Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Curhatan Antara Kakak dan Adik


Ghava dengan malas akhirnya menangkat tubuhnya dari atas kasurnya, padahal tubuhnya sudah sangat lelah, tetapi karena tiba-tiba pintu di ketuk, mau tidak mau ia membukakanya, karena memang ia pintu yang ia kunci.


Kedua mata Ghava berhasil terbuka dengan lebar, "Kenapa loe Bang?" tanya Ghava heran tumben amat abangnya datang ke kamarnya.


Tanpa menunggu persetujuan Ghava dan laki-laki itu pun mengabaikan pertanyyan adiknya. "Gue mau tidur sini," terang Abas, seolah ia tengah memberikan pengumuman pada Ghava.


"Iya, tapi kenapa mesti kamar gue? Bukanya ada  kamar Kemal yang bisa loe tiduri kalau loe memang sedang ada masalah dengan Lyra. Kenapa mesti kamar gue?" tanya Ghava dengan berdiri di samping tempat tidurnya, ketika Abas lagi-lagi tanpa meminta izin dan menunggu persetujuan dari Ghava sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Ghava.


"Gue pengin minta masukan dari loe, kalau gue kekamar Kemal di sana kosong enggak ada penunggunya, gimana gue mau minta masukan.


Ghava pun tanpa berkata apa-aapa, akhirnya meletakan bokongnya di pinggir tempat tidurnya. Masih dengan perasaan bingung. "Tumben loe cari gue buat curhat, biasanya gue sama loe kan enggak pernah akur," decak Ghava, tubuhnya di biarkan bersender pada dasbord tempat tidur. Kupingnya dibiarkan terbuka dengan sebaik-baiknya agar bisa mendengarkan apa kiranya curhatan dari abangnya itu. Yah meskipun Ghava bisa menebak bahwa obrolanya tidak jauh seputar rumah tangganya yang Ghava tahu sedang ada masalah.


"Loe udah tahu kan kalo rumah tangga gue sedang di ujung tanduk perceraian. Menurut loe gue harus gimana?" Tepat sesuai dengan dugaan Ghava, bahwa abangnya akan curhat dengan masalah rumah tangganya. Agak aneh sih, dia yang berpengalaman dalam urusan rumah tangga di mana laki-laki itu sudah menjalin biduk rumah tangga bersama Lyra sudah lebih dari sepuluh tahun, tetapi untuk mengambil keputusan penentuan bertanya pada Ghava yang notabenya ia belum memiliki pengalaman yang berarti dalam rumah tangga, jangankan rumah tangga untuk berhubungan serius seperti pacaran saja Ghava masih kaku.


"Loe bertanya seperti itu tidak lagi mengejek gue kan Bang? Loe tentu tahu kalau gue saja tidak pernah menikah dan pacaran ajah cinta monyet-monyetan, kok ditanyain yang serius begitu, gue jawabnya takut salah," balas Ghava dengan setengah tertawa. '


"Justru gue bertanya seperti itu karena loe belum mengalami menikah dan mungkin loe bisa memberikan solusi dari pemikiran murni loe tanpa pengalaman yang loe punya, kalau loe sudah ada pengalaman biasanya loe akan membandingan pernikahan gue dan pernikahan loe yang mana pasti masalah gue beda dengan masalah loe, tapi kalau tidak ada pengalaman kan loe bisa beri masukan sesuai dengan permasalahan gue," terang Abas yang saat ini dua kakak beradik itu sedang sama-sama bersandar di sandaran tempat tidur.


Ghava sejenak berfikir memikirkan masalah abangnya dan sebisa mungkin di akan memberikan masukan dari yang ia bisa.


"Perasaan loe dengan Lyra gimana sekarang?" tanya Ghava sebagai orang yang luar tentu harus tahu dulu perasaan Abas terhadap Lyra, baru mungkin selanjutnya Ghava akan bisa memberikan masukan sesuai perasaan Abas.


