
Setelah Zara dipastikan tenang, dan juga Zifa dan Alwi sedikit bercerita yang ringan ringan agar mereka tidak mengantuk, sementara bunda Anna, sudah pergi beristirahat. Itu karena Zifa yang memintanya, kasihan apabila bunda Anna kurang istirahat, karena di saat siang hari tiba akan banyak pekerjaan yang harus bunda Anna kerjakan.
"Jadi kaka saya bukan down syndrom Dok?" tanya Zifa, sebenarnya dia sudah tidak terlalu kaget sih, di mana Kemal juga kemarin-kemarin kekeh yakin bahwa Zifa bukan Down Syndrom.
"Apa kakak kamu sebelumnya sudah melakukan pegecekan fisik, IQ dan lain sebagainya?" tanya Alwi.
Zifa menggeleng, dan memang benar kondisi perekonomian yang tidak memadai hanya cukup untuk makan memaksa ibu menerima kondisi Zara begitu saja.
"Itu artinya hanya dugaan saja kan? Apa kamu tahu ciri-ciri fisik penderita kelainan genetik itu?" tanya Alwi lagi.
Zifa lagi-lagi menggeleng. "Ibu yang bilang, dan ibu tahu dari tetangga kalau Kak Zara menderita Down Syndrom," lirih Zifa dengan jujur.
Alwi tertawa renyah. "Memang seperti ini sering terjadi. Diagnosan sendiri tanpa pemeriksaan dan ilmu jatuhnya pembodohan publik. Ciri-ciri penderita Down Syndrom itu sebenarnya dari fisik sudah bisa terlihat. Dan pertama aku melihat fisik kakak kamu, tidak ada satu pun yang menunjukan bahwa dia mengalami kelainan genetik. Ya down syndrom sebagian terjadi karena adanya kegagalan pembelahan sel telur/sp*rma. Di mana ciri-cirinya biasanya, hidung pesek, kepala besar, tubuh pendek, mata, telinga kecil dan lain sebagainya. Apa di tubuh kakak kamu ada ciri-ciri itu?"
Zifa menggeleng, ada kelegaan kalau kakanya bukan Down Syndrom. "Tapi kalau bukan Down Syndrom lalu kak Zara kenapa?" tanya Zifa.
"Duganku dan biasanya benar juga tanpa harus ada pemeriksaan lebih, tetapi apabila ingin yakin seharusnya diadakan pemeriksaan menyeluruh dari IQ dan lain sebagainya. Tapi kalau aku lihat kakak kamu hanya mengindap Retardasi Mental di mana IQ rendah dan intelektual dan adaptasi kurang atau bahkan tidak dibolehkan untuk beradaptasi dengan lingkungan luar oleh ibu/ papah kamu. Di mana dia mengalami masalah dalam penyesuaian diri dalam kehidupan sehari-hari. Seperti belajar, berbicara, beradaptasi dalam sosial maupun fisik. Perlu dipahami, baik atau kurangnya perkembangan orang dengan retardasi mental tergantung pada lingkungan di sekitarnya. Hal ini berarti keluarga sangat berperan besar untuk mendukung dan membantu anak menjadi mandiri. Baik orang tua atau saudara kandung harus bisa menerima keterbatasan anak untuk menjalankan pengasuhan yang tepat dan sesuai kebutuhannya. Anak dengan retardasi mental dalam kategori ringan bisa terus dilatih agar ia mampu hidup mandiri. Dengan begitu, ia tidak akan bergantung pada orang lain. Apabila terlalu memanjakannya dengan tanpa memberi bekal kemampuan apa pun, maka bisa menjadi bumerang di masa depan anak, dan jawabanya ada di kamu. Bagai mana keluarga kamu meperlakukan Zara dirumah dulu, kamu tentu lebih tahu." Dokter Alwi yang memang telah mengenyam pendidikan lebih dari sepuluh tahun untuk mendalami dengan kejiwaan tentu sangat paham dengan kasus Zara.
Zifa akui ibunya memang tidak memberikan perlatihan terhadap kakaknya, asal kakaknya diam ibu tidak jadi masalah dengan sikapnya yang dianggap orang seperti orang gila dan lain sebagainya. Dan akibatnya sekarang kakanya kesulitan mengolah daya ingatnya, dan sulit mengartikan bahwa yang ada dihadapinya kenyataan atau khayalanya saja.
"Tapi kasus seperti Kak Zara kira-kira bisa di tangani tidak Dok?" tanya Zara untuk memastikan ketenanganya pikiranya.
"Bisa, justru lebih mudah karena pada dasarnya IQ rendah bisa ditingkatkan tentunya dengan latihan, terapi-terapi ringan, dan Zara pasti bisa melakukanya," jawab Alwi dengan yakin
Zifa pun sedikit lega dengan penjelasan dokter Alwi. Dan ada harapan yang besar bahwa kakaknya akan hidup dengan normal.
#Itulah pentingnya ilmu Ifa, jangan diagnosa dari katanya-katanya apalagi kata tetangga udah deh fatal, jadi salah penanganankan#
"Ifa, aku pamit pulang dulu yah, dan untuk sementara untuk terapi kakak kamu nanti aku yang ambil alih, tetapi apabila semuanya aman, dan dia bisa tenang tidak ada kecemasan yang berlebih seperti tadi, maka untuk teraphi selanjutnya bisa diambil alih lagi oleh bunda Anna, aku hanya akan sesekali datang untuk mengecek perkembangan kakak kamu. Aku yakin Zara itu wanita hebat, pasti semuanya kan berjalan sesuai yang kamu inginkan. hanya butuh kesabaran semuanya akan baik-baik saja," Dokter Alwi memberikan motifasi dan semangat untuk Zifa agar dia tidak berkecil hati, dan benar saja Zifa sekarang lebih lega dan bisa lebih tenang.
