
Zara dan Zifa dengan perasaan tidak sabar berjalan ingin segera sampai makam kedua orang tuanya.
Assalamualaikum... Ibu, Bapak Ifa dan Kakak Zara, ada Raja dan Ratu, cucu kalian serta ada Dokter Alwi dan juga ada Ghava suami Ifa datang untuk menjenguk kalian, terutama Ibu. Ifa mau bilang kalau orang yang membunuh Ibu sudah dihukum. Maaf yah Bu, Ifa baru mendapatkan keadailan sekarang, Ifa terlalu takut kalau Ifa gegabah Ifa hanya akan bernasib seperti Ibu, dan Kakak tidak ada yang melindungi." Zifa terisak, ia memang yang pertama untuk menyapa orang tua mereka, dan yang lain akan dapat giliranya.
Raja dan Ratu yang belum tahu pun hanya berdiri memperhatikan Zifa dan bundanya yang terisak.
"Pah, kenapa Bunda dan Tante menangis, meleka kan udah gede?" celoteh Ratu yang hampir tidak pernah melihat bundanya meneteskan air mata. Baru kali ini mereka melihat Zara menangis bersimpuh di atas pusaran yang sudah di tanami rumput-rumput hijau. Sementara Raja larut dalam kesedihan, anak laki-laki itu takut kalau wanita yang telah melahirkanya kena-kenapa sehingga dengan siaga dan mata elangnya ia siap melindungi bundanya.
"Bunda tidak apa-apa Nak, Bunda hanya kangen sama Opa dan Oma," jelas Alwi dengan sabar, dan setelah Alwi memberikan penjelasan Ratu pun semakin kepo tentang opa dan omanya.
"Emang Opa dan Oma di mana Pah?" tanya Ratu lagi.
"Di surga," lirih Alwi.
"Oh, Opa dan Oma belati baleng sama Kakak Mecca yah Pah." Ratu ingat beberapa hari ini ia juga diajak mengunjungi makam kakaknya, Mecca yang juga sama sudah meninggal dunia, dan anak itu yang memang cerdas pun masih mengingat setiap ucapan Alwin.
Alwi pun hanya membalasnya dengan kecupan yang mesra, dan itu sudah bisa membungkam celoteh Ratu, dan kini anak kecil itu masih melihat Zifa dan Zara.
"Bu, mereka sudah menyesal, Abas sudah meminta maaf pada Zara, tetapi Zara tidak memaafkan mereka, Ara tidak mau memaafkan mereka Bu, Ibu tidak marah kan, Ibu tidak akan membenci Ara kan?" Zara pun mengadukan apa yang ada di dalam hatinya.
"Ibu, pasti Ibu senang tadi adalah suara Kakak Ara, Kakak sudah banyak kemajuanya Bu, bahkan berkat ingatkan Kakak yang bagus sidang banyak dari bukti ingatan Kakak Ara. Ibu suka kan? Ibu bangga Kan?" tanya Zifa.
"Ibu, Ara janji akan jaga adek terus, sudah cukup Zifa jaga Ara, sekarang Ara akan jaga Ifa, Kita akan jadi adik dan kakak yang baik seperti yang ibu selalu katakan."
Zifa dan Zara terus bercerita dari mereka berpindah ke kota Bandung, terus bertemu bunda Anna yang sangat baik, Zifa melanjutkan pendidikanya dan juga mereka yang membuka toko kue hingga kini toko kue Raja dan Ratu berencana akan membuka cabang baru dan itu akan di buka di Jakarta.
Semua yang terjadi pada kisah Zifa dan Zara mereka ceritakan, mereka juga mengenalkan Raja dan Ratu, serta Alwi dan Ghava. Bukan hanya Zifa yang menceritakan Raja dan Ratu, tetapi mereka mengenalkan Alwi dokter yang membantu Zara sampai Zara sembuh dan juga siapa Ghava, tidak ada yang di tutupi oleh Zara dan Zifa, mereka mengenalkan Ghava sebagai anak dari pembunuh ibunya.
