Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 156


Lampu operasi telah mati, dan itu tandanya operasi yang dilakukan oleh Kemal telah selesai. Semua yang sedang menunggu Kemal berdiri untuk menemui dokter mereka akan mendengarkan apa yang akan dokter katakan.


Zifa pun tidak kalah tegang dengan hasil yang akan dokter berikan dia bahkan berjalan dengan tertatih, karena tenaganya yang seolah telah habis.


Tidak lama pun seorang dokter keluar dengan wajah yang terlihat sekali lelahnya.


"Dok, kondisi anak saya gimana?"


"Dok, kondisi adik saya bagaimana?"


Ghava dan Omar hampir bersamaan menanyakan hal yang sama. Sementara Zifa yang akan bertanya hal yang sama baru mulutnya mengangap ia sudah membungkamnya lagi.


Wanita itu buru-buru sadar ada yang lebih berhak cemas dengan Kemal, yaitu papih dan juga abangnya.


"Alhamdulillah proyektil sudah bisa kami angkat. Memang membutuhkan waktu yang lama. Karen menyangkut di tulang yang rawan, jadi harus hati-hati sekali. Kondisi pasien masih sangat kritis. Dan untuk kesembuhanya juga hanya lima puluh persen. Semoga pasien bisa melewati masa kritis ini, dan kembali sehat kembali," ucap dokter, meskipun kabar yang di berikan tidak terlalu menenangkan setidaknya Kemal masih ada kesempatan untuk sembuh.


"Terima kasih atas kerja keras semua tim, kami sangat berharap agar anak kami sehat kembali," lirih Omar, sedangkan Ghava dan Zifa kembali duduk. Mereka belum bisa tenang mengingat kesembuhan yang dokter katakan hanya lima puluh persen.


Sementara Omar masih berbincang dengan dokter.


"Semua ini salahku, andai aku tidak keluar untuk menuntut keadilan mungkin semua ini tidak akan terjadi," lirih Zifa dengan kedua bola mata kembali berkaca-kaca.


"Kalau kamu tidak menuntut keadilan, kasihan Ibu dan Kakak kamu, mereka pasti akan sangat sedih karena tidak mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan," balas Ghava.


Laki-laki itu tetap bersikap tenang. Meskipun dalam hatinya ia juga bergemuruh membayangkan kalau adiknya menyerah berjuang untuk sembuh.


"Pih, bagaimana kodisi Abas?" tanya Ghava dia jadi teringat abangnya. Omar menatap Ghava yang sedang duduk kembali bersama Zifa dan Siti.


"Kondisi Abas masi sama dengan terakhir kamu tinggalkan. Apakah ini tandanya Papih akan kehilangan dua anak sekaligus?" lirih Omar, kakinya melangkah ke arah Ghava dan meletakan bokongnya dengan pelan di samping Ghava.


"Kenapa Papih berbicara seperti itu, Papih harus kuat dan Papih harus tetap optimis kalau semua ini akan baik-baik saja," lirih Ghava memberikan semangat pada laki-laki yang ada di sebelahnya itu.


"Papih terlalu takut kalau Papih akan kehilangan dua anak Papih sekaligus, mereka memang salah, tetapi tidak ada salahnya kita memberikan kesempatan untuk Abas dan Kemal untuk memperbaiki lagi hidupnya. Apa yang harus Papih lakukan agar mereka tetap bersama-sama kita untuk memperbaiki kesalah kita?" tanya Omar dengan suara yang terlihat putus asa.


"Tidak ada yang harus Papih lakukan, serahkan ini semua pada Tuhan, karena yang memiliki kuasa untuk semua ini hanyalah Tuhan. Kita sebagai hambanya hanya bisa berencana. Tetap saja Tuhan yang menentukanya." Ghava mengusap punggung papihnya yang terlihat kokoh, tetapi tidak dengan hatinya. Hatinya hancur berkeping-keping,dan penyebanya adalah istrinya sendiri. Istri yang selama ini ia bela.


Zifa di sebelah Ghava hanya diam tidak jauh berbeda wanita itu juga merasakan hancur hatinya. Ketika melihat kekacauan di keluarga suaminya, dan yang membuatnya adalah dirinya sendiri.


