
"Tadi yang telepon siapa Mas?" tanya Zifa begitu keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap padahal Ghava sudah membayangkan bahwa istrinya akan memakai pakaian ganti di hadapannya seperti pengantin baru pada umumnya.
"Kemal," jawab Ghava dengan santai dan tatapan matanya terus memperhatikan wajah Zifa yang semakin terlihat cantik natural dengan rambut yang setengah basah sangat membuat Ghava bergairah.
"Kemal? Mas angkat, ngomong apa dia?" tanya Zifa mulai cemas, dia tadi bilang kalau tidak usah diangkat tetapi malah suaminya itu tidak mendengarkan dan tetap mengangkat telepon dari Kemal.
"Entah dia tidak ngomong lagi ketika dia sudah tahu kalau Mas dan kamu sudah menikah dan juga kamu sedang mandi, dia langsung mematikan teleponnya mungkin dia cemburu," jawab Ghava dengan sangat santai.
"Kenapa Mas bilang seperti itu pasti Kemal marah dan gimana kalau nanti ia berbuat nekad?" tanya Zifa semakin cemas, apalagi memang sejak kemarin Kemal sudah beberapa kali mengancam Zifa apabila Zifa memang menikah dengan Ghava.
"Tenang saja dia tidak akan melakukan itu semua. Mas lebih kenal Kemal dari pada kamu," jawab Ghava sembari mencoba meminta Zifa duduk di sampingnya.
"Fa duduk lah di sini, bukanya kita sudah menjadi pasangan suami istri dan itu tandanya kita bisa..." Suara Ghava Langsung tertahan karena kode dari Zifa yang meminta suaminya tidak melakukannya lagi.
"Maaf Mas, Ifa minta kelonggaran waktu Ifa ingin kita melakukanya setelah maslah-masalah yang mengelilingi kita selesai, jujur Ifa seperti seorang yang sedang di bawah tahanan dan sangat tidak tenang. Mohon pengertiannya Mas," liih Zifa dan Ghava pun nampaknya mengerti.
"Baiklah Ifa, Mas akan coba mengerti kamu dan kamu juga jangan khawatir sekarang kamu sudah menikah dengan aku dan itu tandanya kamu sudah jadi tanggung jawabku." Ghava mengusap punggung Zifa, dan Zifa hanya membalasnya dengan seulas senyum yang samar.
Ghava pun memilih mandi mendinginkan tubuhnya yang mulai panas dan tegang, dan Zifa sendiri memilih tidur lebih awal. "Maaf Mas Ifa belum siap, dan pernikahan ini bukan karena cinta dan keikhlasan ada tujuan lain Ifa mau menikah dengan Mas," lirih Zifa yang semakin dibuat penasaran dengan obrolan apa yang barusan terjadi di antara Kemal dan Ghava.
Dengan langkah yang lesu Ghava melangkahkan kaki ke kamar Mandi. Sebenarnya tidak harus kecewa karena Ghava tahu kalau Zifa memang belum sepenuhnya menerima dia sebagai suami. Ghava tahu betul tujuan wanita yang saat ini menyandang setatus istri adalah dengan tujuan agar ia bisa melindunginya.
Tubuh yang sudah polos ia siram dengan air dingin. Cukup sejuk dan juga mengurangi tubuhnya yang mulai panas dan tegang.
"Aku berjanji Fa, tidak akan meninggalkan kamu seorang diri, aku akan menjadi pelindung kamu sesuai dengan yang pernah aku janjikan untuk kamu."
Kini Ghava sudah selesai mandi dan tubuhnya kembali dingin dan tidak lagi merasakan gerah maupun panas terlebih ketika melihat wanita yang dicintainya sudah tertidur pulas. Saat ini yang terpenting untuk Ghava adalah bisa menatap Zifa setiap hari saja sudah sangat bersyukur.
"Tidur yang nyeyak Sayang, aku mencintaimu, Tidak akan aku biarkan orang lain mengambil kamu dari aku, sekalipun itu Kemal."
Ghava mulai merangkak naik ke atas kasur dan menyusul Zifa tidur.
******
"Mamih ada di rumah sakit, apa Mamih lupa tadi Mamih pingsan di tengah-tengah acara Abas dan Orlin," jawab Omar dengan suara yang sangat dingin.
"Kemana wanita tidak tahu diuntung itu, gara-gara Lyra, Mamih jatuh pingsan dan saat ini terbaring di rumah sakit Lyra memang biang masalah," lirih Eira dengan tatapan yang ingin membunuh Lyra.
