
Zifa sangat bergembira begitu ia mendapatkan telepon dari suaminya yang mengatakan kalau laki-laki yang menyandang status suaminya saat ini sedang pulang menuju ke rumahnya, dan Zifa diminta bersiap-siap untuk mengunjungi dua ponakan kembarnya. Bahkan Ghava sudah membelikan kado mainan terbaru untuk keponakannya yang semakin pandai itu.
Seperti halnya tadi pagi, sore ini pun Kemal dan Wina sudah bersiap menunggu di depan rumah yang Ghava tempati, bahkan Kemal sudah yakin kalau abangnya itu sebentar lagi akan keluar lagi.
"Kamu yakin Kemal, kalau Ghava akan keluar bersama wanita murahan itu?" tanya Wina memastikan pemikiran laki-laki yang saat ini sedang duduk di sampingnya itu.
"Kamu boleh pastikan nanti, dan kamu harus membayarnya kalau memang tebakan akau benar," lirih Kemal dengan tatapan yang santai mengawasi rumah mewah yang dijaga ketat itu.
Setelah Kemal dan Wina menunggu cukup lama, kini merekapun tersenyum dengan penuh arti ketika mobil Ghava kembali keluar lagi. Dugaan yang tepat. Ghava keluar bersama dengan Zifa.
Api cemburu seolah berkobar dari Kemal dan juga Wina, ketika pasangan yang diakui milik mereka tengah berbahagia dengan pasangan yang lainnya.
"Kita ikutin mereka sekarang Kemal," lirih Wina ketika tahu kalau Kemal justru mematung tidak segera melajukan kendaraanya, Kemal buru-buru mengerjap ketika satu buah tepukan sedikit keras berhasil mendarat di lengannya.
"Iya kita ikuti mereka," balas Kemal, buru-buru ia melajukan kendaraanya. Kobaran api cemburu terlihat di mata Kemal, laki-laki itu benar-benar cemburu dengan Ghava. Bahkan ia menyetir tidak terlalu berkonsentrasi. Memang umur seperti Kemal sedang sangat labil sehingga ia tidak memikirkan akibatnya apabila berpikir sesuatu.
Kemal begitu melihat kesempatan yang terbuka dengan bagus, ia langsung menyelip kendaraan di depannya sehingga mengakibatkan Ghava tidak bisa menghindar.
Chittt... Brukkk... Mobil Ghava menabrak mobil Kemal.
"Mas kamu kenapa?" tanya Zifa yang mulai panik dengan apa yang terjadi di hadapannya itu.
"Sial, Kemal tahu persembunyian kita Fa, untung saja kita belum sempat sampai di rumah Alwi kalau sudah bisa jadi Kemal mengetahui keberadaan Raja dan Ratu serta kakak kamu. Memang Ghava dan Zifa sudah tahu kalau Kemal beberapa kali menghubungi bunda Anna untuk menanyakan keberadaan Zifa dan kakaknya, tetapi bunda Anna selalu bilang kalau Zifa dan Zara sudah lama pindah.
Bahkan Kemal sempat mendatangi yayasan yang dulu menampung Zifa dan terus mencecar bunda Anna dan juga pengurus yang lain, karena semuanya sudah tahu maksud Kemal sehingga orang-orang yayasan menutup keberadaan Zifa dan Zara, tetapi kali ini semuanya seolah tidak bisa menghindar kagi Kemal sudah mengetahui keberadaan Zifa dan Ghava.
Kemal turun menghampiri mobil abangnya dan menggedor dengan keras, bukan hanya Kemal tetapi Wina juga turun dan bersiap melancarkan rencananya yang dengan Kemal, yaitu mempermalukan Zifa dan Ghava, tidak perduli dengan orang-orang yang sudah mulai berkerumun.
Kemal menggedor pintu mobil dengan kuat, bahkan mobil Kemal dan Ghava penyok tetapi laki-laki itu tidak memperdulikannya yang terpenting adalah bagaimana ia bisa membalas apa yang sedang ia rencanakan. Dadanya sudah benar-benar terbakar api cemburu.
