Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 162


Wina merasakan kalau hatinya cukup lega pada akhirnya Zifa dan Siti, yang disebutnya dengan pengganggu keluar juga. Sementara itu Zifa sendiri di luar ruangan Kemal nampak gelisah, beberapa kali ia menggosokan telapak tanganya, dan juga mondar mandir. Siti pun yang sedari tadi duduk pun pandanganya tidak lepas sama sekali dari Zifa  yang masih nampak gelisah itu. Tubuh Siti bangun dan menghampiri Zifa. Dia sendiri juga  sama gelisah dengan yang dilakukan oleh Zifa tetapi ia tetap mencoba tenang.


"Nona, kita duduk dulu yuk." Siti menyentuh tangan Zifa, dan wanita itu langsung mengerjapkan tubuhnya, kaget ketika tubuhnya ada yang menyentuhnya.


Pandangan mata Zifa dan Siti saling bertemu dengan tatapan yang bingung. "Ti, gimana kalau Kemal di dalam sana tidak baik-baik saja dengan wanita itu. Nanti kita yang akan dipersalahkan oleh Ghava dan Papih Omar," lirih Zifa dengan tatapan yang cemas.


Siti menuntun tubuh Zifa dengan merangkulnya menuju ke kursi yang ada di depan ruangan Kemal. "Nona tenang saja, kita berikan kepercayaan pada Nona Wina. Siti yakin dia tidak akan tega menyakiti Den Kemal. Memang Nona Wina sepertinya galak dan menyebalkan tetapi yakinlah Nona Wina juga baik pada dasarnya," lirih Siti, meskipun wanita itu belum begitu tahu dengan sifat asli Wina, tetap Siti yakin kalau Wina tidak akan tega menyakiti Kemal. Lagian yang Siti tahu, Kemal tidak ada hubunganya dengan Wina. Kalapun Zifa bersitegang dengan Wina, karena Wina merasa calon tunanganya direbut oleh Zifa, dan kalau Kemal, Siti sendiri tidak melihat ada masalah dengan mereka.


Lagi, Zifa menatap Siti dengan tatapan pasrah. "Jadi kita akan diam saja di sini, dan percaya kalau Kemal akan baik-baik saja di dalam sana dengan Wina?" tanya Zifa, dan tentu Siti langsung membalasnya dengan anggukan kepala yang yakin.


"Siti yakin Nona Wina tidak akan berbuat bodoh." Zifa pun berusaha percaya adan mencoba tenang, memberikan kepercayaan pada Wina, mungkin memang mereka ada urusan yang belum selesai, sehingga Wina ingin berkomunikasi dengan Kemal.


"Benar juga apa kata Siti, tidak ada salahnya memberikan kepercayaan pada Mba Wina, siapa tahu saja Kemal akan sembuh dengan Mba Wina yang akan mengajaknya berkomunikasi. Bukanya dokter mengatakan kalau Kemal harus banyak dirangsang dengan mengajaknya mengobrol," gumam Zifa dalam batinnya, ia pun saat ini sedikit lega dan percaya dengan Wina yang saat ini ada di dalam ruangan  Kemal.


Sementara itu di dalam ruangan, Wina sendiri langsung mengalihkan pandanganya ke arah Kemal yang sedang terbaring seperti orang tidur di atas ranjang dengan beberapa alat medis masih menempel di tubuhnya. Kedua mata Wina menghangat, tenggorokanya terasa sesak ketika ia melihat tubuh Kemal yang semakin kurus, sangat berbeda dengan Kemal terakhir dia melihat nya, dengan balutan selimut dan tubuh telanjang yang kekar, dan tentunya wajah yang tampan.


Saat ini Wina melihat wajah Kemal terlihat sangat pucat, dan banyak di tumbuhi oleh bulu-bulu halus dan itu  mebuat Wina sakit melihatnya. Wanita itu berjalan dengan tubuh yang lemas ke samping ranjang pasien di mana Kemal masih tidak ada tanda-tanda kalau dia akan  bangun.


Rasa marah, kesal, dan kecewa yang hampir dua bulan ini menyelimuti hati Wina, seolah menguai, begitu melihat laki-laki yang menitikan benihnya di rahim Wina, terbaring dengan sangat memprihatinkan. Bahkan serangkaian kata, yang sudah Wina siapkan untuk mengatakan mewakili kekecewaanya, tiba-tiba lupa. Wina seperti kaku tidak bisa berucap di samping Kemal.


Bahkan tanganya pun terasa kaku. Dengan sekuat tenaga Wina menggerakan tanganya yang terasa kaku itu. Ia membelai wajah Kemal dengan penuh kasih, dan mata yang sudah berembun.


"Apa kedatanganku ke sini mengganggu kamu?" lirih Wina dengan isakan samar. Ingin Wina mengatakan banyak kata, tetapi tenggorokanya sakit, bahkan untuk menelan salivanya pun sangat sakit sekali.


"Kemal, aku masih marah dengan kamu. Dan aku akan terus marah dengan kamu kalau kamu hanya bisa tidur dan terbaring tampa daya. Bukanya kamu bilang ke aku kalau kamu akan bertanggung jawab atas perbuatan kamu. Aku datang ke sini untuk meminta pertanggung jawaban dari kamu." Wina masih terisak, rasanya semakin banyak ia berucap, tenggorokanya seperti ada yang mencekik dengan lebih keras lagi, sangat sakit dan menyiksa. Terlebih ketika tahu kalau Kemal tidak akan memberikan respon apapun dengan apa yang ia ucapkan.