"Udah lah Mih, Lyra mungkin ada benarnya memang sudah saatnya kebongkar dan Mamih lebih baik meminta maaf pada wanita itu dan semua anggota keluarganya, dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pasti mereka akan memaafkan mamih asalkan mamih mau mengakui mereka anak-anak dari Abas, lagian bukanya Mamih ingin cucu dan dari wanita itu Abas sudah memiliki cucu, lalu yang seperti apa lagi yang Mamih inginkan," balas Omar selaku suami Eira yang tahu kejadian, ternyata sudah lama Omar meminta Eira untuk meminta maaf agar semua masalah ini tidak saling berlarut-larut, tetapi sepertinya Eira masih senang bermain petak umpet dengan takdir.
"Papih apa-apaan sih bukanya dukung Mamih malah meminta Mamih untuk meminta maaf. Mamih tidak akan pernah mau," ucap Eira masih dengan pendiriannya, bahwa asisten rumah tangga yang meninggal di rumahnya karena serangan jantung bukan di bunuh olehnya.
"Terserah Mamih saja, hanya saja Papih mengingatkan untuk meminta maaf, Papih sebagai suami dan juga kakek dari anak Abas dari wanita itu akan berusaha meminta maaf dan mengakui kesalahan semua agar semua masalah ini tidak berlarut-larut kemana saja yang menyebabkan makin melebar,' lirih Omar yang kali ini mungkin lebih lurus dan bisa diandalkan.
"Papi jangan macam-macam yah, Mamih nggak mau sandiwara kebohongan dan lain sebagainya yang sudah Mamih lakukan justru berakhir sia-sia, karena pengakuan Papih." Eira bahkan lupa mungkin kalau kepalanya kali ini benar-benar sangat ingin meledak.
Masalahnya silih berganti datang setelah Lyra membongkarnya, padahal selama ini Omar suaminya tetap berada di pihaknya, yah Omar memang tahu apa yang terjadi di rumah itu, karena Eira yang sering bermimpi buruk memaksa akhirnya bercerita pada suaminya dengan apa yang terjadi di antara dirinya dan asisten rumah tangganya dan juga perbuatan Abas yang di ketahui seorang diri
"Terserah kalau memang Mamih masih mau terus bersembunyi dan mengeles tetapi Papih akan mencari anak Abas, dia juga cucu Papih dan mereka berhak mendapatkan kasih sayang yang sama dari kita semua," lirih Omar, dengan tangan dari tadi menari dengan lentik menghubungi Lyra, Omar akan bertanya pada Lyra dengan keberadaan anak Ghava, dan ia akan mengakui anak itu, tidak perduli istrinya menentangnya.
Eira justru membuat kegaduhan dengan menjerit-jerit agar Omar tidak melakukan hal itu dan Eira mengancam akan bunuh diri kalau Omar tetap mencari anak Abas.
"Apa kamu gila Eira? SUdah kamu pikirkan rencana kamu ajah, aku akan memikirkan rencana aku sendiri," bentak Omar yang melihat istrinya makin sulit dinasehati, berbeda dengan Eira yang dulu yang selalu bisa di nasihati olehnya.
Di lain tempat Wina berhasil meyakinkan orang tua Orlin dan juga orang tuanya sendiri bahwa Abas tidak memiliki anak dari siapapun yang terjadi diantara pesta tadi adalah rencana Lyra, itu yang Kemal dan Wina rencanakan, berbalik meng fitnah Lyra.
"Makanya aku juga tidak begitu percaya kalau Abas tega selingkuh, dia adalah laki-laki baik," puji Orlin yang masih mencintai Abas dan mereka pun yakin kalau Lyra melakukan ini karena iri semata pada Orlin yang bisa hamil sedangkan Lyra tidak.
"Iya orang iri kan bisanya kayak gitu, bicara seolah-olah benar kenyataan dan ketika ditanya tidak berani berkata jujur," balas Wina, bergosip ria membahas kelakuan Lyra yang dinilai kampungan.
Wina sudah kembali yakin bahwa ia akan menjalankan rencana dengan Kemal soal hasilnya seperti apa wanita itu tidak terlalu memperdulikannya yang terpenting rencananya terlaksana dan dia bisa membuat kerusuhan sama dengan yang dia perbuat karena merebut Ghava.
Kini mereka mempunyai rencana masing-masing yang dinilai ampuh untuk membalaskan kekacauan yang dibuat Lyra, tetapi yang membuat kacau yang akan di lawan justru mereka masih terlihat santai. Baik Lyra maupun Zifa sangat yakin bahwa tujuannya hanya mencari pembunuh ibunya Zifa dan soal pengakuan Raja dan Ratu tidak masala tidak diakui sebagi anggota keluarga mereka yang penting ayah biologisnya tahu atas perbuatanya kini Zara memiliki dua orang anak. Dan mereka menunggu penyesalan nya dari orang itu, siapa lagi kalau bukan Abas.