
Orlin, kamu jangan pikirkan omongan Eira. Kamu harus tetap makan-makanan yang bergizi seperti yang dokter katakan, dan soal fisik ataupun perkembangan bayi itu yang nantinya memiliki kelainan kamu jangan pikirkan, kamu harus terus berusaha membuat anak itu sehat dan kamu sendiri juga sehat. Jangan sampai kamu nantinya akan sedih dan menyesal karena keteledoran kamu dalam merawat anak kamu selama di dalam kandungan," lirih Omar yang mana ia lebih bisa menerima semua yang terjadi dalam keluarganya.
Omar tidak mau lagi hanya diam menutupi kekacauan di keluarganya. Mungkin kalau Omar lebih tegas semuanya tidak akan terjadi serumit ini masalah dalam keluarganya.
Setelah Orlin merasa tenang kini mereka (Orlin dan Abas) pulang kerumah, tanpa ada obrolan yang berarti dari keduanya. Mereka masih dalam pikiran masing-masing. Hanya deru mobil yang terdengar di sana. Abas sibuk dengan pikiranya sediri, ia justru sibuk memikirkan wanita yang pernah ia permainkan, dan hanya dengan iming-iming permen Abas meniduri Zara yang memiliki keterbelakangan pola pikirnya, dan sekarang anaknya mengalami nasib yang hampir sama dengan Zara.
"Apa ini yang namanya karma?" batin Abas sepanjang perjalanan pulang laki-laki itu tidak henti-hentinya memikirkan karma itu. Tidak hanya itu Abas juga jadi terfikirkan kembali dengan ucapan Lyra, di mana secara tidak langsung Lyra mengetahu perbuatanya pada Zara dan mengetahukalu wanita yang memiliki keterbelakangan mental itu adalah boneka s*knya.
"Kira-kira apa anak dari wanita itu juga memiliki nasib yang sama dengan wanita itu?" lirih Abas lagi dalam batinya. Ketika Abas sibuk dengan dosa-dosanyanya. Orlin justru di dalam pikiranya sudah di penuhi dengan ketidak siapanya ketika ia akan mendapatkan anak, tetapi justru secara tidak langsung ia akan membuat malu keluarga seperti yang di katakan oleh mamih mertuanya 'Hany akan membikin malu nantinya' ucapan Eira masih terngiang terus menerus.
"Apa anak aku nanti hanya akan membuat malu pada keluarga?" batin Orlin, wanita itu tentu tahu kalau di saat usia sudah menginjak umur tujuh bulan kandungan itu tandanya ia tidak bisa menggugurkanya, dan itu tandanya di hanya tinggal menunggu takdir, tanpa bisa menyembunyikanya.
Air mata pun menetes di pipi mulus Orlin. Ia tidak menyangka bahwa kebahagiaanya hanya sesaat.
"Kenapa harus anak ini ya Tuhan, kenapa harus anak ini yang mendapatkan nasib yang tidak adil seperti ini? Kenapa bukan orang lain saja yang bernasib seperti ini. Aku tidak sanggup ya Tuhan kalau harus menanggung malu ini," batin Orlin. Bahkan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Orlin menatap pada suaminya yang hanya diam sejak tadi. "Apa kita gu-gurkan saja anak ini? Biar semuanya terhindar dari malu yang akan datang pada keluarga kamu dan keluargaku?" lirih Orlin membuat Abas tersadar dari lamunanya.
Laki-laki yang sedari tadi juga tengah melamun memalingkan pandanganya pada Orlin. "Jangan gila kamu Orlin. Anak itu anak kamu juga darah daging kamu, apa kamu tega membu-nuh anak itu. Bahkan harimau saja tidak akan tega membunuh anaknya, tapi kenapa kamu tidak memiliki rasa kasihan sedikit pun," ucap Abas dengan suara yang terdengar penuh emosi itu.
"Aku hanya menawarkan solusi, aku tahu kalau ibu kamu tidak ingin anak ini. Anak ini hanya akan bikin malu, itu yang dikatakan oleh ibu kamu," balas Orlin, suaranya tidak kalah tinggi dari Abas.
"Anak itu juga ingin hidup, dan dikasihi oleh orang-orang disekitarnya, tapi kenapa kamu ibunya ingin membu-nuh dia. Apa aku mengatakan kalau anak itu hanya akan membawa malu? Kamu wanita tidak punya hati," bentak Abas yang dalam pikiranya sendiri sebenarnya laki-laki itu juga belum bisa seratus persen menerima berita ini. Menerima kalau anaknya akan mengalami down syndrom, yang penderitanya masih di pandang sebelah mata di negri ini.
