
Hari ini Kemal akan pergi ke luar negri untuk melanjutkan hidupnya, sesuai apa yang orang tuanya pilihkan, dia akan kembali seperti dulu anak yang tidak bisa melawan keinginan orang tuanya. Sampai kapan Kemal akan berada di negara itu? Entah lah karena Kemal juga tidak tahu sampai kapan ia akan tinggal di negara kakek dan neneknya.
"Mal, loe kalau sudah di sini nanti loe yang pegang perusahaan gue yah, gue mau pulang ke Indonesia ajah mau ngembangin bisnis gue di tanah air yang potensi untuk berkembangnya jauh lebih memungkinkan," ujar Ghava, itulah percakapan antara Ghava dan Kemal terakhir di bahas.
"Yah, gue lakukan ini karena gue punya utang sama loe, kalau gue tidak punya utang sama loe ogah gue cape-cape jadi bawahan loe," jawab Kemal dengan tidak tahu diinya. Di mana orang-orang di luaran sana ingin cari kerja yang enak sedangkan Kemal jual mahal mendapatkan pekerjaan yang enak dan gampang.
Setelah berpamitan alakadarnya Kemal pun berangkat ke bandara di atar oleh Abas, Mamih yang sedang ada arisan di rumah tidak bisa mengantar Kemal kebandara sebenarnya tidak masalah Kemal berangkat menggunakan sopir tetapi mamih lagi-lagi menolak dan memutuskan Abas yang mengantar Kemal.
Yah, mau tidak mau akhirnya Kemal pun lagi-lagi menerima apa yang menjadi ke putusan mamih, dia dantar oleh Abang yang sudah lama tidak saling tegor itu. Bahkan untuk beberapa menit di dalam mobil adik dan abang itu tidak saling terlibat obrolan. Entah kenapa Kemal juga seperti memiliki dendam pada Abas, karena ia mengira bahwa Abas lah yang memperkosa Zara dan juga membunuh ibunya, sehingga Kemal menduduh secara sepihak bahwa Abas yang melakukan semuanya. Tentunya melibatkan Mamihnya sebagai pelindungnya.
Meskipun ini hanya dugaan Kemal saja tetapi Kemal sudah sangat yakin akan dugaanya. "Kamu kenapa sih Mal, gue perhatiin sekarang seperti menjauh dari gue," tanya Abas, yang masih merasa tidak bersalah.
Kemal yang sedang menatap jalanan langsung memalingkan pandanganya begitu abangnya menegur dia. "Tidak apa-apa, justru Kemal yang selama ini merasa kalau Abang itu berubah, sepertinya banyak sekali rahasia yang Abang sembunyikan dari Kemal, sehingga Kemal sediri merasa orang asing di depan Abang," balas Kemal dengan dingin.
"Abang tidak tahu apa yang kamu maksud, tetapi kalau kamu merasa Abang seperti itu Abang merasa bersalah, maafkan Abang. Jujur Abang tidak ingin kits itu seperti bukan sodara saja, Abang ingin kita kembali seperti dulu di mana kamu dan Abang saling bertukar cerita dan lain sebagainya. Bukan seperti sekarang duduk dalam satu mobil saja sepertinya kamu keberatan." Entah Abas menyindir atau memang itu yang dirasakan oleh dia, tetapi Kemal melihat dari cara Abas berbicara sepertinya Abangnya juga sedang tidak baik-baik saja mentalnya.
Sebagai orang yang sudah cukup lama mempelajari psikologi tentu tahu sikap setiap orang yang sedang dirundung masalah dan emosi yang kadang naik turun dan orang yang memang dia happy dan bisa mengendalikan emosinya.
"Sebenarnya Kemal hanya merasa Abang ini seperti menyimpan masalah yang begitu berat sehingga lupa mungkin bahwa di lingkungan Abang ada Kemal, adik Abang yang butuh perhatian," ujar Kemal dia justru semakin memancing agar Abas semakin terpojok dan merasa bersalah mungkin saja Dia akan berbicara dengan sendirinya apa yang membuat ia seperti ini karena sudah merasa nyaman dan tentunya merasa adiknya seperhatian itu sama kakaknya, hingga akhirnya Abas bercerita tanpa sadar
"Iya maafkan Abang, Abang memang sedang banyak banget fikiran, maafkan Abang yang terus sajah tidak bisa membuat kamu dekat dengan Abang malah kamu juga jadi kena imbasnya atas semua yang Abang lakukan." Pandangan mata Abas tetap fokus ke jalanan, tetapi pikiran Kemal yakin tidak sedang berada di sini.
