Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Final, Kabar Bahagia


Kini Abas  bisa bernafas lega, setelah laki-laki itu bisa meyakinkan kedua orang tua Wina untuk memberikan waktu Ghava mengembangkan bisnisnya. Meskipun awalnya mereka dengan lantang menolak keinginan Ghava dan Abas untuk  mengundur pernikahan mereka yang mana hingga waktu lima tahun, tetapi setelah terus diyakinkan dan Abas pun berjanji bahwa adiknya tidak akan menghianati cinta mereka sehingga orang tua Wina pun setuju.


Tidak hanya itu Wina juga awal menolak untuk mengikuti kemauan calon suami, tetapi setelah orang tuanya setuju, wanita itu pun setuju.


Ini padahal  urusan Ghava, tetapi Abas ikut senang dan merasakan lega ketika usahanya tidak sia-sia, berbeda dengan Ghava yang bahagia dengan  kesepakatan ini, Eira justru terlihat sangat sedih, mukanya ditekuk.


"Mamih kenapa sedih seperti itu sih?" tanya Abas basa-basi, tentu jawabanya adalah karena keluarga Wina yang ternyata menyetujui saran pengunduran pernikahan Ghava dan Wina.


"Mamih sedih lah Abas, padahal kemarin Mamih sudah senang kalau adik kamu akan menikah dengan Wina, dan Mamih juga berharap dengan pernikahan adik kamu dan Wina mereka akan hidup bahagia dan segera memberikan Mamih cucu dan momongan sehingga Mamih tidak kesepian. Gimana Mamih tidak senang dan berharap banyak pada Ghava, sementara kamu menikah dengan Lyra sudah sepuluh tahun tetapi tidak juga memiliki anak. Terus apa kamu akan mempertahankan Lyra terus hingga kalian tua tanpa adanya anak," balas Eira, justru merembet-merembet ke masalah rumah tangga dirinya dan Lyra, yang sudah jelas pasti yang di bahas anak dan anak.


Abas bukanya tidak punya hati dengan Lyra, sebenarnya Abas sebagai laki-laki juga kasihan dengan Lyra yang selalu di pojokan oleh orang tuanya, padahal menjadi Lyra juga tidak enak dan tidaklah mudah. Padahal selama ini Lyra baik banget tidak sekalipun Lyra membicarakan keburukan mertuanya dan tidak pula Lyra membicarakan keburukan suaminya di depan orang tuanya yang kalau ia mau  melakukanya pasti kedua keluarga kaya raya itu hubungan persahabatannya akan semakin runyam, tetapi justru kelemahan Lyra yang tidak berani mengatakan bagaimana kondisi rumah tangganya justru di manfaatkan oleh Eira untuk menekan Lyra agar mengizinkan Abas untuk memiliki madu.


Abas tidak membalas ucapan Eira, karena pada ujungnya pasti akan membahas poligami atau sewa rahim dan membiarkan Lyra sedih dengan lukanya. Sedangkan Abas sedang berpikir ingin memperbaiki hubunganya dengan Lyra, setidaknya tidak seperti saat ini yang saling bermusuhan, dan perang dingin, tidak ada kata yang terucap dari bibir Lyra maupun Abas.


"Apa kamu masih tidak mau menikah lagi Abas?" tanya Eira, dan hal itu terdengar biasa oleh Abas, karena memang pertanyaan itu entah sudah berapa puluh kali yang di bahas nikah dan nikah, sedangkan dalam diri Abas juga takut kalau nikah lagi ternyata malah ia akan merasakan nasib yang sama yaitu tidak memiliki anak lagi, alias istrinya nanti tidak bisa hamil lagi.


"Mamih, apa Mamih tidak bisa sedikit saja memberikan waktu untuk Abas dan Lyra berusaha lagi, kasihan Lyra dia juga wanita sama seperti Mamih dan kalau suaminya menikah lagi atau bahkan menyewa rahim dari orang lain, pasti perasaanya akan sedih, dan juga Abas juga takut kalau nanti Abas dan Lyra sudah berpisah lalu menikah lagi tetapi nasibnya tidak sebaik yang Mamih harapkan gimana? Apa Mamih tidak kasihan dengan Abas yang malah nanti di tertawakan oleh Lyra," ucap Abas berusaha meminta pengertian dari mamihnya, cape dan lelah itulah yang Abas rasakan.


