Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 120


Sembari menunggu pemeriksaan dokter sebelum Ghava benar-benar diizinkan untuk pulang. Tangan Zifa dari tadi sibuk dengan benda pintarnya. Wanita itu bukan sedang berkomunikasi dengan Kemal ataupun dengan orang toko, tetapi wanita itu sejak tadi sedang berkomunikasi dengan Lyra.


Bukan hanya Lyra tetapi dengan Alwi juga untuk mengambil langkah menyembunyikan Zara dan dua buah hatinya, yang mana Zifa semakin merasa keberadaan mereka akan tercium dan bisa saja ada yang tengah mengincar mereka setelah Kemal membongkar semuanya.


[Kamu yakin Fa, kalau Raja dan Ratu serta Zara akan ikut aku, kalau aku sih sangat senang banget tapi apa mereka akan mau ikut dengan aku yang notabenya orang baru.]


[Kayaknya kalau bersama Mba Lyra, merek untuk sementara aman. Aku sudah mencium gelagat Kemal yang mencurigakan Mba. Kemal buka lagi laki-laki yang aman buat kami. Justru Kemal yang sekarang seperti akan mempersulit aku dan semua keluargaku. Mungkin dia merasa kalau aku telah mengkhianatinya,] balas Zifa, wanita itu sangat yakin kalau Lyra tidak akan tega menyakiti kakaknya mengingat dia juga butuh kesaksian Zara untuk menjebloskan Abas dan mamihnya ke kantor polisi.


[Baiklah, Raja, Ratu dan Zara ikut aku dan mereka akan aman bersama aku, lalu kamu gimana? Apa kamu akan aman saja di sini?] tanya Lyra. [Apa aku harus sewa pengaman untuk mengawasi kamu Zifa?] tanya Lyra lagi yang juga mencemaskan kondisi Zifa di kota ini sendirian.


Lyra juga takut kalau-kalau Ghava tidak bisa diandalkan untuk melindungi Zifa dan justru membiarkan Zifa dalam kondisi bahaya.


[Aku di sini aman Mba, Ghava sudah bisa aku andalkan. Aku bisa gunakan kepercayaan Ghava, dan juga dokter Alwi akan terus mengawasi aku, jadi Mba Lyra tidak usah khawatir,] Setelah pesan terakhir terkirim Zifa pun langsung kembali menghampiri Ghava di mana wanita itu sudah mendengar kalau sudah ada dokter yang akan memeriksa calon suaminya.


"Gimana Dok, apa sore ini Mas Ghava sudah boleh pulang. Saya lihat beliau sudah sehat dan juga sudah ingin pulang," jelas Zifa mewakilkan Ghava yang sudah mengeluh terus ingin pulang.


"Sudah Bu, pasien sudah sehat dan beliau sudah boleh pulang kok," balas sang dokter, dan Zifa pun setelah dokter keluar di minta untuk mengurus perizinan pulang.


"Mas aku urus semua keperluan pulang Mas dulu yah," izin Zifa pada Ghava. Laki-laki yaang sedang duduk di samping ranjang pun hanya mengangguk.


"Kamu hati-hati yah."


Zifa yang sudah akan meninggalkan ruangan itu pun kembali menghadap pada calon suaminya. Langkah kakinya berbalik arah untuk menghampiri Ghava yang seperti seorang yang bingung. Ini adalah kesempatan Zifa untuk mengambil hati Ghava sebanyak-banyaknya kalau perlu gunakan kelemahan Ghava untuk tempat berlindungnya. Terdengar terlalu egois memang, tetapi salah mereka juga kenapa mereka juga tidak mempunya hati untuk melakukan semuanya pada Zifa.


Jadi kalau Zifa berubah menjadi orang yang beringas dan jahat bukan murni karena zifat Zifa itu semua adalah buah yang mereka tanam.


Tangan Zifa terulur menjelajahi pipi Ghava dan laki-laki itu hanya membalasnya dengan senyuman. "Sayang apa kamu cemas dengan aku?" tanya Zifa sebelum meninggalkan ruangan itu.


"Tentu bahkan aku sampai bermimpi kalau kamu akan terjadi apa-apa dengan kamu," balas Ghava dengan tatapan yang dalam.


