
Zifa berjalan tergesa-gesa seolah ia benar-benar marah dengan Kemal padahal wanita itu sedang tersenyum puas di wajahnya. 'Sebentar lagi Zifa, sebentar lagi semuanya akan terbuka," batin Zifa, hatinya berbunga-bunga karena rencananya sedikit lagi akan tercapai. Eh, bukan murni rencananya melainkan itu adalah rencana Lyra.
Langkah kaki Zifa dengan tegas melewati lorong rumah sakit yang sedikit sepi. Parkiran adalah tujuannya.
Bruggg.... Beni cukup terkejut ketika Zifa menutup pintu dengan kencang.
"Ada apa Teh?" tanya Beni sembari memegangi dadanya yang sudah hampir loncat. Karena bosnya menutup pintu mobil seolah sedang dikejar oleh seekor an-jing.
"Tidak ada Ben, tadi di belakang ada buaya," kekeh Zifa, dan Beni pun tahu arti dari ucapan Zifa.
"Aih... ari Teteh mah, kalau buayanya ganteng dan tajir mah sikat ajah Teh," usul Beni dan hal itu jadi kembali membuat Zifa ingin memacari keduanya.
"Kayaknya itu ide yang bagus Ben," jawab Zifa, apalagi memang dua cowok yang mendekati dirinya cakep dan tentu tajir. Mungkin kalau memang Kemal terus mendekatinya dan juga membuat Zifa dalam posisi aman, ia akan mempertimbangkan semua tawaran Kemal barusan.
"Aku memang sepertinya harus memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat hubungan kami semakin baik," batin Zifa dan ia lagi-lagi yakin tidak mungkin Tuhan memberikan kesempatan ini tanpa tujuan yang berarti. Zifa akui Ghava memang baik, tetapi kembali lagi hati Zifa tetap memilih Kemal sebagai kekasihnya, mungkin karena Kemal lebih dulu hadir di dalam kehidupannya sehingga Zifa lebih nyaman berdekatan dengan Kemal, dan lebih nyambung.
Apalagi Kemal itu sepertinya jauh lebih tegas dari pada Ghava yang jauh lebih kalen, dan Zifa kurang menyukai tipe laki-laki yang seperti itu. Zifa menginginkan Kemal yang menjadi kekasih sesungguhanya, tetapi juga tidak tega kalau harus melepaskan Ghava, di mana Ghava sudah menomor satukan Zifa dari pada calon tunangannya, Wina.
Setelah melewati beberapa menit perjalanan kini Zifa sudah sampai di rumah mereka di mana Raja dan Ratu masih belum tertidur dan dua anak kembar itu sedang seru bermain dengan Lyra, sedangkan Zara menonton mereka kegiatan mereka.
Zifa juga sebelumnya sempat mampir ke toko sebentar untuk mengecek semuanya, dan selama di tinggal ke rumah sakit tidak ada yang perlu di khawatirkan, itu tandanya meskipun Zifa tidak datang dan tidak ikut melayani, toko tetap berjalan dengan baik, dan hal itu ternyata Zara yang mengambil alih tugas-tugas Zara. Dia memang terlihat seperti orang bingung apabila ada yang mengerjakan apa-apa, tetapi Zara adalah wanita dengan otak yang cerdas, bahkan dugaan dokter Alwi kalau kecerdasan Zara di atas rata-rata.
Buktinya hari ini, Zara sebelumnya tidak sedikit pun pernah belajar untuk peking dan macam sebagainya, tetapi Zara mampu mengerjakan pesanan dengan baik dan sempurna.
'Kakak emang wanita hebat,' batin Zifa ketika melihat kakaknya diam memperhatikan Raja dan Ratu. Wanita itu memang banyak diam seolah tidak mengerti dengan apa yang orang obrolkan, tetapi daya pikirnya jauh dari perkiraan orang-orang.
'Ifa yakin siapa pun yang pernah merendahkan Kakak pasti akan menyesal.'
"Hai... ponakan Tante. Kok kalian belum bobo?" tanya Zifa dengan tangan direntangkan siap menerima Raja dan Ratu yang sedang berlomba lari untuk segera sampai ke Zifa dan tentunya bukan sekedar pelukan yang si kembar kejar. tetapi ada bingkisan di tangan Zifa yang menggoda hidup penciuman mereka.
"Tante... Tante itu apa?" tanya Raja, sembari tanganya menunjuk bingkisan yang masih Zifa pegang.
"Oh ini makanan untuk Tante Lyra dan Bunda serta Tante Ifa," jawab Zifa sengaja meledek anak kecil itu.
"Sama Latu dikasih yah Tante.' Kini gantian Ratu yang berusaha membujuk tantenya. Terlebih harum makanan sudah semakin menggoda hidung penciuman dua anak kembar itu.
"Ratu juga nggak di kasih, ini pedas," jawab Zifa semakin membuat anak kecil yang ada di hadapanya murung, sedangkan Lyra dan Zara sudah tertawa dengan renyah tidak tega melihat wajah sedih mereka.