"Maaf yah Bu, kalau Ifa menikah dengan Ghava, dia baik dan sangat sayang pada Ifa, dan Ifa juga sudah jatuh cinta dengan Ghava." Zifa di atas pusaran ibunya mengakui perasaanya terhadap Ghava, hal itu membut Ghava bahagia, dan ternyata usahanya tidak sia-sia. Zifa kini mengakui persaanya, hal yang dulu sulit ia dengar.
Setelah Zifa dan Zara selesai berbicara dengan kedua orang tuanya, yang selanjutnya adalah Ghava.
"Assalamualaikum Bu, Pak, kenalkan saya adalah Ghava, menantu Ibu dan Bapak. Yah, apa yang Ifa katakan benar, kalau yang dikatakan oleh Ifa adalah sebuah kebenaran, kalau Ghava adalah anak dari pembunuh Ibu. Ghava minta restu dari Ibu dan Bapak, agar Ghava bisa menjadi suami yang baik suami yang bisa menjaga Zifa dan juga anak-anak kita nanti. Ghava minta maaf atas nama Mamih yang sudah membuat Ibu meninggal dan atas nama Abas yang telah memperkosa Zara." Ghava pun mersakan keharuan ketika harus berbicara dengan orang yang sudah pergi.
Hanya berbicara di atas pusaranya berharap bahwa mereka akan mendengar dan ikut membantu meng-Amin kan.
Setelah Ghava yang berbicara dengan mereka kini jatah Alwi dan Raja dan Ratu pun saat ini di jaga oleh Zifa dan Zara. Dua anak kembar itu memang lebih dekat dengan Alwi. Sosok Alwi sebagai orang tua sudah tidak di ragukan lagi bahkan bukan buah hatinya sendiri saja ia akan menyayanginya dengan sangat baik.
"Assalamualaikum Ibu, Bapak, saya adalah Alwi, mungkin tadi Zara dan juga Zifa sudah sedikit bercerita siapa saya sebenarnya. Yah, saya adalah dokter yang mendampingi Zara untuk terapi hingga Zara yang memang pintar sampai seperti saat ini. Ibu, Bapak, kedatangan saya selain untuk menemani Zara dan Zifa di pengadilan tadi, tentu ada niat lain. Saya ingin meminta izin pada Ibu dan Bapak untuk menikahi Zara."
Deg...!!!
Zifa yang belum tahu niat Alwi ikut datang ke makam ke dua orang tua mereka dengan maksud ini tentu sedikit kaget, tetapi tidak bisa di pungkiri Zifa merasakan senang. Hari ini adalah hari kebahagiaan bagi Zifa dan Zara.
Seolah kesedihan yang mereka rasakan dulu saat ini dibayar dengan kontan di hari ini beserta bonus-bonusnya.
"Kakak, apa Kakak sudah tahu kalau Abang akan menikahi Kakak?" tanya Zifa, kepo maksimal.
Zara pun dengan malu-malu mengangguk, dan Zifa benar-benar mendapatkan kejutan yang luar biasa.
Cukup lama Alwi berbicara di atas pusaran orang tua Zifa, laki-laki itu pun berjanji dengan sungguh-sungguh akan memberikan kebahagiaan pada Zara dan anak-anaknya, dan dia juga sebagai abang ipar dari Zifa akan menjaga Zifa, dan menasihatinya mengingat Zifa memang sedikit plin-plan.
Setelah mereka mengunjungi makam orang tua mereka, kini rombongan itu pun kembali lagi, sebelum kembali ke rumah, mereka pun mengabadikan foto mereka kumpul bersama di atas pusaran orang tuan Zifa dan Zara.
"Abang, kenapa Abang tidak bilang pada Zifa kalau Abang akan menikahi Kakak Ara?" tanya Zifa dengan raut wajah yang menujukan kalau ia kecewa.
"Iya maaf Fa, Abang ingin membuat kejutan saja untuk kamu," balas Alwi dengan menujukan wajah tanpa dosanya.
