
"Ifa..." pekik Zara begitu Zifa keluar dari mobil dengan berlari menuju ruko tempatnya tinggal. Zara langsung menghambur kedalam pelukan Zifa, begitu Zifa sudah sampai di ambang pintu.
Ghava pun tanpa di minta oleh Zifa langsung ikut turun dan mengikuti Zifa berlari menuju toko kue Raja dan Ratu.
"Kamu kemana ajah sih Fa, Abang bingung tau mau cari kamu kemana. Terus tuh HP kenapa kamu enggak angkat panggilan teleponya." Alwi yang sangat cemas dengan Zifa juga langsung mencecar pertanyaan untuk Zifa, bukan marah. Hanya terlalu mencemaskan sehingga Alwi takut terjadi apa-apa dengan Zifa. Takut kalau Zifa kenapa-napa bagaimana dengan mental Zara pasti akan semakin buruk.
"Iya maaf Bang tadi naik taxi online, tapi malah salah naik mobil, naiknya mobil Mas Ghava." Zifa melirik pada Ghava yang sedang mencoba mengeringkan jas yang sedikit basah karena di gunakan untuk menutupi tubuhnya dari terpaan air hujan.
"Ya udah kalau gitu ayok kalian semua masuk dan udah makan belum? Dari tadi tidak ada yang berani makan, karena saking cemasnya memikirkan kamu." Alwi meminta semuanya masuk dan menutup pintu terlebih malam ini cuaca dingin dan hujan semakin deras.
Sebelumnya Ghava diperkenalkan dengan team Zifa, ada Alwi, Ara, Tasi dan Beni. Semua menyebutkan nama masing-masing dan berjabat tangan.
Ghava pun ikut masuk, setelah berkenalan. jasnya di gunakan untuk menutupi tanganya yang terasa dingin. Ini kali pertama dia berada di kota kembang dan langsung terkena air hujan, Ghava yang belum biasa dengan cuaca kota Bandung, kurang nyaman dengan suhu kota itu, tubuhnya seolah memberi respon buruk.
"Mas Ghava kenapa?" tanya Zifa yang melihat Ghava seperti murung dan seolah mencari sesuatu di sekeliling ruangan. "Tempatnya aneh yah? Berantakan? Yah, begini lah kita baru pindahan tadi pagi dan belum sempat beres-beres keseluruhanya masih berantakan di mana-mana." Zifa mencoba menjelaskan kondisi ruko yang berantakan.
"Bukan gitu Fa. Ini suhu ACnya berapa sih kok badan aku berasa dingin banget yah." Ghava masih mencoba mencari Ac yang biasanya tertempel di dinding, tetapi sejak tadi matanya mengeliling masih sajah tidak menemukan adanya Ac.
Zifa terkekeh. Disini enggak AC Mas, kalau udara kota Bandung memang seperti ini lebih dingin dari kota lain, dan itu sudah biasa buat kami. Tapi kalau buat Mas kayaknya masih belum biasa apalagi tadi abis kena air hujan, pasti cuacanya lebih berasa dinginnya." Zifa beranjak dari duduknya dan segera masuk ke dalam kamarnya ia mengambil satu buah selimut yang cukup tebal.
"Mas pake selimut ini ajah, pakaian yang tadi sedikit basah lepas saja dan bungkus tubuh Mas dengan selimut, takutnya Mas malah sakit nanti kalau pake baju basah," ucap Zifa tanganya menjulurkan sebuah selimut yang tadi dia ambil.
Ghava pun yang memang merasakan bajunya tidak nyaman, karena basah langsung membuka bajunya dan membungkus tubuhnya yang kekar dengan selimut yang Zifa berikan.
Haccimmm... Hacccimmm... baru juga di bilang oleh Zifa. Gahava sudah bersin bersin, seperti mau sakit.
"Ghava kenapa Fa?" tanya Alwi yang sedang makan duduk dilantai bareng-bareng dengan yang lain, sedangkan Ghava saat ini sedang duduk di sova.
"Kayaknya mau flue bang, mana dia katanya baru di kota ini, jadi tubuhnya belum terbiasa dengan suhu di sini, belum tadi sempat kena air hujan," jawab Zifa.
"Ben kamu ambilkan baju di mobil aku kaos sepertinya ada, bawakan satu untuk Ghava biar dia pake ganti baju, dan kotak obat di dalam mobil juga ambil." Alwi menjulurkan konci mobil, dan Beni langsung mengikuti apa kata Alwi.
