
Eira mengangkat telponya, ketika kedua matanya menatap nama siapa yang menelepon di layar pintarnya.
Namun, sebelum ia mengangkat telpon wanita itu lebih dulu meninggalkan Kemal dan Omar yang masih menunggu Abas.
[Gimana? Apa kalian sudah mendapatkan info-info itu. Ini sudah hampir satu bulan pengintaian kalian masa kalian belum juga mendapatkan informasi apa-apa, ngapain saja kalian itu, apa sebegitu sulitnya kalian mencari kecoa-kecoa itu,] lirih Eira, berbicara dengan suara setengah tertahan di balik dinding kamar mandi.
Eira memang sejak kejadian Lyra yang membongkar semuanya diacara pesta kehamilan Orlin langsung mencari tahu tentang anak-anak almarhum bu Farida.
[Sudah Nyonya, dan anak Anda, Ghava memang menikah dengan anak dari tukang cuci itu.] balas penelepon misterius yang berada di sebrang telpon Eira.
[Lalu wanita yang aku katakan itu gimana nasibnya? Apa memang dia memiliki anak dari Abas, dan kondisi anaknya gimana?} cecar Eira tanpa sadar suaranya sudah tidak sepelan tadi.
[Kalau yang itu, kami belum bisa menemukan informasi apa-apa nyonyah, tetapi saya berjanji semuanya akan segera terjawab,} ucap sang persuruh Eira, yang ternyata diam-diam Eira mencari tahu tentang semua yang menimpa anak-anak dari tukang cuci yang terbunuh dirumahnya.
[Ok, baiklah kamu katakan di mana wanita itu tinggal dan juga Ghava, setidaknya aku harus kasih pelajaran untuk wanita itu biar jangan dekatin anakku, pasti dia pakai susuk sehingga bisa dengan mudah dia mendapatkan Ghava.] Eira mengepalkan tanganya hinga buku-buku jarinya mengeras.
Telepon pun Eira langsung matikan ketika wanita itu sudah mengantongi alat rumah Ghava di mana di sana ada Zifa. "Tidak akan aku biarkan kamu mencari keadilan dasar kecoa busuk," dengus Eira dengan mengepal tanganya semakin kuat.
Ternyataa rencana Zifa sudah tembus ke telinga Eira sehingga wanita itu mencari tahu semuanya, dan akan menggagalkan rencana wanita itu dengan rencana yang Eira sendiri sangat yakin tidak ada yang tahu akan rencananya, dan dia bisa menyingkirkan wanita itu tanpa ada yang curiga kalau dialah pelakunya.
Eira kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas sakunya, dan merapihkan pakaian dan juga wajahnya, suasana hatinya sedang baik sehingga wajah dipoles dengan lebih cerah menunjukkan kegembiraan. Tanpa Eira tahu begitu dirinya beranjak untuk mengangkat teleponya, Kemal yang curiga pun mengikuti sang mamih.
"Mih, Kemal pikir Mamih akan berpikir dan bertaubat setidaknya meminta maaf pada Zifa dan Zara, tetapi justru Mamih mau menyingkirkan mereka," lirih Kemal tanganya memegang dadanya yang semakin sakit. Laki-laki yang saat ini sudah berusia dua puluh dua tahun itu tidak menyangka kalau wanita yang telah melahirkanya ternyata sangat menyeramkan.
"Kemal sampai saat ini masih berharap kalau yang terjadi pada Bu Farida adalah sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja, dan Kemal masih mencari bukti agar Mamahnya bisa lolos dari masalah ini dan tidak harus dihukum atas kematian Bu Farida, tapi kenapa semakin kesini Kemal justru semakin dibuat yakin kalau yang terjadi pada Bu Farida adalah sebuah pembunuhan yang terencana, dan Mamih sudah lama merencanakanya." Kemal tanpa terasa meneteskan air matanya duduk di lantai menatap punggung wanita yang telah melahirkanya perlahan hilang dari jangkauan matanya.
Kepala Kemal di lemparkan kebelakang, tanganya menjambak rambutnya. Laki-laki itu bingung bagaimana menghentikan rencana mamihnya, tidak mungkin Kemal nasihati dengan terbuka. Ia yakin semakin Eira dinasihati semakin bergejolak rasa dihatinya yang mungkin akan berbuat lebih sadis dari saat ini.
