Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Dugaan Kemal


"Ifa... kakak tidur sama Ibu. Ibu ada di sini, Ifa," rancau Zara. Membuat Kemal dan Zifa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Zifa perlahan mendekat ke arah kakaknya, payungnya ia gunakan untuk memayungi kakaknya juga. Walaupun sebenarnya percuma karena baju Zara sudah basah kuyup.


"Kakak, dengar Ifa! Ibu sudah tidak ada, Ibu sudah meninggal dan kakak harus tahu bahwa Ibu tidak akan kembali," ucap Zifa dengan nada selembut mungkin mencoba memberitahukan kakaknya bahwa semua tidak akan kembali seperti dulu, walaupun Zifa tahu kakanya tetap tidak akan tahu dengan apa yang ia katakan.


"Tapi, Ibu ada di sini Ifa. Ara bobo sama Ibu," rancau Zara seolah ia memang tengah tertidur dengan ibunya.


"Kakak, pulang yuk! Ibu sudah ada di rumah." Kemal yang tidak tega melihat Zifa bingung menjelaskan kepada kakanya pun mencoba mengambil alih menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Laki-laki itu tahu bahwa kalo berbohong akan berdosa tetapi rasanya lebih tidak adil lagi apabila tetap membiarian Zara dengan harapanya yang tidak pasti. Zara perlahan-lahan akan tahu. Kemal bahkan sangat yakin bahwa gangguan daya fikir yang Zara alami itu bukan Down Syindrom, sebab Zara bisa mengingat memory ingatanya dengan baik. Di mana dia sebagai orang normal kesulitan menghafal lokasi makam ibunya Zifa, tapi Zara hafal dan juga betul makan yang ia tiduri adalah makam ibunya.


Kemal akan membahas hal ini dengan Zifa. Gadis itu harus tahu bahwa kakaknya itu bukan down syndrom sehingga sangat ada kemungkinan andai Zara tahu sesuatu yang terjadi dengan ibunya ia akan mengatakanya dengan benar apa yang sekiranya terjadi dengan ibunya itu. Ataukah di bunuh atau meninggal dunia karena serangan jantung sesuai dengan apa yang bibi katakan. Namun semua itu harus diadakan terapi untuk kejiwaan Ara.


Zara menatap Kemal dengan tajam seolah ia tidak suka dengan yang Kemal katakan. "Ibu ada di sini, tidak ada di rumah," jawab Zara dengan tegas.


Kemal semakin bingung dengan apa yang akan Zifa lakukan untuk Kakaknya. Di mana ternyata membujuk Zara sangat sulit. Laki-laki itu mundur kembali dan mencoba membiarkan Zifa kembali membujuk kakaknya.


"Kakak, apa kakak tidak kasihan dengan Ifa? Zifa bingung harus gimana agar kakak mau pulang, ini hujan badan kakak basah. Ifa juga basah nanti kita sakit gimana?" ucap Zifa ia sudah sangat marah dengan dirinya sendiri yang tidak bisa sedikit melunak demi kakaknya. "Andai tadi malam aku sedikit sabar dan tidak membentak Kak Zara pasti kakak tidak kabur dan tidak hujan-hujanan begini." Zifa menyesali apa yang telah ia lakukan dengan kakaknya sebelum tidur semalam.


Kemal bingung dengan aksi Zifa malah seolah ia mendukung Zara. "Fa nanti kamu sakit kalo hujan-hujanan," ucap Kemal payungnya ia julurkan agar memberi naungan untuk Zifa berteduh.


"Enggak usah di payungin Mal, aku tidak tega kalo kakak aku sakit seorang diri. Biar aku ikutan sakit," ucap Zifa, suaranya serak terlalu banyak menangis.


"Ifa... Kakak minta maaf," ucap Zara sembari tubuhnya yang basah kuyup memeluk adiknya dengan kencang. Dua bersaudara yang hanya beda satu tahun itu terisak di samping pusaran ibunya. Sungguh pemandangan yang membuat siapa pun yang melihatnya akan ikut hanyut dalam kesedihan.


Cukup lama mereka terisak dalam tangisannya. Kemal lagi-lagi hanya menjadi penontonya, tanpa bisa ikut menasihati Zara. Kemal melihat ada kebencian di diri Zara padanya. "Entah benci apa? Mungkinkah Zara mengira bahwa aku adalah Abang Abas, yang wajahnya kami memang hampir mirip," batin Kemal hanya diam membisu di belakang Zifa dan Zara.


"Kita pulang yah!" ucap Zifa membujuk kembali kakaknya, mungkin saja saat ini kakaknya mau pulang. Entah bagai mana dinginya tubuh kakaknya itu, Zifa yang baru beberapa menit tubuhnya terkena air hujan pun sudah menggigil apalagi kakaknya itu yang sempat tertidur diatas pusaran entah sejak jam berapa.


Zara pun akhirnya mengangguk, menandakan bahwa ia memang sudah siap untuk pulang bersama Zifa.


Dada Zifa dielus halus, menggunakan telapak tanganya menandakan bahwa ia sangat lega ketika kakaknya mau pulang. Kemal pun ikut bahagia mendengar bahwa Zara mau pulang.


Saat ini yang terpenting Kemal akan berunding dengan Zifa bagai mana kondisi kakaknya menurut penilaian Kemal.