
Zara yang merasa asing di tempat yang sekarang ditinggali pun diam dan hanya mematung ketika banyak teman-teman berkumpul ketika makan malam tiba.
"Zara, kamu mau makan apa?" tanya Bunda Anna dengan lembut, yah untuk sementara waktu karena Zara yang dalam tahap pengenalan, dan juga Zara yang di dalam hatinya masih sensitif pun masih sangat butuh pendampingan dari pengurus panti, dan karena Zara yang hanya mau di dekati Bunda Anna sebagai ibunya pun, untuk hal apapun masih selalu dalam pendampingan bunda Anna.
"Ifa mana?" tanya Zara dengan tatapan yang kosong.
"Zifa sekolah sayang. Untuk sementara waktu Zara tinggal di sini yah bareng sama teman-teman dan ada ibu juga di sini. Zifa di sana sekolah, karena Zifa kan harus sekolah biar jadi anak yang pintar," ujar bunda Anna memberikan nasihat dan sangat berharap bahwa Zifa bisa mendengarkan apa yang beliau sampaikan. "Zara makan yah, ibu suapin mau? Zara dulu kalau makan suka di suapin Ibu tidak?" tanya Bunda Anna agar Zara mau berinteraksi, khususnya mengenang memory yang ada diotaknya, dan agar memancing semua ingatanya bisa ia ingat, dan juga tidak teringat dengan Zifa terus.
Zara mengangguk lemah, tetapi dalam batinya dia masih kosong. Hal itu terbukti di mana dia seolah menatap teman-teman yang bernasib sama, tetapi sangat jelas bahwa pandangan Zara itu kosong. Bunda Anna mengambilkan makan untuk Zara dan menyuapinya dengan telaten, sembari sekali-kali Zara di ajak komunikaasi meskipun Zara tidak fokus, dan masih banyak ke bingungan dalam isi otaknya.
Setelah makan malam Zara di ajarkan untuk berkenalan dengan teman-temanya, lagi-lagi Zara masih belum mau beriteraksi banyak, dia masih terfokus dengan Zifa. Bahkan bunda Anna entah sudah di tanyakan tentang Zifa berapa kali. Mungkin kalau bunda Anna tidak sabar akan marah dan membentak Zara. Namun bunda Anna yang sudah terlatih dengan hal semacam ini selalu memberikan nasihat bahwa Zifa sedang sekolah, tak jarang juga bunda Annaa memancing memory ringan Zara terutama apa yang banyak di lakukan Zara dengan ibunya, dan Zifa.
Yah, ternyata memory itu yang berhasil sedikit mengalihkan Zara menanyakan Zifa secara terus menerus, setiap akan membahas kebiasaan Zara dengan Ibunya, Zara tidak lagi mananyakan Zifa.
Di mana Zifa juga di lain tempat tengah merasakan hal yang sama. Semenjak Zara di titipkan di yayasan, dan Kemal yang juga sudah pulang ke Jakarta, dan juga akan pergi ke negara lain, Zifa sangat merasakan kesepian. Hanya tinggal sendirian di rumah yang cukup luas apabila hanya di tempati seorang diri. Mata Zifa mengamati setiap isi ruangan kamarnya yang kemarin ia masih tempati bersama kakanya, sangat terasa sunyi. Tidak ada teman untuk berbagi cerita, seolah Zifa memang di dunia ini hanya tinggal seorang diri.
"Kakak, di sana Kak Zara lagi apain? Apa kakak carin Ifa atau tidak? Ifa di sini kanget rengekan kakak. sekarang tidak ada yang gangguin Zifa dengan rengekan yang kadang membuat Ifa pusing. Rengekan yang kadang membuat Zifa membentak kakak. Maafkan Ifa yah Kaka, sekarang Ifa baru tahu betapa berartinya kakak di hidup Ifa, tetapi ketika kakak ada ada Ifa berkali-kali membuat kakak sedih." Zifa termenung di dalam kamarnya tidak bisa memejamkan matanya walaupun hanya sejenak. Pikiranya terbang entah kemana. Padahal rencananya Zifa pagi hari ingin mencari sekolah untuk dirinya, tetapi sampai pukul sebelas rasa ngantuk belum juga datang memeluknya.
