Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Tuduhan yang Salah


"Aduh... Kenapa di pukul Mba?" tanya Ghava, tanganya mengusap-usap kepalnya yang  sakit karena pukulan dari Zifa, dan tas yang buat mukul sih kecil, tetapi rasanya terasa sakit juga.


"Itu Mas mau ngapain, cari kesempatan kan mau pegang-pegang, mau cium-cium," cicit Zifa tanganya masih dimode aman di silangkan di depan dadanya. Takut kalau Ghava macam-macam.


"Maksudnya apa sih? Aku mau pasangin seat belt ajah kok sampe di timpuk," balas Ghava dengan menunjuk sabuk pengaman yang tergantung di sebelah Zifa.


"Alesan! Kan bisa bilang ajah. Mba sabuk pengamanya di pasang atau bagaimana gitu biar aku pasang sendiri jangan cari kesempatan dalam kesempitan," desis Zifa, wanita itu tetap mengira bahwa Ghava memang ingin melecehkanya.


"Ya udah saya minta Mba Ifa... Monggo sabuk pengamanya di pasang sendiri, karena saya tidak akan memajukan kendaraan saya kalau sabuk pengaman belum di pasang." Ghava pun membiarkan Ifa memasang sendiri sabuk pengamanya.


Dengan susah payah Zifa mencoba memakai sabuk pengaman yang ternyata keras itu, "Gimana sih ini, masa Mobil bagus dan terlihat mahal sabuk pengaman rusak," batin Zifa tanganya masih mencoba menarik sabuk pengaaman  yang ada di samping dia.


"Ini gimana sih, kok sabuk pengamanya rusak, tidak bisa di pakei," ujar Zifa, kode meminta bantuan, tetapi gengsi. Tadi udah nimpuk masa minta bantuan. Apa kata dunia....


Ghava memalingkan pandanganya dan tersenyum mengejek pada Zifa yang masih berusaha memakai sabuk pengaman yang keras itu. "Jadi mau coba sendiri atau di bantu sama saya Mba?" tanya Ghava dengan nada bicara yang mengoda, karena Zifa sudah sok pintar itu.


"Ya udah di bantu, tapi jangan macam-macam." Zifa akhirnya nyerah dan membiarkan Ghava membantunya, dari pada lama urusanya, mau pulang naik ojek. Hujan sudah turun dengan derasnya dan mau tidak mau Zifa harus menumpang pada Ghava.


Zifa menahan nafas ketika Ghava membantu memasangkan sabuk pengaman pada dia. Matanya di pejamkan dan dadanya di tahan agar tidak bernafas untuk sekian detik selama Ghava berada di hadapanya. Wangi tubuh laki-laki yang kini ada di hadapan Zifa benar-benar menggeletitik hidung Zifa dan itu tandanya parfum yang di gunakan oleh laki-laki yang di sangka sopir taxi online bukan parfum sebarang parfume, pasti parfume mahal.


"Udah jangan ditahan nafasnya, nanti malah pingsan lagi karena tidak bernafas," ucap Ghava setelah berhasil memasangkan sabuk pengaman di kursi Zifa.


" Kok cepat, terus sabuknya enggak rusak?" tanya Zifa dengan heran kenapa tadi dia tarik enggak bisa keras seperti macet, dan sekarang giliran di pakeikan oleh Ghava sangat gampang dan cepat dan tidak berasa lagi kalau laki-laki itu memasangkanya. Padahal Zifa takut kalau dia akan mengenai tubuh bagian sensitifnya.


"Sabuknya tidak rusak, hanya Mba Ifa ajah yang belum tahu cara memasangnya, dan itu alasan saya tadi mau membantu Anda Nona Ifa, tetapi malah saya kena timpuk," sindir Ghava dengan menyalakan mobil mewahnya.


"Iya aku minta maaf, aku pikir Masnya mau macem-macem sama saya, jadi saya reflek. Lagian ngapain sih pake mobil yang ribet kaya gini, mau pakei seat belt saja sulit banget, lain kali belinya yang gampang-gampang saja Mas, kaya Xenia atau Sigra gitu di samping murah juga pakai sabuknya tidak ribet," oceh Zifa malah menasihati Ghava, karena salah beli kendaraan..


Di dalam mobil, mereka juga saling ngibrol ringan terutama berkenalan, di mana Zifa belum tahu nama Ghava, dan juga asal dia dari mana. Lalu alasnya kenapa bisa sampai di kota kombang ini.


"Nama saya Ghava, asal saya dari Jakarta, tujuan saya kesini mencari pacar. Apa Mba Ifa mau jadi pacar Mas Ghava?" Ghava memperkenalkan dirinya ala murid baru di sekolah, dan tentunya sedikit candaan agar suasana malam yang dingin tidak terlalu dingin.


"Nanti tunjukan jalanya yah Mba, mana jalanan berkabut jadi saya tidak tahu jalanan sini," desis Ghava yang merasa sangat terganggu dengan kabut dan air hujan yang turun dengan derasnya.


Zifa pun mengikuti apa kemauan Ghava fokus kejalanan dan menunjukan jalan yang akan di lalui oleh mereka, saking fokusnya Zifa dengan jalan sampai-sampai dia tidak fokus keponselnya yang sejak tadi Alwi dan Tasi sibuk melakukan pangilan pada Zifa yang malam sudah semakin larut dan juga hujan deras, tetapi Zifa tidak kunjung pulang.


Bahkan bahan kue yang tadi Zifa dan Tasi belanja sudah datang sedangkan Zifa malah entah di mana, dan belum pulang juga..


"Kamu gimana sih Tasi kenapa kamu bisa tidak tahu kalau Zifa belum naik kemotor, dan kamu tinggal begitu saja." Beni yang sedang merapikan bahan-bahan kue keatas rak ikut gemas dengan Tasi, teman kerjanya yang memang rada pelupa.


"Iya maaf aku pikir Teh Ifa sudah naik ke motor, karena saya mules jadi enggak liat-liat lagi sudah benar-benar naik atau belum. Terus ini gimana  dokter Alwi. Tasi takut kalau Teh Ifa kenapa-kenapa." Tasi wajahnya sudah semakin cemas, hujan semakin lebat, tetapi Zifa juga belum pulang, dan Beni tadi sebelum hujan benar-benar turun semakin deras sudah menyusul  ketempat di mana Zifa ketinggalan, tetapi kata orang-orang di sana Zifa sudah pulang naik mobil, Beni pun pulang lagi, dan mengira Zifa sudah pulang tapi ternyata di rumah Zifa juta tidak ada. Alias belum sampai.


Zara pun seperti halnya ketika hari pertama pemakaman ibunya, dia berdiri di balik jendela menatap lebatnya air hujan yang turun dari langit, serta gelapnya malam.


"Dokter Ifa Mana?" tanya Zara, di dalam batinya tentu dia cemas, di saat hujan seperti ini tetapi Zifa belum juga pulang.


"Zifa sebentar lagi pulang," jawab Alwi, perasaanya semakin cemas tapi dia juga bingung mau mencari Zifa kemana, sedangkan menurut Beni, Zifa sudah pulang.


Tasi dan Alwi masih terus mencoba menghubungi Zifa, dan berharap kalau Zifa akan mengangkatnya.


"Fa angkat telponya Fa, setidaknya kamu ngomong sama Zara biar dia tidak cemas, karena kamu belum pulang. Zara sangat cemas sama kamu," itu pesan yang Alwi kirim pada Zifa, entah sudah berapa banyak pesan yang telah dikirim oleh Alwi untuk Zifa tetapi masih belum di baca juga.