
Kemal kini sudah pergi dari negara ini dan membawa sebegitu banyak pertanyaan di pikiranya mengenai Abas, Lyra dan juga Mamihnya, yah sebab saat kejadian ibunya Zifa meninggal hanya tiga orang ini yang sedang berada di rumah itu, tentu bisa dikaitkan ketiganya adalah pelaku, atau salah satu atau bahkan memang apa yang ibunya Zifa alami adalah meninggal karena serangan jantung. Lalu Zara? Siapa yang telah memperkosa Zara apa itu juga bukan Abas. Kemal yang niatnya ingin menenagkan pikiranya justru pergi dari negaranya penuh dengan pertanyaan yang membuatnya tidak semangat untuk menjalani hari-hari ini semua.
Di lain tempat Zifa dan Zara sekarang sudah semakin baik perubahanya terutama Zara yang saat ini sudah mau berinteriaksi dengan orang lain, selain Zifa dan juga bunda Anna. Tidak jarang juga Zara seolah tertarik dengan kegiatan yang di lakukan oleh penghuni yayasan yang lainya, seperti bermain ayunan dan banyak kegiatan yang lainnya. Memang itu kegiatan untuk anak-anak tetapi untuk terapi dan bersosialisasi dengan yang lain cara seperti itu adalah cara yang bagus.
"Ifa, kayaknya kakak kamu sekarang sudah banyak kemajuan, kamu nasihatin apa?" tanya Bunda Anna, yang duduk menghampiri Zifa yang sedang mengawasi kakaknya.
Zifa tersenyum menyapa bunda Anna yang saat ini duduk disamping dirinya. "Tidak ada Bun, Ifa justru heran kenapa Kak Zara sekarang semakin manis sekali, Zifa jadi semakin bersalah karena dulu tidak pernah dekat dengan Kak Zara, selalu sibuk dengan dunia Ifa, dan juga Ibu yang kurang memperhatikan Kaka Zara karena sibuk bekerja, sehingga kak Zara seperti kurang pengarah, dan terjebak dengan pikiranya yang seperti tidak berkembang padahal kakak hanya butuh diajarkan yang lebih untuk bisa hidup normal." Zifa masih sangat ingat apa yang Alwi semalam jelaskan.
"Tidak apa-apa masih banyak waktu untuk mengembalikan cara berfikir Zara, dan kamu tingal bersabar saja. Lebih baik telat dari pada tidak sama sekali, mungkin itu pepatah yang bagus untuk mengambarkan apa yang terjadi pada Zara dan kamu saat ini. Jangan pernah berputus asa karen jalan Tuhan pasti ada. Buktinya kamu saat ini sampai di sini, sedangkan kalau dirunut tempat tinggal kamu jauh dari ini, tetapi Tuhan menuntun kamu hingga bertemu bunda dan Alwi. Mungkin ini cara Tuhan untuk mennunjukan jalan untuk kamu dan kakak kamu," ujar Bunda Anna sembari mengelus pundak Zifa yang tengah memperhatikan kakaknya Zara yang saat ini sedang bermain ayunan.
Zifa pun membenarkan ucapan Bunda Anna, yah mungkin ini adalah jalan Tuhan, sehingga ia di pertemukan Kemal dan membawanya sampai ketempat ini, dan kini Zifa berada di tengah-tengah lingkungan yang asing tetapi justru dia merasa tenang dan seolah ia terlindungi.
"Ngomong-ngomong apa yang kamu ketahui yang membuat kakak kamu sedikit teralihkan dunianya, atau mungkin kakak kamu menurut kamu memiliki keahlian yang mungkin bisa di kembangkan, selain terapi rongan yang bisa untuk mengembalikan ingatan-ingatanya di sini juga diadakan perlatihan yang sesuai dengan anak-anak sukai, mungkin dengan kegiatan itu bisa membantu Zara menemukan masa depanya?" tanya Bunda Anna. Anak dengan kebutuhan khusus bukan berati mereka tidak bisa menentukan masa depan, kalau memang mereka mampu dan bisa di arahkan, mereka juga bisa memiliki penghasilan dari hobby atau kegemaran yang mungkin bisa menjadi ladang untuk bisa meraih pundi-pundi rupian.
