aku sekarang hanya bersama dengan Kemal." Pandangan mata Wina menatap Kemal yang semakin kurus, dan juga bulu-bulu halus banyak ditumbuhi di wajahnya.