Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 137


Di tempat lain....


Pesta yang mereka bayangkan akan meriah dan banyak mendapatkan pujian justru jauh dari harapan mereka. Pesta kehamilan Orlin kacau. Eira juga jatuh pingsan dan juga  keluarga Orlin yang sangat kecewa dengan keluarga Abas pun memutuskan mengajak Orlin pulang ke rumah mereka dulu, dan meninggalkan pesta itu. Mereka benar-benar termakan oleh  ucapan dari Lyra dan juga tentu mereka takut kalau anaknya nanti akan bernasib sama dengan wanita yang Lyra maksud.


Tidak hanya keluarga Orlin, Wina pun menjadi seperti ragu dengan Ghava. Mungkin wanita itu takut kalau nanti Ghava juga akan memperlakukan ia sama dengan Abas memperlakukan wanita-wanitanya. Kepanikan terlihat di wajah Omar, dan Kemal, ambulance pun mulai datang untuk membawa tubuh Eira yang pingsan, tetapi pemandangan berbeda terlihat dari tubuh Abas yang justru seperti bingung dengan apa yang terjadi. Omar mengantarkan istrinya ke rumah sakit sedangkan Kemal mengurus kekacauan di pesta ini termasuk tubuh Abas yang terlihat seperti orang tengah kehilangan ingatannya. Serta Wina yang seperti kecewa dengan keluarga Ghava.


"Win, apa kamu akan berubah pikiran?" tanya Kemal yang justru lebih memikirkan perasaan Wina dari pada abangnya sendiri yang duduk di sofa dengan pandangan kosong. Melamun mencoba mencerna apa yang tengah terjadi.


"Apa aku masih harus mencari Ghava, setelah aku tahu kelakuan abang kalian?" tanya Wina dengan wajah kekecewaan, tetapi Kemal tidak bisa merelakan Wina begitu saja pergi dan  membatalkan kerja sama mereka. Kemal yakin kalau Lyra itu memang sekarang sedang mengincar keluarganya tujuannya pasti Abas.


Namun Kemal juga tidak tahu Lyra bisa tahu semua yang menimpa keluarganya dari mana?


"Win, Please tetaplah menjalankan misi itu, aku hanya ingin mengambil Zifa dari abangku, Zifa harus jadi miliki, dan kamu percaya lah kalau Ghava itu tidak seperti Abas," mohon Kemal, dan terlihat kalau Wina mulai bimbang lagi. Kemal pun semakin yakin kalau Wina pasti masih menginginkan Ghava.


"Apa Abas benar-benar berselingkuh?" tanya Wina masih dirundung rasa penasaran yang sangat kuat.


"Aku tidak tahu, kamu bisa lihat sendirikan kalau Abas saja saat ini seperti orang yang kebingungan," ucap Kemal sembari menunjuk pada Abas yang benar-benar seperti orang yang kebingungan.


Kemal pun yang kasihan mencoba menghampiri Abangnya. Sementara Eira sudah ada Omar yang menjaganya di rumah sakit.


Abas langsung menatap tajam pada Kemal ketika Kemal duduk di hadapannya. "Apa yang loe tahu tentang anak-anak yang di maksud oleh Lyra, apa itu benar-benar anak-anakku?" tanya Abas, dan hal itu justru kembali membuat Kemal dan Wina bingung dan keduanya saling bertatapan seolah sedang berdiskusi melalui tatapan matanya.


"Apa loe tidak tahu masalah ini, bukanya memang loe yang menghamili Zara?" tanya Kemal laki-laki itu juga bingung, kalau Abas tidak mengambil Zara lalu siapa yang melakukanya.


"Zara?? Apa Zara hamil?" tanya Abas semakin bingung dan bukan hanya Abas yang bingung tetapi juga Kemal yang mengira kalau Abas tahu hal ini. Wina justru semakin tidak tahu apa-apa dia juga sama semakin bingung sebenarnya Abas yang salah atau ini semua hanya akal-akalan Lyra agar rencana mereka gagal.


Dalam kata lain Wina mengingat kalau Lyra itu bisa saja dendam, dan kini Wina juga yakin semua ini hanya sabotase semata oleh Lyra dan wanita itu iri. Dan akan menghancurkan Abas dan Orlin.


"Ok Kemal kali ini aku tahu harus membela ke siapa, kayaknya Lyra memang sengaja ingin menghancurkan kalian sehingga wanita itu membuat fitnah semacam ini," ucap Wina dengan percaya diri, Kemal yang tadinya akan menjelaskan kalau Lyra benar, langsung mengurungkan kembali nyatanya.


'Biarkan Wina terbawa pikirannya dengan kepercayaan itu dan yang terpenting Wina nantinya bisa jadi teman untuk melancarkan rencanaku,' batin Kemal. Yang terpenting saat ini dia mengurus ke kacauan yang disebabkan oleh Lyra dan Kemal pun berjanji tidak akan membiarkan Lyra lolos. Kemal sangat kecewa pada Lyra yang hampir saja membuat dirinya kehilangan Wina untuk bekerja sama.


Setelah Wina tahu apa yang terjadi dalam keluarga Abas adalah fitnah dari Lyra, ia pun pamit untuk datang kerumah Orlin untuk menjelaskan permasalahan sebenarnya. Kemal yang meminta Wina menjelaskan versi dirinya pada Orlin. Serta meminta tidak mendengarkan apa yang terjadi pada Abas, karena Abas tidak tahu kalau dia punya anak dari wanita lain.


Kini tinggallah Abas dan juga Kemal setelah Wina pulang untuk menjelaskan pada kelurga Orlin dan juga keluarganya sendiri, dan pasti mereka akan lebih percaya pada Wina, dan akan kembali berpikir buruk pada Lyra.


