
"Zara, Ifa apa kalin yakin mau pindah dari yayasan ini sekarang?" tanya Bunda Anna dengan wajah seriuz, tetapi masih di bungkus dengan wajah tenangnya.
"Iya Bun, abisan Kak Zara juga kayaknya sudah enggak sabar pengin buru-buru buka toko kue. Mungkin karena Kakak biasanya tidak pernah diam selalu aktif di dapur dan membuat pesanan sekalinya diam hanya mengurus dua babynya dia jadi tidak betah," jawab Zifa, dengan menatap Kakanya. Jadi selama Zara latihan membuat kue dengan orang yang sengaja Zifa bayar untuk melatih kakaknya, setelah hasilnya layak untuk di jual, dengan ide bersama, Zifa membuka oderan online sekitar lingkungan yayasan. Dengan niat yang baik, ternyata sambutanya luar biasa baik, kue buatan Zara setiap hari ada yang oder, baik kue tradisional maupun kue-kue modren, seperti brownis, bolu dan lain-lain juga Zara bisa kuasai.
Kemampuan Zara untuk mengolah makanan memang jangan diragukan lagi. Tangqn Zara bahkan sudah tahu takaran yang pas sehingga sepertinya wanita itu masak dengan takaran yang asal, tetapi rasanya selalu juara.
"Ya udah kalau kalian memang sudah siap untuk tinggal di ruko dan memulai usaha kalian. Bunda selalu berdoa untuk kalian, dan nanti apabila kerjaan Bunda sedang tidak banyak. Bunda akan berkunjung ke ruko kalian. Mungkin memang benar Zara bosen kalau hanya rebahan, kita juga tahukan, selama ini dia kan selalu sibuk dengan kerjaan di dapur, dan tiba-tiba tidak diperbolehkan mengerjakan apa-apa pasti dalam hatinya dia pengin protes," kekeh Bunda Anna melihat wajah Zara, dimana wanita itu paska lahiran tidak di bolehkan untuk mengerjakan apa-apa selain istirahat dan mengurus bayinya.
Bahkan untuk mengurus bayi yang kembar itu Zara tidak diizinkan sendiri. Hah, kok tidak diizinkan sendiri sedangkan Zara adalah ibunya si kembar kenapa tidak diizinkan mengurus si kembar?
Yah, berhubungan Zara yang memiliki keterlambatan dalam pola berfikirnya dan juga Zara ternyata seperti mengindap ke lupaan, gadis itu sering tiba-tiba lupa dengan apa yang di hadapanya, dari itu baik dokter Alwi maupun bunda Anna memutuskan untuk pengasuhan si kembar di bantu oleh pengasuh serta Zifa yang membantunya untuk pengasuhan ponakanya itu.
Setelah berpamitan dengan bunda Anna dan pengurus panti yang lain tentu tidak ketinggalan juga berpamitan dengan penghuni yang lain yang sedang menjalani terapi emosi dan lain sebagainya seperti Zara hampir satu tahun lalu. Kini Zara dan Zifa memutuskan untuk keluar dari yayasan, bukan karena Zara sudah sembuh total dan lain sebagainya tetapi memang Zara dan Zifa yang memiliki cita-cita ingin membuka toko kue, dan juga Zara juga masih menjalankan terapi dengan dokter Alwi.
Zara, Zifa, pengasuh serta yang sudah pasti selalu mengantar mereka kemanapun adalah dokter Alwi. Perjalanan ke toko tidak terlalu jauh, karena memang Zifa yang ingin apabila tempat usahanya tidak terlalu jauh dengan yayasan sehingga ia masih bisa bermain ke yayasan setiap saat, begitu mereka ingin mengunjungi teman teman dan para pengurus di panti itu.
Kini mobil yang di tumpangi Zara dan Zifa sudah sampai di depan toko kue mereka. Raja dan Ratu nama toko kue tersebut, dengan papan nama yang cukup besar tergantung tepat di hadapan toko kue itu.
"Kakak coba deh lihat, kakak suka tidak?" ucap Zifa sembari jari telunjuknya menunjuk ukiran nama Raja dan Ratu dengan hiasan kue-kue buatan kakaknya yang sengaja di poto dengan tatanan yang cantik.
Zifa dan yang lainya pun setelah puas dengan dekor depan yang sangat memuaskan kini mereka mengecek bagian dalam, dan tentu mereka di sambut dengan dua pekerjanya yang sengaja ditugaskan untuk mengatur semuanya, dan hasil kerja mereka sangat memuaskan.
"Selamat datang Neng Ratu dan Aa Raja, yeh di toko ini nanti pasti rame," pekik Beni yang sedang membuat dekor pernak pernik untuk melengkap ruangan agar semakin menari.
"Iya siap-siap saja nanti Mamang Beni sama Bibi Tasi untuk di repotkan dengan Raja dan Ratu," balas Alwi yang sangat persis seperti suami Zara yang kemana-mana selalu mengawal Zara dan dua anaknya.
Alwi memang tidak jadi menjadi suami pura-pura Zara, itu semua karena Zara yang ternyata menginyat sebagian kecil di memory otaknya bahwa Alwi bukan suaminya, jadi kalau di paksakan nanti pikiranya tidak akan berkembang dan mengingat suaminya lagi. Sehingga Alwi tidak menjadi suami pura-pura Zara, tetapi untuk Papah, Alwi tetap menjadi papah angkat untuk Raja dan Ratu.
Setelah puas melihat persiapan toko yang sudah semuanya siap kini Zifa dan yang lainya duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sedikit lelah dengan aktifitas hari ini.
"Ara, kamu sudah yakin kalau kamu akan mulai buka usaha ini. Nanti kamu cape loh bikin kue setiap hari, dan juga harus bikin kue dengan jumlah yang banyak dan lagi permintaan pelanggan yang biasanya permintaanya aneh-aneh nanti kamu malah cape dan sakit lagi." Alwi meminta agar Zara memikirkanya sekali lagi karena ini bukan soal kesukaan semata ada tanggung jawab yang besar ketika dia memutuskan untuk memulai usaha terutama soal makanan yang biasanya sangat sensitif, cacat sedikit pembeli bisa memberikan penilaian yang sangat buruk.
"Yakin Dok, Ara suka kalau buat kue, jadi Ara mau bikin kue," jawab Zara dengan semangat.
"Kalau memang sudah yakin, nanti Ara harus benar-benar kerjanya jangan setengah-setengah yah, harus semangat biar hasil yang mengikuti usaha kerja Kalian
"Kalian juga Beni dan Tasi kalian harus benar-benar saling bantu yah, saya sudah pernah menceritakan bagaimana kondisi Zara pada kalian jadi kalian, dan kalian saya harap harus mengerti Zara yah." Kali ini Ali yang memberika arahan pada Beni dan Tasi yang nanti di tugaskan untuk membantu Zara di dapur, dan untuk di depan menyambut tamu dan calon pembeli. untuk sementar diambil alih oleh Zifa, tetapi apabila semua sudah bisa di lepas Zifa akan memberikan wewenangnya pada teman penggantinya.