"Kamu ambilkan nasi Fa, biar Ghava makan dan buatkan jahe hangat buat menghangatkan tubuh Ghava, setidaknya jangan sampai dia jatuh sakit dan drop, karena tidak terbiasa dengan suhu kota ini." Zifa pun langsung mengambilkan makan untuk Ghava yang masih membenamkan tubuhnya di balik selimut.
Satu piring nasi dengan bebek bakar dan sambal ijo Zifa hidangkan untuk Ghava. di mana Ghava juga tadi sangat ingin makan malam dengan bebek bakar, nah meskipun tadi tidak sempat makan karena Zifa, tetapi kini Zifa gantikan menu makan yang tadi tidak sempat Ghava nikmati.
"Mas, bangun dulu, pake baju dan makan dulu, biar kamu tidak sakit." Zifa yang merasa hutang budi pada Ghava pun akhirnya mengurus Ghava dengan telaten, Zifa tidak tega melihat Ghava yang seperti lemas. Padahal Ghava lemas karena sejak siang hari ia belum makan, sehingga ketika Zifa membangunkanya untuk makan Ghava langsung bangun.
"Pake bajunya dulu." Zifa menjulurkan pakeian Alwi untuk Ghava. Laki-laki yang tubuhnya terbungkus selimut itu mengambilnya.
"Terima kasih Fa, Bang." Bola mata Ghava melirik pada Alwi dan Zifa.
"Iya pakeilah, jangan sampai kamu sakit. Harus pandai-paandai jaga kesehatan, karena cuaca di sini itu memang buat pendatang kadang terasa tidak enak di badan," balas Alwi dia masih menikmati makan malam bersama Zara, Tasi dan Beni sedangkan pengasuh Raja dan Ratu, yang bernama Sisri, sudah makan lebih dulu dan sekarang sudah dilantai atas menjaga anak asuhnya.
Ghava hanya membalas dengan anggukan, sementara Zifa sudah pergi kedapur untuk membuat minuman jahe hangat, untuk dirinya yang tadi sempat kena air hujan dan tentu juga untuk Ghava.
Ghava sebenarnya sejak pertama kali bertemu dengan Ifa dan Ara seperti sudah sangat familiar wajahnya, tetapi ia lupa. Apakan memang dia mengenal Ifa dan Ara atau karena mukanya pasaran.
Yang lain sudah selesai makan malam dan mereka melanjutkan pekerjaanya di mana tinggal mendekor ruangan depan, sementara Tasi dan Zara menyiapkan keperluan untuk oderan besok, dan setelah semua persiapan selesai mereka akan berajak ke lantai dua untuk istirahat, dan besok pagi mereka akan bangun lebih awal, untuk memulai aktifitasnya.
"Mas kok nasinya belum di makan?" tanya Zifa yang melihat nasi yang ia sengaja ambilkan untuk makan Ghava malah masih utuh.
"Kamu juga belum makan, ayo makan bareng, enggak enak lah kalau makan sendiri," balas Ghava tanganya menepuk-nepuk tempat di samping Ghava.
Zifa yang memang berniat makan seblak masuk lagi ke dapur dan mengambil satu mangkok untuk wadah seblak yang tadi dia beli, dan membayangkan makan seblak hangat pasti enak, tetapi sekarang bukan hangat lagi, tetapi sudah dingin, tapi tetap saja Zifa makan.
"Itu apa Fah?" tanya Ghava yang melihat makanan dengan kuah merah sepertinya sangat pedas rasanya. Ghava heran apa makanan kaya gitu tidak sakit perutnya.
"Ini kalau di sini namanya seblak Mas, pernah makan seblak tidak?" tanya Zifa, ketika melihat reaksi Ghava seperti aneh gitu lihatnya.
Ghava menggelengkan kepalanya. " Mie ayam bukan sih?" tanya Ghava yang benar-benar buntu tidak bisa menebak apa itu seblak.
"Bukan, kok mie ayam sih, seblak. Mau cobain?" tanya Zifa, sembari menjulurkan mangkoknya.
"Boleh deh penasaran," ucap Ghava dengan mengambil sendok yang lain, sebelum mencobainya Ghava mengaduk-aduk isinya, ada irisan sosis, baso, tulang dan sawi dan entah lah Ghava tidak begitu tahu isi nya. Satu sendok isian yang dia tidak tahu dan kuah Ghava masukan ke dalam mulutnya.
Uhuuukkk... Uhuuukkk... Ghava terbatuk-batuk setelah mencicipi satu sendok, yang Zifa bilang seblak itu. Tanganyanya langsung menyambar air putih yang ada di atas meja. Lidahnya serasa terbakaar dengan kuah yang bagi Ghava sangat aneh rasanya, hanya terasa pedas.