"Bukanya Mamih kamu yang tidak punya hati, dia yang mengatakan kalau anak ini hanya bikin balu Abas. Lalu kenapa kamu mengatakan kalau aku yang tidak memiliki hati? Kalian itu memang manusia aneh. Aku jadi curiga kalau yang dikatakan oleh Lyra adalah sebuah kebenaran. Kalau kamu itu memang suka mempermainkan wanita, dan saat ini bayi yang aku kandung adalah karma atas apa yang kalian perbuat," cibir Orlin dengan bibir terangkat sebelah, senyum mengejek.
"Aku malah berdoa kalau apa yang dikatakan oleh Lyra adalah suatu kebenaran dan aku akan mencari anak aku itu dan hidup bersama, dari pada hidup dengan kalian yang selalu menyalahkan orang lain dengan apa yang terjadi dengan kalian," bentak balik Abas yang tanpa sadar ia tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Orlin.
"Pergilah, cari wanita itu dan anak kamu, biarkan aku kembali sendiri dan anak ini bisa aku buang setelah lahir. Masih banyak panti asuhan yang mau menampung anak ini," racau Orlin dengan suara yang bergetar. Laki-laki dan perempuan yang menyadang setatus suami istri itu tidak ada yang mau mengalah, sehingga perjalanan mereka di penuhi dengan pertengkaran yang sengit.
Abas hanya diam saja tidak mengidahkan dengan apa yang dikatakan oleh Orlin. Kakinya terus menginjak pedal mobilnya, justru semakin dalam dan mobil melaju dengan semakin kencang.
"Abas, antarkan aku ke rumah keluargaku. Aku ingin tenang tinggal di sana, bukan di rumah keluargamu yang seperti neraka itu,' bentak Orlin semakin menjadi. Pernikahan yang ia pikirkan akan bahagia justru sebaliknya yang Orlin rasakan.
" Pantas saja Lyra memilih tidak memiliki anak dari laki-laki ini, dan diceritakan ternyata sifat mereka seperti ini," batin Orlin semakin sesak. Ia sudah terikat dengan keadaan sehingga lari pun akan sulit.
Abas yang sedang dikuasai oleh hawa kemarahan pun semakin mengabaikan ucapan Orlin. Tujuanya bahkan semaki tidak jelas, rumah mereka sudah terlewatkan. Hati Orlin sedikit lega ketika melihat Abas tidak jadi membelokkan kendaraannya ke rumah mewah keluarganya. Orlin yang mengira kalau dirinya akan diantarkan pulang ke rumah keluarganya pun diam, dan badanya disandarkan ke sandaran kursi penumpang.
"Abas kamu akan bawa aku kemana?" tanya Orlin yang ia baru sadar bahwa Abas justru membawanya kelain arah. Wanita itu tidak mendapatkan jawaban dari laki-laki yang sedang duduk dengan tatapan lurus ke depan, tetapi bisa Orlin tahu kalau pikiran Abas sedang tidak ada di tubuhnya, alias dia sedang melamun.
"Abas, kamu jangan macam-macam yah. Ini jalur tol kamu mau kemana?" tanya Orlin yang semakin panik dan tubuhnya di putar ke belakang dan mengamati samping. Orlin semakin merasakan merinding ketika ia sadar bahwa mobil yang sedang ia taiki melebihi batas maksimum kecepatan berkendara.
Ia menghirup nafas yang semakin berat. Bahkan wanita itu sudah pasrah kalau memang perjalanan hidupnya hanya sampai di sini.
Rasa yang tandinya panik berlebih kini hilang. Orlin kembali menyenderkan tubuhnya dan matanya di pejamkan dengan sempurna, seolah wanita itu sudah siap apapun yang sekiranya terjadi dengan mobil yang ia taiki.
Tanganya mengambil ponselnya.
[Mih, kangen] itu pesan yang dikirimkan oleh Orlin pada mamihnya, ini adalah cara yang ia lakukan untuk mengurangi ketakutanya.
[Mamih, Orlin ingin pulang.]
[Mih, Orlin sayang Mamih.]
[Mih, Orlin ingin ada di samping Mamih.]
Bruuukkkkkk..... Cittttt.... Auwww...