"Kalau Mamih saja bisa memiliki rencana yang sama sekali tidak bisa ditebak. Berati Kemal juga tidak ada salahnya memiliki rencana yang seperti Mamih," batin Kemal. Tanganya mengusap air mata yang menetes di pipinya, dan tubuh yang lemas ia paksa berdiri. Ia tidak menyangka sama sekali kalau masalah bertubi-tubi datang pada keluarganya. Sang abang saja sedang berjuang antara hidup dan mati, tetapi kenapa mamihnya justru membuat pikiranya semakin terpecah dengan kondisi keluarganya saat ini.
"Aku tidak boleh membiarkan Mamih pergi kemanapun seorang diri, bisa saja Mamih merencanakan sesuatu untuk Zifa. Apa aku harus kasih tahu Ghava?" gumam Kemal, tatapan matanya menatap pantulan tubuhnya di cermin yang ada di hadapanya saat ini.
Tanganya mengusap wajahnya yang saat ini sudah semakin tua dari umurnya sekarang. Ia tersenyum getir selama ini sibuk mencari bukti ini itu untuk Zifa, tetapi justru tanpa sadar dia sudah mendaptkan jawaban dari yang ia cari-cari selama ini, dengan sangat mudah.
Eira yang dengan sendirinya mengakui kejahatanya, dan seolah usahanya selama ini sia-sia karena memang yang terjadi pada Zifa atas kesalahan ibunya yang merencanakan semuanya.
*******
Di tempat lain....
Pagi hari menyapa seperti hari-hari sebelumnya Zifa bangun lebih pagi, dari suaminya. Setelah istirahat dan mencoba berdamai dengan persaanya kini Zifa pun sedikit bisa menerima apa yang membuatnya sedih semalaman. Terlebih setelah pagi-pagi seperti biasa Sisri mengirimkan vidio dari dua ponakanya yang sedang belajar berenang. Saking senangnya belajar berenang sampai mereka berdua bangun di pagi hari langsung bermain air.
Zifa dan Zara pantas bersyukur dengan semua yang terjadi, di mana Raja dan Ratu terpenuhi fasilitasnya sangat baik oleh Alwi yang notabenya tidak ada hubunganya sama sekali dengan Zifa dan juga Zara. Meskipun Raja dan Ratu tidak diakui oleh keluarga papah kandungnya, tetapi ada Alwi yang memberikan kebutuhanya lebih dari keluarga ayah biologisnya.
Pagi ini Zifa merasakan senang bukan karena memihat Raja dan Raju saja yang sedang bahagia-bahagia, tetapi juga Zara di pagi hari ini sudah tidak lagi sedih seperti kemarin sore. Kalau mereka saja bisa kembali bahagia dengan kehidupan ini. Zifa pun harus bahagia juga. Setelah membersihkan tubuhnya wanita itu kembali duduk di atas sova di kamarnya. Ia tidak ingin keluar kamar kalau tidak sama Ghava rumah ini masih asing untuk Zifa sehingga dia hanya duduk bermain hape membaca-baca berita, melihat gosip dan tentunya yang tidak ketinggalan membaca novel online karya othor Ocybasoaci dan OcyAenta (Pf lain)
"Semalam tidur jam berapa kenapa di jam segini belum bangun," gumam Zifa menatap Ghava yang masih tertidur dengan pulas. Sebenarnya perut Zifa sudah lapar, terlebih sejak siang kemarin dia belum makan. Tapi Zifa mau keluar dulu juga tidak berani.
"Aduh lapar banget," gumam Zifa, ekor matanya melirik jam didinding dan jarum jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. Padahal masih tergolong pagi, tetapi perutnya benar-benar tidak bisa dikondisikan. Perih banget.
Zifa pun yang sudah tidak tahan lagi, beranjak dari duduknya dan membangunkan suaminya. agar bangun dan segera sarapan. Perutnya sudah tidak bisa tertolong.
"Mas.... Mas... bangun Mas..." Zifa menepuk pundak Ghava pelan. Cuup lama Zifa membangunkan. Mungkin karena laki-laki itu cape menempuh perjalanan darat yang cukup melelahkan tiga jam menyupir kedaraan roda empat, dan sampai rumah masih harus kerja.
