Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 108


"Aku tidak akan datang." Ghava yang melihat wajah murung Zifa pun langsung mengatakan kalau dia tidak ingin datang menghadiri acara yang keluarganya buat, untuk merayakan kehamilan Orlin yang usia kandunganya sudah berumur lima bulan itu.


Zifa yang sejak tadi menunduk. Sedih? Entah apa yang membuat Zifa bisa sesedih ini, tetap dalam hati Zifa memang dia sakit ketika mendengarkan Eira selalu memaksa Ghava untuk datang dan berpasangan dengan Wina. Cemburu, mungkin itu yang dirasakan oleh Zifa, dia sendiri tidak bisa berkutik banyak dengan hubunganya yang secara sembunyi-sembunyi.


"Kenapa? Mamih dan keluarga kamu sudah sangat bahagia dan antusias kalau kamu akan datang. Kenapa kamu bilang tidak akan datang?" tanya Zifa, tentu berbeda dengan hatinya, dalam hatinya ia ada perasaan bahagia karena ternyata Ghava lebih memilih menjaga hatinya dari pada keluarganya yang hal itu bisa di pastikan kalau memang Ghava lebih menomor satukan dia dibandingkan keluarganya itu.


"Aku menjaga hati wanita yang aku cintai," jawab Ghava dengan yakin. Pandangan mata Ghava sudah menggambarkan kalau dia itu sangatlah mencintai Zifa.


"Lalu kenapa kamu tadi menjawab iya, dan seolah ucapan kamu juga mengatakan kalau kamu akan datang ke pesta itu?" tanya Zifa, dia bisa mendengar apapun ucapan yang Ghava obrolkan dengan mamihnya sangat jelas tanpa bisa Ghava berbohong.


"Kamu tidak akan tahu mamih aku orangnya seperti apa. Beliau akan terus memaksa kami untuk mengikuti semua keinginanya, tanpa mereka mau tahu kalau kami pun butuh kebebasan. Hanya ini cara kami agar kami bisa sedikit terlihat baik. Bukan hanya aku yang tertekan dengan kelakukan orang tuaku termasuk adik dan abangku juga sebenarnya tertekan dengan aturan yang ada di rumahku. Kemal pun sama, dan aku yakin sebelum-sebelumnya abang aku juga melakukan hal yang sama tertekan dengan semua aturan yang di buat oleh mereka," jawab Ghava dengan yakin, bahkan kepalanya semakin terasa nyut-nyutan, perutnya mual dan rasanya dunia semakin berputar.


Tepatnya setelah maminya mengabarkan bahwa abangnya akan mengadakan pesta dan Ghava diwajibkan untuk datang pesta. Seolah kepala Ghava sudah berdenyut dengan sendirinya. Tidak bisa dihindari bahwa kepalanya seolah sedang berdisko ria.


"Terus kalau nanti ternyata kamu tidak bisa meyakinkan orang tua kamu dengan hubungan kita gimana. Aku tahu kalau hubungan kita ini sangat sulit untuk diperjuangkan. Aku justru sebelum berjuang seolah sudah menemukan   dinding penghalang yang membentang kuat dihadapan kita yang besar di hadapan kita." Zifa *******-***** tanganya.


"Kita akan kawin lari, aku akan selalu memperjuangkan kamu untuk jadi istri satu-satunya untuk aku." Tatapan mata Ghava yang semakin melemah karena memang dia sindiri juga tengah lelah dengan masalah yang terus bertubi-tubi datang pada kehidupanya.


"Apa kamu tidak takut kalau aku nantinya adalah wanita matre yang hanya ingin memanfaatkan hartamu saja,"tanya Zifa, dia terus melemparkan pertanyaan-pertanyaan untuk sebuah keyakinan yang menguatkan kalau memang Ghava adalah laki-laki yang terbaik.


"Kalau kamu mau harta aku, maka kamu tidak perlu berpura-pura mencintaiku, karena aku akan memberikanya cuma-cuma untuk kamu," jawab Ghava dengan santai. Lagian bukanya sejak lama Ghava juga sudah menawarkan bantuan untuk modal, rumah, kendaraan. Apapun yang dibutuhkan Zifa dengan tangan terbuka Ghava akan membantunya. Namun semuanya di tolak oleh Zifa, dengan alasan ingin belajar mandiri dan mulai usaha dari nol.


"Hish... bukan itu maksudnya, udah ah jangan bomongin keluarga kamu terus bawaanya panas," dengus Zifa, bukan panas sembarang panas. Siapa sih yang mau kekasihnya dipasangkan dengan wanita lain, padahal Ghava sudah menolaknya.