"Bukan soal kejutanya Bang, tapi Ifa merasa kalau Ifa itu bukan bagian dari keluarga, seolah Ifa itu sodara tidak dianggap," cicit Zifa.
"Kok ngomongnya gitu, kan sekarang sudah tahu kalau Abang itu akan menikahi Kakak kamu," balas Alwi, dia tahu Zifa tidak marah sungguhan, hanya membalas candaanya itu.
"Pokoknya Ifa akan marah sama Abang," dengus Zifa.
"Ih gak adil banget kok marahnya cuma sama Abang ajah sih, padahal yang kasih ide bukan Abang," bela Alwi.
"Terus siapa yang kasih ide biar Ifa marah juga," cecar Zifa dengan wajah sok marah, dan kesal, sedangkan Zara yang sedang berjalan di belakang mereka pun hanya tertawa dengan renyah.
"Noh yang kasih ide." Alwi menunjuk Ghava, yang tetawa tanpa dosa.
"MASSS...." Zifa mengejar suaminya itu, hingga dua ponakanya tertawa dengan renyah, karena aksi tante dan omnya, bermain kejar-kejaran. Mereka benar-benar menganggap suami istri itu sedang ngehibur dirinya.
Hap...!! Zifa pun di tangkap oleh Ghava, bukannya Zifa yang menangkap suaminya malah dia yang di bopong bak sebuah karung beras.
"Mas, turunin!! Malu," pekik Zifa dengan kaki digerak-gerakan, tetapi bukanya diturunkan malah semakin kencang.
"Om... Om... Laja dan Latu juga mau di gendong," racau mereka dengan berjingkrak dan sebelah tangan Ghava pun mnggendong dua bocah itu, dan sebelah lagi menggendong istrinya. Bocak kembar itu tertawa terbahak-bahak sementara Zifa justru hanya tersenyum masam, untung jalan sepi seolah Tuhan lagi-lagi mentakdirkan sebegini indahnya momen sederhana nan bahagia di jalan itu.
Tanpa mereka sadari Alwi mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya, tidak hanya sebuah foto vidio pun ia buat untuk sebuah kenang kenangan.
"Ghava coba hadap sini," pekik Alwi dan Ghava yang hampir tidak kelihatan pun menghadap Alwi.
Cekrek...cekrekk... beberapa bidikan kamera ia abadikan. Sedangkan Zifa yang sadar di foto pun menutup wajahnya.
"Abang, jangan jahil deh," pekik Zifa dengan wajah masih di tutup telapak tangannya.
"Aku hanya mengikuti arahan Ibu sutradara." Alwi menujuk Zara, dan Zara pun terkekeh, karena berhasil mengerjai adiknya.
Mereka pun akhirnya menggunakan momen pulang untuk mengabadikan kebahagiaan mereka.
Hari ini apa yang dulu mereka doakan, dan mereka bersedih, dari doa yang biasa hingga doa yang luar biasa seolah terjawab semuanya. Tidak satu pun yang Tuhan lewatkan. Balasan atas kesabaran dan kesedihan mereka, sudah dikirimkan dengan bahagia yang berkali-kali lipat. Harta yang mampu menghidupi mereka dengan layak, kasih sayang yang tidak pernah terbayangakn sebelumnya.
Kehangatan keluarga yang kompak, semuanya Tuhan limpahkan sesuai dengan kebutuhanya.
Keadilan bagi rakyat kecil yang sangat semu dan bahkan seperti bintang di langit yang terang, indah, dan cantik, tetapi sulit untuk digapai. Namun, Tuhan selalu beranji bahwa kebenaran akan menemukan jalanya. Seperti yang Zifa alami bahwa serapat apapun mereka menutupinya, kebenaran menemukan jalanya.
Keadilan mereka bisa raih. Hukum bekerja dengan adil, karma itu ada. Tidak akan lolos kesalahan barang sekecil apapun. Mungkin hukum dunia bisa di beli, tetapi hukum dari Tuhan tidak akan bisa dimanipulasi.