Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Perubahan Sifat Zifa


Pagi hari menyapa, matahari bahkan sudah menampaka diri dengan cahaya yang menyilaukan mata, tetapi Zifa seolah enggan untuk beranjak dari tempat tidur, di kamar Bi Tini. Rasanya dia ingin terus menenggelamkan tubuh lelahnya di atas kasur itu. Hampir semalaman Zifa tidak bisa tidur, karena memikirkan kebodohanya yang percaya begitu saja terhadap kebaikan Kemal. Kenapa dia membiarkan Kemal menertawakan kebodohanya. Bersikap menjadi orang yang paling mengerti nasib sulitnya, tetapi ada kemungkinan dialah yang ternyata pelaku dari kehidupanya yang saat di selimuti kesusahan.


"Zifa kamu sudah bangun, kamu makan dulu yah, biar badan kamu tidak sakit. Bibi udah masak nasi goreng buat sarapan kamu, yuk makan dulu." Bi Tini, mengingatkan kembali ibunya yang sering melakukan hal ini, sebelum ia berangkat sekolah.


"Maaf Zifa yah Bi, Zifa malah jadi merepotkan Bibi, Zifa tidak tahu ternyata Zifa selemah ini. Rencananya Zifa akan balik ke Bandung siang ini saja. Terima kasih Bibi sudah mau membagi kecurigaan Bibi terhadap Zifa, Setidaknya saat ini Zifa ada gambaran kira-kira siapa yang sudah menjadi pelaku atas semua kesulitan yang Zifa alami," lirih Zifa, bukan ia tidak mau berlama-lama di sini, tetapi Zifa justru semakin takut kakanya kenapa-kenapa. Niatnya ingin menyempatkan diri mengunjungi makam ibunya, tetapi lagi-lagi sepertinya niat itu harus ia tunda dulu, hal itu karena Zifa terfikirkan kakanya terus.


"Loh, kok kamu buru-buru pulangnya kenapa tidak nunggu besok ajah, kamu bisa istirahat dulu, kayaknya kamu sedang tidak enak badan Zifa. Lebih baik di sini saja dulu sampai badan kamu benar-benar pulih, baru pulang ke Bandung, jarak Jakarta-Bandung cukup jauh Zifa, Bibi takut kamu nanti malah ada apa-apa di jalan,"  ujar Bi Tini yang cemas akan keselamatan Zifa.


"Tidak apa-apa Bi, nanti Zifa naik taxi ajah biar aman, jadi Bibi tidak usah khawatir," balas Zifa, biar Bi Tini tidak khawatir.


"Lagian bukanya Kemal memberikan uang itu buat menebus nyawa Ibuku, maka akan aku manfaatkaan Kemal," batin Zifa, gadis itu tersenyum sinis, lebih baik kesempatan ini dia gunakan untuk memeras Kemal, sehingga ia tidak harus hidup hemat hidup cape-cape untuk bekerja, pasti Kemal akan memberikanya uang yang lebih dari ini kalau Zifa bisa memanfaatkan situasi seperti ini. Zifa  tersenyum penuh rencana. Semuanya sudah terjadi, dan kamu yang memulai ini Kemal, maka aku akan ikuti apa rencana kamu," batin Zifa, sepertinya memanfaatkan keadaan akan lebih baik dari pada bercape-cepe kerja.


Sesuai apa yang Zifa katakan, siang hari Zifa berpamitan untuk kembali ke tempat tinggalnya saat ini. "Ifa, kamu yakin akan pulang sekarang padahal Bibi masih kangen sama kamu loh," ucap Bi Tini terlihat sedih, ketika Zifa berpamitan pulang.