Zifa tidak langsung menjawab pertanyaan bunda Anna, ia mengingat apa yang sekiranya menjadi keahlian kakaknya. "Memasak, yah Kak Zara suka dan pandai memasak Bun, dan Kak Zara juga suka sekali kue, apa kalau Kak Ara dilatih mengolah kue juga bisa Bun?" tanya Zifa, meskipun itu tandanya dia juga harus bisa tidak membenci kue.
Bunda Anna tersenyum, "Tentu bisa Zifa nanti akan Bunda latih kakak kamu untuk belajar membuat kue, kebetulan disini alat-alat lengkap. Dan mungkin siapa tahu nanti Zara akan berbakat untuk membuat kue, semua adalah rencana Tuhan, dan semoga di mudahkan segala niat baik kita."
"Amin. Terima kasih Bun, sudah mau dengan baik dan sabar menerima kita, jujur ketika Kemal mengusulkan agar kami datang ke kota ini, terutama menitipkan kakak Zara kesini, Ifa ragu. Apakah nanti Kakak akan diperlakukan dengan baik dan akan bisa hidup dengan baik di tempat yang belum pernah terlintas dalam pikiran Ifa, tetapi setelah Ifa lihat sendiri sekarang Ifa justru bersyukur sekali ketika Kemal mengusulkan tempat ini sebagai saranan untuk kesembuhan Kakak Zara."
"Maka dari itu Bun, Zifa ingin sekali melihat pelakunya serti apa," ujar Zifa dengan suara lirinya, yah dia memang apabila mengingat terus kejadian itu selalu kembali bersedih dan teriris. Bahkan kakaknya tidak tahu di dalam perutnya ada calon bayinya, tetapi orang itu tega membuat gadis seperti kakaknya hamil. Terlebih anaknya kembar lagi.
"Semoga semuanya lancar yah sayang." Bunda Anna pun meninggalkan Zifa yang sedang mengawasi Zara bermain. Zifa yang sudah lama tidak membuka ponselnya pun memutuskan membuka ponselnya, ia ambil benda pintar itu dan mulai mengaktifkanya.
Benar seperti dugaanya bahwa pesan masuk saling berebut, untuk beberapa saat Zifa diamkan ponselnya dan membiarkan pesan-pesan itu masuk.
Gadis itu menggerakan jari jempolnya untuk melihat pesan yang berjejer dengan rapi dikirimkan dari banyak teman dan juga gurunya. Mereka mencari Zifa yang tidak masuk sekolah dan setelah mereka mengetahui musibah yang menimpa Zifa mereka berbondong-bondong mengucapkan belasungkawa.
Zifa terfokus dengan nomor ponsel baru, entah siapa tetapi kenapa pemilik nomor itu menanyakan ibunya. Perlahan jempol Zifa menekan pesan itu dan membacanya. Di mana pemilik nomor ponsel itu adalah teman kerja ibunya yang ternyata di pecat karena mencurigai kematian temanya itu. Mungkin sang majikan takut kalau teman ibu akan mengadu yang engga-engga dengan yang lain atau bahkan menghasud yang lain dan kejahatanya terbongkar, sehingga satu hari setelah kejadian teman ibu di pecat.
Zifa tidak menunggu lama langsung menghubungi nomor itu, ada banyak yang ingin Zifa tanyakan mengenai kejadian ibu. Karena Zifa tidak percaya sama sekali dengan apa yang orang-orang katakan mengenai meninggalnya ibunya itu.
"Ternyata bukan aku yang akan mencari kebenaranya, tetapi Tuhan lah yang membuka untuk kebenaran itu terungkap," batin Zifa sembari orang yang ada di sebrang telpon mengangkat panggilanya.
"Halloh."