
"Dari mana kamu Kemal?"
Suara yang sangat kemal kenal langsung menggelegar di ruangan yang luas, tanpa harus cape-cape main tebak-tebakan karena sudah sangat jelas itu adalah suara Eira, mamihnya.
Kemal saat itu juga langsung mematung, tidak berani melangkah ke ruangan yang lebih dalam. Laki-laki itu sudah tahu bahwa mamihnya sedangĀ sangat murka sehingga jangan sampai dia melakukan ke salahan jangan sampai dia membuat mamihnya makin marah.
"Apa kamu sudah tidak punya mulut sehingga kamu sudah tidak bisa menjawab pertanyaan yang mamih lontarkan?" bentak mamih sembari berjalan turun dari tangga lantai dua rumah mewahnya untuk mendekati Kemal. Dalam hatinya Kemal sudah ketakutan, dan reaksi tubuhnya juga sudah tidak bisa disembunyikan lagi, karena memang dia sendiri di alam bawah sadarnya sudah sangat ketakutan dan badanya panas dingin dan tubuhnya bergemetar.
Kemal mencoba menghirup nafas dalam dan membuangnya secara perlahan, ia mencoba menenangkan kegugupanya. "Bukanya sebelum berangkat pergi Kemal sudah memberitahu mamih, kalau Kemal akan memberikan santunan yang mamih berikan untuk keluarga korban yang anaknya Kemal tabrak hingga meninggal dunia," ucap Kemal, rasa takut dan rasa marahnya berusaha ia tekan agar ia tidak terlihat tengah berbohong.
"Apa buktinya kalau kamu melakukan sesuai yang kamu katakan, kamu itu sudah merasa besar sehingga mau mencoba apa-apa sendiri, dan mamih tau kalau kamu itu sedang mengelabuhi mamih dengan karangan konyol kamu. Mamih tanya sekali lagi, dari mana kamu pergi?" tanya mamih di mana saat ini mamih berdiri di hadapan Kemal dengan tatapan yang seolah akan menerkan anaknya sendiri.
Kemal membuang nafas kasar, dan dia langsung mengeluarkan ranselnya, dan memberikan bukti serah terima uang yang ia berikan pada keluarga korban, tidak hanya itu Kemal juga menyerahkan satu jepretan foto, dengan harapan semoga saja mamih percaya dengan apa yang Kemal berikan sebagi bukti bahwa yang ia ucapkan itu adalah sebuah kebenaran, bukan rekayasa semata.
"Kemal tidak memiliki bukti lainya, karena situasi di sana kemarin sibuk dan banyak yang harus diurus, tetapi semoga saja dengan bukti ini Mamih bisa percaya bahwa Kemal memang melakukan sesuai apa yang Kemal ucapkan pada Mamih." Kemal menjulurkan bukti yang dengan sengaja dia bikin sedemikian rapih, karena ia bukan anak yang di besarkan kemarin sore oleh keluarganya, sehingga kalau bohong itu harus totalitas, seperti saat ini Kemal sedang lakukan, bebohong. Sehingga ia harus yang bisa di percaya dan mamih tidak curiga.
Kemal yang perasaanya sudah tidak kenang sejak meninggalkan kota Bandung, ia langsung memutar otak untuk persiapan berbohongnya. Yah, Kemal dalam perjalanan ke Jakarta menghubungi temanya, yang ahli edit untuk mengeditkaan foto dirinya yang sedang memberikan santunan yang mamih beri dengan nilai satu miliar rupiah untuk ganti rugi.
Sementara surat serah terima, itu juga ide dadakan Kemal, di mana dalam perjalanan ke Jakarta ia sempat meminta tukang foto copy untuk menulis perjanjian itu, beserta tanda tangan lengkap dengan matrai, sehingga mamih akan mengira ini tulisan dari pihak sana, semoga tidak salah menilai.
Mamih langsung menerima surat perjanjian dan langsung membacanya, dan mengecek ponsel Naqi. "Kamu buang kemana keluarga miskin itu," tanya mamih, masih dengan nada jutek.
"Jawa Timur, karena salah satu orang tua itu berasal dari salah satu kota di provinsi itu. Makanya Kemal memutuskan mengantar mereka kesana," jawab Kemal dengan sedikit kelegaan di dadanya, tetapi ia tidak serta merta bangga dengan apa yang Kemal berhasil lakukan. Kemal yakin bahwa orang tuanya tidak aka percaya begitu saja. Ditakutkan kebohonganya terbongkar dan Kemal akan hilang kepercayaan dari mamihnya.
"Ya udah kamu istirahat, lain kali Mamih tidak akan izinkan kamu mengurus apa-apa sendiri. Lusa kamu udah harus pergi ke negara kakek kamu. Dan kamu harus sudah mulai bebenah, Mamih tidak mau ada penolakan." Eira berlalu meninggalkan Kemal, setelah memberikan bukti yang Kemal tunjukan.
"Huhhh... Akhirnya, keberuntungan masih bisa aku raih, tapi apa akan ada keberuntunga ke dua, ke tiga dan seterusnya?" batin Kemal, sembari menghembuskan nafas kasar beserta kegundahanya.