"Iya Bi, kasihan juga sama Kak Zara, sekarang dia di titipkan dengan kenalan Zifa takut nyariin dan takut merepotkan sama yang lain," balas Zifa yang tidak menceritakan dengan detail tujuanya dia berada di kota Bandung, dan rencana Zifa untuk mencari keadilan. Zifa bercerita dengan Bi Tini hanya garis besarnya saja, tanpa tahu apa yang sekiranya nanti akan dia lakukan kedepanya. Biar ini menjadi rencana Zifa dan orang lain tidak diizinkan tahu, pelajaran dari Kemal yang ternyata tahu semua rencana dia sehingga mungkin saja Kemal nanti akan mencoba menggagalkan rencana Zifa setelah tahu rencananya. Sehingga Zifa sekarang harus bisa memutar balikan rencana yang sudah tersusun, agar Kemal yang mungkin saja sedang merencanakan pelindungan terjebak dengan Zifa yang ternyata berbalik rencananya. Satu lagi yang pelajaran yang Zifa bisa petik, dia tidak harus baik atau percaya lebih pada laki-laki atau teman manapun, termasuk Bi Tini. Zifa harus memberikan batasan untuk ia tidak bercerita yang terlalu rahasia.


"Ya udah kalau kamu memang kekeh pengin pulang, salam buat Zara yah, semoga kalian selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah," ucap Bi Tini. Zifa pun membalas "Amin" dalam hatinya dengan menyunggingkan senyum manisnya.


Cukup lama Zifa berhenti di depan rumah itu, tetapi nampaknya bukan keberuntungan Zifa, tidak ada kendaraan yang keluar maupun masuk kerumah mewah itu. "Ah, mungkin semalam adalah keberuntunganku, sehingga di beri tahu wajah salah satu penghuni rumah itu, yang berhati iblis tetapi tampangnya seperti malaikat," batin Zifa, selanjutnya meminta sopir Taxi melanjutkan perjalananya.


{Aku harap kamu menghubungi aku Kemal, aku membutuhkan batuanmu,} tulis pesan Zifa yang di kirim kan kenomor Kemal, dan Zifa berharap Kemal menghubunginya. 


"Aku ingin melihat wajah kamu yang penuh dosa Kemal," batin Zifa sembari membuka sosial media Kemal yang mana di sana banyak foto-foto Kemal dengan berbagai gaya yang menujukan ke mewahanya, dan ada beberapa caption yang mengiris hati, tentang perasaanya yang tertekan, dan bisa di lihat dari isi caption itu bahwa Kemal tidak bahagia dengan hidupnya, tetapi kenapa yang di lihat pada kenyataanya Kemal justru menjadi orang paling jahat.


Zifa menutup ponselnya dan menyenderkan kepalanya di senderan korsi penumpang belakang, matanya terpejam, tetapi tidak tidur. Pikiranaya terbang, sedangkan semua kenangan singkat bersama  Kemal dia ingat kembali. Namun setiap dia mengingat ucapan Kemal dan usaha laki-laki itu untuk melindungi keluarganya, rasanya tidak mungkin bahwa Kemal adalah pelakunya, Tetapi apabila di pikir dengan betapa dia terlalu berambisius dengan uang yang dia berikan dan buru-buru meminta Zara dan Zifa pergi dari kota ini sangat membuat Zifa yakin bahwa Kemal tengah dilanda ketakutan atas perbuatanya. Namun lagi-lagi Zifa tidak melihat wajah Kemal yang seperti pembunuh.


Perjalanan Jakarta sampai Bandung di mana seharusnya Zifa bisa gunakan untuk istirahat, justru dia sibuk mencari fakta atau informasi mengenai Kemal dan keluarganya. Sosial media milik Kemal Zifa jelajahi satu-satu mungkin saja dia menemukan fakta yang lain. Setiap teman atau mungkin kerabat yang di taq oleh Kemal Zifa juga kirim pertemanan, mungkin saja dari mereka-mereka Zifa akan mendapat informasi penting.


Karena Zifa yakin dan berharap kalau ada kerabat atau teman yang aktif di sosial media dan membagi kebersamaanya dengan Kemal, atau bahkan keluarganya. Namun sepertinya baik keluarganya ataupun Kemal kurang menyukai sosial media.


"Aku harus mencari info keluarganya Kemal dari mana lagi, kalau sosial media saja mereka tidak punya," dengus Zifa sembari menutup ponselnya. Badanya sangat lelah ditambah beban fikiran yang menguras tenaganya, bahkan samapi Zifa sakit begitu. tahu Kemal adalah anak dari majikan ibunya. Lalu apa Zifa akan sanggup apabila menemukan fakta-fakta yang lainya, yang mungkin saja lebih mengejutkan dari fakta tentang Kemal.