Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Wajah Bahagia Zara


Wajah Zara nampak kaget sekali, ketika kardus yang di buka berisi cake ulang tahun yang sepertinya sangat lezat, sehingga wanita yang tengah berbadan dua itu terkejut, dan juga menangis haru dan mungkin ini lah yang Zara rasakan kebahagiaan yang selama ini tidak pernah ia rasakan semenjak di tinggal meninggal oleh ibunya.


Zifa yang melihat kebahagiaan itu ikut merasakan bagaimana yang saat ini hati kakaknya rasakan. Seolah rasa sesak di dadanya juga hilang menguai, setelah melihat wajah bahagia kakaknya itu.


"Ifa, apa ini buat kaka?" tanya Zara masih ragu, padahal dari bibirnya sudah ketahuan bahwa Zara sudah sangat ingin menikmati kue tersebut. Namun calon ibu itu masih takut jikalau adiknya marah, dan sedih.


"Kakak mau?" tanya Zifa justru mengetes Zara. Atuh jangan ditanya lagi Zifa, pasti mau.


Zara menganggukan kepalanya dengan kuat sebagai tanda bahwa ia sudah sangat menginginkan kue itu.


"Kalau memang kakak mau, ayo makanlah. Kakak makan kue itu biar anak kaka tidak mengiler. Maafkan Zifa yah, tadi sempat kesal ketika kakak meminta kue ini," ucap Zifa sembari mengelus rambut kakaknya yang panjang dan bagus.


"Ifa, mau?" tanya Zara ketika ia akan memakan kue yang identik dengan rasa coklat yang lezat, dari tampilanya saja sangat menggiurkan lidah, tetapi Zifa masih tidak ingin memakan kue ulang tahun itu, biarpun itu bukan kue yang diperuntukan untuk acara ulang tahun, tetapi rasa kesalnya pada kue yang berbentuk cantik itu masih ia rasakan.


Zifa menggelengkan kepalanya, "Tidak Ifa tidak mau, buat kakak saja," ucap Zifa dia lebih suka makan dengan menu ketoprak dari pada makan kudapan manis itu.


Zara dengan wajah yang berbinar bahagia pun menikmati makanan itu dengan lahap. Zifa dan Kemal pun yang melihatnya sangat senang terlebih ketiak melihat wajah bahagia Zara.


"Oh iya Fa, tadi hasil pemeriksaanya gimana? Semuanya hasilnya bagus kan?" tanya Kemal bagaimanpun kalau dugaanya benar bahwa Abaslah yang telah menghamili Zara berati anak yang tengah dikandung Zara juga keponakanya juga.


Zifa yang tadinya tengah mematung memperhatikan Zara yang sangat antusias menikmati cake ulang tahun pun langsung menoleh kearah Kemal ketika Kemal menanyakan hasil pemeriksaan Zara. "Oh... hasil dari pemeriksaan kakak Zara bagus semuanya, bahkan baik anak-anaknya maupun ibunya." Zara mengambil buku kontrol Zara yang berwarna biru tua dan juga hasil print USG 3 dimensi untuk di berikan pada Kemal. Mungkin Kemal ingin mrngetahui lebih lanjut dengan hasil pemeriksaan Zara.


Kemal pun mengambilnya dan mencoba membaca apa yang ada di dalam buku itu dan hasil USG, meskipun Kemal tidak tahu betul cara membaca semua itu, tetapi mata Kemal langsung membesar ketika melihat hasil USG yang ada di tanganya.


"Fa, ini besar calon anak Kak Zara kembar?" tanya Kemal masih tidak menyangka, bagai mana lucunya nanti anak kakaknya itu apabila benar-benar kembar, tetapi sedetik kemudian wajahnya murung ketika harus mengetahui bahwa sekalipun Abas adalah ayah dari bayi itu, akan tetap saja sulit untuk mengakuinya. Sulit untuk anak-anak itu diakui oleh keluarganya. Itu semua karena kuasa orang tuanya yang tidak pernah mau memiliki keturunan atau menantu dari kalangan bawah.


