
Satu bulan kemudian, semuanya sudah kembali normal. Zifa sudah melaporkan kasus pembunuhan ibunya ke kepolisian dan tentu ada Lyra yang selalu mendampinginya. Omar juga sudah kembali bekerja dan akan pulang ke rumah sakit bergantian antara Abas dan juga Kemal.
Begitupun dengan Ghava dia pun sudah kembali disibukan dengan pekerjaanya yang semakin meroket, bakan bisnis di luar dan dalam negri makin banyak yang menggunakan jasa aplikasinya. Zifa sendiri toko roti Raja dan Ratu diambil alih oleh Beni, yah, Beni menjadi orang kepercayaan Zifa untuk mengelola toko kuenya dan tentu hari ke hari makin maju.
Dua kakak beradik Abas dan Kemal juga belum sadar meskipun dua kakak beradik yang tengah dirawat dengan rumah sakit yang berbeda mereka masih belum ada tanda-tanda kesembuhanya. Zifa Siti adalah orang yang bertanggung jawab menjaga Kemal dan mereka akan bergantian untuk pulang, Sementara Abas di jaga oleh dua asisten rumah tangga yang lain dan mereka akan bergantian juga.
Orlin sendiri sudah pulang dari tiga minggu yang lalu, kali ini ia sedang menunggu kelahiran buah cintanya dengan Abas. Orang tuanya dengan orang tua Abas, (Papihnya) sempat berunding, dan Omar memohon agar mereka tidak cerai kesalah pahaman biasa dan Omar berjanji akan menasihati Abas, dan Orlin pun memberikan kesempatan, sampai kapan? Entah lah, terlebih kondisi Abas seperti ini, dan mungkin saja Orlin akan menuntut cerai paska melahirkan.
Eira sendiri dia kali ini lebih banyak diam seperti menyesali perbuatanya terlebih tuntutan dari kasus pembunuhan Farida tidak main-main di atas lima belas tahun. Kalau saat ini usia Eira lima puluh tahun berati ada kemungkinan ia bebas enam puluh lima tahu.
Pada akhirnya Zifa bisa sedikit bernafas lega, si miskin, bisa menggulingkan si kaya. Meskipun drama yang harus dilewatinya sangat panjang dan berliku. Menguras air mata dan perasaan, bahkan Zifa beberapa kali dilanda kegamangan antara lanjut atau tidak mengingat yang harus dia lawan adalah orang berduit, dan bisa melakukan apa saja, dan juga minimnya bukti.
Namun, berkat kegigihanya bukti pun satu persatu datang menemuinya dan juga pintu terbuka hingga tahap ia bisa melihat Eira yang emosinya sangat menggebu terakhir bertemu Zifa, bisa diam tanpa memberikan perlawanan. Bahkan ditubuhnya banyak terdapat luka-luka, dan itu adalah kerjaan dirinya. Ia sangat senang melukai tubuhnya terutama mencubit dan mencakarnya, hingga tubuhnya banyak biru-biru dan luka gores, karena kukunya. Mungkin itu salah satu upayanya, agar yang melihatnya akan mengira kalau wanita itu telah dianiyaya, tetapi mungkin wanita itu lupa di dalam penjara sekali pun ada CCTV yang bisadi jadikan bukti kalau dirinyalah yang melakukan penyiksaan itu pada tubuhnya sendiri. Sehingga ia tidak bisa menuduh orang lain.
**********
Di tempat yang berbeda.
"Kenapa aku sudah dua bulan tidak datang bulan yah," lirih Wina yang merasakan tubuhnya akhir-akhir ini aneh, dan wanita itu baru sadar kalau dirinya sudah dua bulan paska tragedi bersama Kemal di Bandung, tidak ada haid. Wina yang sedang sibuk bekerja sebagai pemilik beberapa klinik kecantikan pun menghentikan kegiatanya.
Tangan lentiknya meraba perutnya yang masih rata, dadanya bergemuruh. "Gimana kalau aku hamil?" gumam Wina, pikiranya membayangkan dirinya hamil, tetapi sedetik kemudian pikirnya menepis semuanya.
Wina yang sangat penasaran dengan hasilnya, ia benar-benar hamil atau tidak pun, langsung memutuskan keluar untuk membeli alat test kehamilan.
"Aku harus pastikan kalau aku hamil atau tidaknya," lirih Wina sembari menyambar tas mahalnya. Bahkan harga tasnya setara dengan harga mobil. Namun, baru beberapa langkah wanita itu langsung menghentikan langkahnya.
"Bagaimana kalau ternyata aku hamil dan anak ini kan anak Kemal, lalu Kemal tidak tertolong atau justru laki-laki itu akan tetap dengan kondisinya yang koma apa aku harus membesarkan anak ini seorang diri?"
Wanita itu adalah dokter yang sangat tahu resiko menggugurkan bayinya, sehingga dalam pikiranya tidak terbesit sekali pun untuk melakukan ini semua. Wina membuang nafas kasar dan bangkit kembali. "Semuanya belum benar-benar terbukti kalau aku ada hamil jadi kenapa harus bingung. Kalau sudah tahu hasilnya baru aku akan pikirkan lagi." Dengan perasaan yang bercampur aduk akhirnya Wina meninggalkan ruanganya menuju apotek.
Beberapa alat tes kehamilan dengan nama terkenal ia beli untuk lebih memastikan kalau hasilnya akurat. Mobil yang ia tumpangi pun melaju ke kediamanya yang mewah. Wanita itu sudah tidak ada keinginan untuk bekerja. Dia sudah sangat penasaran dengan hasilnya. Tanpa menunggu lama begitu dia sampai di rumahnya, ia langsung memakai alat itu. Lima test peck dengan kualitas terbaik dan hasilnya diklain sembilan puluh sembilan persen akurat.
Wajah cantik dan glowing milik Wina pun memerah seketika terlebih ketika melihat hasil dari kelima alat tersebut. "Garis dua itu tandanya aku hamil?" Tanpa sadar dari sudut bola matanya menetes buturan bening. Bahkan saking ingin memastikan sekali lagi. Wina mengulang kegiatanya dengan banyak alat lagi.
Jeduerrrrr....Bak disambar petir disiang bolong hasilnya sama kelima tespek itu menunjukan ada garis dua di sana. Bahkan Wina berharap kalau ada satu alat yang bergaris satu, tetapi semuanya nihil. Semuanya garis dua yang itu tandanya di rahimnya sudah ada calon buah hatinya, dan yang membuat Wina hatinya bergemuruh dan tubuhnya lemah adalah anak ini adalah anak dari Kemal, laki-laki yang tidak sama sekali di sukainya bahkan dia sangat membencinya.
"Kalau begini tandanya aku harus meminta pertanggung jawaban atas apa yang dilakukan oleh Kemal?" Wina seolah bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah ia cukup lama berpikir mengenai nasib buah hatinya. "Tidak ada salahnya aku datang untuk menemuinya. Sekalian aku juga ingin tahu gimana kondisi Kemal."
Wina akhirnya memutuskan datang untuk menemui Kemal, yang kondisinya sangat kritis bahkan dokter mengatakan kalau kesembuhan Kemal hanya lima puluh persen. "Aku tidak tahu kedatangan aku nanti berpengaruh terhadap kesembuhan kamu atau tidak tetapi aku berharap kalau kamu akan sembuh. Dan kamu bisa menepati janji kamu untuk bertanggung jawab atas perbuatan kamu."