"Ibu, apa yang sudah Zifa lakukan untuk Ifa dan Kaka Zara apakan sudah benar? Apakah Ibu tidak marah dengan Zifa, karena sudah menitipkan kakak di yayasan dengan orang yang sebelumnya tidak Ifa kenal?Ibu handirlah dimimpi Ifa, barang sejenak, Ifa ingin berbagi ceita dengan ibu, Ifa ingin memeluk Ibu, agar Ifa tidak merasa sendiri lagi di atas bumi ini. Ibu gimana Ifa harus menjalani ini semua, Ifa terlalu takut, tidak ada satu pun yang bisa mengerti Ifa selain Ibu. Bantu Ifa untuk menemukan keadilan ini, Ibu." Zifa terisak ditengah sunyinya malam hari di mana hanya terdengar suara binatang malam.
"Ifa janji Ibu, Ifa janji ini adalah tangisan kehilangan untuk Ibu, maaf Kalau dari tangisan Ifa, ibu justru di alam kubur sana terasa sakit, tapi Ifa benar-benar merasakan rindu, merasakan butuh sandaran, kangen yang teramat untuk Ibu. Ibu adalah penerang buat Zifa dan Kaka Zara, tetapi Ibu meninggalkan kami. Kami sekarang sedang mencari petunjuk untuk keluar dari lembah kegelapan ini, Ibu. Kami butuh cahaya yang teranga seperti ibu dulu. Beri kekuatan untuk Zifa agar anakmu mendapat keadilan untuk Ibu," lirih Zifa. Semakin malam justru ia semakin tidak bisa terpejam matanya.
Malam ini Zifa tidak bisa terpejam pikiranya terbang melayan memikirkan hal yang bahkan belum sama sekali terjadi.
Gadis itu menatap gelapnya malam dari balik jendela. Menatap gelapnya langit yang membentang luas di atas sana, taburan bintang menghiasi langit. Sehingga terlihat sangat indah, tetapi tidak seindah isi hati Zifa. "Kata orang-orang bintang yang paling bersinar adalah gambaran orang yang kita sayang. Apa itu adalah Ibu yang menjelma sebagai bintang. Kalau benar. Hai Bu, apa kabar? Zifa kangen." Tangan Zifa melambai kearah bintang yang paling terang itu, dan seulas senyum simpul terlukis diwajah sedihnya.
Hal serupa pun tengah Zara rasakan. Calon ibu itu bangun dari tidurnya ketika meyakini bahwa Bunda Anna sudah terlelap dalam pelukan alam mimpinya. Zara berdiri di balik jendela menatap langit yang gelap dengan taburan bintang yang cantik.
Dalam hatinya ia menunggu Zifa, kenapa sekolah, tetapi tidak kunjung pulang. Ketakutan merajai isi hatinya. Samar terlintas bayangan mata ibunya sebelum kematian menjemputnya. Mata ibunya yang seolah berteriak agar Zara menolongnya. Mata yang terus menatap Zara sampai akhirnya mata itu tertutup untuk selamanya. Bulir bening mengalir dari sudut mata ibunya.
"Ibu...."
"Zifa...."
Ditengah malam yang sunyi Zara menangis, meraung ketika ingatan aneh itu datang mehampirinya. Tatapan mata ibunya terakhir sebelum ajal menjemput tiba-tiba menghampiri ingatan Zara.
Bunda Anna langsung beranjak bangun, dan memeluk Zara, yang tengah ketakutan dengan duduk bersimpuh, kedua tanganya memeluk kedua lututnya dan bersandah di dinding.
Bunda Anna memeluk dan memberikan kehangatan, agar Zara tenang tidak menangis dan mungkin bisa menceritakan apa yang terjadi hingga Zara menangis ketakutan seperti ini.