"Semoga, dengan kehadiran kalian, dan apabila kalian adalah anak dari Abang aku, Abas. Semoga kalian lah penolong keluarga kami yang tidak pernah bahagia. Semoga kalian bisa meluluhkan sifat mamih, dan papih," batin Kemal sembari menatap pada kertas selembar yang menggambarkan anak-anak Zara sangat sehat.


"Kalau usia kandungan kaka kamu berapa?" tanya Kemal, penasaran juga.


Zifa merasa betah tinggal di kota Bandung di mana di merasakan bahwa orang-orang di sini itu peduli dengan Zifa dan tidak hanya itu mereka juga tidak pernah merendahkan Zara maupun Zifa. Meskipun mereka tahu bahwa Zara adalah wanita yang hamil di luar nikah.


"Ngomong-ngoming mau ke yayasanya kapan Mal?" tanya Zifa yang ingin tahu tempatnya dan juga Zifa nantinya akan sering-sering Zifa mampir ke sana, guna melakukan terapi mental juga. Yah, Zifa juga merasakan bahwa mentalnya juga terganggu, sehingga ia merasakan perlu untuk konsultasi.


"Nanti ajah Fa, setelah Ashar kayaknya. Rasanya cape banget kalo berangkat sekarang. Sekarang kalian bisa gunakan waktu untuk istirahat dulu, baru nanti sekitar jam empat kita ke sana." Kemal masih terfokus dengan Zara yang sepertinya sangat menginginkan kue itu, di mana kue dengan diameter delapan belas senti hampir habis di makan oleh Zara. "Fa, nanti kakak kamu jangan lupa sikat gigi yah, takutnya sakit gigi lagi. Lihat deh dia makan sangat lahap," ucap Kemal sembari kenunjuk Zara yang makan dengan belepotan coklat pinggir bibirnya.


Zifa terkekeh melihat kakaknya yang sangat lucu itu."Iya Mal."


*****


Di rumah yang mewah, bahkan penjagaanya super ketat seolah rumah itu adalah rumah pejabat penting.


"Kerja kalian itu apa sebenarnya? Kenapa kalian bisa kehilangan jejak oleh anak ingusan itu? Bagaimana caranya kalian kerja mengawasi di sana, tetapi tidak tahu semalaman menunggu di depan apartemen itu, tapi anak aku sudah pergi," ucap Eira dengan berkacak pinggang dan kedua mata yang hampir loncat.


"Maaf nyonyah, anak Anda terlalu pandai sehingga kami terkecoh," bela orang suruhan Eira yang berjenggol tebal dan berbadan gempal.


"Itu hanya alasan kalian saja. Kalian pasti tertidur malam tadi sehingga anak aku pergi kalian tidak melihatnya," tuduh Eira lagi, padahal tanpa Eira ketahui dua orang suruhanya telah berusaha dengan sekuat tenaga, untuk tidak tertidur semua, mereka bergantian tidur, hal itu agar tidak kecolongan ketika mobil Kemal keluar mereka tetap bisa memantaunya. Namun malah sang nyonyah menuduhnya yang tidak-tidak.


"Mana berani nyonyah kami membohongi Anda, di mana Anda sendiri memiliki segalanya untuk menghancurkan kami," bela orang suruhan Eira, kali ini yang berbadan kekar dan berwajah garang.


"Sudah sana kalian pergi saja dari sini. Kedatangan kalian hanya menambah beban fikiran aku saja. Ingat sisa bayaran kalian tidak jadi aku transfer karena kerja kalian yang enggak becus," bentak Eira, tanpa tahu kedua suruhanya itu kecewa dengan Eira karena tidak mau membayar sisa pembayaran mereka. Namun mereka pun akhirnya meninggalkan ruangan itu dari pada berurusan dengan Eira.


Sementara Eira semakin yakin bahwa uang satu miliar yang ia berikan kepada putra bungsunya, kemal. Bukan untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya yang telah menabrak anak hingga meninggal.


"Kemal, kamu sudah bikin mamih kecewa," geram Eira sembari mengeratkan kepalan tanganya.