Terdengar helaian nafas panjang dari Abas, yang seolah laki-laki itu merasakan berat ketika harus mengatakan perasaanya pada istrinya sendiri.  "Kalau di bilang cinta, mungkin masih ada, tetapi rasanya sekarang Lyra juga berubah, sangat beda dengan Lyra yang dulu, selalu ada saja dari ucapanya yang seolah tengah menyindir gue terus menerus, padahal gue sudah bersikap tenang, dan mengalah tetapi lagi-lagi ia yang memancing-mancing masalah, sampai aku sendiri bingung untuk melerai masalah ini dari mana. Karena gue rasa selesai masalah satu timbul lagi masalah yang lainya. Cape ngurusin masalah terus. Malah rasanya gue pengin pergi dari kehidupan ini. Suara prutasi dari bibir Abas berhasil membuat Ghava terkejut. Ghava seperti tidak mengenali laki-laki yang saat ini sedang duduk dengan gaya yang sama dengan dirinya.


Ghava tahu bahwa Abas sedang berada di titik menyerah, titik permasalahan yang mungkin paling bawah. Sehingga Ghava harus terus memberikan motifasi ia takut nanti apabila tidak ada teman untuk bercerita atau dia diam saja ada syetan lewat malah nanti Ghava kesambet dan melakukan hal yang di luar nalar.


"Iya kenyataanya susah banget Va, terlebih Mamih juga meminta aku menikah lagi. Bahkan Mamih meminta Lyra mengalah atau kalau tidak dia mau di madu sampai aku bisa punya anak dan mungkin pernikahan kami akan tetap baik-baik saja dengan cara Lyra ikhlas aku menyewa rahim untuk mendapatkan keturunan." sesal Abas semakin terbang seolah kehilangan tenaga.


Sontak hal itu berhasil membuat Ghava tersentak bangun dan Ghava juga melebarkan kedua matanya, gigi-giginya terdengar bunyi saling beradu.


"Terus loe setuju dengan ide Mamih? Gila yah kalian. Pantes memang gue merasa enggak betah di rumah gue sendiri ternyata memang orang-orangnya yang benar-benar gila," keluh Ghava, laki-laki itu bahkan sampai loyo kembali teringat dengan apa yang menimpa dia juga. Dia sendiri juga tidak bisa berkutik tidak bisa bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Seolah ia adalah orang yang tengah terpasung oleh peraturan orang tuanya.


"Gue bisa apa? Loe sendiri bisa apa untuk menolak dan menggagalkan perjodohan dengan Wina? Sudah  punya idenya?" cecar Ghava dengan senyum mengejek.


"Selamanya kita hanya akan menjadi boneka orang tua kita," lirih Ghava tidak usah di jawab Abas sudah tahu jawaban dari pertanyaanya sensitif ini.


"Ini salah satu alasan nomor satu aku ingin mengakhiri hidup ini. Kalian tahunya aku bahagia aku anak yang nurut aku orang yang patuh terhadap orang tua, tidak neko-neko dan lain sebagainya, tapi aku juga manusia, yang cape dengan peraturan, yang bisa marah karena orang yang selalu mengaturku. Aku bukan orang baik Ghava, aku orang yang berlumur dosa, tetapi ketika aku ingin tobat, tapi Mamih lagi-lagi melarang, aku lelah menyimpan masalah ini sendiri," keluh Abas.


Ingin Ghava memeluk tubuh lemah abangnya yang di sembunyikan di balik tubuh kekarnya. Namun gengsi, dan tidak terbiasa mengalahkan semuanya. Mereka hanya terdiam dalam kebisuan, tidak bisa saling memberikan solusi, karena permasalahan mereka juga sama yaitu, berhadapan dengan peritah dan keinginan mamihnya.


"Ngomong-ngomong anak bayi yang kemarin kamu jadikan foto profil anak siapa Va?" tanya Abas, ia masih penasaran dengan siapa dua bayi kembar yang cantik dan tampan.


Ghava kaget kenapa abangnya itu masih saja  penasaran dengan sosok Raja dan Ratu. "Kan udah dibilang dia anak aku Bang, namanya Raja dan Ratu," jawab Ghava, berharap bahwa Abas akan percaya dengan ucapanya, meskipin rasanya akan mustahil kalau Abas percaya.