"Tapi kamu juga harus belajar bersosialisasi dengan mereka , kamu kan nanti juga akan menjadi anggota keluarga mereka. Apa kamu nanti mau aku kenalin saat acara calon keponakan aku? Kalau mau nanti aku siapkan semuanya," tutur Ghava, dengan senyum mengembang entah laki-laki itu ingat apa tidak barusan ucapan ibu kandungnya yang ingin dia datang bersama Wina, dan beropakaian yang couple dengan calon istrinya.


"Dih ogah banget kenalan sama keluarga penjahat, kalau bukan karena dendam dan ingin memanfaatkan informasi serta pelindungan dari kamu aku juga ogah selalu berdekatan sama kamu, dan Kemal. Selain ganggu pekerjaan juga ganggu pelajaran aku ajah, aku jadi tidak bisa berkonsentrasi," batin Zifa.


"Jangan macam-macam deh, aku ingin hidup lebih lama lagi, ada ponakan dan Kakak Zara yang sangat membutuhkan aku lagi. Kan aku udah bilang, jangan libatkan aku terlalu jauh dulu, sebelum urusan kamu dan si muka minyak belum selesai. (Zifa menyebut Wina, dengan sebutan muka minyak, sebab wajah dia yang disebut glowing, seperti memakai minyak.


Ghava terkekeh dengan sebutan Zifa pada Wina. "Abisan aku kan juga ingin kasih tahu sama mereka kalau aku itu bisa cari calon istri sendiri yang tidak kalah keren," bela Ghava dengan bangga. Namun raut wajahnya sejak obrolan terlihat sangat berbeda. Zifa pun semakin curiga.


"Mas, kamu itu kenapa sih, kok aku perhatikan wajahnya beda banget yah. Pucat dan kelihatan seperti nahan sesuatu. Kamu pengin ke kamar mandi?" tanya Zifa, sejak tadi Ghava memang nyerocos terus kayak beo tetapi dia seolah sedang menahan sakit di perutnya.


"Mas... kamu sakit yah?" tanya Zifa semakin panik.


Ghava menganggukkan kepalanya dan ia meringis kesakitan, mungkin baru ini dia merasakan rasa sakit yang seperti ini.


"Aku kerokin yah Mas mungkin masuk angin," ucap Zifa, ia langsung lari kekamarnya dan mengambil minyak yang biasa ia gunakan untuk kerokan, dan tidak lupa juga koin mujarab yang selalu di gunakanya secara turun temurun berkerokan, dan biasanya akan sembuh.


Ghava bukan Naqi yang tidak tahu kalau apa itu kerokan, justru biarpun Ghava tinggal diluar negri cukup lama, dan tentunya bolak-balik tinggal di negara maju, Ghava juga beberapa kali melakukan kerokan, dan memang biasanya ia akan sembuh.


"Kamu yakin Fa bisa sembuh, dan bisa ngerok juga?" tanya Ghava seolah ia tengah mengejek, dan meragukan kemampuan Zifa.


Zifa membalasnya dengan senyum meremehkan malah. "Mana yang Zifa tidak bisa sih Mas. Zifa sudah terlatih dari orok soal mengerok punggung." Tangan Zifa sudah siap mengerok punggung calon suaminya itu. Zifa justru terpaku dengan mulusnya punggung Ghava yang seolah tidak ada daki'nya.


"Kok bengong," ucap Ghava, laki-laki itu bahkan sudah menunggu kalau punggungnya akan di kerok. Perutnya semakin terasa tidak nyaman.


"Kaget ajah punggungnya putih banget kayak tidak ada  daki'nya," kekeh Zifa, tetapi setelah itu Zifa pun mengerok Ghava hingga selesai, punggung yang sangat merah terlihat dari punggung Ghava. Setalah itu Ghava pun istirahat sejenak, tetapi tidak lam kemudian Zifa melihat kalau Ghav kembali merasakan sakit.


"Mas, masih sakir." Zifa kembali menepuk pundak Ghava, dan Ghava yang merasakan sangat sakit pun hanya membalas dengan anggukan, tanpa membuka bola matanya.


Kali ini Zifa semakin panik ketika ia menempelkan punggung tanganya sebagai alat ukur suhu tubuh manual.


"Ya Tuhan, Mas... kamu makin demam. Kayaknya kamu memang harus ke rumah sakit Mas." Zifa beranjak akan memanggil Beni, satu-satunya karyawan cowok di tokonya.


*****


Teman-teman sembari nunggu kisah kelanjutan Ghava dan Zifa, yuk mampir ke novel teman othor pasti kalian bakal baper dan suka...


Kuy ramaikan....