Hemmmzzz.... Ghava melentingkan tubuhnya dengan santai. "Astagfirulloh hal azim... Kenapa Fa?" tanya Ghava yang tidak menyadari kalau dia bangun itu karena Zifa yang membangunkanya.
"Buruan mandi, perut Ifa sudah lapar banget" lirih Zifa dengan berdiri di samping Ghava.
"Baiklah aku mandi dulu, tunggu sebentar." Ghava langsung bangkit dan pergi ke kamar mandi, sementara Ghava mandi Zifa merapihkan tempat tidurnya.
"Basah? Apa mungkin Mas Ghava mengalami masturbasi? Ya Tuhan kenapa aku merasa bersalah seperti ini?" batin Zifa, biarkan dia tidak pernah yang namanya berpacaran dan lain sebagainya, tetapi dia bukalah anak gadis yang tidak tahu apa-apa. Dia bisa tahu semua yang terjadi pada wanita dewasa begitupun laki-laki dewasa, dari pelajaran yang dia pelajari.
Ya Tuhan aku sadar kalau hamba berdosa banget dengan mengbaikan suami hamba hingga mengalami mimpi basah, seharusnya ketika memiliki istri maka bisa melayaninya. Zifa yang bingung harus gimana pun hanya merapihkan tempat tidur seadanya ia mau mengganti seprai, tetapi tidak tahu tempat seprai yang bersihnya di mana.
Takutnya nanti kalau diganti malah Ghava merasa tidak enak, sehingga Zifa pun hanya kembali duduk di atas sofa sembari pura-pura tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya.
Ghava keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan badan yang setengah telanjang. "Kamu belum turun Fa?" tanya Ghava yang masih melihat Zifa ada di kamarnya.
"Belum nanti ajah Mas bareng, tidak enak kalau turunya sendiri-sendiri." Zifa mengambilkan pakaian untuk suaminya.
"Terima kasih," ucap Ghava yang sedikit heran kenapa mood Zifa sekarang kembali manis lagi, sedangkan semalam mood istrinya itu sangat ancur, sampai dia sendiri mau mengajak berkomunikasi sangat sulit dan selalu diabaikan.
"Kabar Kakak Zara sudah kembali normal, dan Raja dan Ratu pun baik, itu yang membuat Zifa bahagia pagi ini," jelas Zifa, seolah wanita itu tahu dan mengerti dari tatapan Ghava yang terlihat heran itu.
"Alhamdulillah aku ikut senang dengar kabar ini. Semoga Kakak kamu bisa mengingat kejadian semuanya dan bisa menjadi saksi nantinya yang mungkin saja akan dibutuhkan nantinya," balas Ghava dengan suara yang berat. Zifa tahu betul kalau saat ini berada di posisi Ghava adalah posisi yang paling tidak enak.
Zifa pun membalas dengan senyum terbaiknya.
"Ayuk katanya tadi lapar, kita makan bersama, sebelum aku berangkat kerja, dan kamu tidak masalahkan kalau aku tinggal di rumah seorang diri. Eh... maksud aku tidak ada aku alias hanya bersama asisten rumah tangga," ucap Ghava, tanganya mengulur agar Zifa menggandengnya, kalau Zifa sudah bisa bersikap manis itu tandanya dia sudah tidak masalah berjalan bergandengan tangan seperti yang ia lakukan selama ini.
Lagi-lagi Zifa membalas dengan senyuman manisnya dan menggandeng tangan Ghava tanpa protes sesuatu. Mereka menyusuri anak tangga dengan romantis, bahkan asisten rumah tangga yang melihatnya tersenyum dengan bahagia, karena wajah Ghava yang terlihat sangat bahagia. Mereka tidak akan tahu kalau yang mereka lihat tidaklah sama dengan kenyataan yang terjadi dengan mereka. Bahwa pernikahan mereka saja hanya semacam kerja sama, tanpa adanya hubungan yang seperti orang lain.
