Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 123


Di satu sisi Lyra yang baru datang dengan pakaian yang anggun dan wajah yang semakin cantik menarik perhatian orang-orang yang sudah dari tadi menunggunya, terutama kedua orang tua Orlin dan Abas yang mungkin mereka sudah tidak sabar untuk membuatnya malu.


Eira yang sudah tidak sabar pun langsung menghampiri Lyra yang datang dengan seorang diri. "Lyra, Mamih pikir kamu tidak akan datang," ucap Eira dengan ramah, dan di balas oleh Lyra dengan senyum ramah, cipika dan cipiki mengawali pertemuan mereka.


"Mana mungkin Lyra tidak datang, ini adalah acara yang sudah Lyra tunggu-tunggu Mamih," balas Lyra dengan senyum yang terlihat tulus tanpa ada paksaan sedikitpun.


Setelah berbasa basi dengan mantan mertuanya, tentu Lyra menghampiri yang punya acara. "Orlin, selamat yah, semoga semuanya lancar," ucap Lyra dengan ramah dan mengulurkan tangannya. Orlin yang sebenarnya sedikit iri dengan Lyra pun tetap bersikap ramah dan menjabat tangan Lyra dan mereka tampak akur.


"Oh iya Lyra apa kamu tidak ingin hamil seperti Orlin dengan suami kamu nanti?" tanya Maria, orang tua Orlin.


'Hemz... permainan dimulai," batin Lyra tetap dengan senyum yang masih terkembang sempurna, dan wajah yang terlihat tenang.


"Tentu pengin Tante, tetapi Lyra juga tidak mau menikah dengan laki-laki yang sembarangan apalagi tukang selingkuh." Suara Lyra senang aja dibikin dengan suara yang sangat kencang, ingin tahu bagaimana reaksi mereka, daan tentunya reaksi mantan suaminya yang saat ini berdiri di hadapannya.


Bahkan orang-orang sudah mulai mengalihkan pandangan mereka pada panggung acara yang mana di sana sebentar lagi akan ada keributan.


"Kamu itu ngomong apa Lyra, kalau memang tidak bisa punya anak ya udah akui dan terima jangan malah terkesan menyudutkan anak Mamih," balas Eira dengan nada yang semakin sinis.


"Saya bukan tidak punya anak selama ini, tetapi memang aku terkena karma oleh anak Tante." Lyra berbicara semakin tinggi nada bicaranya, tidak perduli orang-orang semakin penasaran dan semakin berkerumun.


Malu? Tidak karena ini semua bukan kemauan Lyra, ini semua kemauan mereka yang cari gara-gara.


"Karma? Kalau Abas ada Karma terus kenapa Orlin bisa hamil. Bilang ajah kamu yang mandul," balad Maria. Tidak terima juga kalau menantu kesayangan dihina oleh Lyra mantan istrinya.


"Justru aku bersyukur tidak punya anak dari laki-laki ber-engsek ini. Coba Tante tanya apa anak yang dikandung Orlin adalah anak satu-satunya dari laki-laki ini?" tanya Lyra pandangan matanya tertuju pada Abas yang sudah semakin menunduk. "Aku kasih tahu yah Tante, agar semuanya terbongkar. anak yang di kandung Orlin bukan anak satu-satunya dari Abas. laki-laki ini memiliki anak di luar nikah, dan orang tuanya maupun Abas tidak terima dan tidak mau mengakui anak itu,  dan saat ini anak itu sudah tumbuh menjadi anak yang besar pintar dan baik. Tapi apa Abas dan orang tuanya datang mengakuinya? Tidak mereka menelantarkannya anak itu sehingga saat ini..."


"Cukup Lyra," bentak Eira dan tangannya akan menampar pipi mantan menantunya yang lancang bibirnya.


'Namun buru-buru tangan wanita paruh baya itu di tepis oleh Lyra yang seolah sudah hafal, akan ada adegan apa saja di dalam acara ini.