"Bisa Abang cerita apa yang membuat Abang murung seperti ini?" tanya Kemal, sangat berharap bahwa Abangnya mau menceritakan semua beban yang menimpanya.
Kemal tersenyum miring menandakan ia seolah semakin tidak menyukai apa yang Abas lakukan. "Tidak apa-apa Abang, kalau Abang belum siap bercerita Kemal akan tunggu sampai Abang siap, dan soal Abang kalau mau cerita Abang bisa kok hubungi Kemal, kapan pun pasti Kemal akan menjadi teman curhat Abang.
"Terima kasih, suatu saat pas ketika waktunya sudah tepat pasti Abang akan cerita semuanya. Saat ini Abang butuh ketenangan dulu," jawab Abas dengan tersenyum tanpa arti.
Sedangkan Kemal semakin tidak mengenal abangnya. Kemal seperti berbicara dengan orang lain. "Rahasia apa sebenarnya yang abang sembunyikan, kenapa dia seperti orang asing bagi aku," batin Kemal. Padahal dulu mereka adalah adik dan abang yang akrab dan hangat tetapi kenapa sekarang Kemal seperti melihat orang asing.
"Kak Lyra apa kabarnya Bang, sekarang Kemal juga jarang bertemu sama kakak ipar?" tanya Kemal, ia mencoba memancing dengan cara-cara yang lain. Mungkin saja mendapatkan informasi yang penting.
"Ada, tapi kayaknya Abang dan Lyra akan berpisah, kita sudah tidak sejalan. Sering terjadi pertengkaran diatara kami, yang ada malah menyakiti hati masing-masing."
Kemal tersentak kaget mendengar penuturan Abas. "Apa tidak ada jalan damai? Kalian menikah sudah lebih dari sepuluh tahun. Sejauh ini gue lihat kalian baik-baik saja kenapa bisa kalian memutuskan perceraian? Sayang loh Bang perjalanan kisah kalian yang sudah banyak dilalui. Cobalah melunak sedikit saja mungkin masih ada jalan yang harus di tempuh." Kemal berusaha menasihati Abas siapa tau dia bisa mendengar apa yang Kemal katakan.
"Masalahnya Mamih juga meminta kami berpisah, Mamih ingin gue menikah lagi, sedangkan Lyra tidak mau apabila dia di madu jalan satu-satu agar kita tidak saling menyakiti hati lagi ya dengan berpisah." Abas menjelaskan situasi sesungguhnya.
Hal itu sontak memancing emosi Kemal. "Loe bisa enggak sih Bang, sekali ajah enggak terlalu patuh sama Mamih, loe sudah menikah, sudah jadi kepala keluarga, lama-lama gue kasihan dengan Lyra pasti hidupnya tetekan punya suami yang apa-apa di atur orang tuanya. Ambil keputusan sesuai dengan apa yang loe inginkan, jangan seperti yang Mamih mau. Ayo lah Bang, jangan terlalu mau diatur-atur terus, mulai berani menentukan masa depan Abang." Kemal jadi gemas sendiri dengan Abas. Entah di beri apa sehingga ia selalu patuh sekali dengan ibunya.
"Tidak semudah itu Mal, kalau Abang berontak, Mamih akan semakin sulit untuk di mengerti, cara melindungi mereka, orang yang Abang sayang dengan cara seperti ini. Abang mengalah, hidup Abang sudah tidak ada arahnya lalu alasan apa Abang untuk berjuang menentukan jalan hidup Abang." Suara berat Abas terlihat dengan jelas.
Kemal semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara Abangnya dan Mamihnya. "Kenapa Abang terlihat prustasi sekali, apa yang sebenarnya terjadi antara Abang," batin Kemal sembari memperhatikan Abas dengan teliti. Sementara Abas yang tahu bahwa Kemal memperhatikan dirinya pun diam saja, dan pura-pura tidak mengetahuinya.