"Mas mau makan pake apa?" tanya Zifa sangat manis, dan hal itu justru semakin membuat Ghava bingung dengan istrinya itu. Kedua mata Ghava menatap Zifa dengan heran, tetapi buru-buru dipalingkan, dan mencoba berpikir positif. Mungkin Zifa seperti ini karena Alwi yang sudah menasihatinya. Apalagi Ghava tadi tahu kalau Zifa melakukan pangilan vidio dengan keluarganya, dan tentu Alwi seperti biasa akan mencoba menasihati Zifa, dan wanita itu akn menurut kalau di nasihati dengan Alwi.
"Apa saja Fa," jawab Ghava dengan pasrah, lagian memang makanan yang ada di hadapanya itu adalah makanan yang hampir semua bisa dimakan oleh Ghava.
Zifa pun mengambilkan makanan untuk suaminya, dia sudah tahu porsi makan Ghava sebanyak apa, sehingga dia tidak bertanya lagi langsung tuang-tuang dengan ukuran yang sudah sangat dia hafal.
Setelah menyiapkan makanan Ghava, kini Zifa pun melakukan hal yang sama, menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.
Pagi pertama di rumah yang baru, di nikmati dengan sarapan yang hangat.
"Abas mengalami kecelakaan sekarang kondisinya parah, aku harus menemui keluargaku. Apa kamu mau ikut," ucap Ghava ketiak ia baru saja membaca pesan yang dikirimkan Kemal pagi tadi.
Zifa yang masih sibuk dengan sarapanya, mengangkat wajahnya, seolah mencari tahu keseriusan dari bola mata laki-laki yang ada di hadapanya. Buru-buru Zifa mengerjapkan matanya.
"Aku di rumah saja, takutnya kedatanganku malah membuat suasana semakin tegang, dan kamu berada diposisi yang tidak enak," balas Zifa, biarkan Ghava berbakti pada orang tuanya, untuk sementara waktu.
"Aku akan segera pulang kalau kondisinya sudah memungkinkan," ucap Ghava yang tidak tega meninggalkan Zifa seorang diri.
"Jangan khawatirkan aku, aku bahkan kalau mau bisa hubungi Mbak Lyra untuk menemaniku di sini. Kamu urus saja keluargamu itu, dan jangan bikin aku berdosa karena keberadaanku, membuat kamu jauh dengan keluargamu," ucap Zifa ketus. Zifa kembali fokus dengan makananya.
"Terima kasih karena kamu selalu mengerti aku," ucap Ghava, rasanya hari ini ia sebenarnya sangat berat meninggalkan Zifa di rumah sendirian di mana ini adalah hari pertama Zifa berada di rumahnya dan mungkin dia akan bosan.
"Fa, nanti kamu pergilah jalan-jalan bersama Lyra atau mungkin kamu ajak asisten rumah tangga di rumah ini untuk jalan-jalan ke mall atau kemana gitu. Biar kamu tidak bosan," ucap Ghava sembari memberikan kartu berwarna gelap untuk belanja istrinya. Selama ini Zifa tidak pernah mau memegang kartu-kartu Ghava dengan alasan masih punya uang sendiri.
"Itu gampang Mas, lagian hari ini Zifa masih cape ingin istirahat di rumah. Mungkin lain waktu Zifa akan menghabiskan uang-uang Mas," jawab Zifa tanpa mengangat wajahnya dari makananya.
"Baiklah kalau ada apa-apa kamu langsung hubungin Mas yah, dan jangan sungkan minta bantuan dengan asisten di rumah ini, karena memang mereka ditugaskan untuk membantu semua kebutuhan kamu." Ghava tidak henti-hentinya memperingatkan Zifa. Rasanya ia berat sekali ketika akan meninggalkan Zifa seorang diri di rumah ini.
Namun, lagi-lagi Ghava berpikir kalau rumahnya sudah aman, security sudah dua dan asisten rumah tangga juga sudah tiga rasanya tidak mungkin kalau Zifa akan kesepian atau ada apa-apa. Ghava kembali menepis pikiran dan mencoba berpikir kalau itu hanya ketakutanya saja.
Setelah Ghava memastikan semuanya baik-baik saja, dan menitipkan Zifa pada orang rumah, dan melarang ada yang masuk kecuali izin dari dirinya dan Zifa sendiri. Ghava pun meninggalkan rumahnya dan akan menuju ke Bandung menjenguk Abas yang saat ini menurut Kemal kondisinya masih kritis.