Kemal dan Wina yang sedang duduk di pojokan ketika melihat adanya keributan pun langsung menyambanginya. Melihat ada apa gerangan. Malah sudah banyak ponsel yang merekam itu. Yah, ini adalah hal yang sangat Lyra tunggu-tunggu di mana ia akan bebas berbicara disaksikan orang-orang dan keluarga ini tidak bisa membalas di samping yang di bicarakan Lyra adalah sebuah kebenaran mereka juga pasti akan memikirkan apa yang akan orang lain katakan apabila bersikap kasar.


"Lyra setop!!! Kemal datang dengan gaya yang seperti pahlawan.


Lyra saat itu juga menghadap pada Kemal dan terkekeh samar. "Bala bantuan datang lagi. Satu banding sekian," desis Lyra, tetapi masih bisa di dengar orang-orang sekitar.  Yah Lyra ditempat itu hanya sendirian tanpa bantuan dari siapa pun tetapi berhasil membungkam mulut-mulut jahanam mereka.


"Kamu jangan asala bicara tanpa bukti," bentak Kemal tepat di depan wajah Lyra, sementara Abas seperti orang kebingungan tidak bisa berkata apa-apa jangankan membela dirinya sendiri untuk berbicara saja tubuhnya terasa kaku.


"Aku yang asal bicara apa kamu yang pura-pura buta. Kamu tahu semuanya Kemal, kamu adalah kunci dari semua ini, tetapi kamu pura-pura bodoh dan buta, hanya demi menutupi ais ibu dan abangmu. Munafik," serang Lyra tidak ingin memberikan kesempatan untuk keluarga Abas, memutar balikan fakta.


Kemal yang terpancing akan melayangkan tamparan, tetapi dengan sangat sigap Lyra menahannya, dan tanpa ada yang menduga Abas pun ikut menahan tangan Kemal. Seolah laki-laki itu tidak terima apabila mantan istrinya disakiti oleh orang lain.


Suasana pun semakin menegang, dan Lyra tersenyum bangga, sudah bisa membuat acara yang super meriah jadi gagal dan bisa saja naik ke publik, mengingat Orlin adalah mantan istri aktor ternama.


"Apa yang kamu tahu Lyra katakan, aku akan mendengarnya," lirih Abas, semakin membuat Lyra besar kepala.


"Kamu bisa tanya pada Mamih tercinta kamu, dibuang kemana wanita yang hamil anak kamu? Atau adik kamu Kemal dia tahu persis dengan anak dan ibunya yang telah kalian singkirkan. Atau Ghava, dia adalah orang terakhir yang tahu tentang anak kamu. Tapi pesanku urus dulu anak-anak kamu yang sudah kamu telantarkan, dan setelah itu mem bikin acara sebesar ini, agar tidak jadi keirian diantara mereka, kasihan meraka hidup susah  untuk bertahan hidup sudah sulit. Belum serangan dari keluarga kamu yang membuat mental mereka tidak baik-baik saja." Lyra benar-benar memanfaatkan momen ini untuk membabat habis keluarga mantan suaminya sampai untuk melakukan pembelaan pun tidak sedikitpun Lyra berikan kesempatannya.


"Oh iya pesan untuk Orlin, kamu jangan bangga bisa hamil anak Abas, karena laki-laki itu diluar sana sudah memiliki anak-anak yang lucu ganteng dan cantik tapi dia telantarkan, demi sebuah sandiwara ini. Kalau aku mau. Aku bisa memberikan anak untuk dia berapapun dia mau, tetapi aku tidak mau  mengandung dan melahirkan demi sebuah drama, dan menutupi anak-anak yang seharusnya mendapatkan nafkah yang penuh." Lyra menatap tajam Orlin yang pandanganya kosong.


Tidak ada satu perlawanan pun yang mereka gunakan untuk menyerang Lyra, padahal Lyra ingin mendengar dan membongkar kasus yang lain, tetapi entah mereka memang sadar kesalahannya, atau ini adalah cara mereka agar Lyra tidak lagi membuka aib-aib yang lain. Lyra tersenyum penuh kemenangan.


"Sedikit dendam kalian sudah aku balaskan Zifa, Zara. Setelah ini aku yakin kalian akan benar-benar memasuki peperangan."


...****************...