Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Perjodohan Bisnis


Pagi hari di rumah mewah keluarga Ghava....


"Gimana tidurnya kamu malam ini sayang?" tanya Eira pada Ghava yang pagi-pagi sudah terlihat tampan dengan setelan jas kerjanya yang pas di tubuhnya.


"Sangat nyenyak Mih, sudah lama Ghava tidak tidur di kamar pribadi, jadi lebih nyenyak dari biasanya," jawab Ghava sedikit di lebih-lebihkan memang. Padahal dia merasakan biasa saja tidur di kamar pribadi atau pun di mana saja sama namanya tidur ya merem.


"Kamu hari ini ada rencana apa? Bisa temanin Mamih untuk ketemu teman Mamih tidak?" tanya Eira dengan manis, tetapi sedikit pemaksaan.


"Ghava ada kerjaan Mih, mau coba buka cabang kantor baru untuk memperluas bisnis kita." Tanganya menyuapkan roti yang sudah di olesi selai kacang. Untuk menjaga agar tubuhnya tetap sixpack memang Ghava sangat perhatian dengan kalori makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


"Yah... Jadi kamu tidak mau mengantarkan Mamih?" tanyanya lagi dengan mimik wajah di buat sedemikian sedih, dan kecewa karena putranya lebih mementingkan kerjaan dari pada ibunya sendiri.


Abas dan Lyra yang juga sedang menikmati sarapanya hanya diam dan menyimak obrolan Ghava dan Mamihnya.


 Ghava nampak menimang apa permintaan mamihnya.


"Hanya mengantarkan Mamih kan? Tidak ada acara perjodohan atau apa?" tanya Ghava curiga dengan Mamihnya yang entah sudah berapa kali dia mencoba melakukan perjodohan yang berakhir Ghava pergi dari rumah, dan andai kali ini juga ada perjodohan yang tersembunyi, dan itu berati Ghava juga akan melakukan hal yang sama.


"Kamu kok curiga gitu sih. Lagian kalau Mamih menjodohkan kamu juga sudah jelas dengan wanita baik-baik dan kamu bisa contoh dari Abang kamu pernikahan mereka baik-baik saja dan itu karena kami yang menjodohkan mereka." Eira menunjuk pasangan yang sejak semalam tidak banyak berinteraksi. Baik dengan Mamih maupun dengan Ghava anggota keluarga yang baru pulang dari luar negri, justru terkesan bahwa Abas dan Lyra tidak suka kepulangan Ghava itu.


Namun tentu alasan utama Abas dan Lyra saling diam bukan itu. Ada masalah pribadi yang belum bisa mereka pecahkan dengan baik. Solusi yang keluar dari permasalahan keluarga kecilnya terkesan mengada ada, dan di paksakan. Kalian tentu tahu kan apabila sesuatu di paksakan jatuhnya akan sakit. Nah itu yang tengah Abas dan Lyra alami. Saling menyakiti.


"Ya udah nanti Ghava antar, tapi tidak bisa lama-lama karena Ghava ada kerjaan yang penting." Akhirnya karena malas ribut Ghava pun menyanggupi permintaan ibunya itu.


Setelah sarapan Ghava pun menepati janjinya, mengantarkan Mamihnya untuk mengunjungi temanya yang katanya ada urusan yang penting.


Sudah bisa Ghava duga, kalau pertemuan penting ini ada perjodohan yang  telah mamihnya rencanakan. Laki-laki itu sudah malas ketika mamihnya memaksa ia masuk  kedalam rumah teman mamihnya, padahal kalau niatnya untuk mengantarkan tidak perlu ada yang namanya masuk kedalam rumah. Jadi niatnya Eira meminya antarkan dari Ghava adalah sebuah pertemuan antar calon pengantin.


"Ayo sayang, kamu masuk dulu. Ketemu dengan tante Dira, tidak enak masa sudah sampai sini tetapi tidak menyapa tuan rumah." Alasan kelasik bukan? Selalu manis di depan sia-nida di belakang.


"Apa maksudnya coba, dalam perjanjian antar kan tidak ada acara mampir-mampir segala," dengus Ghava dalam batinya. Tubuhnya yang malas dia paksa mengikuti apa kemauan Mamihnya. Lagi-lagi dia tidak bisa melawan kemauan ibunya, sama seperti Abas dan Kemal.