Laki-laki itu pun mengayunkan kakinya, menuju kamarnya. "Mungkin kali ini aku lagi ada dalam masa keberuntungan tetapi tidak dengan kebohongan selanjutnya," gumam Kemal dengan suara lirihnya.
Kemal melewati pintu kamar abangnya, Abas dan Lyra. Mereka sebenarnya pernah tinggal terpisah. Bahkan beberapa tahun tinggal di luar negri. Mengurus bisnis keluarganya. Namun karena Lyra yang tidak kunjung hamil dan sudah melakukan berbagai upaya untuk segera mendapatkan momongan. Atas saran mamih dan papih. Abas dan Lyra diminta tinggal di rumah mereka, dan sampai saat ini Abas masih tinggal di rumah orang tuanya.
Laki-laki itu berhenti sejenak di depan pintu kamar itu, entah berapa lama Kemal tidak saling tegur sapa dengan Abas maupun Lyra. Di samping mereka yang sibuk dengan urusan duniawinya. Kemal juga akhir-akhir ini sangat sibuk sehingga menambah waktu yang semakin terjarak.
"Abang dulu adalah orang yang selalu melindungi aku, tapi kenapa sekarang terasa seperti orang asing," batin Kemal, lalu ia kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya di pojok dekat dengan perpustakaan. Kemal memilih kamar di pojok karena terasa sedikit sunyi dan tidak terlalu ramai.
"Astagah, alasan apa kira-kira biar Abang Ghava enggak marah," batin Kemal, memutar otaknya mencari ide, agar Ghava tidak berceramah hingga kupingnya panas. Terlebih Kemal ingat pesan terakhir Abangnya sebelum ia mematikan ponselnya.
"Kalau ada apa-apa kamu langsung hubungin gue. Segera infoin gue perkembangannya." Itu pesan terakhir Ghava. Tapi justru saking tidak mau diganggu kebersamaanya dengan Zifa, Kemal sampai lupa memberi kabar Abangnya.
"Ha... Halloh Bang..." Suara gemetar Kemal terdengar di balik telepon Ghava.
"Balikin duit gue yang dua milliar!" bentak Ghava, suaranya yang tegas dan penuh penekanan membuat jantung Kemal seolah di tarik paksa.
"Nanti Bang, gue kerja dulu. Pasti gue akan balikin uang itu, beri gue waktu. Karena adik loe yang miskin ini juga butuh cari kerja untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah sampai mencapai dua miliar. Karena uang dengan nominal segitu sangat besar bagi gue bang," ucap Kemal dengan suara lirihnya. Berbeda dengan biasanya di mana Kemal adalah adik yang nyolot dan super ngeselin.
"Lupakan uang receh itu. Apa yang sebenarnya terjadi, gue marah dan kecewa karen loe bikin istirahat dan konsentrasi gue terpecah. Gara-gara nomer ponsel loe sulit dihubungi. Berasa di gantung sama doi hidup gue selama dua hari, loe matiin ponsel PA." Suara Ghava sudah sedikit melunak itu semua karena ia tidak tega juga menagih uang sama adiknya yang kismin.
"Sejauh ini masih lolos dan bisa di bilang aman, tapi enggak tahu kedepanya. Apakan Mamih percaya dengan semua bukti yang gue rekayasa untuk memuluskan kebohongan gue. Atau Mamih sebenarnya sedang menertawakan kebohongan gue, dan memberikan kesempatan gue untuk bernafas lega," lirih Kemal, Ghava tentu tahu gimana perasaan Kemal saat ini.
"Loe bedoa saja, semoga Mamih memang benar-benar percaya dengan kebohongan loe, dan yang penting mulai saat ini loe harus lebih hati-hati lagi. Terus rencana Mamih gimana? Apa loe akan tetap di kirim ke sini?" tanya Ghava, dengan nada yang mencoba menenangkan adiknya.
"Lusa gue nyusul ke negara loe sekarang tinggal. Siapkan rumah dan fasilitas terbaik!" ujar Kemal, adik yang sangat tidak tau diri memang.
"Siapa loe, kismin ajah pengin fasilitas terbaik. Oh boleh deh loe dapat semuanya, dan kebetulan gue sedang butuh pembantu buat bersih-bersih rumah yang baru gue beli," balas Ghava denga congkaknya.
"Lupakan soal rumah, karena lebih baik hidup ngegembel dari pada harus jadi ba-bu loe," balas Kemal dengan sensi.
Hahahah... Ghava justru tertawa dengan renyah karena aksinya berhasil membuat Kemal yang sedang datang bulan langsung memanas.
Tut... tut... tut... Sambungan telepon di putus sepihak oleh Kemal, yang mana mood laki-laki itu sedang sangat kacau. Malah Ghava membuatnya mendidih.
"Astagah, untung dia adik gue. Kalau bukan udah gue san-tet online," omel Ghava sembari menatap layar ponselnya.
Senyum mengembang terukir di wajah tampan Ghava, setelah mendengar kabar dari adiknya.
"Kenapa hatiku langsung lega dan bahagia seperti ini setelah mendengar kalau mereka baik-baik saja," batin Ghava. Wajah cantik Zifa terlintas di ingatan Ghava. Dia seolah sudah terhipnotis oleh wajah Zifa, yang bahkan belum sekali pun ia temui.