Keempat orang itu berjalan untuk berpindah ke ruangan di mana Kemal sudah di pindahkan keruangan lain, tetapi dalam kondisi yang masih belum sadar bahkan kritisnya masih belum terlewati.


"Siti, Zifa kalian pergilah ke kantin dan membeli makan, bukanya kalian dari tadi belum makan, belikan makanan untuk kita semua. Jangan sampai kita menunggu Kemal sampai kita lupa belum makan, dan malah nanti kita sakit. Jaga kesehatan agar kita bisa saling bantu untuk menjaga Kemal. Soalnya setelah ini aku akan banyak urusan, dari mengurus Mamih hingga kerja." Ghava memberikan dua lembar uang berwarna merah untuk membeli makanan. Bahkan saat ini sudah melewat jam makan siang, tetapi mereka semua sampai lupa makan.


"Ingin Zifa mengatakan tidak lapar, tetapi itu justru akan membuat Ghava semakin sedih. Saat ini saja Zifa sangat yakin kalau laki-laki itu sedang sedih. Melihat sikapnya yang terlalu memperdualikan Kemal.


"Ya Tuhan, jangan tunjukan sedih padaku yang berlebihan." Doa Zifa dalam hatinya, dia sudah melihat kalau Ghava seperti sudah menyadarinya kalau Zifa masih sangat mencintai Kemal.


Dua wanita itupun pergi meninggalkan Ghava dan Omar dengan Kemal yang ada di dalam ruangan Icu dengan begitu banyak alat-alat medis menempel di tubuhnya.


"Kamu hutang penjelasan sama Papih, siapa wanita itu, sepertinya hubungan kamu sangat dekat? Dan juga sepertinya dia sangat dekat dengan Kemal?" tanya Omar begitu Zifa dan Siti pergi untuk ke kantin, mengikuti apa yang Ghava katakan untuk mencari makanan.


Ghava nampak diam, menunduk ini sudah waktunya dia harus menceritakan siapa Zifa sebenarnya.


"Siapa wanita itu, kenapa kalian terlihat sangat dekat?" tanya Omar, yang sudah dari tadi dia menahan rasa penasaran dengan siapa wanita itu sesungguhnya.


"Wanita itu namanya Zifa, dia istri Ghava, Pih."


Omar cukup terkejut dengan jawaban Ghava. "Is... istri? Tapi Papih lihat wanita itu sangat cemas dengan kondisi Kemal? Apa mereka sudah saling kenal dengan adik kamu?"


"Zifa dan Kemal sebenarnya saling mencintai. Ghava yang datang di antara mereka," lirih Ghava dengan perasaan bersalah.


Omar kembali terdiam, yah dalam otaknya sudah berjejer masalah-masalah, hingga ia sudah tidak kaget lagi dengan serentetan masalah yang baru.


"Apa ini yang membuat kamu menggagalkan pernikahan dengan Wina? Dan kamu pergi juga tidak kunjung pulang?" cecar Omar, dan dibalas anggukan oleh Ghava. Sudah sangat jelas semua yang dikatakan Omar memang benar adanya.


Omar menggerakan kepalanya naik turun, menandakan kalau memang laki-laki paruh baya itu tahu masalah di antara putranya.


"Kalian sudah besar, sudah tidak harus Papih beri tahu mana yang baik dan yang buruk. Kalian bisa membedakanya. Dan soal hubungan kalian, Papih juga tidak bisa terlalu ikut campur, karena kamu pasti lebih tau mana yang baik untuk kamu dan keluargamu dan mana yang buruk untuk kalian. Tapi apa hubungan Zifa dengan masalah kita. Apa ada hubungan Zifa dengan yang terjadi kekacauan di keluarga kita?" cecar Omar karena laki-laki itu melihat kalau Zifa begitu di lindungi oleh Ghava.


Ghava menelan salifanya dengan kasar.


"Kalau Papih saja bisa sebijak ini apa mungkin Papih juga akan bijak menghadapi masalah Zifa dengan Mamih." Ghava termenung dalam batinya bingung dengan apa yang akan dia katakan.


"Baiklah tidak ada salahnya aku cerita pada Papih, toh nanti juga polisi akan menceritakan apa motif sebenarnya penembakan itu, belum juga Mamih pasti akan cerita. Lebih baik Papih tahu lebih dulu dari pada tahun belakangan."