Ghava pun membuka pintu dan langsung mengunci pintu mobilnya membiarkan Zifa aman di dalam mobil.
"Brukkk... brukkkk... Zifa langsung menjerit di dalam mobil sana ingin keluar dan melakukan pembelaan pada Ghava tetapi tidak bisa mobilnya terkunci dan Zifa pun sadar kalau dia memaksa keluar yang ada nasib dia akan sama dengan Ghava terlebih di luar mobilnya sudah banyak warga yang bisa saja menghakiminya.
Ghava tidak membalas pukulan Kemal sedikitpun dan membiarkan tubuhnya dijadikan bulan-bulanan oleh adik kandungnya sediri. Wina sudah sangat panik ketika tubuh Ghava terkulai di atas aspal dengan darah menetes dari hidungnya, dan Kemal akan menendang lagi perut abangnya itu, tetapi Wina buru-buru menahannya.
"Kemal, Stop!! Ingat Kemal, Ghava itu adalah abang kamu," lirih Wina dengan mengiba pada Kemal, dan Kemal pun langsung tersadar dengan apa yang di lakukan nya.
"Kenapa loe tidak melawan?" tanya Kemal masih dengan emosi yang memburu. Sedangkan orang-orang semakin bingung dengan permasalahan mereka dan menyarankannya untuk membawa Ghava dan Zifa ke kantor polisi untuk di hukum dan di penjara, karena mereka sudah ketahuan selingkuh.
Namun saran mereka tidak ada yang di dengarkan oleh Kemal manapun Wina, mereka masih fokus denga Ghava yang sudah babak belur, dan Zifa sudah ditahan warga. Warga yang terpancing dengan Wina pun ikut menghakimi Zifa dan Ghava yang mereka bilang pasangan selingkuh dan bahkan sudah ada yang melaporkan masalah ini pada yang berwajib, sehingga ada satu unite mobil polisi yang menghampiri Ghava dan Zifa untuk membawanya kekantor polisi. Sedangkan Ghava tidak mengeluarkan sepatah katapun yang dituduhkan oleh Kemal.
Ghava memiliki menjelaskan di kantor polisi. Itu yang mereka inginkan melaporkan Zifa dan Ghava kekantor polisi, dan Ghava lebih setuju karena nanti bakal ketahuan siapa yang salah.
"Emang pasangan selingkuh pantas dilaporkan ke kantor polisi," umpatan dari para warga yang tidak tahu apa-apa semakin menjadi ketika mobil polisi datang dan mereka akan membawa Ghava dan Zifa ke kantor.
"Tunggu kenapa harus di bawa kekantor kenapa tidak diselesaikan disini saja biar orang-orang tahu siapa yang selingkuh," ucap Ghava akhirnya buka suara juga.
Ghava dengan berjalan tertatih-tatih masuk ke dalam mobil dan mengambil buku nikah mereka. Seolah Ghava tahu bahwa buku nikah mereka sangat di butuh kan.
"Kami tidak pernah selingkuh. Ini buku nikah kami. " Ghava menyerahkan bukti itu pada polisi, dua orang polisi pun saling melemparkan pandang yang aneh.
"Siapa yang melaporkan adanya selingkuh?" tanya pihak berwajib yang mungkin merasakan tertipu setelah Ghava menjelaskan kejadian kenapa bisa ia dituduh selingkuh.
Warga pun mulai tahu permasalahan yang dialami oleh keluarga itu dan mereka yang mulai malas ada yang meninggalkan kerumunan dan kembali pada aktifitasnya dan Kemal. dan Ghava tetap dibawa ke kantor polisi karena dimintai keterangan kenapa biy menimpa keributan.
Tentu Ghava dan Zifa tidak masalah dengan permintaan polisi itu karena semua demi kebaikan bersama.