"Andai orang membutuhkan nyawaku untuk melindungi kamu. Akan aku lakukan Ifa, aku serius cinta dan sayang sama kamu." Ghava  memberikan ciuman yang hangat di pipi Zifa, dan Zifa hanya membalasnya dengan seulas senyum tipisnya. Lalu wanita itu meninggalkan ruangan Ghava untuk melanjutkan perizinan pulang untuk Ghava.


'Baiklah, Ghava sudah siap berkorban untuk aku, jadi saat ini tinggal menunggu hari itu akan datang, dan dua ponakan serta kakak Zara sudah aman. Aku tinggal menunggu bom waktu itu akan meledak,' batin Zifa dengan sangat serius. Langkah kakinya terus meninggalkan ruangan Ghava.


Sementara Ghava sendiri di dalam ruanganya masih mematung, tidak menyangka kalau Kemal adalah teman baik Zifa. Pikirannya terbang ke masa tiga tahun silam.


'Apa Zifa adalah cewek yang waktu itu di bantu Kemal untuk kabur dari Mamih,' Setelah otaknya di paksa bekerja sejak tadi Ghava pun sedikit mengingat wanita yang sering di sebut oleh Kemal.


'Sepertinya aku sudah mengenal siapa Zifa, yah dia adalah wanita yang pernah aku beri uang senilai dua miliar untuk membantu kehidupannya paska ditinggal meninggal oleh ibunya.' Ghava, laki-laki itu terus memutar otaknya untuk mengingat apa saja yang pernah Kemal ceritakan untuk Zifa itu. 'Yah, aku kenal dia adalah anak asisten rumah tangga yang pernah meninggal di rumah kami. Tapi kenapa seolah Tuan mempertemukan kami terus,' batin Ghava semakin simpati dengan Zifa.


'Percayalah Zifa, dan Ara aku akan selalu melindungi kamu,' batin Ghava. Berjanji untuk dirinya sendiri, dan laki-laki itu pun dengan yakin tidak akan datang ke acara abangnya. Ia akan tetap memilih tinggal di sini. Soal masalah yang pasti akan datang setelah keputusan yang sudah ia ambil dengan matang Ghava sudah siap dan sudah mempersiapkannya.


Laki-laki itu sudah sangat yakin kalau dia akan memperjuangkan cintanya pada Zifa, tidak perduli Zifa itu siapa. Tidak perduli Zifa ada masa lalu dengan keluarganya.


Di tempat lain setelah Lyra mendapatkan pesan dari Zifa, Alwi langsung mendatangi Lyra untuk membantu mempersiapkan semua kebutuhan Zara dan dua anak angkatnya.


"Ara tidak mau pergi dengan Lyra, Ara tidak mau," Zara langsung berontak ketika Alwi bercerita kalau dia harus pergi dari tempat ini. Lyra dan Alwi pun saling melepaskan pandangan bingung harus gimana lagi untuk mengatakan pada Zara kalau tempat ini sudah tidak aman untuk mereka.


Bahkan  dokter Alwi sudah memberikan pengertian pada Zara hampir satu jam lamanya, tetapi Zara tetap tidak mau bahkan ia histeris dan menangis sembari memeluk buah hatinya dan Raja dan Ratu yang ketakutan melihat bundanya menangis pun jadi ikut-ikutan menangis sedih.


"Lyra sepertinya kita harus kembali membicarakan soal ini pada Zifa. Kamu pulanglah dulu biar Zara dan dua anaknya aku yang jaga. Mereka aman bersama aku," ucap Alwi.


Lyra pun cukup lama diam. "Baik lah kalau Zara memang tidak mau, apalagi memang kita belum kenal betul. Tapi nanti kalau memang Zara mau dokter Alwi bisa hubungi saya, dengan senang hati saya akan menyediakan tempat yang aman dan nyaman untuk mereka." Lyra pun bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta. Ia tentu tidak ingin melewatkan drama yang akan mantan mertua dan antek-anteknya persembahkan.


Lyra juga sudah tidak sabar gimana reaksi orang-orang kalau ternyata tahu bagaimana kelakuan keluarga pembunuh itu.


...****************...