"Eh, Jeng Eira sudah datang. Ayo masuk..." ucap wanita yaang berpenampilan anggun.


"Mungkin ini yang namanya tante Dira," batin Ghava tanpa memperdulikan dua wanita yang sedang melepas kangen itu.


"Maaf ganggu yang Jeng pagi-pagi sudah bertamu. Seperti yang semalam di bilang, kalau Ghava itu sibuk. Ini saja harus memaksa setengah mati agar mau ngantarkan Mamihnya ke ruhan calon besan," ujar Eira sembari menoel Ghava,


Ah... Ghava bahkan sudah tidak kaget lagi ketika mamihnya melakukan hal itu, karena memang sudah menjadi tradiasi keluarganya pernikahan yang di lakukan oleh anak-anaknya adalah pernikahan perjodohan yang demi bisnis mereka lakukan, tanpa memperdulikan perasaan anak-anaknya.


"Tidak apa-apa calaon besan, saya malah senang ada calon besan datang," balas Tante Dira dengan ramah, entahlah itu benar ramah atau hanya kamuflase sikapnya saja.


Setelah berbasa-basi dengan penyambutan yang membuat Ghava jengah akhirnya dua wanita paruh baya itu mengajak Ghava masuk dan duduk di ruang tamu. Ruamah yang mewah dengan pajangan dan perabot bukan yang murahan tentunya. Bahkan ada beberapa perabot dengan merek yang terkenal para sultan saja yang memiliki perabotan itu.


Ghava sudah terlihat seperti patung saja ketika dua wanita itu saling bercerita entah apa, yang jelas Ghava merasa an faedah banget berada di rumah mewah itu. Ingin saat ini juga laki-laki itu menghilang. Dari obrolan yang Ghava tangkap mamihnya ternyata sudah menjodohkan Ghava dengan anak tante Dira yang menurut keterangan Mamih dan Tante Dira, anaknya bekerja sebagai dokter kecantikan bahkan sudah memiliki beberapa klinik kecantikan. Dari profesi wanita yang akan menjadi istri Ghava saja sudah bisa di bayangkan gimana penampilanya pasti selalu perfect terutama urusan tubuh dan wajah.


"Ribet," batin Ghava belum bertemu dengan calon istri saja, laki-laki itu sudah membayangkan betapa ribetnya hubungan mereka nanti.


"Nak Ghava kok diam saja? Kira-kira penasaran tidak dengan anak tante?" tanya Dira dengan nada bicara di buat sehalus mungkin.


Ghava hanya membalasnya dengan senyuman yang manis. Bukan manis sungguhan hanya manis menggunakan pemanis buatan kok. Tidak ada yang membuatnya tertarik dari perjodohan ini, tetapi tanpa sepengetahuan Ghva ternyata mamih dan tante Dira dan juga keluarga sudah merencanakan pernikahan mereka.


Syok, dan kecewa itu yang Ghava rasakan terlebih semuanya benar-benar super kejutan buat dia. Gemas ingin rasanya Ghava melayangkan protes ketika dia di minta memilih desain undangan dan lain sebagainya.


"Mih, kenapa Mamih lagi-lagi merencanakan hal semacam ini. Ghava tidak mau menikah dulu Mih, Ghava masih ingin mengembangkan bisnis Ghava. Belum mau nikah dulu." Protes Ghava yang benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan mamihnya. Yang selalu mengatur hidup pribadi anak-anaknya.


"Itu gampang sayang, kamu bisa bangun semua bisnis kamu setelah menikah, Wina juga wanita mandiri dan pekerja keras dia tidak akan melarang kamu untuk mewujudkan cita-cita kamu, Iya kan Dir?" tanya Eira dengan menyikut Ibu dari gadis cantik yang berprofesi sebagai dokter kecantikan itu.


"Fix, ini musibah," batin Ghava sangat menyesal karena memutuskan pulang ke tanah kelahiranya yang berujung ia harus menikah dalam waktu tiga bulan lagi. Yah tiga bulan mamih dan tante Dira memberikan waktu pada Ghava untuk saling mengenali dengan calon istrinya, Wina.