"Tapikan setidaknya kamu berusaha, dan lagian bukanya hubungan kamu dan Lyra juga sudah buruk apa masih bisa kamu perbaiki hubungan kalian?" cetus Eira, dengan nada yang meremehkan.


"Memang benar hubungan kami sedang sedikit ada masalah dan itu semua datangnya adalah dari Mamih. Kalu Mamih tidak terlalu ikut campur urusan kami tidak mungkin kami bernasib seperti ini. Mungkin kami akan tetap terlihat harmonis," balas Abas, saat ini ia lebih berani untuk melawan mamihnya. Meskipun belum tentu hasil berdebatnya dia akan sesuai dengan apa yang Abas inginkan.


Eira tertawa renyah, ketika mendengar ucapan dari Abas anaknya yang selaalu menuruti apa omongan dia. "Lama-lama Mamih melihat kalian itu sepertinya sedang terlibat  melakukan perlawanan agar Mamih bisa mengerti pikiran kalian tanpa kalian mau mengerti apa pikiran Mamih. Mamih juga malu loh Abas setiap kumpul-kumpul dengan teman-teman Mamih mereka semua pada pamer cucu,bahkan cucu-cucu mereka sangat imut dan pintar, tetapi kenapa kamu malah tidak bisa mengerti gimana sedihnya Mamih apabila mereka bertanya, mana cucunya, cucunya sudah berapa? Atau malah, Jenk bawa dong cucunya, itu rasanya sangat sakit Ghava, rasanya seperti kita itu di permalukan di depan umum," adu Eira dengan perasaan yang bercampur aduk.


Seketika itu juga Eira memalingkan pandanganya pada wajah anaknya yang mana saat ini anak laki-laki pertamanya tengah fokus menatap jalanan ibu kota yang sudah sedikit mengurai ke padatanya, di mana saat ini sudah hampir jam makan siang sehingga kepadatan tidak seramai pagi hari atau bahkan sore hari.


"Kamu sekarang makin kurang ajar yah Abas, makin tidak tahu diuntung, padahal Mamih cuma minta cucu kenapa kamu seperti malah mencari gara-gara dengan Mamih," dengus Eira dengan menatap Abas tajam.


"Jadi ingin Mamih aku cerai dengan Lyra? Kalu memang itu mau Mamih, nanti Abas akan sampaikan apa yang jadi kemauan Mamih, mungkin saja Lyra menikah dengan orang lain malah bisa memiliki keturunan dan sebaliknya Abas akan tetapi sulit memiliki anak," balas Abas, dingin dan fokusnya tetap menatap jalanan.


Plaakkk... Sebuah tamparan yang panas dirasakan oleh Abas. "Hati-hati kalau kamu ngomong Abas karena bisa saja itu adalah doa dan dicatat oleh malaikat dan di aminkan oleh Sang Pengusa, apa kamu mau selamanya kamu tidak punya anak." Terlihat sekali kemarahan dari mamihnya.


Sedangkan sebaliknya Abas tetap santai. Lagian memang biasanya yang menyakiti hidupnya akan sulit dan yang tersakiti biasanya hidupnya akan jauh lebih baik dari yang menyakiti, dan Abas tahu dan yakin akan pepatah itu.


Kini merek


a sudah sampai di rumah mewah kediama Eira, Abas hanya pulang mengantarkan Mamihnya dan akan berajak lagi pergi untuk kekantor.


"Ingat kamu harus pikirkan ucapan Mamih, bicarakan pada Lyra apa rencana kamu, dan nanti Mamih akan hubungi teman-teman Mamih untuk menjodohkan kamu dengan anak-anak mereka," ucap Eira, sebelum wanita paruh baya itu benar-benar turun dari dalam mobilnya.


"Mamih atur saja, aku akan berbicara dengan Lyra," balas Abas tidak kalah dingin.


"Aku akan membebaskan Lyra untuk mencari kehidupan yang lebih bahagia lagi, dan lagian dia juga belum tentu kalau tetap bertahan dengan aku akan bahagia, lebih baik dia mencari kebahagiaanya yang baru," batin Ghava dengan sangat yakin bahwa keputusanya kali ini tidak akan membuat Lyra sakit hati, karena ia melakukanya demi kebaikan bersama.


"Kendaraan yang sudah melesat dan akan menuju kantornya, kini Abas putar arah untuk menemui Lyra di tempat kerjanya. Lebih cepat lebih baik itu yang ada dalam pikiran Abas, bahkan ia lupa belum mengirimkan kabar bahagianya pada Ghava.