"Terima kasih Bang atas penjelasan dari Abang sekarang Zifa sedikit lega, dan Zifa semakin yakin bahwa semua yang Zifa inginkan akan tercapai, semoga Zifa bisa di beri kelancaran untuk mencari keadilan ini," ucap Zifa sebelum Alwi benar-benar pamit untuk pulang. Kini Zifa memanggil Alwi bukan dokter lagi, karena Alwi yang menolaknya dokter sepesialis kesehatan jiwa (SpKJ) Psikiater itu ingin di panggil dengan sebutan Abang, dengan alasan agar terlihat akrab.
*****
Sementara di lain tempat Alwi justruĀ tidak bisa tertidur, ia mengingat mantan istri dan anaknya yang telah berpulang. Meskipun kejadian itu sudah berlangsung cukup lama yaitu sudah berlangsung selama lima tahun tahun lamanya tetapi kejadian itu tidak bisa Alwi lupakan.
Ingatanya terbang dimana ia pertama kali bertemu istrinya, wanita yang lima tahun menemani dia merajut indahnya pernikahan, Kia dulu adalah korban pemerkosaan yang depresi dan berobat kepada dia. Karena iba melihat gadis yang hampir gila karena pemerkosaan oleh orang yang tidak di kenal, dan tidak bertanggung jawab, terlebih gadis itu yang bernama Kia ternyata hamil. Alwi yang memang sudah jatuh hati dengan gadis itu di saat pertama memeriksakan diri pada dia dan kasihan apabila mengetahui dirinya hamil tentu akan semakin depresi, Alwi memutuskan untuk menikahi gadis itu. Rumah tangga mereka berjalan dengan harmonis terlebih setelah Kia sembuh dari depresinya dan di karuniai putri yang sangat cantik di beri nama Mecca, tetapi kebahagiaan rumah tangganya harus direnggut paksa oleh takdir yang kejam.
Kia dan Mecca yang saat itu akan menjemput Alwi di bandara mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah dan membuat keduanya kehilangan nyawa dalam tempat kejadian. Awan cerah seketika gelap gulita, ketika Alwi yang tengah menunggu di bandara, di telpon oleh polisi dan mengabarkan apa yang terjadi pada istri dan buah hatinya.
Meskipun Mecca bukan darah dagingnya, tetapi kasih sayang Alwi sudah melebihi dari segalanya, dan saat itu di mana Mecca yang baru berusia empat tahun dan tengah lucu dan bawel-bawelnya harus Alwi relakan kepangkuan ilahi, berserta Kia, istri yang selalu bisa mebuat Alwi bangga dengan kesabaranya.
"Kia, Mecca papah kangen sayang, jadilah bidadari surga untuk papah yah," batin Alwi yang pikiranya kembali mengenang peristiwa itu, dan kini dia di pertemukan lagi dengan gadis yang bernasib sama, tetapi kasus yang Zara alami lebih rumit dengan yang Kia alami, sehingga akan butuh waktu yang cukup lama. Kecuali keajaiban Tuhan datang pada Zara.
*****
Pagi hari menjelang mata Zifa masih terasa berat ketika tubuh yang sejak semalam dia peluk bergerak dan membangunkan dirinya.
"Ifa, bobo sini?" tanya Zara dengan wajah berseri bahagia ketika dia bangun dan ada adiknya yang sedang memeluk dirinya.
"Kakak udah bangun, iya maaf yah Ifa pulang sekolahnya malam, jadi kakak udah bobo Ifa baru pulang," jawab Zifa dengan mata yang masih terpejam, masih berat matanya karena ia baru tidur beberapa jam yang lalu, dan kini ia harus bangun karena kakaknya sudah bangun. Zifa akan melatih kakaknya untuk mandi sendiri dan itu semua bunda Anna yang mengajarkan, memang sebelumya Zifa juga kadang mandi sendiri hanya saja mandinya kurang bersih apabila sendiri, sehingga dari situ menjadi kebiasaan di mandikan terus dan membuat Zara malas untuk mandi sendiri.
"Ifa, Ara lapar," ujar Zara di mana dia kalau pagi pasti akan kelaparan, kadang ia terbangun karena babynya yang kelaparan di dalam sana. Zifa yang memang sudah mempersiapkan semuanya pun mengambil satu bungkus ropi dengan rasa setrobery kesukaan Zara. "Kakak makan roti dulu mau tidak?" tanya Zifa sembari mengacungkan roti kesukaan Zara.
"Mau Ifa." Zara dengan antusias mengajung-ajungkan tanganya agar Zifa segera memberika roti itu. "Enak Ifa, Ifa Mau?" Zara menyodorkan bungkus rotinya menawarkan pada Zifa yang mungkin saja mau dengan roti yang sedang Zara makan.
"Tidak, buat kakak saja, Zifa sudah kenyang." tolak Zifa agar Zara yang makanya, terlihat sekali dari cara Zara makan sangat kelaparan, di mana di dalam perutnya ada dua nyawa sehingga Zifa harus lebih banyak membeli setok makanan untuk kakaknya apabila terbangun di tengah malam atau pagi seperti ini di mana makanan untuk sarapan belum siap. Zara bisa memakan cemilan atau makanan pengganjal agar anak-anaknya tidak kelaparan.
"Semoga yang di katakan Dokter Alwi benar yah kak, kakak pasti bisa hidup dengan normal," batin Zifa sembari terus menatap Zara yang masih asik mengunyah roti.