"Laja dan Latu doyan pedas kok Tante." Semakin di larang maka mereka semakin penasaran.
Dua anak kembar itu pun nampak berpikir sembari menajamkan penciumanya.
"Baso..." tebak Raja dengan antusias. Zifa membalas dengan gelengan kepala. Kembali anak-anak itu mencoba menajamkan hidungnya kembali.
Sedangkan Beni mulai menyiapkan nasi untuk makan bersama (Ngariung) dengan daun pisang yang sengaja diambil dari toko, sekalian tandi Zifa juga memberikan makanan yang tadi di belinya untuk karyawan yang bermalam di toko. Memang karyawan sebagian tidur di toko, dan sebagian lagi tidur di rumah yang Lyra beli khusus untuk istirahat Raja dan Ratu.
Zifa yang kasihan dengan dua ponakanya pun membuka makanan yang di belinya dan malam ini mereka akan makan bersama-sama.
"Horehhh... makan kepiting," ucap Raja dan Ratu yang anak itu sangat suka dengan olahan laut itu.
"Raja dan Ratu suka?" tanya Zifa yang melihat ponakanya itu sangat antusias untuk meraih makananya.
"Suka Tante." Ratu yang mewakilkan sedangkan Raja sudah mulai makan dengan Zara yang menyuapinya.
"Kalau gitu makan yang banyak yah, biar orang yang tidak menginginkan kalian ada di dunia ini menyesal dan menangis telah menyakiti kamu dan ibumu," ucap Zifa dengan penuh emosi, dan Lyra yang ada disamping Zifa hanya bisa mengelus punggung Zifa.
"Sabar selangkah lagi, semuanya akan terbongkar," bisik Lyra, dan Zifa membalasnya dengan senyuman masam.
Setelah makan malam dan yang lain sudah pergi ke kamar untuk beristirahat, termasuk dua bo-cil, di mana setelah makan tidak lama langsung mengantuk, dan mengajak Bundanya untuk pergi ke kamar.
Kini giliran Zifa dan Lyra yang akan melakukan sedikit curhatan, sembari menunggu nasi yang di proses oleh usus.
"Bagaimana pertemuan kamu dan Kemal serta Ghava?" tanya Lyra, tentu wanita itu tahu, sebab dari tadi ia di rumah sakin sudah bertukar informasi terus dengan Lyra, dan tentunya bertanya langkah-langkah selanjutnya. Zifa tidak berpengalaman selingkuh, atau melakukan penghianatan, sehingga butuh bimbingan dari Lyra.
Meskipun wanita itu pada saat menikah adalah wanita yang setia tetapi saat sebelum berkenalan dengan Abas dan di putuskan menikah dengan perjodohan. Lyra adalah wanita yang memiliki banyak kekasih.
"Seperti yang akau bilang Mbak, Kemal justru meminta aku jadi kekasihnya, dan tetap berpura-pura biasa saja di hadapan abangnya sendiri. Dengan kata lain laki-laki itu ingin aku selingkuh dari Ghava dengan dirinya, yang notabenya dia adalah adiknya sendiri. Sedikit gila kan?" tanya Zifa menyunggingkan senyum sebelahnya.
"Tapi bukanya ini bagus yah Fa, setidaknya kamu bisa memanfaatkan Kemal. tujuanmu kan membuat dua kakak beradik ini saling bertengkar, dan apabila mereka saling bertengkar, kamu tetap terlihat polos gunakan kepolosan kamu untuk membuat mereka bertengkar, adu domba. Aku yakin kalau dua sodara ini bertengkar pasti sampai rumah utama juga akan kena imbasnya, dan tentu tunangan Ghava akan tahu dan mencium perselingkuhan Ghava, dari situ kamu kalau perlu buat Ghava tetap memilih kamu dan menikahi kamu, agar kamu bisa semakin di perjuangkan oleh Ghava. Setelah itu kamu bisa masuk untuk membuat kekacauan lainya hingga kamu berhasil menikah mereka dengan bukti-bukti yang kamu sudah kumpulkan." Lyra semakin bersemangat untuk membuat keluarga Abas porak poranda, kalau perlu mantan suaminya di penjara, biarkan Orlin harian seorang diri.
Terlihat kejam memang, tetapi rencana mereka yang ingin memperlakukan Lyra juga tidak kalah kejam. Untung Lyra sudah mendapatkan peringatkan dari sang bestie yang berada di rumah mewah itu, para asisten rumah tangga sudah memberikan rekaman rencana mereka sehingga Lyra sudah menyiapkan jawabanya untuk setiap situasi yang mereka buat sulit, agar Lyra malu dan terpojok.
*****
Teman-teman sembari menunggu kisah Perjuangan Zifa yuk mampir ke kisan besti othor di jamin bikin baper dan kuy ramaikan...