"Kemal apa Zara hamil?" tanya Abas lagi masih dengan tatapan yang sulit diartikan, dan kini Kemal lebih bebas berbicara mengingat dalam lokasi itu hanya ada Kemal dan Abas saja, Wina sudah pergi dari beberapa menit yang lalu.


"Apa loe pernah memakai Zara?" tanya Kemal balik, karena ini juga masih menjadi misteri yang Kemal sendiri belum tahu.


"Aku memang pernah mengga-ulinya dan kami sama-sama menikmatinya, tetap aku tidak tahu kalau Zara hamil. Di mana saat ini Zara berada?" tanya Abas dengan sorot mata yang memerah, dan itu sangat terlihat kalau Abas memang tidak mengetahuinya.


"Tapi bukanya tadi Lyra mengatakan kalau kamu tahu di mana anakku berada dan juga Zara." Abas mulai menaruh curiga pada Kemal dan ia mengira kalau adiknya itu turut menyembunyikan di mana anaknya dan juga Zara. Bahkan Abas jadi melupakan Orlin istrinya, di dalam pikirannya ia tetap menginginkan Zara sebagai cintanya.


"Dulu aku tahu mereka ada di mana, tetapi saat ini aku belum ketemu lagi dengan mereka, bahkan dengan anak Zara aja aku belum bertemu lagi," jawab Kemal, laki-laki itu juga semakin bingung dengan Abas. Dia dulu pernah menduga Abas adalah pelaku pemerko-saan Zara dan juga pembu-nuh ibunya Zara, tetap kali ini Kemal justru melihat seperti Abas yang tidak tahu apa-apa.


'Kalau Abas aja reaksinya seperti ini berati pelakunya sangat mungkin adalah Mamih,' batin Kemal yang mulai khawatir dengan mamihnya yang semakin menujukan bahwa ia adalah pelakunya, seperti tadi sang wanita itu pingsan dan itu justru semakin meyakinkan Kemal kalau mamihnya menyimpan rahasia sesuatu.


"Kemal tolong kasih tahu di mana mereka berada, setidaknya biarkan aku meminta maaf pada mereka yang yang sudah aku buat hidupnya sulit." Abas terus memohon pada Kemal.


"Aku akan coba cari pada Ghava, mungkin saja Ghava tahu Zara dan anaknya di mana, dan sepertinya hanya Ghava yang tahu anak-anak loe ada di mana."


"Ghava? Apa hubungan Ghava dengan semua ini?" tanya Abas yang semakin tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam lingkungan keluarganya.


"Entahlah hubungannya apa, tetapi setahu aku Ghava orang terakhir yang memiliki komunikasi dengan Zifa adik dari Zara, dan apa Abang tahu tentang sesuatu yang kemungkinan meninggalnya ibu Farida? Apa betul dugaan mereka kalau ibu Farida di bunuh?" Saat ini Kemal tertarik mengorek kembali apa yang sekiranya membuat ibunya Zifa terbunuh di rumahnya.


Abas menggeleng lemah. Namun tidak lama kemudian Abas melanjutkan ucapannya.


"Mamih pernah bilang padaku, kalau nanti ada yang mencari informasi atas meninggalnya ibu dari Zara aku harus mengatakan serangan jantung, dan aku juga di ingatkan kembali kalau aku harus mengucapkan itu dengan yakin dan tidak ada keraguan. Agak janggal kan? Apa mungkin Mamih adalah pembunuhnya?" tanya Abas sembari ia mencoba apa yang ibu kandungnya katakan kala itu.


"Bisa jadi memang Mamih yang membunuh ibu Farida," balas Kemal, sangat kecewa dengan mamihnya sendir. Pantas saja Zifa kekeh akan mencari keadilan ternyata memang firasat seorang anak itu kuat sekali.


"Kamu tenang saja Fa, bagaimana pun aku akan tetap berdiri di pihak kamu." Kemal meletakan telapak tangannya di atas dadanya berjanji pada diri sendiri.


Kemal pun terus mencoba mencari informasi dari abangnya yang Kemal yakini tahu sedikit tentang rahasia-rahasia mamihnya yang sangat memungkinkan bahwa beliaulah orang yang melakukan kejahatan itu.


'Sepertinya kau harus bertanya pada Zifa di mana Zara dan aku akan membicarakan tentang ini semua, kita akan kembali seperti dulu Ifa. Mencari keadilan bersama sama. Kita akan kembali menjadi satu sama lain yang dulu selalu tertawa daan sedih bersama-sama,' batin Kemal hanya kenangan indah itu yang mampu membuat hati Kemal berbunga-bunga.


"Kenapa aku bisa tidak tahu kalau aku telah membuat Zara hamil?" lirih Abas di mana Kemal yang akan menelepon Zifa mengurungkan niatnya lagi.


"Loe pas hubungan di buang di luar atau dibiarkan di dalam?" tanya Kemal, abangnya itu aneh, bukanya kalau sudah pernah melakukan berhubungan suami istri sudah menjadi resikonya mereka bisa hamil.


"Di dalam lah," jawab Abas dengan santai.


"Kalau gitu udah jelas tuh cewek bisa hamil kan dia normal," balas Kemal dengan emosi gimana bisa dia bilang tidak tahu kalau Zara bisa hamil, seharusnya kalau dia sudah  pernah merasakan berhubungan badan dipersiapkan resikonya.


Abas pun termenung kembali memikirkan ucapan Kemal dan laki-laki itu kembali sangat penasaran dengan anak-anaknya.


Sementara Kemal melanjutkan niatnya untuk menelepon Zifa untuk memberikan informasi yang barusan ia dapat dari Abas.