
Kemal yang tahu bahwa mobilnya di buntuti oleh orang yang kemungkinan besar adalah orang suruhan mamihnya, laki-laki itu berusaha memutar otaknya. Ghav, yah laki-laki itu menemukan ide setelah memutar otaknya, Ghava lagi-lagi sebagai dewa penolongnya. Tangan sebelah kirinya ia gunakan untuk mengambil ponsel dan tangan sebelah kanan dia gunakan untuk menyetir kemudinya Kemal sengaja berputar-putar tanpa arah untuk menjebak orang yang tengah mengikutinya.
"Apa lagi Mal?" tanya Ghava yang tengah sibuk dengan pekerjaanyan. Cukup terganggu memang memiliki adik yang sangat menyebalkan seperti Kemal.
"Gue butuh bantuan loe. Sekarang gue mau ke rumah Zifa untuk membawa Zifa dan Zara pergi, tetapi mobil gue di buntuti oleh orang-orang Mamih. Gue harus gimana?" tanya Kemal dia tetap berusaha fokus mengemudi dan mengalihkan kejaran orang-orang suruhan mamihnya.
Gahav tidak langsung menjawab, laki-laki yang beda tujuh tahun dari Kemal pun nampak memijit kepalanya dan mencoba mencari ide, agar Kemal bisa lolos dari kejaran orang-orang yang di duga suruhan mamihnya itu. "Gini ajah deh Mal, coba loe keapartemen gue dan bilang loe adik gue. Kan security isana juga sudah banyak mengenal loe, dan loe juga ada kartu tamu, loe ambil kunci mobil gue yang baru itu. Kayaknya Mamih juga belum tahu kalo gue beli mobil baru, dan loe bisa pake mobil itu buat mengelabuhi mereka. Lagian masuk ke apartemen kan tidak bisa sembarangan orang. Jadi mereka paling akan menunggu loe di depan pintu masuk apartemen," ucap Ghava mencoba mengeluarkan idenya, dan menurut dia, ini adalah ide yang paling keren. Karena Kemal bisa melanjutkan rencananya tanpa ada yang tahu.
Kemal pun nampak tersenyum dengan lebar. Memang Abangnya yang satu itu tidak pernah gagal untuk di mintai solusi dari setiap masalahnya. Kemal pun tanpa rasa bersalah dan tanpa memiliki sopan santun begitu sudah mendapatkan idenya yang menurutnya bagus dia langsung memutuskan sambungan teleponya.
Tutttt... Tuuuttt... Tuutt... pangilan terputus secara sepihak.
"Dasar adik tidak tahu di untung. Giliran ada masalah ajah datang baik-baik dan ketika masalah sudah selesai pergi tanpa pamit. Lama-lama punya adik udah kayak jalangkung," beo Ghava di depan layar pintarnya.
"Semoga saja semuanya sesuai rencana yah Mal," ujar Ghava, pikiranya pun menjadi tidak tenang takutnya Kemal bakal ketahuan, dan sejuh mana pun Zifa dan kakaknya bersembunyi dia akan tetap ketahuan oleh mamihnya sehingga bisa berbahaya. Terlebih dalam hitungan hari Kemal juga akan menyusul dirinya ke Belanda.
****
Kemal melajukan mobilnya putar arah, dan kini tujuanya adalah apartemen Abangnya, Ghava. Sebelumnya Kemal tentu sudah memberikan kabar pada Zifa bahwa ia akan datang terlambat. Karena ada urusan yang harus lebih dulu di selesaikan. Yah, Kemal harus lebih dulu mengurus para kecoa-kecoa yang menjijihkan itu.
Kemal kali ini memang harus lebih berhati-hati karena lawanya adalah mamihnya sendiri. Dia bingung kenapa mamihnya itu memiliki sifat ambisius sekali entah apa tujuanya melakukan ini semua. Kalo memang tujuanya adalah harta bukankan harta mereka sudah banyak, bahkan mungkin kalo dimakan tujuh turunan, harta itu tidak akan habis, tetapi kenapa mamihnya terus saja mencari gara-gara dengan rakyat yang kurang beruntung. Apakah mamihnya itu seperti memiliki kecanduan atau bahkan disifat bawqh sadarnya ia akan memiliki kepuasan ketika ambisianya tercapai. Meskipun mungkin ambisinya bukan selalu harta. Bisa dengan cara menindas rakyak kecil dan ketika hal itu terjadi maka hatinya akan senang. Dan sifat itu akan muncul lagi, begitu terus seolah mamihnya terkena pernyakit mental. Sebab dia sudah beberapa kali sebelum kejadian ini juga selalu mencari gara-gara dengan para pekerja di rumahnya. Dan hal itu bukan sekali dua kali.
Kemal yang memang dari dulu selalu tertarik dengan mendalami watak dan kebiasaan emosi dan juga mental dan perasaan seseorang. Menjadi semakin yakin bahwa nanti ketika dia di Belanda secara sembunyi-sembunyi akan terus belajar pesikolog. Meskipun tidak kuliah secara resmi. Karena Kemal tahu apabila mengambil kuliah dengan jurusan seperti yang dia mau dan mamihnya tahu maka masa depanya bisa saja seperti Abas, diatur seperti boneka oleh mamihnya.
Kemal kini sudah sampai di pintu penjaga apartemen Abangnya, dan memang apartemen mahal itu beda. Masuk saja harus benar-benar melakukan pemeriksaan dengan ketat, dan juga kartu pengunjung atau kartu ke pemilikian unit apartemen harus membawanya. Sebelum masuk kedalam setelah melewati pemeriksaan yang cukup ketat, Kemal pun memastikan bahwa tidak ada orang suruhan mamihnya yang bisa masuk ke dalam apartemen itu.
"Aman," batin Kemal setelah memastikan orang orang suruhan mamihnya tidak bisaa masuk ke apartemen mewah itu. "Ghava memang selalu bisa diandalkan," ucap Kemal dengan tersenyum bangga pada Abangnya itu.