Setelah tenang, dan sedikit lega tenggorokanya. Wina pun bisa bercerita dengan banyak kata-kata, bahkan Wina sekaran bekomunikasi dengan  ucapan yang biasa saja seolah ia tidak lagi merasakan marah dan kesal, ia tahu kalau Kemal butuh dukungan. Agar Kemal cepat sembuh setidaknya anaknya akan memiliki ayah, dan dia tahu kalau Wina hamil atas kelakuanya.


"Aku minta maaf kalau sempat membuat kamu panik. Kemal bangunlah, ada yang sangat berharap kalau kamu sembuh. Anak kamu yang ada di rahimku ingin kamu sembuh. Aku datang ke sini untuk memberitahukan kalau kejadian kita dua bulan lalu, sekarang ada calon anak kamu yang tumbuh di perutku. Apa kamu tidak ingin bertanggung jawab? Bukanya kamu berkata akan bertanggung jawab dengan perbuatan kamu? Ayo bangun Kemal buktikan kalau kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab, atau setidaknya kamu menyapa calon anak kamu, dan menemaninya bermain, nanti ketika ia sudah lahir." Wina kembali terisak, ia tidak kuat untuk membesarkan sendiri anak Kemal.


Belum, Wina harus menghadapi gunjingan orang-orang sendiri rasanya berat sekali. Menjalani masa kehamilan hingga melahirkan dan mendidik anaknya seorang diri untuk sekedar dibayangkan saja Wina sudah sangat sesak.


"Kemal, apa kamu tega membiarkan aku melewati ini semua, hamil sendiri tanpa ada laki-laki yang memnerikan semangat, belum gunjingan dari orang-orang yang tidak menyukaiku. Aku tidak kuat kalau aku melewati ini semua sendirian. Kemal apa lebih baik aku menggugurkan anak ini? Mungkin kalau anak ini aku gugurkan hidup aku pasti lebih baik, tanpa gunjingan dari orang lain, dan aku juga tidak akan melewati masa kehamilan dan melahirkan yang sulit dengan seorang diri?" Wina terus merancau.


Bahkan apa yang ia ucapkan tidak sama sekali ia rancang sebelumnya. Bibirnya dengan sangat ringan mengeluarkan rangkaian kata-kata itu, seolah Wina sudah merangkainya sebelum kesini.


"Kemal kalau kamu marah denganku, silahkan kamu katakan, silahkan kamu luapkan, aku akan terima tetapi berjanjilan setelah itu kita perbaiki ini semua dan membesarkan anak kita bersama-sama. Tapi kalau kamu tidak bangun juga, mungkin jalan yang akan aku ambil adalah menggugurkan anak ini. Apa kamu  mau kalau aku menggugurkan anak ini, dan aku akan menjadi pembunuh?" tanya Wina dengan serius dan ada harapan kalau laki-laki itu bangun dan menahanya. Lalu berkata kalau dia akan menjaga bersama-sama.


Kembali Wina menatap wajah pucat itu, bahkan dalam bibirnya ia sudah tidak tahu lagi akan berkata apa, semua tujuanya datang ke sini sudah dikatakan, tetapi Kemal belum ada respon apapun.


"Baiklah kalau kamu sendiri tidak mau bertanggung jawab atas anak ini, mungkin aku akan benar-benar memilih menggugurkan anak ini dan aku sendiri akan memilih pergi dari kehidupanmu. Mungkin kita akan bertemu lain waktu, tapi dengan situasi yang berbeda. Aku tidak akan memaksa kamu untuk bangun, karena mungkin kamu sedang lelah untuk menjalani kehidupan ini. Tetaplah tidur dalam damai, dan kalau sudah cape tidur bangunlah. Zifa menunggu kamu setiap saat. Aku tahu dia pasti sangat cemas dengan kamu," lirih Wina dengan tersenyum getir, bercerita seperti itu.


"Asal kamu tahu, tadi aku sempat bersitegang dengan Zifa karena dia melaranggku bertemu berdua saja dengan kamu. Dia memang sangat mencitai kamu. Aku iri dengan Zifa. dia dicintai oleh dua laki-laki. Bahkan laki-laki itu sampai tega kehilangan nyawanya demi wanita yang ia cintainya. Aku sudah membaca pesan-pesan kamu tanpa terlewat satu pun, dan aku marah dan kecewa ketika kamu membayangkaan bahwa malam itu yang berhubungan badan dengan kamu adalah Zifa. Aku marah dan kecewa, tetapi aku tahu aku hanyalah wanita egois wanita manja dan menyebalkan yang tidak pantas untuk dicintai oleh salah satu di antara kalian." Wina benar-benar sudah lelah, hatinya kembali bergemuruh.


"Kalu begitu aku pulang Kemal, aku tidak akan datang lagi menemui kamu, karena aku tahu, sekali pun kamu bertanggung jawab padaku, kamu akan tetap menganggap aku Zifa." Wanita itu beranjak dari duduknya, dan sebelumnya ia sudah menghapus air matanya. Ia tidak mau Zifa mengejeknya karena menangis. Nanti wanita itu akan senang kalau melihat dirinya menangis.


Cupppp... Wina mencium pipi Kemal dengan hangat dan cukup lama. "Semoga kamu bahagia dengan wanita yang kamu cintai."


Namun sedetik kemudian tubuh Wina mematung, kaget.